Berdialog: Tuan Tigabelas

Makin ke sini, kita bisa melihat bahwa musisi-musisi hip hop di Indonesia mulai bermunculan dan saling unjuk kemampuannya sebagai rapper atau MC yang handal. Musik hip hop kini memiliki tempat baik di industri musik ataupun para penikmat musik dalam lima tahun belakangan. Dulu, jika kita membahas seputar hip hop di Indonesia, mungkin kita akan langsung tertuju pada nama seperti Iwa K, Saykoji, Jogja Hiphop Foundation dan banyak lainnya. Tak bisa dipungkiri memang nama-nama tersebutlah yang mungkin pertama kali kalian dengarkan. Bukan mainnya kini, musisi hip hop Indonesia jumlahnya sangat banyak, salah satu yang kerap kali kita lihat penampilannya adalah Tuan Tigabelas.

Melalui sesi Berdialog kali ini, kami mencoba untuk membicarakan banyak hal tentang hip hop, musik, dan albumnya yang berjudul “Harimau Soematra”. Silahkan disimak.

Sejak kapan kamu mengenal hip-hop dan mulai serius menggelutinya?

Kalau kenal hiphop mungkin sejak jaman sekolah,tapi baru bener-bener jatuh cinta dan ngulik rap itu pas kuliah. Setelah dengerin album Korn yg follow the leader, di situ ada satu track featuring Ice Cube. Itu momen di mana gue jadi jatuh cinta sama hiphop, gara-gara denger children of the korn.

Siapa musisi yang banyak mempengaruhimu dalam bermusik?

Gue dari Smp sampai sekarang suka banget sama Korn. Jadi, musik mereka banyak mempengaruhi pola pikir dan gaya bermusik gue, untuk hiphop gue harus menempatkan Tupac di nomor pertama untuk list ini. Karena dia ngasih gue suatu perspektif baru tentang bagaimana menulis lirik yang di masa depan pun tetap bisa relate dan orang-orang tetap relevan lewat narasi yang dibangun. Terus ada Slank,Iiwan fals, dan Flowers pastinya. Kalau untuk hiphop Indonesia, pilihan gue ada di Blakumuh dan Iwa K, juga Boyz Got No Brain, mereka berpengaruh banget buat gue secara music, attitude dan banyak hal. Buat gue pribadi kalau ini team basket, mereka team allstar pilihan gue hehe.

Bagaimana kamu memandang ranah musik hip-hop Indonesia beberapa tahun terakhir?

Wah hiphop 5 tahun terakhir berkembang sangat pesat, nggak cuma di Indonesia, tapi hampir di seluruh dunia gue rasa. Dari yang sidestream sekarang jadi mainstream. Malah menurut gue hiphop sedang jadi pop culture. Musik ini mempengaruhi berbagai macam aspek menurut gue, dari scene, melebar ke arah lifestyle, dan merambah juga ke subkultur yang lain. Sangat menarik bagaimana musik ini bisa melebur dalam kearifan lokal dan menjelma menjadi berbagai macam pilar.

Siapa musisi lokal yang akhir-akhir ini banyak menyita perhatianmu? kenapa?

HINDIA dan feast. Gue suka musiknya, tapi gue agak terganggu sama fans nya hahahaha. Kalau untuk hiphop, ada 2 nama bahaya yang baru saja rilis album, ada Rand Slam dan Mario Zwinkle. Di awal tahun mereka dating dengan album yang sungguh bagus menurut gue, jadi gue makin yakin bahwa 2020 akan jauh lebih epic dibanding 2019.

album cover haraimau soematra - tuan tiga belas

Bisa diceritakan proses penggarapan album “Harimau Soematra”? Apa rintangan paling berat dalam perampungannya?

Penggarapan album Harimau Soematra sangat luar biasa, gue ketemu banyak banget orang hebat yang memberikan bantuan luar biasa dalam pengerjaan album ini, gue bahkan dapat kesempatan secara langsung merealisasikan misi melestarikan harimau soematra, datang ke habitat mereka, bertemu dengan para penjaga yang mengabdikan hidupnya utk menjaga hutan Indonesia, banyak banget ilmu yang gue dapat.

Rintangannya cuma di masalah waktu sebenernya, dan stamina pastinya, karena gue harus tetap on target mengerjakann album sesuai timeline yang ada sedangkan offair alhamdulillah lagi padat banget waktu itu, dann rata2 diluar kota, jadi gue dari akhir 2018 sampai ke rilis nya album di tahun 2019 jadi orang yang sangat kurang bersosialisasi, gue kemana2 ga bakal mau jalan2, gue lebih pilih dikamar menghabiskan waktu untuk merapihkan tulisan dan mengerjakan pr album lain nya, jadi kaya nerd lah gue waktu itu selama beberapa bulan hehe. Tapi ini lebih dari sekedar album buat gue, ini perjalanan spiritual gue.

Di salah satu interview, kamu bilang basket dan hip-hop menyelamatkan hidupmu. Kenapa?

Gue tumbuh besar di lingkungan yang kumuh, kalau gue nggak ketemu basket dan musik, mungkin gue dah jadi junkie dan gak tau mau ngapain sama hidup gue sekarang. Berkali-kali juga gue ketemu masalah dalam hidup, lagi-lagi musik yang jadi terapi gue paling positif untuk bisa berani bangun dan ngelewatin itu semua dan nggak kabur.

Bagimana kabar Rebel Education Project? Sedang sibuk apa?

R.E.P adalah orang-orang di balik album harimau soematra, apapun yang gue kerjakan, band gue ini selalu ada di belakang produksinya, mereka memang terbaik.

Tapi kita juga kangen produksi, jadi insyaallah tahun ini sudah mulai masuk studio lagi bareng2, mudah2an setelah lebaran 2020 ini ada yang bisa kita kasih ke teman teman.

foto tuan tigabelas dan rebel education project

Apa pencapaian terbesar yang belum berhasil kamu raih hingga sekarang?

Gue pengen banget bikin tour hiphop keliling Indonesia, bikin sekolah hiphop yang establish tapi gratis gitu buat semua orang dan pengen banget bisa roadshow ke Lembaga pembinaan anak-anak biar mereka bisa kenal hiphop, karena itu jadi therapy yang bagus buat gue, mana tau bisa jadi sesuatu yang baik juga buat mereka.

Bagaimana caramu menjaga konsistensi dalam bermusik?

ini satu-satu nya hal yang gue bisa, hal yang gue cinta, jadi kalua ditanya gimana caranya ya ue ga ngerti jawab nya selain memang mencintai tiap prosesnya dan terus berkarya

Selanjutnya akan ada apa lagi dari Tuantigabelas?

Belum kesampaian bawa album Harimau Soematra mudik ke Sumatra, jadi insyaallah gue akan melaksanakan tour Sumatra, kemudian akan merilis beberapa kolaborasi juga. Tapi yang pasti tahun ini, gue akan nongol bareng R.E.P.

Teks: Rizki Firmansyah
Visual: Arsip dari Tuan Tigabelas

My Bloody Valentine Kritik Spotify Soal Lirik yang Salah

Di antara kalian pasti ada dong yang pernah memutar lagu di Spotify sambil menikmati fitur lirik yang disediakan. Lewat fitur ini, para pengguna Spotify bisa sambil bernyanyi sesuka hati. Tapi,...

Keep Reading

Patahan Imajinasi Masa Kecil di Nomor Terbaru Latter Smil

Latter Smil, duo asal kota Palu yang dihuni oleh Dian dan Eko, dipermulaan tahun 2022 ini kembali melepas karya teranyarnya bertajuk “Kalila”. Lewat single ini Latter Smil mencoba untuk memberikan...

Keep Reading

Perjalanan Skena Musik Ambarawa dalam Album Kompilasi They Hate Us

Terlihat dalam beberapa tahun terakhir, produksi album kompilasi skena musik lokal mulai kembali marak. Tercatat ada beberapa deretan kompilasi yang terbit pada setahun-dua tahun ke belakang, seperti Bikin Kompilasi: Bless...

Keep Reading

Dua Album Milik Semiotika Akhirnya Dilepas Secara Digital

Usai merilis album penuh bertajuk Eulogi, unit post-rock asal Jambi, Semiotika akhirnya merilis dua album terdahulunya Ruang (2015) dan album mini Gelombang Darat (2018) ke dalam format digital. Sementara album...

Keep Reading