Saya harus memutar waktu jauh ke belakang untuk memperkenalkan Sal Priadi. Kalau tidak salah, kejadiannya di sekitar 2007-2008.

Waktu itu, sebuah malam yang dimulai di Mayestik, Jakarta Selatan. Saya masih jadi manajer Ballads of the Cliché, band indiepop asal Jakarta. Kami punya jadwal main di Bekasi, kalau tidak salah. Jadi, kumpul di Mayestik lantas lanjut ke Bekasi bersama-sama dengan mobil. Waktu itu, perjalanan malam hari ke Bekasi dari pusat kota Jakarta, belum semengerikan sekarang.

Ketika satu demi satu anggota rombongan muncul, saya diperkenalkan pada seorang anak SMP. Ia kurus, tapi mukanya tengil. Punya ketertarikan ngobrol dengan drummer kami, Ferry Hardianto. Singkat cerita, dia mau ikut ke Bekasi. “Selama ada ruang, kenapa tidak?” pikir saya dalam hati.

Setelah malam itu, si anak SMP itu sering terlihat di beberapa aktivitas di Mayestik, tempat anak-anak Ballads of the Cliché sering berkumpul. Ia seolah jadi wajah familiar di tengah kami. Tapi, mendadak, ia menghilang. Kabar burung berhembus, katanya ia pindah ke Jawa Timur, entah Malang, entah Surabaya. Itu juga katanya, jadi tidak bisa dikonfirmasi.

Seperti layaknya tongkrongan bebas, kehilangan itu dengan cepat diisi oleh hal lain. Kabar tentangnya putus. Sosoknya perlahan menghilang. Hingga bertahun-tahun kemudian, muncul sebuah DM di akun Instagram saya. Tahun 2017, kami ternyata dipertemukan di Folk Music Festival di Batu, Malang.

“Mas, saya Ziky, yang waktu itu ketemu di toilet Folk Music Festival. Mas Felix lagi terburu-buru mengejar kakus. Jadi nggak bisa ngobrol banyak. Saya dulu sempat ngecrew Ballads of the Cliché waktu SMP. Hehe. Kapan main ke Malang lagi, mas?” begitu bunyi DMnya. Saya menjawab singkat, tapi kemudian komunikasi terputus.

Beberapa bulan kemudian, masuk lagi DM dari akun yang sama. Ia menginformasikan bahwa ia telah merilis single perdananya dengan nama Sal Priadi.

Saya lalai membalas. Jujur saya, mungkin pada waktu itu singlenya tidak semenarik itu. Makanya tidak antusias juga. Tapi waktu berjalan. Waktu memutarbalikkan kebodohan saya untuk tidak segitu pedulinya pada DM kedua tadi. Perlu waktu kira-kira satu setengah tahun kemudian untuk menemukan betapa menariknya si anak SMP yang telah dewasa itu.

Hingga suatu hari, ada pertunjukan kecil di Bilik Kopi, di kawasan Panglima Polim, Jakarta Selatan. Saya kehabisan tiket harga normal dan harus membayar harga spesial untuk bisa menyaksikan dua band yang ingin sekali saya lihat versi livenya; Irama Pantai Selatan dan Sal Priadi. Saya pikir, saya harus menebus kebodohan karena abai itu. Pertunjukannya sangat menarik, berlangsung di ruangan kecil. Sound system seadanya, sering feedback. Tapi, di situlah musik menemukan bentuk paling seksinya.

Saya duduk di bagian paling belakang dan menikmati betul Sal Priadi bermain. Formatnya minimalis. Aura bintangnya sudah muncul. Dan dia super punya koneksi dengan orang-orang yang (ternyata banyak datang khusus untuk) menontonnya. Saya tahu bahwa saya harus menulis tentang dirinya. Selepas pertunjukan, ia sibuk diajak foto oleh orang. Saya segera bergegas pulang tanpa banyak cingcong.

Sesampainya di rumah, ada DM masuk lagi di akun Instagram saya. Begini bunyinya, “Malam, mas. Tadi saya lihat mas di Bilik Kopi. Takut salah orang. Mau saya pastikan lagi, kayaknya sudah pulang.” Saya terdiam.

Sal Priadi adalah bintang yang bisa terang benderang. Bayangkan, di tengah spotlight yang begitu bercahaya di tempat itu, ia masih bisa mengenali orang secara spesifik. Entah kenapa, saya merasa beruntung langsung pulang dan tidak mencoba untuk berbincang dengannya. DM lanjutan itu, makin membentuk imaji tentang bagaimana ia punya potensi besar. Materi bagus, live performance yang bagus sekali, serta punya dua kaki yang masih menginjak bumi.

Ziky sudah berubah menjadi Sal Priadi. Sampai hari ini, sudah ada empat single yang ia rilis. Album penuhnya sedang digarap. Ia generasi baru penyanyi solo yang perlu diantisipasi. Karyanya mungkin merobek-robek selera.

Lalu terjadilah wawancara ini. Saya ulang deh, catat ini baik-baik, “Sal Priadi adalah bintang yang bisa terang benderang.” Selamat membaca. (*)

Mas, bisa diceritakan apa di balik keputusan untuk hijrah ‘kembali’ ke Jakarta dari Malang?

Sejak di Malang ketika merilis single kedua, tahun 2018. Judulnya Ikat Aku di Tulang Belikatmu. Mulai merasakan upaya-upaya promosi, lalu merasa bahwa di kotaku media dan panggung terbatas. Lalu juga, beberapa kali tawaran untuk manggung di luar kota terhambat akomodasi dan transportasi karena posisi di Malang. Mulailah muncul keinginan untuk hijrah ke ibukota. Diperkuat lagi dengan masuk nominasi AMI Awards. Akhirnya luluh juga hati ini untuk kembali ke Jakarta.

Identitasmu itu sebenarnya orang mana sih? Boleh diceritakan dulu?

Aku lahir di Malang, lalu besar hinggap kanan-kiri. SD di Surabaya, SMP di Jakarta, SMP di Malang, kuliah kembali ke Surabaya. Dan sempat di Bandung juga. Hahaha.

Petualang. Bertumbuh di berbagai macam kota itu, enak nggak sih? Kamu tidak pernah settle dengan sebuah keadaan lebih dari lima tahun berarti kan?

Wah, benar sekali! Rasanya iya. Tapi makin ke sini, pengennya settle. Meski blm belum tahu juga ke mana akan berlabuh. Jakarta empat bulan ini, meski banyak cerita, tapi mulai terasa seperti rumah. Haha.

Dorongan untuk pindah (kembali) ke Jakarta, semata-mata datang karena alasan taktis itu saja? Atau memang sudah direncanakan?

Rasa-rasanya kepindahannya cukup terhitung. Dari perencanaan juga, karena sudah ada satu rekan kerjasama yang melihat secara bisnis dan terutama mau diajak, istilah Jawanya, “Mbabat alas bareng.” Mencari jalan gimana ini semua bisa berjalan.

Strategi berikutnya apa? Kamu kan termasuk orang yang secara organik bisa beredar di dunia internet lewat karya.

Masih dalam proses produksi album. Lagu-lagu yang saya tulis kan juga cukup lama, mas. Usianya. Beberapa dari tahun 2013. Jadi ya seperti menahan pup, biarlah semua ini keluar dulu! Hahaha. Lalu kita lihat dari sana, apa kira-kira langkah selanjutnya.

Maksudnya semua keluar dulu? Yang lama diselesaikan dulu baru lihat setelah itu gimana membuat karya baru? Gitu? Apa gimana?

Iya, mas. Bener begitu.

Materi-materi itu masih kamu rasa kontekstual dengan kondisi bermusik yang sekarang?

Kurasa masih ya, mungkin karena temanya romansa. Dan berangkatnya dari tulisan pengalaman pribadi atau cerita yang kudengar di sekitar. Meskipun beberapa juga ada yang fiksi, dari imajinasi.

Apakah musik ternyata jadi katalis untuk hal-hal pribadi yang ada di dalam diri? Makanya jadi saluran keluaran keresahan itu?

Sebenernya medianya sih lewat menulis, dan kebetulan tiap megang gitar jarang nyanyi lagu orang. Sukanya cari chord-chord yang dirasa enak, sambil humming-humming nggak jelas.

Ngomong-ngomong main gitar, saya memperhatikan kamu punya seorang wingman. Yang selalu ikut di dalam bandmu. Bener gitu? Kenapa sih harus ada orang begitu? Memberikan kenyamanankah? Apa gimana?

Alasannya karena kemampuan main gitarku minim. Hahaha. Aku nggak ngerti progresi chord, semua berdasarkan feeling. Mana yang enak dan nggak, meski terus mengasah kemampuan main alat. Sekarang butuh tandem untuk bisa membangun suasana lagu.

Loh, jadi selama ini menulis lagunya hajar bleh?

Ya sebenernya ngerti nama chord. Tapi kalo udah mulai aneh-aneh njelimet, nggak ngerti. Jadi ya, hajar bleh.

Proses menemukan musik yang seperti kamu mainkan sekarang ini gimana? Aku tidak merasakan kamu menggunakan pattern yang lurus-lurus saja. Kekuatannya ya kata-katanya, baru kemudian musiknya mengiringi. Dan itu yang membuatmu unik. Proses menemukannya gimana?

Mungkin karena semuanya ari tulisan dulu, nadanya kemudian. Untuk lirik, aku ini sempet juga nulis lirik dengan bahasa yang mudah dicerna dan sehari-hari, lalu dijadikan lagu, tapi kurang bisa terasa. Akhirnya menggunakan pendekatan yang sangat puitis, juga terasa menggelikan. Yang ada sekarang ya, yang aku rasa di tengah-tengah keduanya. Yang nyaman buatku. Kalau musiknya, aku nggak tahu kenapa, setiap menulis lagu selalu terlintas suasana-suasana gereja katolik dan bau-bauan kayu yang tua. Jadinya suasananya musiknya gelap dan orchestral.

Wah, menarik. Lalu, ketika lagu-lagu yang telah ditulis diperkenalkan ke orang secara live, susah nggak?

Proses latihannya cukup kasian buat playernya. Karena lagunya bercerita, jadi harapanku aransemennya juga seperti mengiringi ceritanya. Kadang di panggung berhenti di tengah lagu hanya untuk bercerita. Lalu lanjut lagi. Pemain band serta sound engineer ambil peran besar di tiap pertunjukanku. Mereka juga, harapanku, tahu jalur cerita yang mau kubangun.

Proses itu intens? Berapa orang playermu yang masih bertahan sejak awal?

Sebenarnya yang udah solid itu band di Malang. Begitu pindah ke Jakarta ini harus memulai lagi, seperti membangun dari nol orang-orangnya, cari player dan team produksi.

Saya melihat kamu main itu apa ya… Ada strong presence dari dirimu pas di panggung. Dapat dari mana kalau boleh tahu?

Sejujurnya jawaban ini juga aku tahu dari teman yang, ya semacam psikolog. Kata dia, ada emosi yang tertahan. Mungkin salah satunya pas manggung, emosi itu ada salurannya. Haha.

Tapi, kamu merasakan energi yang beda kalau main live? Sesuatu yang sehari-hari nggak ketemu?

Benar. Tapi beda cerita kalau nggak di panggung, nggak ketemu penonton. Misalnya di tv atau radio. Jadi perasaan yang luar biasa, ya dari pertukaran energi yang terjadi dengan penonton. Seperti ada dimensi lain.

Sementara ini kan, kamu masih bergerilya ke banyak tempat. Menikmati nggak prosesnya?

Sangat, perjalanan ini sangat menyenangkan.

Jadi, apa yang bisa kita harapkan dari Sal Priadi dalam waktu dekat?

Rilis lagu baru, featuring dengan satu penyanyi wanita yang luar biasa untukku, di bulan Mei ini. Lalu doakan proses album lancar, sehingga bisa disambut dengan rilis album di tahun ini.

Teks dan wawancara: Felix Dass
Foto: Denny Pay/ Dokumentasi Sal Priadi