Sebuah kotak mesin mencetak logo BIRO PENDETEKSIAN LUAR NALAR REPUBLIK INDONESIA REPUBLIK INDONESIA. Di samping mesin tersebut, tergeletak sebuah koper berisi beberapa lembar artikel dengan tajuk “Diculik Alien?” yang beberapa gambarnya akan berubah ketika dipindai (menggunakan gawai yang disediakan sang seniman). Karya berjudul Ciburial Project: Sudjana Kerton tersebut merupakan hasil kolaborasi antara duo seniman asal kota Bandung. Penulis berkesempatan untuk mengobrol dengan Rega Rahman, salah satu seniman dalam proyek tersebut. Bagaimana Rega yang (juga seorang desainer grafis) pada awalnya lebih banyak mengolah kekaryaan dalam ranah seni grafis, tertarik melebarkan eksplorasinya ke wilayah seni media dalam festival seni media tahunan Instrumenta 2019.

Hai Reg, baru-baru ini lo terlibat di pameran Out of Register di Bale Tonggoh, Selasar Sunaryo Art Space, bagaimana sih pandangan lo soal seni grafis hari-hari ini? Apakah seni grafis juga merupakan latar belakang pendidikan lo sewaktu kuliah?

Ya betul, gue lulusan seni rupa dengan peminatan seni grafis di sebuah universitas di Bandung. Mengenai seni grafis hari hari ini, Menurut gue karya seni grafis akhir-akhir ini agak sedikit lesu di skena seni rupa kontemporer Indonesia. Mungkin dikarenakan sekarang ini fenomenanya lebih menitikberatkan pada kebaruan medium atau teknis pada karya seni, sedangkan seni grafis masih “menjual” ke-konvensional-an teknik mencetak. Namun, mungkin masih ada “liga-liga” seni rupa kontemporer yang masih melestarikan konvensi seni grafis dengan kesempurnaan teknik mencetak dan visual yang sophisticated di luar sana. Untuk perkembangan seni grafis secara umum dalam medan seni kontemporer, tentunya hal tersebut sangat baik, tetapi nampaknya buat gue sudah tidak terkejar karena keterbatasan fasilitas ruang/studio yang setidaknya harus berisi mesin cetak konvensional dan perangkat grafis lainnya.

Kalau kita melihat dari skena yang lain, dalam hal ini teknik seni grafis/printmaking yang lebih dititkberatkan pada seni aplikatif, tentu saja seni grafis berkembang sangat pesat. Contohnya, bisa dilihat dari munculnya berbagai teknik print yang menarik seperti water transfer printing, risografi, inkjet printfrescography dan bahkan 3D print. Menurut gue, munculnya acara-acara zine fest, lalu juga comic con, merupakan bagian dari perkembangan seni grafis secara tidak langsung. Bagaimana komik dan buku bisa sampai ke gue kalau ngga ada teknik seni grafis, dalam hal ini printmaking.

(Detail karya Rega Rahman dalam pameran Out of Register di Bale Tonggoh, Selasar Sunaryo Art Space berjudul “Bow to your sensei,” dok: Rega Rahman)

Selain berkarier sebagai seniman, lo juga bekerja di ranah desain grafis kan ya? Apa sih bedanya seni grafis dan desain grafis? Dan apakah berkarier di kedua bidang ini cukup membantu lo mengembangkan gagasan dan eksplorasi dalam berkarya visual? 

Seni grafis sebenarnya bisa disebut bergerak hampir bersamaan dengan desain grafis. Di era renaisans, mungkin seni grafis (yang lebih dikenal sebagai “printmaking”) merupakan teknik mencetak yang dihasilkan dari sebuah kerja desain grafis (term desain grafis belum ada pada saat itu, mungkin masih disebut gambar atau tulisan saja). Di era tersebut, diciptakan mesin untuk mencetak buku dan bahkan desain logo secara massal. Setidaknya di akhir 1400-an, teknik relief print diperkenalkan. Salah satu teknik cetak yang gue pelajari saat kuliah. Meskipun awalnya berkembang berbarengan, lama kelamaan keahlian ataupun keilmuan seni grafis dan desain grafis bergerak sendiri-sendiri, namun masih tetap beririsan. Dalam hal cetak mencetak (printmaking), seni grafis lebih dekat ke ranah seni rupa (atau seni murni) yang urgensinya untuk mengkomunikasikan ide dan nilai artistik kepada penikmat seni di galeri dalam bentuk karya seni yang di-frame secara indah. Sementara desain grafis merupakan bentuk estetika yang lebih aplikatif, yang mengkomunikasikan ide untuk client/publik atau bahkan untuk menyelesaikan suatu masalah yang bersifat fungsional dalam bentuk poster, layout buku, ilustrasi, dan lain sebagainya.

Berkarier di kedua bidang (seni grafis dan desain grafis) tentu sangat membantu gue dalam pengembangan gagasan berkarya. Desain grafis beserta ragam teknik digital di dalamnya sangat mempengaruhi proses bahkan hasil visual dari karya-karya gue. Perangkat lunak desain grafis mempermudah gue dalam proses perancangan, pemilihan warna, abtraksi image, dan lain sebagainya. Selain itu, proses olah desain grafis yang cenderung bersifat digital menjadi menarik ketika diaplikasikan pada sebuah karya seni yang bersifat riil, meskipun pada prosesnya lumayan menimbulkan gap (ketidakpresisian) dari file di layar komputer ke medium berkesenian yang gue pilih. Ujung-ujungnya memerlukan berbagai adjustments. Hal tersebut menjadi tantangan bagi gue sebagai seniman.

Apa sih gagasan di balik hadirnya unsur-unsur komik (khususnya komik Amerika ya) di karya lo? Apakah lo juga tertarik dengan perkembangan komik tanah air?

Kebetulan gue adalah penikmat komik dan graphic novel dari berbagai negara, akan tetapi dalam kekaryaan gue selama hampir 5 tahun terakhir, lebih banyak menggunakan referensi komik Amerika. Hal tersebut karena gue sempat menemukan komik koleksi bokap (terutama Spiderman dan GI Joe) saat gue masih kecil. Detail gambar dalam komik-komik tersebut, termasuk objek-objek di latar belakang, penggunaan efek-efek visual seperti ledakan dan lainnya membuat gue terpesona. Dan kalau dibandingkan dengan komik jepang, komik Amerika cenderung  full color. Saat gue masih kecil, gue nggak begitu mengerti cerita dan bahkan nggak peduli siapa karakternya, yang penting keren aja. Berangkat dari situ, gue ingin “menarik dan memunculkan” lagi perasaan-perasaan pada saat masih kecil ketika melihat komik. Berbeda ketika gue membaca lagi komik saat ini setelah dewasa, banyak pertimbangan-pertimbangan seperti alur cerita, latar belakang karakter, dan informasi lain yang terkadang membuat komik terkesan lebih kompleks untuk dinikmati. Terkadang jadi mikir “too much bro, udahan ya, mikirin pengeluaran bulanan aja udah berat.” Mungkin saat gue masih kecil, komik memang sebenarnya udah berat secara narasi dan ceritanya, tetapi gue nggak ngerti dan peduli, mungkin itulah formula untuk jadi kembali “terpesona” bagi diri gue saat ini.

Terkait perkembangan komik-komik indonesia, gue lumayan mengikuti dan tertarik dengan visual-visualnya yang beragam. Meskipun seringkali penggayaan gambarnya lebih ke-manga-manga-an (baca: gaya komik Jepang), tapi ya itu kultur percampuran Indonesia-Jepang yang mau nggak mau kita terima. Platform digital dan media sosial lumayan membantu akses ke komik-komik Indonesia. Saat gue kecil, gue baca komik-komik Tatang S., Hans Jaladara, dan Ganesh TH. Selain itu, ada juga komik yang amat sangat mengguncang diri gue hingga saat ini: Siksa Neraka. Highly recommended.

(Karya Rega Rahman, dari kiri ke kanan, berjudul “no tales to astonish #4” dan “no tales to astonish #5” yang dipamerkan di Art Jakarta 2019 lalu, dok: Rega Rahman)

Oh iya, beberapa waktu lalu, lo juga sempat berkolaborasi dengan Bandu Darmawan ya di Festival Seni Media Internasional Instrumenta #2: Machine/Magic. Cerita sedikit dong tentang karya berjudul Ciburial Project: Sudjana Kerton itu. Bagaimana akhirnya bisa berkolaborasi dengan Bandu?  

Gue berkolaborasi dengan Bandu Darmawan karena sebenarnya gue bukan termasuk seniman new media. Jadi, salah satu kurator Festival Seni Media Internasional Instrumenta #2: Machine/Magic menunjuk gue sebagai seniman partisipan. Awalnya gue shock sekaligus bangga karena gue sebenarnya nggak tahu menahu soal seni media, tapi berhubung ditunjuk sebagai salah satu seniman patisipan, gue membutuhkan bantuan teknis yang mumpuni plus ide-ide yang lumayan “nyeleneh”. Gue merasa cocok berkolaborasi dengan Bandu Darmawan. Selain Bandu memang seorang seniman media, dia juga teman seangkatan gue, sehingga proses diskusi dan pembuatan karya jadi lebih fluid. Karya kolaborasi gue dan Bandu Darmawan bercerita tentang seorang maestro seni rupa di Indonesia bernama Sudjana Kerton yang konon pernah diculik oleh alien. Di karya ini, kami membuat semacam biro pendeteksian luar nalar yang merespons fenomena tersebut.

Di Festival Seni Media Internasional Instrumenta #2: Machine/Magic kami membuat dua mesin yang ceritanya menangkap dan merespons kejadian penculikan almarhum Sudjana Kerton. Mesin pertama semacam menangkap frekuensi atau bunyi dari luar angkasa yang nantinya di-decipher dan bisa di-print dalam bentuk sandi morse. Lalu, mesin kedua merupakan mesin pemindai artikel majalah tentang penculikan almarhum Sudjana Kerton. Mesin tersebut berfungsi memindai gambar dalam artikel yang kami sediakan dan gambarnya akan berubah ketika dipindai. Di karya ini, kami memasukkan unsur faith, bagaimana kita harus menyikapi sebuah peristiwa di luar nalar, seperti pada film “contact” yang dibintangi oleh Jodie Foster. Kita hanya bisa mempercayai atau acuh terhadap hal-hal tersebut, atau mungkin hal di luar nalar tersebut hanya perihal tidak bisanya kita menjelaskan secara logis karena keterbatasan teknologi?

(Detail karya kolaborasi Rega Rahman dan Bandu Darmawan berjudul “Ciburial Project: Sudjana Kerton,” dalam Festival Seni Media Internasional Instrumenta #2: Instrumenta: Machine/Magic, dok: Andang Iskandar/Humanika Artspace)

Kira-kira bakal ada perkembangan apa lagi nih di kekaryaan lo ke depannya, apakah masih akan beririsan dengan seni grafis dan budaya pop seperti komik? 

Gue sekarang sedang merambah ke medium seni lukis, dikarenakan gue ingin mengeksplorasi satu karya yang utuh, besar, dan kuat, bukan berupa fragmen-fragmen kecil karena keterbatasan ukuran dan kerapuhan kertas dalam seni grafis. Meskipun begitu, gue masih mempertahankan aspek-aspek dalam seni grafis seperti sikap dan semangat saat proses pembuatan karya. Terkadang masih ada aspek teknis seni grafis dalam karya lukis gue, seperti adanya passe-partout (margin pada karya seni grafis), stencil, dan lain sebagainya. Untuk kedepannya, gue sedang mencoba mengulik penambahan tulisan, format medium gambar yang tidak lagi kotak/persegi panjang, dan proses abstraksi yang mungkin lebih kompleks dengan menggunakan perangkat lunak dan coding.

Budaya populer seperti komik pasti masih menjadi concern gue untuk berkarya, karena komik masih begitu melekat di kehidupan keseharian gue. Hobi membaca dan mengumpulkan komik, meskipun nggak terlalu serius seperti kolektor komik, mungkin bagi orang lain agak kekanakan dan merupakan  kebiasaan yang sia-sia. Namun, bagaimana kalau gue menggunakan komik sebagai materi penunjang pembuatan karya? Gue rasa itu menjadi alasan yang bagus dan tidak sia sia, mudah-mudahan.

Teks: Bob Edrian
Visual: Arsip Rega Rahman dan Andang Iskandar/Humanika Artspace