Berdialog: PTK Distribution

Gairah memang selalu sulit dibendung. Kita bisa menutupinya, namun akan sulit untuk menepis rasanya. Bila ditahan, sepertinya hanya soal waktu saja sampai ia meledak lalu menampakkan wujud aslinya. Di Pontianak, saya menemukan ledakan tersebut pada diri Aldiman Sinaga. Kecintaannya pada musik tidak pernah ditutupi, maka hasilnya terbentuklah PTK Distribution pada tahun 2011. Ia memulainya sebagai titik distribusi dan pada perkembangannya, Aldiman pun mengaktifkannya menjadi label rekaman.

Banyak yang bertanya PTK itu singkatan dari apa, setelah ditanyakan kepada yang punya, kata ini hanyalah sebuah singkatan dari nama Pontianak sendiri. Tidak ada yang spesial, alasannya karena saat itu bingung saja untuk pemilihan nama dan karena dia juga banyak dikenal teman dari luar kota berasal dari Pontianak. Sampai kapan gairahnya akan terjaga? Berikut obrolan bersama Aldiman, si empu dari PTK Distribution.

Syarat untuk sebuah band bisa dirilis oleh PTK Distribution?

Yang pasti, band itu harus yang saya suka dulu.

Bagaimana antusiasme warga Pontianak terhadap rilisan fisik?

Tergantung sih, mas. Untuk beberapa band, seperti Manjakani, itu rame. Kalau band yang agak asing terdengar namanya, agak sepi. Tapi tidak apa-apa, bila saya suka bandnya, ya hajar terus. Saya gak terlalu cari untung dari sini dan selalu rilis sedikit. Intinya, saya ingin mendokumentasikan band-teman-teman.

Ada genre musik tertentu yang biasa dirilis oleh PTK Distribution?

Kebanyakan hardcore punk, karena lingkaran pergaulan saya suka dengan musik seperti itu.

Kamu juga sering menginisiasi banyak acara musik. Di Pontianak, kendala apa yang biasa ditemui saat menggelar acara musik? Soal perizinan, mungkin?

Soal tempat, sih. Susah banget sekarang, karena biasanya harga sewanya kurang cocok. Kalau perizinan menurut saya malah bukan masalah. Perizinan itu menurut saya sesuatu yang perlu disiasati, jangan dianggap masalah. Canopy Space adalah tempat favorit disini, meski harus sedikit kompromi terhadap banyak hal, soalnya tempatnya berada di daerah perumahan warga.

Selain Canopy Space, dimana lagi tempat favoritmu?

Secara personal, saya suka gedung di Taman Gitananda. Itu legendaris di Pontianak. Tempatnya kalau pagi diaktifkan sebagai TK, nah, saat dikelola oleh Canopy Center, malam harinya sering ada acara disana. Saya terakhir bikin acara disana tahun 2013.

Sesering apa kamu menginisiasi sebuah gigs?

Lumayan sering, tapi gak rutin. Kalau ada momen-momen tertentu aja, semisal kalau ada band lagi tour, atau kalau ada band lagi rilis sesuatu. Kebetulan, kalau di Pontianak ini acara cukup sering sih, seminimalnya sebulan sekali pasti ada.

Sejak kapan kamu membuat zine? Biasanya, kontennya seputar apa saja?

Dimulai di 2007. Soal kontennya sering berubah-rubah. Saat pertama kali bikin pembahasannya seputar musik. Lalu, sekitar tahun 2011 hingga 2012, topiknya lebih personal. Nah di tahun 2014 hingga sekarang, saya bikin zine lagi judulnya Suara PTK, itu bahas musik-musikan juga.

Menurutmu, bagaimana soal kondisi skena musik di Pontianak hari ini?

Lagi bersemangat banget kalau menurutku. Band-nya banyak yang produktif, seperti Manjakani, Nota yang merupakan band saya, dan masih banyak lagi. Band-band tersebut masih sering merilis karya. Mereka itu agak “ngeyel”, dalam artiannya yang positif. Apapun kondisinya, karyanya tetap ada terus.

Oke, lalu apa proyek kamu selanjutnya yang terdekat?

Saya sedang mencoba mendokumentasikan perjalanan skena musik di Pontianak untuk dijadikan sebuah zine. Entah setebal apapun hasilnya nanti, saya tidak akan menyebutnya buku, tapi zine. Wawancara narasumbernya sudah berlangsung, proses validasi datanya juga sedang dilakukan. Rencananya pengen rilis tahun ini, dan pengen dibawa tour saat launching-nya. Pembahasan zine-nya sendiri akan dimulai di skena musik Pontianak tahun 1999.

Teks dan Wawancara: Rizki Firmansyah
Visual: Arsip PTK Distribution

Geliat Kreatif Dari Sulawesi Tengah Dalam Festival Titik Temu

Terombang-ambing dalam kebimbangan akan keadaan telah kita lalui bersama di 2 tahun kemarin, akibat adanya pandemi yang menerpa seluruh dunia. Hampir semua bentuk yang beririsan dengan industri kreatif merasakan dampak...

Keep Reading

Memaknai Kemerdekaan Lewat "Pasar Gelar" Besutan Keramiku

Di pertengahan bulan Agustus ini, ruang alternatif Keramiku yang mengusung konsep coffee & gallery menggelar acara bertajuk “Pasar Gelar” di Cicalengka. Gelaran mini ini juga merupakan kontribusi dari Keramiku untuk...

Keep Reading

Semarak Festival Alur Bunyi Besutan Goethe-Institut Indonesien

Tahun ini, Goethe-Institut Indonesien genap berusia 60 tahun dan program musik Alur Bunyi telah memasuki tahun ke-6. Untuk merayakan momentum ini, konsep Alur Bunyi tetap diusung, namun dalam format yang...

Keep Reading

Head In The Clouds Balik Lagi ke Jakarta

Perusahaan media serta pelopor musik Global Asia, 88rising, akan kembali ke Jakarta setelah 2 tahun absen karena pandemi pada 3-4 Desember 2022 di Community Park PIK 2. Ini menandai pertama...

Keep Reading