Band ini cukup unik dalam merilis karya-karyanya. Baik materi maupun bentuk rilisan fisiknya. Mereka adalah Penembak Jitu, asalnya dari Banjarmasin. Memainkan musik yang banyak terpengaruh dari Metafora Sufistik. Dalam perjalanannya, mereka baru merilis satu buah album penuh berjudul Semantik yang berisikan 8 lagu. Tentu tak mudah bagi mereka untuk mengenalkan jenis musik yang berisikan materi seperti ini, jalan yang ditempuh pun cukup menyita waktu lebih. Upaya untuk memperkenalkan karya telah mereka jalankan beberapa waktu kemarin, membuat sebuah tur mandiri mengunjungi banyak kota di Pulau Jawa serta negara tetangga. Respon yang mereka dapatkan kebanyakan positif.

Ada satu kesempatan untuk mengobrol panjang lebar bersama mereka saat itu, yang dirangkum ke dalam sebuah bentuk berdialog. Banyak hal yang ingin saya dan mereka tunjukan melalui perbincangan ini. Mari kita simak!

Tahun ini sepertinya menjadi tahun yang benar-benar produktif buat kalian. Nah, album Semantik yang sudah dirilis seperti kata kalian itu dikerjakan dengan sangat cepat. Apa yang kalian ingin tunjukkan dengan adanya album ini?

Sebenarnya kami mulai produktif dalam pengerjaan sejak awal tahun 2016 yang mana kami bergelut dengan lirik sastra dan tafsirnya hingga 2017 dan diawal tahun tersebut kami juga mulai membuat musik. Di tahun 2018 mulai masuk ke studio rekaman dan merilis 1 single dengan judul Sendiri Bersandi di pertengahan tahun 2018. Album yang kami namakan Semantik ini menjadi langkah awal untuk kami memperlihatkan taji kepada para penikmat musik, album ini kurang lebih adalah interpretasi dari selera, gaya dan corak musik, serta cara berpikir dari orang-orang di dalam tubuh Penembak Jitu. Nama Penembak Jitu sendiri memiliki arti lebih ke permaksudan, yakni ingin menggagas dan memberi gagasan pada wadah (yang kami tujukan kepada Penembak Jitu) secara tepat sasaran.

Di Press Release album Semantik, ada kalimat yang menjadi landasan dari terciptanya album kalian. Dan juga kata kalian pemaknaan dari kalimat ini belum selesai adanya. Kenapa begitu?

Sengaja, agar setiap pendengar nantinya mencari tahu dan sharing tentang penafsiran yang kami sampaikan. Dan juga biasanya setiap kami tampil selalu ada pembahasan sinopsis dari setiap lagunya. Dalam album semantik, kami bermaksud untuk dapat mengarungi rahasia yang terbalut rapi pada setiap masing-masing pengalaman batin jiwa manusia, mengajak kita untuk menajamkan mata dan hati, menuju mati sebelum mati, menerangkan bahwa siapakah sebenarnya sosok di balik wujud dan perilaku manusia, raja dari segala raja, penguasa kerajaan Langit dan Bumi dan Seniman yang maha Agung.

Di bio kalian ada kalimat Metafora Sufistik. Bisa dijelaskan maksudnya bagi musik kalian?

Maksud dari metafora sufistik dalam karya kami yaitu dalam segi penulisan lirik. Yaitu menggunakan bahasa metafora sufistik dan genre musik yang kami mainkan yaitu alernative chillpop. Metafora sufistik biasanya mengandung nilai-nilai tasawuf dan pengalaman tasawuf serta mengungkapkan kerinduan sastrawan terhadap Tuhan, hakikat hubungan makhluk dengan khalik, dan perilaku yang tergolong dalam pengalaman religius. Jadi, sastra sufistik mempunyai pertalian yang kuat dengan tasawuf dan sastra sufi. Keduanya itu merupakan sumber ilham sastrawan dalam menciptakan karyanya. Selain itu juga bisa bermakna ganda yaitu bisa buat mencintai kepada pasangan atau mencintai kepada sang pencipta tergantung para pendengar mentafsirkannya, penulis sendiri bermaksud untuk puja memuja kepada sang pencipta.

Cukup berat juga ya materi-materi yang kalian hadirkan. Tapi memang kalian mempelajari dengan dalam tentang Sufistik?

Iyaa karna kita sudah mulai belajar sejak di bangku menengah akhir hingga vokalis kita memutuskan untuk belajar dan melanjutkan studi ke perguruan tinggi dan mengambil Tafsir Quran & Hadist. Dan sejak dulu kita satu paguyuban yang mana sering banyak pembahasan sufistik tadi. Sebenarnya ini tidak ditunjukan per agama tetapi sebenernya bermaksud dengan seluruh makhluk yang ada di semesta ini dan mengenal atas terjadinya sang pencipta dan pengenalan terhadap kepada siapa yang menggerakannya.

Album kalian dirilis dengan berbentuk seperti proposal gitu ya? Isinya penjabaran karya kalian? Salah satu cara berpromo kalian kah?

Iyaa benar, salah satu cara berpromo kami. Biasanya juga dibundling lagi dengan naskah semantik tadi dengan rilisan fisik kita. Dan juga cara kami dalam berpromo adalah dengan mengadakan sesi diskusi selepas kami tampil di manapun itu.

Soal tur kalian kemaren, itu dikerjakan secara mandiri ya? Sebelumnya sudah pernah menjalankan bentuk tur seperti ini?

Belum pernah sama sekali menjalankannya hehe. Hanya bermodal tekad dan yakin saja kami saat itu. Benar benar kolektif uang kami pribadi dan juga mengandalkan uang kas. Kesulitannya mungkin di perihal tempat untuk tidur. Karena dana yang ada hanya cukup untuk makan dan transportasi, kami mengakali dengan membawa sleeping bag dan juga hammock selama perjalanan. Seperti band pada umumnya untuk menambah pundi-pundi rupiah, kami membawa serta merchandise dan juga cd untuk dijual.

Dari ke 12 kota yang kalian kunjungi, kota mana yang menurut kalian sangat berkesan? Baik dari segi audience ataupun host lokalnya?

Di kota Ipoh, Malaysia, karena antusias dan apresiasi yang diberikan sangat berlebih disana. Yang menjadi pembeda di Ipoh adalah karena kami digabung dengan penonton yang sangat total punk. Di awal kami pesimis,tapi malah justru mereka sangat antusias mendengarkan dan mengapresiasi kami. Salah satunya dengan banyaknya penjualan merch dan cd kami di sana saat itu.

Oh ya? Menurut kalian ada hal apa yg membuat atensi di Malaysia lebih besar ketimbang di negara kita?

Karna untuk di malaysia musik dan konsep yang kami usung masih belum ada, juga kami dimintai kembali untuk datang berkunjung kesana. Dan juga yang sangat berkesan saat itu kami di Jakarta. Saat itu acara berlangsung di Kios Ojo Keos dan mungkin rejeki kami bisa ditonton langsung oleh semua personil dari Efek Rumah Kaca dan diberikan sedikit wejangan dari Bang Popi dan juga Bang Cholil yang bunyinya adalah musik kami easy listening tapi punya makna yang berat dan mereka punya harapan agar band kami jangan sampai bubar.

Nah, ini tentang harapan kalian kepada audience yang sudah melihat penampilan kalian secara langsung. Apa sih yang diharapkan?

Paham yang kami maksud dan sampaikan. Walaupun tidak paham benar, setidaknya dapat menikmati musik kami serta menyebarkan dari mulut ke mulut tentang musik kami hingga bisa dinikmati semua kalangan dari kaula muda hingga orang tua pun suka untuk mendengarkannya.

Ada gak perbedaan besar dari main di kota sendiri dengan di kota orang?

Ada, perbedaannya karena atmosfirnya. Sebab beda orang yang di sekelilingnya , terus di awal agak canggung di kota pertama, tapi setelah seterusnya menjadi biasa dan sudah terbiasa jadi tidak ada rasa canggung tadi.

Tips dari kalian untuk band yang ingin menjalankan sebuah tur mandiri?

Tipsnya “Adab Diatas Ilmu” karna adablah segala-galanya. Atitude paling penting di setiap titiknya agar terjadi jejaring yang bagus, dan juga untuk fisik banyakin minum vitamin makan cukup teratur serta tidur yang cukup walupun tidak lama tidur nya hehe, emosi selalu dijaga dan diredakan antar pemain dan kuatkan kekeluargaan.

Teks dan wawancara: Adjust Purwatama
Visual: Arsip Penembak Jitu