Berdialog: Nica

Annisa Rizkiana Rahmasari adalah seorang seniman dan penulis yang tumbuh besar di Semarang tapi kini berdomisili di Jogjakarta. Sehari-hari, Nica, panggilan akrabnya, mengaku lebih sibuk melamun dan bermain bersama kucing.

Nica mengawali ceritanya dengan lebih banyak berkutat di pembuatan zine sampai kemudian melebarkan sayapnya menggeluti komik, buku, mural dan aktif di sejumlah kegiatan pengorganisasian. Ekosistem yang ia miliki, berkembang seiring pertemuan dengan orang-orang baru.

Simak kisahnya lewat wawancara yang dilakukan oleh Indra Menus ini di bawah ini. (*)

Tahun 2015, kamu pernah diundang Jakarta Biennale untuk membuat workshop zine bersama anak-anak di Studio Sanggar Anak Akar. Boleh diceritakan awal ketertarikanmu dengan zine dan kemudian bagaimana caranya mengembangkannya menjadi sebuah workshop?

Pertemuanku dengan Proyek Jakarta Biennale 2015 menarik sekali. Kurator Asep Topan menelepon. Saat itu, aku masih tinggal di Semarang dan dia bertanya apakah aku mau terlibat dalam proyek itu. Sebelumnya kami pernah bertemu saat aku berpameran dengan teman-teman Kolektif Hysteria untuk acara Tengok Bustaman 2: #BokCinta. Banyak sekali kegiatan yang berkorelasi dengan seni yang bermula di tahun 2011 bersama Hysteria. Persahabatan kami dimulai di situ. Aku sendiri membuat zine personal sejak SMA. Aku sering membolos saat sekolah, dan menemukan bentuk literatur independen lebih menarik untuk dikulik. Dalam prosesnya, membuat zine, di mana menulis dan menggambar merupakan bagian darinya, menjadi sangat reflektif. Membuat zine kemudian membantuku berurusan dengan teen angst yang aku punya dan menjadi praktek seni yang aku lakukan. Dari sesuatu yang awalnya sangat personal, lantas membawaku bertemu pelaku zine lain, kemudian ke kolektif seni, ke ekosistem yang lebih luas, sampai pada tantangan selanjutnya yaitu bagaimana meneruskan pengetahuan tentang literatur independen ini ke generasi selanjutnya. Akan terdengar naif, namun zine making adalah cinta pertama. Banyak ide baru yang muncul dari kebiasaan menulis dan menerbitkannya secara mandiri. Saat workshop pun, sebisa mungkin aku membuat suasana membuat terbitan yang semenyenangkan mungkin, personal, menggali cerita-cerita sederhana yang berarti, dan memastikan agar setiap orang tahu bahwa mereka bisa berharap dari budaya mandiri seperti ini.

Zine di Indonesia mengalami perubahan yang cukup drastis, dulu identik dengan musik bawah tanah dan politis sementara sekarang cenderung ke media personal untuk merilis karya. Sekarang sudah jarang menemukan zine berisi tentang musik. Kamu sendiri memaknai zine yang kamu bikin sebagai apa?

Ya. Aku juga berpikir bahwa zine memang tidak terlepas begitu saja dari budaya yang bergerak di luarnya. Kalau satu dekade lalu kultur media alternatif didominasi dengan semangat fotokopi, kini teknologi dan pendekatan seni lain menawarkan varian cetak yang beragam. Termasuk proses digitalisasi yang juga tidak kalah seru. Untukku pribadi, zine dan karya-karya yang aku buat, lebih terasa seperti rumah. Kalau aku lupa siapa diriku, tinggal kembali untuk memastikan bahwa aku ingat jalan yang dituju.

Kamu berkutat di beberapa bidang seni, selain zine kamu juga bikin komik Nicacomica, cerita dong mengenai komik ini.

Nicacomica adalah proyek komik yang awalnya dibuat secara tidak sengaja paska Jakarta Biennale 2015. Komik pertama yang aku buat berjudul Inko. Ceritanya tentang aku yang senang naik bus tujuan Ungaran-Semarang. Saat itu di dalam bus, sering dipenuhi oleh orang-orang yang tidur selama perjalanan. Dan ketika orang-orang yang lain tidur itulah, aku melamunkan apa yang mereka pikirkan. Entah mereka sedang pergi atau pulang, kita tidak ada yang tahu. Aku senang menerka-nerka, dan menemukan kalau panel-panel komik bisa menjadi alat untukku bercerita. Isu-isu yang berat juga terasa lebih jenaka dengan komik. Nicacomica juga banyak terinspirasi dari Fujiko F. Fujio dan komik-komik panel yang bercerita tentang kehidupan kucing dan anjing di rumah.

Apakah menurutmu zine dan juga komik cetak bikinan sendiri itu masih relevan dengan budaya modern yang serba digital ini?

Masih sekali. Aku pikir semua pergeseran kebudayaan ini terjadi sebagaimana adanya saja. Semua hal berubah karena pengaruh ekonomi, politik, sosial, dll. Namun aku yakin hal tersebut sejatinya tidak akan mengubah orisinalitas ide yang datang dari individu maupun kelompok dalam menciptakan sebuah karya. Akan tetapi, tentu hal itu menjadi PR baru karena setiap orang ditantang untuk menambah kanal berkarya mereka. Seperti sekarang kita harus jadi lebih melek terhadap arsip digital dan bentuk-bentuk bacaan non fisik. Meskipun demikian, melihat semangat para makersnya kini rasanya zine masih jauh dari kata punah. Dan itu gila banget. Barangkali karena sifatnya yang fleksibel, dan terbuka, zine menjadi media yang tak lekang oleh jaman.

Kamu juga memilih mural sebagai salah satu media berkaryamu. Apa yang membuatmu menyukai mural?

Sedari kecil aku sering ingin melukis di media yang besar. Namun karena tidak selalu bisa membeli kanvas, maka hanya ada dua pilihan yaitu melukis di triplek atau melukis di tembok. Yang membuat aku menyukai mural, karena melihat pesan baik tertoreh di tembok-tembok terasa seperti memiliki kekuatan tersendiri. Banyak seniman-seniman mural yang menginspirasiku dalam berkarya seperti Marishka Soekarna, Diela Maharani, Sheila Rooswita dan Samuel Indratma. Salah satu karya yang paling berkesan yaitu mural berjudul Beragam, Belajar, Berkarya, Bersama yang pada tahun 2017 lalu dibuat untuk helatan Keep the Fire On #2 di rumah Survive Garage, Jogjakarta. Malam pembukaan pameran banyak sekali yang datang, suasananya hangat, dan Survive Garage juga turut mengundang warga setempat. Anak-anak kecil di kampung membuka pameran tersebut dengan tari tradisional, rasanya bahagia sekali.

Dari beberapa hobimu tadi, kamu juga merilis buku Jingga Jenaka bersama Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG). Boleh diceritakan perjalananmu memutuskan untuk membuat buku tersebut.

Akhir tahun 2018 lalu, aku bertemu dengan kurator Comma Books, Rain Chudori. Kami berdiskusi banyak tentang naskah puisi dan komik yang sudah aku simpan sejak tahun 2012. Dalam perjalanan tersebut aku kemudian bertemu dengan Katrine Gabby, yang kemudian menjadi editor buku Jingga Jenaka dari KPG. Lalu dimulailah proses mengumpulkan, menyunting, mengatur tata letak, dan mewarna komik-komik. Sejujurnya bisa menerbitkan buku ini lebih terasa seperti kejutan karena semuanya dimulai lewat zine making. Banyak suasana dalam buku yang dipengaruhi oleh ingatan masa kecilku, kenangan baik tentang bapak dan nenek, sahabat-sahabat lama, dan kebijaksanaan hari-hari yang serba biasa. Komik-komik kecil dalam buku lantas menggantikan fungsi gambar ilustrasi. Jingga Jenaka juga diciptakan berdasarkan warna siang hari yang penuh kasih yaitu merah muda lembut. Harapannya agar buku ini mampu memeluk perasaan siapa saja yang membacanya.

Lalu bagaimana cerita tentang Terbitan BiBaBelula dan Toconica?

Toko mungil Nica awalnya adalah toko preloved yang aku pakai untuk menjual buku-buku, zine, dan beberapa barang lucu lain di Twitter maupun Facebook. Kemudian pada 2016 akhir, ide untuk membuat wadah sendiri untuk menjual merchandise karya muncul dan akhirnya dipakailah nama Toconica. Prosesnya sendiri cukup panjang karena ketika memiliki toko, kita harus menjadi ulet dan disiplin. Namun, aku belajar banyak dari situ sekaligus ingin berterima kasih pada semua teman yang sudah memberi semangat untuk Toconica! Lalu, Terbitan Bibabelula sebenarnya merupakan proyek kolaborasi antara lima ilustrator dengan penerbit Bukune yang dimulai pada bulan April lalu sebagai rangkaian proyek Mainzine. Terbitan Bibabelula dan empat cerita lainnya dalam satu paket ini sendiri juga sudah bisa didapatkan di toko-toko buku terdekat.

Kegemaranmu atas dunia tulis menulis dan visual berpadu dengan cerahnya warna warni yang kamu pilih dalam setiap pola karyamu. Apa yang ingin kamu sampaikan melalui warna warna cerah yang kamu pakai dalam setiap karyamu?

Warna-warna cerah menjelma sebagai kebaikan kecil ditengah hidup yang serba abu-abu ini. Bagiku penting sekali untuk bisa menciptakan sesuatu yang comforting. Ingat cerita Bona dan Rong-Rong di majalah Bobo? Bona yang adalah anak gajah berwarna merah muda selalu membantu Rong-Rong si anak kucing cokelat ketika mereka menghadapi orang jahat. Saat besar, ternyata aku menemukan bahwa kejahatan itu memecah dirinya menjadi banyak hal: rasa sedih, kehilangan, keputusasaan, stagnasi, dan banyak lainnya. Aku ingin meneruskan kebaikan dari karakter-karakter seperti Bona yang aku temui saat masih kecil. Aku menyebut kekuatan tersebut sebagai Cuteness and Destroy. Mengalahkan semua energi buruk dengan sesuatu yang hangat dan jenaka.

Kamu juga terlibat dalam pameran End Toxic Masculinity (bagian dari rangkaian International Women’s Month). Rasanya kawan-kawan yang belum mengerti tentang citra maskulinitas yang selama ini selalu dianggap sebagai cerminan budaya yang unggul perlu tahu kenapa hal itu harus dihentikan.

Proyek ini diinisiasi oleh Needle and Bitch dan Ruang Gulma pada bulan Maret lalu dengan mengangkat tema End Toxic Masculinity. Apa yang kami coba angkat disini adalah bagaimana setiap dari kita sekarang sudah seharusnya menghentikan praktik maskulinitas yang tidak sehat seperti misalnya memercayai bahwa mengonsumsi bagian tubuh hewan tertentu dapat meningkatkan kejantanan. Pada kenyataannya, tidak hanya banyak dari kepercayaan tersebut yang merupakan mitos belaka, hal tersebut juga turut berperan dalam banyaknya perburuan spesies seperti harimau. Struktur sosial selama ratusan bahkan ribuan tahun membuat kita percaya bahwa maskulinitas harus selalu ditunjukkan sebagai kejantanan yang tidak mengenal rasa sakit, tidak boleh menangis, atau mudahnya, tidak boleh ‘merasa’. Padahal dalam kebutuhan domestik seperti merawat pasangan dan membesarkan anak, kasih sayang dari masing-masing pihak menjadi sangat krusial. Kita masih menghadapi kasus dimana timpangnya pembagian kerja dalam rumah tangga menjadi awal muncul dan langgengnya kekerasan domestik. Selain mendekonstruksi pemahaman yang tidak tepat tersebut, kami juga banyak berdiskusi tentang bentuk-bentuk relasi yang sehat, tantangan dalam membicarakan isu gender hari ini, membagikan informasi tentang menstrual awareness lebih banyak lagi, dll. Setiap harinya, kegiatan #IWM akan ditutup dengan makan bersama. Teman-teman di Ruang Gulma akan bergantian memasak, semuanya terasa sangat suportif dan menyenangkan.

*) Jika kamu tertarik dengan apa yang dikerjakan oleh Nica, kamu bisa menuju ke beberapa laman Instagram tentang apa saja yang dikerjakannya selama ini: @autonica, @nicacomica, @toco.nika dan @jinggajenaka.

Teks dan wawancara: Indra Menus
Foto: Arsip Nica

Pemerintah Ukraina Bangun Museum Perang dalam Aset NFT

Invasi Rusia atas Ukraina terus berlanjut. Di tengah kekacauan yang terjadi, tentu banyak korban yang berjatuhan, entah itu dari satuan militer atau pun warga sipil yang tak bersalah. Perang yang...

Keep Reading

Terhubung Langsung di Collabonation Creative City Edisi Bandung

Setelah mengunjungi Makassar, Medan, dan Malang, Collabonation Creative City kembali melanjutkan perjalanannya. Kali ini Bandung yang menjadi titik pemberhentiannya. Collabonation Creative City hadir membawa semangat baru melalui rangkaian kegiatan salah...

Keep Reading

Program Menarik Bernama Women Composser Weekend

Merayakan Hari Perempuan Internasional yang jatuh di tanggal 8 Maret lalu, untuk pertama kalinya, Yayasan Bandung Philharmonic berkolaborasi dengan Komunitas Perempuan Komponis: Forum & Lab untuk meluncurkan dua program webinar...

Keep Reading

Galeri Lorong Langsungkan Pameran Seni Bernama IN BETWEEN

Berbagai momentum di masa lalu memang kerap menjadi ingatan yang tak bisa dilupakan. Apalagi jika irisannya dengan beragam budaya yang tumbuh dengan proses pendewasaan diri. Baru-baru ini Galeri Lorong, Yogyakarta...

Keep Reading