Jumat, 7 Desember 2018. Joglo Beer, Kemang, Jakarta Selatan. Setelah aksi dari beberapa penampil sebelumnya, sebuah band dari Bandung mendapat gilirannya untuk bermain. Empat orang sudah menempati posisi di panggung. Dimulai dengan petikan gitar, sebuah gubahan intro mulai dimainkan. Di pertengahan komposisi tersebut, vokalisnya muncul secara tiba-tiba; sesosok pria bertubuh gempal, bertelanjang dada, memakai topeng khas lucha libre, pegulat profesional khas Mexico. Cucuran keringat segera keluar, dengan berlari dia menerobos kerumunan menuju panggung dan memulai aksi anjing edannya di gelaran Uh-oh They Comes To Town yang merupakan hasil kolaborasi dari A.K.A.P serta La Munai Records.

Band itu bernama Muchos Libre. Terdiri dari Bagongtempur (vokal), Korongmentah (vocal), Hilman Hakim Nugroho (drum), Nizar Oktriyadi (Bass), Ardian Aziz Oktriyana (Guitar), serta Rizky Varama (Guitar). Dengan gagah, mereka memproklamirkan jenis musiknya sebagai Rock Datang Bulan. Cukup aneh kedengarannya? Tunggu sampai melihat penampilan mereka langsung. Bila beruntung, kalian bisa melihat sang vokalis membuka celananya untuk mempertontonkan pantatnya. Bagaimana respon penonton saat itu terjadi? Di luar dugaan, audience bersorak kegirangan seperti melepaskan adab ketimurannya.

Pengalaman menonton mereka di Joglo Beer melahirkan sebuah kesadaran, bahwa topeng gulat sang vokalis nampaknya mampu memberikan semacam dorongan energi liar. Pasalnya, pria di balik penutup wajah tersebut sebenarnya adalah sosok yang kalem dan cenderung pemalu. Di sebuah sore pada hari Senin, tanggal 10 Juni 2019, saya bertemu dengan Korongmentah atau Dally Anbar untuk sebuah sesi wawancara.

“Ke mana personil yang lain?” tanya saya.

“Semuanya sibuk kerja dan Bagongtempur sedang merantau di Jepang. Baru akhir tahun ini dia pulang,” katanya.

Saat itu pun kami berbincang panjang lebar perihal Muchos Libre dan rencana-rencana mereka ke depan. (*)

Dally, setelah Muchos Libre vakum selama lima tahun, di tahun 2018 kemarin kenapa lebih memilih me-reissue album Viva La Libre (2013) dibanding membuat karya baru sebagai tanda kebangkitan? Lalu, kenapa kalian dulu sempat istirahat cukup lama?

Jadi ceritanya, setelah vakum cukup lama, akhirnya kami memutuskan untuk kembali produktif. Bertepatan dengan lahirnya kesepakatan tersebut, datang pula sebuah tawaran manggung di Jakarta. Di panggung pertama pasca istirahat itu, Kami me-reissue EP Viva La Libre demi kebutuhan ongkos produksi manggung dan bukan untuk perkara yang serius semisal penanda hari kebangkitan, karena kondisi finansial kami memang sedang sangat tipis sekali saat itu. Soal kenapa vakum cukup lama, semua gara-gara tiap personil Muchos Libre tengah disibukkan oleh aktivitasnya masing-masing.

Soal video klip Miris & Sinting, adakah alasan khusus hingga memilih rumah produksi Gerombolan Struzzo sebagai penggarapnya?

Tentu saja ada. Jadi, Miris & Sinting adalah salah satu nomor dari EP Penghancur Rock Telah Tiba yang rilis 15 Maret 2019 kemarin. Kami saat itu berpikir bahwa lagu itu sepertinya sangat bagus bila dibuat video klip. Dan penggarapnya harus bisa menawarkan sebuah kelucuan di perkara konsepnya. Kemudian kami melihat video klip Carbere Amor milik El Karmoya yang dieksekusi oleh Gerombolan Struzzo. Dari sana kami pun tertarik untuk mengajak mereka berkolaborasi karena di video tersebut Gerombolan Struzzo bisa merepresentasikan El Karmoya sebagai band yang kocak.

Sebelumnya Muchos Libre ini selalu tampil dengan dua vokalis. Nah, karena kondisinya Dilla Anbar (Bagongtempur) sedang bekerja di Jepang, bagaimana sekarang statusnya sebagai personil?

Untuk sekarang dia masih berstatus sebagai personil. Sedikit bocoran, Muchos Libre ini sebenarnya sedang memproses sebuah album penuh. Nah, absennya Dilla ini cukup berpengaruh sih terhadap progres rencana tersebut. Hasilnya agendanya jadi molor, yang awalnya direncanakan digarap tiga tahun lalu, malah baru kesampaian rekaman beberapa bulan ke belakang. Itu karena pada akhirnya cuma saya saja yang bergerak. Bila lancar, Dilla akan pulang ke Indonesia di sekitaran bulan Oktober.

Di bagian, “Cuma saya saja yang bergerak” saya garis bawahi. Memangnya bagaimana peran personil yang lain dalam progres perampungan album penuh tersebut?

Ralat, sebenarnya semua punya peran. Hahaha. Tapi komando untuk bergeraknya memang ada di saya, dikarenakan punya banyak waktu luang dan personil lain memiliki aktivitas yang cukup padat. Anggota Muchos Libre yang lain sangat berjasa dalam menggarap seluruh aransemen materi Muchos Libre, terlebih Nizar dan Ardian.

Saat manggung pasti kamu memakai topeng, mungkin bisa diceritakan asal-muasalnya hingga konsep tersebut dapat tercetus?

Saat awal memulai Muchos Libre di sekitaran tahun 2010, saya dan Dilla masih belum memakai topeng. Setelah berselang lima panggung, kami akhirnya memutuskan mencoba memakai topeng sebagai gimmick untuk agenda manggung berikutnya. Waktu itu kondisinya saya masih pake “sarung ninja”, bukan topeng gulat seperti sekarang. Nah, dari sana, saya dan Dilla pun bersepakat untuk selalu memakai topeng dalam setiap performance, karena ternyata cukup membantu saya yang pemalu untuk bisa lebih tampil lebih bebas dan percaya diri.

Oke, berarti topeng juga yang membuat kamu bisa berani memamerkan pantat di beberapa panggung Muchos Libre, ya?

Bisa jadi, hahaha. Cuman itu benar-benar tanpa rencana. Semacam gerakan reflek karena terbawa suasana acara. Mungkin kebiasaan itu terbangun juga karena saat membentuk Muchos Libre dulu, saya dan Dilla sedang giat dalam mencari band-band punk nyentrik semacam GG Allin dan Antiseen. Tapi saya tidak mau persis menjadi seperti mereka. Terlalu mengerikan. Untungnya, penampilan saya yang kerap nyeleneh di panggung selalu disambut dengan gempita oleh penonton. Sampai sejauh ini, belum ada layangan protes yang ditujukan kepada Muchos Libre.

Mengingat masing-masing personil yang memiiki beragam aktivitas super padat, bagaimana komitmen tiap personil terhadap Muchos Libre itu sendiri?

Pertama, saya selalu yakin, bila dalam sebuah band, butuh setidaknya satu orang yang harus teguh pada komitmen agar band bisa tetap berjalan. Lalu, seperti yang kamu sebutkan, bahwa setiap personil Muchos Libre memiliki aktivitasnya masing-masing di luar band, dan hal tersebut dijalani dalam rangka mencari nafkah. Atas dasar dua premis tersebut, maka saya selalu mengingatkan kepada anggota yang lain bahwa jangan jadikan Muchos Libre sebagai prioritas, karena secara finansial band kami belum bisa menghasilkan uang banyak. Tapi, saya dan Dilla bersepakat untuk tetap komitmen di Muchos Libre. Karena kami secara personal selalu sayang terhadap apa yang sudah dibangun dari awal. Semisal dalam proyek zine kami yaitu Cucukrowo Mekgejin, meski kadang lelah dan memutuskan untuk vakum, kami selalu sepakat bahwa fase istirahat tersebut berfungsi sebagai jeda saja, untuk akhirnya kembali berkarya lagi saat energi telah terkumpul penuh.

Ngomong-ngomong tentang album baru yang sedang digarap, apa yang akan Muchos Libre tawarkan di sana?

Pastinya dari segi musikalnya. Materinya akan lebih berisik dari lagu-lagu sebelumnya. Dari segi lirik juga lebih eksploratif, dengan menggunakan metode penulisan yang sama saat saya menulis zine, alias serampangan. Hahaha. Oh, ya. Tiga lagu pada EP Penghancur Rock Telah Tiba yaitu Miris & Sinting, Rock Datang Bulan, dan U-La-La akan terdapat juga di album penuh nanti. Lalu, penggarapan materinya sangat serius dibandingkan pembuatan karya-karya sebelumnya. Kini progres sudah mencapai 80%, tinggal mixing dan mastering. Semoga saja hasil akhirnya memuaskan.

Oke, selesai. Jadi, apa judul albumnya? rencananya akan dirilis kapan?

Untuk judulnya, jujur saja belum kepikiran. Dan bila semuanya lancar, album tersebut akan dirilis pada bulan September ini. Semoga tidak meleset. (*)

Teks dan wawancara: Rizki Firmansyah
Foto: Dok. Muchos Libre