Berdialog: Mira Rizki Kurnia

Setang motor, alat penggorengan, telepon kaleng, seng bekas, radio bekas, hingga gir mobil mainan. Objek-objek keseharian tersebut dialihfungsikan menjadi medium artistik oleh seorang seniman muda bernama Mira Rizki Kurnia. Perempuan yang akrab dipanggil Miki ini beberapa kali ‘membunyikan’ objek-objek keseharian dalam perhelatan-perhelatan seperti pameran dan pertunjukan. Tidak hanya sebagai individu, bukan mainnya Miki juga kerap tampil sebagai bagian dari kolektif bunyi dan musik eksperimental seperti Konstipasi (bersama rekan senimannya seperti Abshar Platisza dan Tomy Herseta), hingga yang terbaru, bernama GURU. Apa yang membuat Miki tertarik dengan bebunyian dari objek keseharian? Penulis mencoba untuk mengajukan beberapa pertanyaan seputar eksplorasi artistik Mira Rizki Kurnia. 

Hai Mik, sebagai pembuka, bisa cerita sedikit soal latar belakang pendidikan/kuliah dan kapan sih pertama kali kamu berpameran? 

Hai, hai! Saya menyelesaikan pendidikan sarjana saya di ITB. Waktu itu saya masuk kuliah di tahun 2012 dan selesai di tahun 2017. Sebenarnya pertama kali banget memamerkan karya waktu saya kuliah tingkat pertama karena saat itu biasanya mahasiswa memang diharuskan untuk memamerkan karyanya selama masa studi satu tahun. Bareng-bareng teman satu angkatan di kampus, dan itu termasuk pameran akademik.

Kalau untuk pameran di luar kampus, pertama kali itu di tahun 2013. Waktu itu ada temen dari kampus seni lain yang ngajak berpameran di ruang publik, tepatnya di bawah jembatan layang pasupati, Bandung. Itu juga sebenarnya pengalaman pertama berpameran di ruang publik sih bagi saya. Waktu itu kalau nggak salah karyanya berupa gambar. Lalu setelah itu mulai coba ikut open call pameran-pameran yang mendorong saya mengeksplorasi medium dan media lain. Selain itu, saya juga bikin-bikin pameran sendiri bareng temen-temen yang lain di luar kampus.

Kamu nampaknya memilih untuk fokus mengeksplorasi medium bunyi, ada alasan tertentu?

Saya tertarik dengan medium bunyi pada awalnya gara-gara suka main musik. Suka bebunyian dari instrumen musik lalu semacam menemukan keseruan tersendiri kalau bebunyian instrumen itu bisa ‘diakalin’ sampai ketemu bentuk bunyi baru. Mulai dari cara memainkannya sampai penggunaan materialnya. Beriringan dengan masa eksplorasi itu, saya juga bertemu senior dan teman-teman di kampus yang mengulik hal serupa. Saya banyak belajar dari mereka. Kebetulan saya juga menjalani studi di studio Intermedia dan bapak dosennya lumayan melebarkan pandangan saya mengenai makna bunyi itu sendiri. Sampai akhirnya saya jadi terbiasa untuk mengolah bunyi sebagai medium berkarya.

Selama proses kreatif di periode itu, saya mulai menemukan makna bunyi buat diri saya sendiri. Saya sangat tertarik dengan medium bunyi karena sifatnya yang sementara tapi mampu meninggalkan memori berbeda bagi pencerapnya. Saya rasa sih medium ini membuat saya sadar akan eksistensi diri saya sendiri di dalam lingkungan saya, mulai dari pemahaman bahwa aktivitas saya dan siapapun di dalam area bunyi akan berpengaruh pada ekosistem bunyi itu sendiri, hingga upaya memahami identitas diri melalui aktivitas mencerap bunyi.

Banyak orang bilang (sebenarnya dari guru gambar saya sih) bahwa gambar itu bernilai lebih dari ribuan kata, tapi saya juga menemukan dan setuju dengan sebuah kajian yang menyebutkan bahwa bunyi bernilai lebih dari ribuan gambar. Maksudnya adalah di saat yang bersamaan banyak sekali hal yang terjadi di lingkungan kita, seperti pergerakan objek yang menghasilkan getaran, dan kemudian juga menghasilkan bunyi. Hal tersebut berkaitan dengan definisi bunyi itu sendiri. Dalam keilmuan fisika, bunyi merupakan getaran yang merambat pada mediumnya. Bahkan dalam sunyi sekali pun, ketika kita nggak melihat sesuatu yang signifikan terjadi secara kasat mata, bunyi tetap hadir, seolah-olah bunyi selalu ada setiap saat di alam semesta. Sebenarnya ini pertanyaan yang cukup panjang untuk dijawab bagi saya, mungkin ini hanya sebagian dari apa yang saya sukai.

(Karya Mira Rizki Kurnia dalam perhelatan Bandung New Emergence Vol. 6: Listen!, dok: Mira Rizki Kurnia)

Cerita dong soal pengalaman kamu mengikuti perhelatan-perhelatan bebunyian seperti Bandung New Emergence Vol. 6: Listen! (BNE, 2016) dan Soemardja Sound Art Project (2018).

BNE Vol. 6 adalah momen pertama saya memamerkan karya dengan medium bunyi di khalayak umum. Sebenarnya perhelatan ini jadi batu loncatan pertama untuk belajar dan berkarya lebih lanjut dengan medium bunyi karena dalam perhelatan tersebut saya dipertemukan dengan seniman-seniman yang sudah lebih dulu menekuni medium bunyi dan jadi starting point juga buat saya untuk ngobrolin karya bebunyian dengan Om Bob. Karena jujur aja, sebelumnya di lingkungan kampus saya, nggak banyak tahu bahkan kenal dengan orang-orang yang menaruh perhatian pada seni bunyi. Setelah berpartisipasi sebagai seniman di BNE, saya berpartisipasi di Soemardja Sound Art Project tahun 2018 sebagai seniman dan tim kurator bersama dua teman saya, Abshar Platisza dan Andrita Yuniza. Waktu itu saya diminta bantuan Om Bob lagi untuk bantu mengarahkan proses berkarya para seniman partisipan yang masih mahasiswa, mengingat waktu itu posisi saya sebagai asisten dosen di studio Intermedia yang setidaknya cukup tahu karakteristik berkarya mereka selama di kampus, jadi saya bisa bantu menjembatani antara panitia Soemardja Sound Art Project dengan mahasiswa.

(Karya Mira Rizki Kurnia di Soemardja Sound Art Project, dok: Ardiles Klimarsen)

Akhir tahun lalu kamu sempat mengikuti program Artist in Residence-nya Aomori Contemporary Art Center (ACAC) di Jepang kan ya? Berapa lama dan pengalaman menarik apa yang kamu dapatkan disana, khususnya terkait kekaryaan yang kamu olah selama residensi?

Iya, saya bermukim di ACAC kurang lebih selama 3 bulan. Hal menarik yang saya temui di masa residensi ini adalah menjalankan proses kreatif dengan kebiasaan dan budaya yang berbeda, walaupun sebenarnya beberapa akar dari kebiasaan kita (di Indonesia) kan mirip dengan orang Jepang. Hal tersebut semacam akibat dari apa yang terjadi antara Indonesia dan Jepang di masa lampau. Saya sadar kalau proses distribusi produk pakai di sini mungkin secara nggak langsung membentuk selera, cara pandang, dan berpikir kita sehari-hari. Maka dari itu proyek yang saya ajukan ngebahas bagaimana distribusi budaya dari sana ke indonesia melalui produk-produk pakai ini.

Ketika disana, saya suka sekali mengobservasi objek keseharian mereka mulai dari yang remeh temeh seperti perangkat rumah tangga, transportasi, alat tulis kantor, hingga infrastruktur kota. Sampai akhirnya karya saya berupa instalasi ‘bunyi’ yang mengambil mekanisme infrastruktur lalu lintas kota dan objek keseharian yang saya dapat dari warga dan TPA sekitar. Proses saya mengobservasi objek menjadi cara yang subtil untuk mengidentifikasi bagaimana masyarakat diarahkan, dibentuk, dan terbentuk. Jadi semacam ada sebuah pertanyaan besar muncul dalam proyek ini, ‘bagaimana warga Aomori menghadapi konvensi yang ada dalam kehidupan sehari-hari mereka?’ Saya juga membuat lokakarya dan performans bersama warga di sana supaya mereka lebih mudah memahami tentang kerangka ide dari proyek yang saya lakukan. Untuk performans, saya juga melakukannya di dua tempat yang berbeda, di Bandung dan di Aomori secara bersamaan dibantu dengan teman-teman dari band saya, GURU.

Hal menarik lainnya adalah nggak banyak dari mereka yang sadar seberapa berpengaruhnya budaya populer yang mereka tularkan di negara lain seperti Indonesia. Makanya mereka terkagum-kagum kalau misalnya kita tahu banyak tentang musik pop 80-an mereka yang juga berpengaruh ke musik populer kita pada era yang sama, bahkan mungkin hingga sekarang. Untuk tayangan hiburan seperti animasi, mereka kagum karena ternyata banyak karya animasi Jepang yang ditayangkan di stasiun televisi Indonesia, terutama di masa kecil saya. Residensi ini merupakan check point ke-2 bagi perjalanan kekaryaan saya setelah sebelumnya bermukim di Braunschweig, Jerman. Selain bisa melihat sudut pandang lain, bagaimana praktik berkesenian bagi mereka dan manifestasi yang dibawanya, saya banyak belajar bagaimana berperilaku dalam proses kreasi yang juga berhubungan dengan gagasan besar kekaryaan saya. Memang masih tahap belajar sih, mengingat saya termasuk sebagai ‘seniman bungsu’ dan masih belum terlalu berpengalaman di ACAC. Untungnya teman-teman saya yang sudah lebih berpengalaman dengan sangat baiknya mau mengajari saya bagaimana harus bersikap sebagai seniman. Saya sangat bersyukur diberi kesempatan untuk belajar dan berpraktik di sana, semoga banyak hal juga yang bisa saya bagikan untuk teman-teman lain di sini.

(Mira Rizki Kurnia terlibat mengikuti program residensi di Aomori, Jepang, dok: Yamamoto Tadasu, Aomori Contemporary Art Centre, Aomori Public University)

Bagaimana pandangan kamu tentang perkembangan sound art di Indonesia, khususnya kota Bandung saat ini? Dan kira-kira lagi tertarik membahas apa nih di karya-karya bunyi berikutnya?

Dari yang saya perhatikan, seniman yang menggunakan medium bunyi sebagai salah satu elemen dalam karyanya semakin bertambah. Begitu pula untuk seniman yang memiliki ketertarikan untuk berkarya dengan menggunakan bunyi sebagai elemen utamanya. Bisa dibilang sudah mulai menjamur dan mungkin berangkat dari lingkaran pergaulan tertentu yang mempengaruhi pandangan mereka tentang uniknya medium ini. Para calon seniman yang saya temukan di kampus mungkin belum terlalu banyak yang memilih fokus berkarya dengan medium bunyi. Tapi banyak juga teman-teman yang mulai mencoba berkarya dengan medium ini, yang awalnya dari skena musik eksperimental.

Semenjak berkarya dengan menggunakan objek keseharian seperti karya saya berjudul “Denting Dalam Bising,” mainan mini 4WD dalam seri “Ready set,” infrastruktur kota seperti “Shirushi o Fumikoeru,” bahkan potongan cuplikan film dalam seri “Coba Lagi,” saya semakin tertarik untuk menggunakan objek yang memang sangat dekat hubungannya dengan keseharian kita di masa kini. Objek-objek yang seringkali kita abaikan. Saya mulai menemukan ketertarikan untuk merespons objek pakai kita (yang juga merupakan bagian dari cara hidup kita) yang tentunya memiliki potensi untuk memperlihatkan identitas kita juga. 

Selain itu, saya sedang mencari tahu lebih jauh mengenai hubungan bunyi dengan kondisi atau beragam aspek yang membentuk sebuah tempat. Sebenarnya gagasan ini masih semacam kerangka besarnya, tetapi ada ketertarikan untuk merinci gagasan tersebut menjadi upaya pencarian hubungan bunyi dengan kondisi cuaca, atau iklim sebuah kota. Kondisi sosial dari masyarakat itu sendiri juga menarik untuk dicari tahu sih, seperti bagaimana mereka memperlakukan benda pakai sehari-hari mereka. Hingga pada akhirnya proses ini juga menjadi sebuah cara bagi saya untuk mengetahui kondisi masyarakat dan lingkungannya melalui bunyi. Nampaknya, gagasan mengidentifikasi sebuah kota beserta masyarakatnya akan menarik untuk diolah melalui praktik berkesenian saya kedepannya.

Teks: Bob Edrian
Visual: Arsip dari Berbagai Sumber

Refleksikan Sejarah Lewat Seni, Pameran "Daulat dan Ikhtiar" Resmi Digelar

Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta mengadakan sebuah pameran temporer bertajuk “Daulat dan Ikhtiar: Memaknai Serangan Umum 1 Maret 1949 Melalui Seni”. Pameran ini sendiri akan mengambil waktu satu bulan pelaksanaan, yakni...

Keep Reading

Ramaikan Fraksi Epos, Kolektif Seni YaPs Gelar Pameran Neodalan: Tilem Kesange

Seni tetap menjadi salah satu jawaban untuk menghidupkan dan menghangatkan kembali keadaan di masa pandemi. Untuk itu dengan gerakan gotong royong dalam ruang seni baur Fraksi Epos mengajak kolektif seni...

Keep Reading

Nada Siasat: Pekan Pertama Februari

Sampailah kita di penghujung pekan pertama bulan Februari. Harapan-harapan terus tumbuh di tengah situasi yang belum membaik sepenuhnya. Meskipun situasi masih belum jauh berbeda dengan hari-hari sebelumnya, namun para musisi...

Keep Reading

Seniman Roby Dwi Antono Gelar Tiga Pameran Sekaligus di Jepang

Seniman Indonesia yang satu ini memang kerap membuat pameran di luar negeri. Lewat karya-karyanya yang memukau, nama Roby Dwi Antono kian dikenal oleh para pelaku mau pun kolektor seni Internasional....

Keep Reading