Setelah lama hiatus, band yang kini memiliki komposisi Herald Reynaldo (vokal), Yudishtira Mahendra (bass), Citra Winitya (synth, gitar), Byatriasa Ega (vokal, piano) , Purusha Irma (biola), Dimas Wisnuwardhono (gitar) , dan Yudhistira Haryadi (drum) bernama L’Alphalpha bangkit lagi. Kebangkitan mereka ditandai oleh rilisnya sebuah single baru bertajuk “Batas” pada 13 Desember 2019. Lantas setelahnya, apalagi yang akan mereka lakukan? Kemana saja mereka selama ini?

Mari kita berdialog bersama L’Alphalpha.

Kapan tepatnya L’Alphalpha tebentuk? Bagaimana ceritanya hingga terciptanya formasi yang sekarang?

Sebagai sebuah band L’Alphalpha terbentuk tahun 2009. Ceritanya mungkin bisa ditarik dari tahun itu juga. Pertama mengenal Dimas di tahun yang sama ketika masih menjadi fotografer/videografer The Trees And The Wild yang sebenernya tidak banyak orang mengetahui dia adalah pemain gitar handal. Kemudian, tentu saja Drummer kami yang sekarang, Yudhis adalah sahabat kami semenjak L’Alphalpha terbentuk dari hari pertama dan seringkali membantu band kami dalam bentuk apapun seperti backing vokal, main gitar akustik dan juga beberapa kali menggantikan Ildo sebagai drummer semenjak 2015. Kedua teman kami ini memang termasuk orang-orang yang tahu betul perjalanan kami sebagai band. Jadi tidak sulit bagi kami untuk membangun chemistry bersama mereka di formasi sekarang.

Apa yang menyebabkan kalian vakum selama dua tahun?

Secara klise, sebagai band yang memang tidak berada di arus utama, kami memiliki kesibukan masing-masing yang menyita waktu sangat banyak, beberapa personil kami pun sudah mulai berkeluarga prioritas harus dipikirkan. Untuk materi lagu sebenarnyapun sudah tercipta ketika vakum dua tahun tersebut. Namun, secara mental, kami tidak terlalu ambisius dan memang tidak ada rencana pembubaran sama sekali.

Karena bagi setiap kami bermain musik adalah medium untuk melepas penat dari kejenuhan hari-hari kami dan itupun hanya berupa pilihan bukan hal yang pasti. Merilis single di bulan Desember 2019 kemarin adalah sebuah jawaban atas pertanyaan teman-teman mengenai L’Alphalpha. Bahwa L’Alphalpha masih ada. Itu saja. Untuk rencana ke depan kami tidak bisa memastikan. Bagi yang menunggu apa lagi yang akan kami lakukan, “waktu” mungkin lebih mengetahui jawabannya itu dari pada kami semua.

Di single Batas, kalian menawarkan musik yang berbeda dari pada karya-karya sebelumnya, apakah dua personil baru memang berperan besar dalam perubahan ini?

Sebagai band yang cukup lekat dengan label post-rock di album-album kami sebelumnya. mungkin perbedaan yang dimaksud ke arah lebih agresif, walau begitu musik yang kira-kira serupa dengan “Batas” sudah pernah kita lakukan di album kedua kami di lagu berjudul “Through The Tunnel”. Tentu saja dua personil baru kami berperan dalam penggarapan lagu ini, terutama di bagian gitar. Dimas serta Pandji (selaku co-producer) mampu menerjemahkan sound gitar yang cukup menyalak yang dirasa pas untuk lagu “Batas”.

Apakah “Batas” adalah ciri musik kalian untuk kedepannya?

Tidak juga

Bagaimana kalian mendeskripsikan musik  L’Alphalpha hari ini?

Sebagai musisi yang tiap hari mendengar musik baru, tentu saja L’Alphalpha mencoba untuk ekplorasi lebih banyak untuk membuat musik yang berbeda. Untuk kami sendiri mendeskripsikan musik L’Alphalpha sekarang seperti apa itu sulit. Kami cukup sering berkaca. dan mencoba mendengar kembali karya-karya kami sebelumnya. Bagian mana saja yang kami sukai dan akan kami simpan atau bagian mana yang kami sudah muak dan kami buang. Namun, kami bisa bilang bahwa musik L’Alphalpha tetap memberikan nuansa yang atmosferik namun lebih punya dinamika dibanding karya-karya sebelumnya.

Menurut beberapa media, lagu “Batas” sebenarnya sudah ditulis sejak 2015. Apa kendalanya hingga baru bisa rampung sekarang?

Seperti yang dibilang tadi, kendala yang cukup signifikan untuk kami hanyalah ketersediaan waktu dan prioritas saja.

Lirik lagu “Batas” menceritakan kisah pencarian jati diri.  “Tentang bagaimana saya secara personal merasakan perubahan di sekitar saya, yang belakangan menyadarkan bahwa hanya saya lah yang belum berubah,” ungkap Herald di rilisan pers. Sebenarnya, perubahan seperti apa yang Herald lihat?

Perubahan terhadap pandangan hidup, semua harus dipikirkan secara matang, dewasa secara umur juga berarti harus dewasa secara pikiran. Dulu mungkin kami sering membicarakan mimpi. Tapi sekarang kami berbicara soal realitas juga.

Seperti band inipun berubah. Formasi berbeda, hapa yang dihadapi dalam hidup pun semakin kompleks. Realitas berbicara dengan cara yang berbeda dalam setiap kami. Sempat terasa asing ketika dilihat satu persatu. Hanya saja butuh waktu saja untuk mengerti, memahami dan menerima perubahan-perubahan itu.

Apa pencapaian terbesar L’Alphalpha yang belum tergapai hingga sekarang?

Secara kolektif semuanya sudah tergapai, tidak ambisius.

Siapa musisi lokal/luar yang banyak menginspirasi kalian?

Untuk Lokal, bisa dibilang band lokal indie era 2004-2011an masih menjadi inspirasi yang besar, seperti Polyester Embassy, SORE, Santamonica, The Trees and The Wild. Untuk luar Mew, Explosions in The Sky, Sigur Ros, Bloc Party, Bombay Bicycle Club, Toe dan Sakanaction.

Setelah “Batas”, apalagi? Album baru, mungkin? 

Berawal punya rencana untuk bikin mini album, sekarang sedang merampungkan single kedua. Tapi ya lagi-lagi tidak terlalu ambisius. Tapi tidak menutup kemungkinan apabila ada kejadian magis yang membuat energi dan waktu kami jadi besar, album baru mungkin bukan sekedar angan.

Teks: Rizki Firmansyah
Visual: Arsip L’Alphalpha