Banyak sekali cara untuk mencintai kota tempat tinggal kita. Untuk hal tersebut, beberapa orang bahkan sampai harus kembali menengok ke belakang untuk meraba-raba masa lampau yang tidak pernah sepi misteri, agar bisa mengenal lebih dalam daerah pijakannya. Bila tidak kenal, memang tidak akan bisa sayang.

Di Bandung, metode tersebut dipakai oleh sekelompok orang yang menggunakan nama Komunitas Aleut. Mereka mencintai kotanya, dengan mempelajari sejarahnya. Sebagai langkahnya, mereka rutin dalam menggelar kegiatan jalan-jalan menyusuri kota, untuk kemudian membahas tiap peristiwa yang pernah terjadi pada titik persinggahannya.

Mari simak perbincangan kami lebih jauh bersama Komunitas Aleut.

Jadi bagaimana sejarahnya sampai Komunitas Aleut bisa terbentuk?

Awalnya hanya komunitas disekitar kampus yang senang jalan-jalan dan sejarah, lalu semakin hari semakin berkembang. Anggotanya semakin meluas dan terdiri dari berbagai latar belakang

Kenapa penting bagi seseorang untuk mempelajari masa lalu sebuah kota?

Seperti kata Soekarno, ”Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.” Dengan mengenal sejarah sebuah kota, tentu akan lebih mengenal cerita sebuah kota dan menambah kecintaan terhadap Kota tersebut. Diharapkan tumbuhnya kesadaran untuk merawat, dan melestarikan kekayaan budaya, tradisi dan menjaga lingkungan disekitar kota yang dicintainya.

Apakah susah untuk menjadi anggota Komunitas Aleut?

Sangat mudah sekali untuk menjadi anggota di Komuntias Aleut, cukup mengisi formulir dan membayar biaya registrasi sebesar Rp 15.000 / tahun, ikuti semua sosial media Komunitas Aleut untuk informasi seluruh kegiatan.

Sejauh ini, bagaimana kamu memandang kinerja pemerintah kota dalam merawat situs-situs bersejarah di Bandung?

Peran pemerintah sudah cukup bagus, sering pula diadakan workshop dan pengenalan terhadap situs-situs bersejarah di Kota Bandung sehingga warganya bisa lebih mengenal kotanya sendiri.

Adakah misi khusus dalam setiap kegiatan komunitas Aleut?

Misi untuk mengenalkan, menumbuhkan ketertarikan serta kecintaan masyarakat terhadap kota yang ditempatinya.

Sebagai komunitas yang memiliki kegiatan utama yaitu jalan-jalan, apakah menurut kalian Bandung itu ramah pedestrian?

Ya, Bandung memiliki akses yang cukup mudah untuk dilalui para pejalan kaki, bahkan ada guiding block atau jalan pemandu untuk mempermudah para tunaetra berjalan dipinggir jalan.

Selama ini, situs bersejarah mana yang paling berhasil menarik partisipan terbanyak?

Beberapa situs yang cukup menarik perhatian adalah bangunan cagar budaya di Kota Bandung yang berhububngan dengan sejarah Kota Bandung, tema Sejarah kereta api di Kota Bandung dan Urband Legend (legenda urang bandung)

Kemana agenda “Momotoran” yang paling berkesan menurut kalian?

Setiap momotoran selalu menyisakan cerita yang sangat berkesan, karna rute momotoran selalu berbeda sesuai dengan tema yang diangkat, seringnya melewati perkebunan teh. Maka setiap perjalanan selalu punya kesannya masing-masing.

Jalan-jalan kalian juga pernah bertemakan kuliner. Adakah rekomendasi kalian untuk tempat makan legendaris di kota Bandung yang mesti di kunjungi?

Untuk kuliner legendaris bisa mencoba roti di sidodadi dan sumber hidangan, mencicipi es krim di Canary/ Baltic, lotek Kalipah Apo, Cakwe Osin, Kopi Purnama, dan makan di Braga Permai.

Lalu, ada juga agenda jalan-jalan menuju tempat-tempat seram di Kota Bandung. Menurut kalian, seangker apa sih Kota Bandung?

Jalan-jalan dengan tema seram biasa kami sebut Urban legend, biasanya diadakan setahun sekali atau bila ada permintaan dari yang bekerjasama. Bandung tidak seseram yang dibayangkan, karna selain membahas mitos kami juga memperkenalkan sejarah tempat tersebut.

Kendala yang terjadi di lapangan saat agenda jalan-jalan itu biasanya apa saja?

Karna kami selalu bercerita didekat gedung atau tempat yang ada kaitannya dengan penceritaan sejarah sehingga untuk beberapa bangunan yang berada dekat dengan jalan membuat proses penceritaan menjadi terganggu dengan suara bising dari kendaraan.

Selain program “Ngaleut” dan “Momotoran”, kalian punya agenda apalagi?

Selain Momotoran dan Ngaleut, kami juga mengadakan Kelas Literasi dan Bioskop Preanger.

Teks: Rizki Firmansyah
Visual: Arsip Komunitas Aleut