Nama Mohammed Kamga mulai dikenal seiring besarnya nama grup musik Tangga. Bersama Tata, Nerra, dan Chevrina, ia berjuang membangun reputasinya agar semakin naik. Sialnya, tidak berlangsung lama. Ada pertentangan batin yang mengharuskan Tangga bubar di tahun 2014.

Namun, setelahnya eksplorasi  musik Kamga masih berlanjut, malahan berlangsung lebih bebas dari sebelumnya. Tak lama setelah Tangga bubar, ia bersama Chevrina dan Tata membentuk Dekat. Tidak berhenti di situ saja, Hondo pun ia ciptakan bersama kekasihnya, Chevrina. Keseluruhan proyek musik tersebut punya benang merah, yaitu demi kepuasan batin.

Mari berdialog bersama Kamga.

 Bagaimana ceritanya kamu, Chev, dan Tata bisa saling kenal?

Awalnya karena Tangga. Kita nggak ada yang saling kenal sebelumnya, karena Tangga itu kan sebenernya bentukan sebuah manajemen artist. Tata yang paling pertama join di manajemen tersebut, karena dia juga dulu merupakan aktrist sinetron, lalu setelahnya barulah digabungkan dengan saya, Chev, dan Desty yang dari sekolah musik. Waktu itu manajemen tersebut memang sedang membuat proyek yang terdiri dari jebolan sekolah-sekolah musik, untuk ditawarkan ke label besar.

Kenapa Tangga bubar? Apa ada perselisihan di tubuh manajemen?

Sebenarnya, waktu itu Tangga bubar bukan sepenuhnya gara-gara manajemen dan label musiknya, sih. Kayaknya, seluruh personil Tangga itu sudah salah dari awal. Setelah berjalan lama, rupanya kita nggak cocok sama sistemnya. Waktu tawarannya datang itu gue umur 15 tahun, dan buat bocah umur segitu di tahun 2003, ditawarin masuk tv untuk jadi penyanyi professional, siapa yang nggak mau?

Intinya, kondisinya saat itu manajemen tidak bisa membawa kita ke arah musik yang kita mau. Tapi di satu sisi, kalau kita ikutin ego kita, agak egois juga, karena waktu itu Tangga dengan musiknya, cukup punya pendengar. Jadi, memang yang terbaik itu kalau Tangga bubar saja.

Apa yang membedakan Hondo dan Dekat?

Untuk membedakan musik Hondo dan Dekat, memang agak tricky. Musikalitasnya memang agak-agak mirip. Garis besarnya musik elektronik, meski pun Dekat itu ada sisipan dub dan reagge serta Hondo itu musiknya pop banget. Tapi simplenya, kalau dari kami, Dekat itu tempat marah-marah atau medium kita mengeluarkan uneg-uneg, semisal tentang kita yang iri sama karir bermusik orang, soal manager lama yang pernah nyolong duit kami, dan kemarah-kemarahan lainnya.

Sedangkan Hondo itu tempat saya dan Chev bersedih, tapi sedih yang bukan marah. Simple-nya, isinya tuh tentang penerimaan. Misalnya, soal masa depan yang ternyata berbeda dengan apa yang saya dan Chev harapkan, tapi ya udah, kita sudah terima.

Karena dari segi musik hampir serupa, kenapa tidak membuat  Hondo dan Dekat menjadi suatu satu kesatuan saja?

Kita pernah coba, tapi ternyata memang nggak bisa. Ada beberapa lagu di album ke dua dan tiga Dekat, yang kita rasa lebih cocok di Hondo. Tata memang selalu bisa memasukan bagiannya, karena dia itu teman baik saya dan Chev dan pasti paham betul feel yang kami inginkan, tapi karena dia nggak ikut merasakan cerita dibalik lagu-lagu tersebut, jadi kurang pas.

Maka dari itu, saya rasa memang tidak bisa dipaksakan. Harus dipisah.

Bersama Hondo dan Dekat, kamu telah beberapa kali bertandang ke luar negeri. Bagaimana apresiasi masyarakat di sana?

Menurut saya, tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada pendengar di Indonesia, Kalau di luar negeri itu orang-orangnya lebih apresiatif. Kecenderungan mereka untuk memperhatikan itu jauh lebih besar, meski pun Bahasa sering jadi kendala. Misalnya saja sewaktu Dekat tampil di Singapura, CD kami habis sekitar 150 keping dalam satu malam.

Saat Hondo main di Jepang pun begitu. Waktu itu ada yang ingin membeli merchandise Hondo, lalu karena Hondo tidak memiliki merchandise untuk dijual, kami memberinya notebook dan sticker Hondo yang memang dibagikan secara gratis. Setelahnya dia bilang kalau ingin membelikan kami minuman.

“Oke, kalau begitu biarkan saya membelikan kalian minuman sebagai bentuk support karena saya suka musik kalian,” katanya. Bentuk-bentuk apresiasi itu yang belum saya rasakan di Indonesia. Sekali lagi, saya bukan sedang mengkerdilkan pendengar di sini, tapi sialnya, realitanya seperti itu.

Teks: Rizky Firmansyah
Visual: Arsip Kamga