Eksplorasi di ranah bunyi memang tengah progresif di Indonesia. Hal itu bisa dilihat dari maraknya acara-acara di berbagai daerah di Tanah Air yang menampilkan sederet seniman-seniman bebunyian lokal pun internasional. Pergerakan kancah tersebut pun sudah mewangi ke berbagai pelosok dunia, dan salah satu yang harum namanya adalah kolektif asal Jogja bernama Jogja Noise Bombing.

Kami berkesempatan untuk mewawancarai Martinus Indra Hermawan atau Indra Menus yang merupakan salah satu perintis dari gerakan Jogja Noise Bombing. Oh iya, dalam perhelatan Rock In Celebes 2019 nanti, kolektif itu akan mengirimkan delegasinya untuk tampil dan memperkenalkan eksplorasi bunyi yang selama ini mereka usung sebagai karya.

Bagaimana sejarah terbentuknya kolektif Jogja Noise Bombing (JNB)?

Benih JNB sendiri sudah mulai ditanam antara tahun 2009-2010 oleh beberapa pelaku noise yang kemudian menjadi roster dua netlabel Yogyakarta: Ear Alert Records (dijalankan oleh Hilman Fathoni) dan Pati Rasa Records (yang dijalankan oleh Wedness Mandra). Awalnya hanya berupa pertukaran ide melalui sms atau pas nongkrong yang kemudian berkembang menjadi kegiatan noise bombing di jalanan dan lanjut ke pengorganisiran workshop, pameran dan juga festival tahunan Jogja Noise Bombing.

Mas sendiri, sejak kapan memulai mengeksplorasi noise? Kenapa tertarik?

Sebelumnya saya bermain di band hardcore punk, To Die, sejak 1998 yang banyak mengeksplorasi sisi eksperimental. Sampai kemudian tahun 2003 saya kenalan via email dengan Jay Decay, pentolan grup Cyber Grind dari New York, 50 Ways To Kill Me yang juga punya label Experimental Noise, Hammer Smashed Pelvis Records.

Jay ini banyak ngenalin saya tentang musik noise dan digital grindcore. Ditambah ketika saya menemukan Man Is The Bastard yang dianggap sebagai jembatan penghubung antara hardcore punk dengan noise, membuat To Die lebih getol untuk bereksplorasi.

Waktu itu, menurut saya sih, “noise is the shape of Punk to come” walaupun musik noise sebenarnya sudah ada jauh sebelum punk muncul. Saya merasa seperti pertama menemukan musik punk kembali tapi dalam bentuk lain.

Sebenarnya praktek yang dijalankan di skena noise pun banyak mengadopsi kultur D.I.Y punk, jadi seperti menjadi sebuah langkah yang wajar bagi saya untuk kemudian lebih mendalami noise. Secara roots, character dan attitude pun saya pikir noise itu sama kayak punk.

To Die pun berevolusi menjadi unit eksperimental yang kemudian akhir-akhir ini saya lebih mantap untuk bermain solo sebagai Indra Menus. To Die sendiri masih ada tapi lebih ke konsep kolaborasi saya bersama musisi lain.

Menurut mas, apa modal utama Jogja Noise Bombing hingga bisa berkelanjutan sampai sekarang?

Konsistensi, networking, promosi, passion dan keinginan untuk berbagi itu jadi beberapa modal yang menjadikan JNB tetap bisa berlanjut. Apa yang kami lakukan sebenarnya ga ada duitnya, tapi karena passion jadinya tetap konsisten bikin acara, ga peduli sepi atau skala kecil.

Promosi ke media juga jadi kunci karena media ini bisa membantu untuk menyebarluaskan berita tentang apa yang sedang kita bikin ke ranah lain yang mungkin gak bisa kami jangkau. Memang sebagai kolektif yang berasal dari daerah, butuh usaha ekstra supaya media melirik kami. Disitulah peran networking bekerja.

Perbanyak kenalan, bangun jaringan dan saling berbagi juga menjadi poin penting supaya kolektif tetap berkelanjutan.

Suffer In Vietnam with Giga Destroyer by Ade Greeden

Apa kendala terbesar saat merintis kolektif Jogja Noise Bombing sejauh ini?

Kendala terbesar menurut saya malah di regenerasi. Kami masih berkutat secara internal untuk membagi peran dan tugas masing-masing dalam kolektif ini yang mana membutuhkan regenerasi. Hal ini berkaitan dengan hal yang lekat terjadi di skena musik Jogja dimana setelah lulus kuliah biasanya kalo ga disuruh pulang ke kota asal atau bekerja ke kota lain yang lebih menjanjikan.

Masalah keuangan atau musik Noise yang belum diterima oleh masyarakat awam menurut saya bukanlah kendala terbesar bagi kami. Emang ada sih masalah itu cuma ya masih bisa diatasi kok.

Jogja Noise Bombing sering juga memproduksi rilisan kompilasi atau split dari para pelaku seni bebunyian, menurut kamu, bagaimana cara terbaik untuk bisa menikmati bebunyian semacam eksperimen noise tersebut?

Cara terbaik untuk menikmati musik noise sih dengan datang ke gig-nya kemudian ikut larut dengan cara yang kamu sukai. Bisa dengan crowd surf, moshing, pogo ala di gig Punk, bisa pula headbang kayak Metalhead, bebaskeun!

Jangan salah, rekaman musik noise juga banyak kok yang direkam dengan tehnik audio yang benar. Ada sebagian dari pelaku Noise yang memperlakukan musik mereka layaknya musik pada umumnya mulai dari mencari konsep image, sound (detail layer), sampai ke alat yang tepat. Untuk lokalnya mungkin bisa dengerin album Sodadosa, Roman Catholic Skulls atau rilisan Hasana Editions.

Butuh mood dan waktu yang tepat untuk bisa menikmati musik noise, saya aja gak tiap hari dengerin Noise. Kalau emang masih belum bisa menikmati, ya mungkin noise memang bukan untuk konsumsimu, jangan dipaksakan deh.

Anxiety live at Jogja Noise Bombing 2017. Picture by Dea Karina

Jogja Noise Bombing Festival sering kedatangan seniman internasional dalam tiap pagelarannya, apakah itu menandakan bahwa kancah seni bebunyian Indonesia ini cukup diperhitungkan di mata global?

Menurut saya sih awalnya berkat film dokumenter Bising (tentang pelaku Noise di Indonesia) yang dulu sering dibikin screening di luar negri dan kepopuleran Senyawa di skena internasional, Indonesia kini cukup mencuri perhatian. Saya sering dapet email dari pelaku noise luar Indonesia yang tertarik untuk tour ke Indonesia setelah menonton Bising atau Senyawa.

Dari mereka yang kami bantu bikinin tour di Indonesia ini kemudian jadi getok tular gitu. Kemudian mulai deh media media internasional yang berpengaruh macam BBC, The Wire, Noisey, Vice, Boiler Room membahas tentang Noise di Indonesia.

Kebanyakan mereka ini pada kaget ternyata di Indonesia ada skena musik kontemporernya, mikirnya di Indonesia itu musiknya masih tradisional kayak Gamelan gitu. Dalam hal ini kita harus berterima kasih kepada pemerintah yang getol mengekspor musik Gamelan keluar negri.

Menurut mas, apakah kancah seni bebunyian Indonesia ini akan semakin membesar kedepannya? Indikatornya apa saja?

Kupikir sih ga akan membesar layaknya musik Indie atau karaoke dangdut koplo seperti saat ini. Tapi musik noise di Indonesia akan berkembang dalam artian “sejajar” layaknya kancah musik underground lainnya. Dari yang awalnya berasal dari bed room musician atau chat room miRC kemudian menjadi sebuah kolektif musik di kehidupan nyata dimana ada struktur penunjang (komunitas, gig, records label, media, distribusi) dan network antar pelaku-nya itu menurut saya sudah berkembang sih.

Sebelum ini kan musik Underground yang populer di Indonesia itu kan misalnya punk, hardcore, grindcore, metal, grunge, indie, nah sekarang noise bisa masuk nih.

Yogyakarta Synth Ensemble x Raung-Jagat at Jogja Noise Bombing-Festival 2017 Photo by Ahmad Miqdad Alfaya

Adakah gambaran yang bisa diberikan tentang penampilan Jogja Noise Bombing di perhelatan Rock In Celebes 2019 nanti?

Di RIC nanti JNB mengajak kolaborasi perwakilan dari kolektif noise lokal, Makassar Noise Terror. Kami pikir akan menarik untuk berbagi ruang dengan talenta noise lokal di panggung musik terbesar di daerah mereka sendiri.

Konsep JNB memang banyak berkutat di kolaborasi sebagai sebuah cara memperluas jaringan dan prinsip saling berbagi. Secara tehnis JNB nanti akan menampilkan 3 performer yang bermain impromptu secara back to back.

Adakah misi khusus pada saat memutuskan untuk mendaftar menjadi salah satu penampil di Rock In Celebes 2019?

Misi khusus sih sebenarnya ingin mengenalkan musik noise di festival musik kekinian yang dihadiri oleh banyak orang awam yang mungkin belum pada tau apa itu Noise. Tak kenal maka tak sayang, maka dari itu banyakin memperkenalkan diri dulu di ranah lain supaya orang jadi aware.

Masalah suka atau enggaknya, ya itu kembali ke selera personal. Selain tentu saja memperlebar jaringan ke area yang berbeda.

Dalam waktu dekat, apa lagj yang akan Jogja Noise Bombing garap?

JNB sendiri sedang mempersiapkan JNB Festival 2020 yang akan diselenggarakan 25-26 Januari 2020. Temanya tentang film dimana bakal ada diskusi dan screening beberapa film dokumenter yang membahas JNB serta pertunjukan indoor dan outdoor yang diikuti oleh 20 performer dari Asia, Australia, Eropa dan Amerika.

Teks: Rizki Firmansyah
Visual: Arsip Jogja Noise Bombing