Apa jadinya kalau dua orang konsisten di musik berkolaborasi dan membentuk sebuah pendekatan musik yang liar serta keluar dari pakem yang telah mereka miliki sebelumnya? Joe Million dan Indra Menus, masing-masing, punya reputasi dalam di dalam pengkaryaan mereka. Yang satu hiphop, yang satu noise. Keduanya, punya potensi untuk sulit dimengerti.

Tapi toh, semuanya bisa luruh ketika alasan eksplorasi dikedepankan. Menghargai sebuah upaya pencapaian artistik baru, lebih penting dari sekedar enak atau tidak enak didengar. Karena, bagaimanapun juga, musik akan menemukan pendengarnya sendiri. Besar atau kecil, itu relatif. Tidak semua orang ingin menjadi besar dan sebaliknya.

Joe Million dan Indra Menus, merilis sebuah mini album hasil kolaborasi instan tapi penuh daya beberapa waktu yang lalu. Ternyata, mereka tidak berhenti di situ. Kumpulan karya baru disiapkan, perjalanan jauh ke tanah eropa dijelang.

Buat saya, itu alasan paling penting kenapa perlu mengajak mereka berbincang dan mengorek banyak hal di departemen prinsip berkarya untuk disajikan pada orang lain. Konsistensi mereka sebagai musisi, di atas rata-rata. Selamat membaca. (*)

Ketika memulai, ada pikiran di awal nggak sih, “Ini gimana musik hiphop campur sama noise?” atau sebaliknya?

Joe Million (JM): Ada. Tapi lebih besar rasa penasaran untuk melihat hasil akhirnya.
Soalnya gue pada dasarnya suka bereksperimen. Dan ini adalah kesempatan eksperimen paling ekstrim yang pernah gue dapat. Jadi gue fokus ke prosesnya justru, bukan soal genrenya.

Indra Menus (IM): Kalo aku sebelumnya udah dengerin eksperimentasi hiphop sama noise sih. Band-band rilisan Deathbomb Arc kayak Clipping. Terus mikirnya, “Anjir, ini keren banget.” Kalau lokalnya pernah dengerin satu track Homicide yg pake sampling Noise. Terus kepikiran gimana caranya pokoknya harus nyari rapper yang bisa gila kayak gitu. Setelah beberapa lama kirim-kirim demo ke beberapa teman yang bisa ngerap, eh malah nggak sengaja ketemu Joe di Cirebon. Itu sekaligus jadi panggung pertama kami.

Apa yang kamu lihat dari Joe?

IM: Aku udah dengerin Joe dari sebelum ketemu di Cirebon. Satu yang aku salut sama dia, etos punknya nggak ketulungan. Mulai rilis cd sendiri sampai bikin tur mandiri. Satu lagi, Joe itu easy going sih, terbuka dengan eksperimentasi dan maen hajar aja.

Ketika dijalankan, kenapa akhirnya spontan? Chemistrynya langsung kebentuk ketika ketemu pertama kali di Cirebon?

JM: Harus diakui gigs pertama merupakan gigs terberat. Saya harus ngerap dibantu dengan bpm (hitungan beat per minute –red) dengan latar musik noise. Tapi ada tantangan tersendiri yang tidak pernah didapat dari rekaman dengan beat hiphop biasa. Dan pada sesi rekaman di Jogja mulai lebih terasa chemistrynya
Terutama di track Kidul Kulon. Dan pada pembuatan album di tahun ini, kami lebih fokus dengan track seperti Kidul Kulon yang justru tanpa bpm.

IM: Ya waktu ketemu di Cirebon itu sebenarnya ga dirancang sih, serba kebetulan. Nah, Joe butuh semacam panduan. Jadi ya diakalin pake metronom pas man pertama kali itu. Kelar itu udah, aku langsung ngerasa, “Ini nih yang aku cari.” Dan beruntung banget karena beberapa minggu setelah itu, Joe maen di Festival Kesenian Yogyakarta. Lalu, kami rekaman bareng empat lagu itu. Beda nya sama rekaman yang baru ini, Joe udah nggak pake panduan metronom. Jadi lebih lepas dan feelnya dapet banget. Di rekaman ini kami sama-sama keluar dari zona nyaman masing-masing. Aku sendiri, di tiap lagu harus ganti alat dan efek sampe aku tulis routingnya per lagu.

Secara teknis sulit nggak sih mengawinkan musiknya?

IM: Aku menghindari untuk bilang sulit sih. Tapi ini sebuah tantangan dan buatku, sebuah tantangan itu selalu menarik untuk mengasah ilmu.

JM: Kita udah ngelewatin prosesnya beberapa kali. Gue senang dengan beberapa bunyi tertentu yang dibuat Menus. Semakin ke sini, kami justru eksplor bunyi seperti apa yang cocok dengan liriknya. Jadi, bisa dibilang proses ini membantu kami mengawinkan musiknya. Berat, namun tidak seberat yang dikira di awal.

Jadinya, bisa main panjang? Malah menggali materi-materi Joe yang lain? Nggak sekedar empat lagu yang direkam pertama dan dirilis?

JM: Iya. Kita buat lima materi baru dan satu lagu perkawinan dari track yang sudah ada milik saya dan diganti instrumennya jadi noise ditambahkan beatbox. Judulnya Sindikat Indi. Lima materi baru itu semuanya ditulis di Jogja, di Pantai Parangtritis dan Pantai Gumuk Pasir.

IM: Jadi benar-benar fresh sih. Termasuk cara membuat musiknya juga di mana tiap lagu aku eksplor alat baru dengan routing yang berbeda tadi. Bable dari Watchtower Studio yang merekam pun menggunakan cara yang berbeda dengan rekaman yang dulu-dulu. Sekarang dia merekam seluruh sesi berjalan secara live berkelanjutan, terus dimixing-mastering langsung malam itu juga. Hal-hal yang kayak gini, yang semakin menggali karakteristik kolaborasi kami ke arah yang lebih tepat sih. Pengennya tentu menuju ke bermain dengan setlist panjang. Pelan tapi pasti menuju ke situ.

JM: Ya, pelan tapi pasti. Setuju dengan Menus.

Ruang untuk improvisasinya kan besar. Keduanya punya ini. Nah, ketika main bareng, ada perencanaan yang baik? Atau, hajar saja gimana di panggung nanti?

IM: Kelar rekaman kemaren itu aku jadi lebih terkonsep sih. Ya dengan routing dan alat berbeda di tiap lagu. Tapi, pada dasarnya tetap improvisasi sih dengan routing yang sudah diset terlebih dulu tadi. Di live, aku juga sambil melihat Joe. Kadang aku milih sound yang santai dulu supaya flow rapnya kelihatan. Terus pas dia sudah kelar, baru aku kencengin. Saling memberi ruang supaya nggak adu kenceng terus.

JM: Setiap track berbeda. Routing alat merupakan salah satu persiapan penting yang esensial. Untuk rapnya sendiri, saya mengikuti pakem flow yang sudah dibuat. Dan sisanya menenggelamkan diri secara penuh dalam instrumentasi Menus.

Sampai hari ini, sudah berapa kali main live?

JM: Dua kali ya?

IM: Iya, dua kali. Pertama di Cirebon, kedua di Jogja itu.

Kenapa begitu berani untuk merencanakan sebuah tur yang jauh?

IM: Jadi, itu kan kami diundang untuk maen di Prisme Festival di Nantes, Perancis. Terus temenku yang menawarkan itu bilang, kenapa nggak sekalian tur aja? Ya sudah, sikat saja deh. Sekalian dia bikinin rute tur di Perancis, Belgia sama Swiss itu.

JM: Saya nggak berani kalau sendiri. Menus yang buat semua ini bisa terjadi.

IM: The power of yang penting yakin.

Haha. Persoalan kalian sekarang apa untuk perjalanan itu?

IM: Visa sih. Walaupun sudah ada surat undangan resmi, tapi ya tetap aja ada deg-degan ditolak. Haha. Sama cuaca minus yang bakal jadi tantangan fisik secara kami akan tur dengan mobil. Kalau secara finansial sih, kembali lagi ke yang penting yakin. Haha.

JM: Mental juga sih.

Keluar uang sendiri untuk musik berat nggak sih?

JM: Wah, saya sih nggak sama sekali. Pengalaman kayak begini kalau kelewat, nyeselnya seumur hidup. Jadi, yah gas sampai mampus.

IM: Nggak dong. Buatku, itu namanya investasi. Yang penting itu, gimana caranya bisa memanfaatkan hal yang dikerjakan pakai duit investasi itu sehingga bikin value apa yang kami kerjakan jadi naik.

Kembali ke dua pengalaman main, apakah sulit memperkenalkan kolaborasi ini pada publik?

JM: saya kira awalnya sulit. Namun saya fokus main saja. Coba menampilkan yang terbaik. Tidak ada ekspektasi ketika kami datang menawarkan sesuatu yang benar baru ke publik. Dan menariknya, di penampilan kedua kami, cukup banyak yang datang. Saya ingin fokus ke penampilan saja dan tidak terlalu memikirkan penerimaan publik.

Tapi, sebagai seniman, memikirkan penerimaan publik itu perlu nggak sih menurut kalian?

IM: Sebuah tantangan lagi sih. Tapi dari awal sudah nggak berekspektasi akan diterima publik semudah itu. Jadi, ya kami fokus ke bikin lagu, rekaman, terus ditambah menyebarkan press release ke media untuk mengabarkan proyek kolaborasi ini.

JM: Yang penting itu value seni kami. Kami ngasih value apa? Bisa aja suatu seni valuenya tinggi tapi penerimaannya kurang baik awalnya. Selama lagu kami ada valuenya, waktu yang akan bicara.

IM: Dalam hal aku sebagai musisi experimental noise gitu sih, nggak mikirin penerimaan publik. Tapi kalau mempromosikan karya yang dibuat tentu iya, masalah orang mau nerima atau nggak sih, nggak mikir ke situ. Bener kata Joe, value itu yang penting dan di banyak kasus, value sebuah karya baru bisa diterima publik setelah beberapa lama dirilis.

Apa sih sebenarnya yang ingin disampaikan lewat kolaborasi ini?

JM: Secara lirik, saya ingin mengeluarkan semua perjuangan saya. Setahun ke belakang, merupakan fase terberat dalam karir saya. Saya berhasil mengubahnya dalam karya dan musik noise merupakan alam yang tepat untuk menempatkan lirik ini. Secara kolaborasi saya ingin menyampaikan kemungkinan berkolaborasi yang tak terbatas. Bpm bukan lagi suatu keharusan dalam hiphop. Elemen rima, flow, lirik masih bisa berevolusi dengan kolaborasi ini.

IM: Untuk kolaborasi ini, aku ingin menyampaikan bahwasanya kalo pengen bertahan di dunia musik ya harus tetap relevan. Salah satu caranya untuk tetap relevan itu dengan berinteraksi dengan yang lebih muda. Dengan interaksi ini banyak membuka mata kami berdua sih. Saling mengisi gitu. Membuka mata orang awam juga bahwa noise bisa dipadukan dengan musik lain.

Hasilnya kan lumayan keluar jalur yang normal-normal saja nih. Tadi Joe bilang bahwa ingin menyampaikan kolaborasi yang tak terbatas. Sebenarnya, yang ideal itu, unsur kolaborasi yang perlu terjadi itu yang seperti apa sih menurut kalian?

JM: Yang pasti masing-masing kolaborator harus menikmati proses berkaryanya. Kalau kolaboratornya bisa terhibur dengan karyanya sendiri, urusan ke belakang jadi lebih mudah. Karena karya itu kan harus jujur dan nggak dibuat-buat. Terutama karya yang anti mainstream seperti ini. Saya selalu mencari kesenangan apa yang bisa didapat dari membuat suatu karya. Itu unsur mutlak mau berkarya sendiri atau berkolaborasi.

IM: Unsur fun dan menikmati kolaborasinya sendiri itu yang utama sih, menurutku. Kalau kita sendiri nggak bisa nikmati dan prosesnya nggak fun, ya brarti ada yang kurang tepat dalam proses kolaborasi tersebut.

Ini dirancang untuk jadi sesuatu yang panjang? Atau gimana?

IM: Go with the flow sih kalau aku. Tur Eropa bukan tujuan akhir sih. Selama masing-masing masih merasa nyaman dengan kolaborasi ini, kenapa nggak dilanjutin? Di sisi lain aku juga udah ngobrol sama Malik (manajer Joe Million –red) untuk kemungkinan kolaborasi ini dibawa main ke panggung-panggung lokal sebelum maupun setelah tur eropa, apabila ada yang berminat mengundang.

 

Teks dan wawancara: Felix Dass
Foto: Aditya Tama