Hursa mulai naik ke permukaan dengan memperkenalkan single “Ruai” pada tanggal 1 Februari 2019. Di bulan berikutnya, tepatnya 2 Agustus 2019,  band beranggotakan Gala (vokal dan kibor), Pandji (gitar), Goldy (drum), dan Irvan (synth/bas synth) tersebut pun memanjakan kuping-kuping para pendengarnya melalui lagu bertajuk “Makna Massa”.

Nama Hursa memiliki makna mendalam. Diambil dari sebuah judul buku puisi, kata itu ialah ucapan penyemangat bagi penunggang kuda untuk memacu kudanya agar berlari lebih cepat. Nama tersebut dipilih karena artiannya mewakili kondisi band tersebut, yang tengah melenggangkan langkahnya secara cepat untuk melaju menuju mimpinya.

Mereka kini tengah menggarap album pertamanya yang direncanakan meluncur ke pasaran pada 30 Oktober 2019. Bertepatan dengan hari perilisan paket karya tersebut, mereka pun akan tampil di gelaran “BIkin Panggung” yang dimeriahkan pula oleh Kurosuke dan Reality Club.

Mari kita berdialog bersama Hursa:

Nama Hursa diambil dari judul sebuah buku kumpulan puisi. Siapa yang mencetusnya? Bagaimana buku tersebut bisa sampai menginspirasi nama band kalian?

Yang memperkenalkan buku itu adalah Gala, setelah di baca-baca mengenai penggunaan kata “hursa” di buku tersebut, membuat kita sepakat menggunakan Hursa sebagai nama band.

Kalian membentuk Hursa tahun 2016, kendala apa yang terjadi hingga baru berhasil merilis single pertama yaitu”Ruai” pada tahun 2019?

Kendala yang utama adalah, masalah waktu. Selebihnya dari tahun 2016 itu kita belum mendapat personil yang lengkap, sampai akhirnya 2017 lengkap sudah. Dari 2017 barulah mulai megerjakan materi materinya, itu pun tetap dengan kendala waktu. Sampai akhirnya baru sempat merilis “Ruai” tahun 2019.

Dalam single “Makna Masa”, kalian membicarakan waktu. ada peristiwa khusus yang melatarinya?

Berdasarkan pengalaman masing-masing personil, semua pernah mengalami hal tersebut. Sesimpel seperti terlalu lama menimbang kesempatan yang datang, sehingga kesempatan itu hilang.

Bagaimana persiapan peluncuran album pertama? Akan seperti apa musik pada lagu ini bila dideskripsikan?

Untuk persiapan album sendiri sudah rampung, direncanakan akan rilis digital pada tanggal 30 Oktober 2019, bertepatan dengan sebuah event yang akan digelar di tanggal yang sama bernama Bikin Panggung, dimana kami akan main disana. Untuk pre-rilisnya sendiri kami sedang melakukan pengenalan terhadap musik kami di media sosial.

Untuk musiknya, jika dideskripsikan mungkin kaya lagi naik rollercoaster, tiba-tiba di belokin ke kiri, tau-tau ke kanan.. tidak terduga, hehe.

Dari segi lirikal, adakah tema tertentu yang menjadi benang merah album perdana kalian?

Yang menjadi benang merahnya adalah dari album ini adalah tentang refleksi diri. Seperti harapan atau petuah untuk diri sendiri, atau orang yang kita sayangi.

Dimulai sejak kapan proses penggarapannya? Adakah menemui kesulitan dalam perampungannya, dan siapa yang paling banyak menggarap materinya?

Prose penggarapan, efektifnya dari tahun 2018. Kesulitannya balik lagi ke masalah waktu. Yang paling banyak garap materinya adalah Pandji.

Sedikit melihat ke belakang, bagaimana ceritanya Hursa dapat terbentuk?

Hursa terbentuk itu awalnya di prakarsai oleh Pandji dan Irvan yang dulu sering bertemu di project musik yang sama, sampai akhirnya memutuskan untuk membuat band.

Untuk menggarap artwork-nya sendiri apakah akan melibatkan seniman khusus?

Seniman khusus tidak ada, tetapi kita hanya memilih eksekutor-eksekutor yang sekiranya cocok untuk mencapai artwork yang kita mau.

Siapa musisi luar dan dalam negeri yang kerap menjadi inspirasi kalian dalam berkarya?

Musisi luar, seperti Mew, Radiohead, Toe. Dalam negerinya ada Chrisye dan Scaller.

Setelah album, apalagi?

Setelah album, tour kali ya? Doakan, amin Hehee..

Teks: Rizki Firmansyah
Visual: Arsip Hursa