Hindia adalah nama panggung yang digunakan oleh Baskara Putra, vokalis .Feast yang telah merilis debut singlenya, Evaluasi. Merilis karya solo ketika bandnya sedang rajin ditanggap di mana-mana, merupakan sebuah keputusan yang bisa jadi tidak populis. Sangat mudah untuk mengendarai ombak kencang yang sedang mendorong karir mereka ke tangga yang lebih tinggi. Tapi toh, kebutuhan untuk mengeluarkan karya pribadi perlu didengarkan. Baskara adalah sosok yang aktif; ia menulis, merancang, mengorganisir beberapa hal, memainkan karya di atas panggung dengan napas yang makin hari makin baik dan mengalami efek samping jadi populer.

Saya bertanya pada adik saya yang beberapa kali mengikuti Baskara dan bandnya main di beberapa tempat, “Seberapa populer sih si Baskara sekarang di anak-anak SMA?” Jawabannya bisa dijadikan referensi, “Yah, itu .Feast sih emang jadi salah satu yang paling dikejar sekarang. Banyak tuh cewek-cewek yang neriakkin Baskara di depan panggung.”

Singkat kata, dengan riset yang tidak mendalam tapi bisa jadi sudah cukup, popularitas memang menempel pada dirinya. Ia bisa jadi dua mata pisau; membantu laju karir solonya atau malah memberi beban. Tidak adil memberi label pada Hindia ketika ia baru saja merilis sebuah single. Ibaratnya, cerita Hindia belum apa-apa.

Buat saya pribadi, Hindia sangatlah menjanjikan. Ada dimensi lain yang dikandung oleh musiknya. Setengah bercanda, saya bilang ke Baskara, “Wah, ini sih kayak proyek solo vokalisnya The Killers nih. Dia jomplang sama musik bandnya.” Secara iseng-iseng spontan, membandingkan karya Brandon Flowers dan The Killers dengan Baskara dan .Feast mungkin bisa jadi contoh mudah untuk menyimpulkan betapa memungkinkannya musik berbelok antara satu kapal dengan kapal lainnya.

Masih banyak ruang yang perlu dipenuhi oleh Hindia. Tapi, membuka obrolan dengannya, tidak ada salahnya. Baskara adalah pribadi yang menarik. Jika kemudian ia makin besar di hari depan, bisa jadi itu kodrat yang tidak bisa dihindari. Terlebih jika Hindia bisa punya kesan sedalam .Feast di hati orang banyak. Selamat memantau pergerakannya. Awas, jangan kaget dengan isi wawancaranya.

Kenapa memutuskan untuk merilis karya solo di luar band lo?

Karena buat gue, perlahan .Feast sudah menjadi milik bersama. Ada energi kolektif yang masih susah gue jelaskan di saat gue manggung bersama .Feast, ngeliat penonton rela datang berkali-kali, bahkan jauh-jauh di hari yang sama untuk nonton dua kali. Kata mereka, rasanya nonton .Feast itu kaya ikut aksi atau demo. Cerita-cerita yang diangkat di .feast juga cerita yang ada di masyarakat; kasarnya gue ngangkat cerita milik orang lain lah, untuk disuarakan dengan corong yang lebih besar. Di titik ini .feast sudah milik bersama. mereka percayakan cerita mereka kepada kami. Juga, tiap kali gue napak di panggung dengan .feast, setidaknya untuk seluruh materi yang sudah kami ciptakan sejauh ini, gue selalu geram. marah dengan keadaan, dengan apapun. Energi itu yang berusaha gue salurkan. tapi gue cinta dengan musik, dan ada banyak rasa lain yang ingin gue sampaikan melalui musik yang tidak bisa mencuat dengan baik jika menggunakan amarah. Banyak cerita personal juga yang ingin gue sampaikan dengan Hindia, yang mungkin bisa membantu orang lain, secara tidak langsung menjadi terapi untuk mereka. Itu kenapa gue memutuskan untuk membelah badan menjadi Hindia.

Kesadaran ini muncul kapan? Sejak tidak awal .Feast dijalankan dong? Secara pasti, kapan elo mulai merasakan kebutuhan untuk punya kapal lain guna mengakomodir hal ini?

Sebenarnya, dari awal gue nggak menyangka bahwa .Feast justru akan jadi fokus utama di musik. Karena awalnya ia merupakan proyek sampingan gue dan Adnan (gitaris). Hanya berdua, sisanya session. Kami nggak ada yang punya skill dan pengalaman yang sebegitunya bermain musik dengan influence rock, tapi waktu itu pengen punya proyek yang agak rock. Tapi ternyata berkembang secara organik dan tiga orang session player pertama kami sekarang jadi member dalam waktu yang sangat cepat setelah dibangun. Hahaha. Gue pribadi, walau sering dengar musik dengan influence rock juga, nggak pernah merasa bahwa itu merupakan forte dalam referensi maupun bermusik. Dari kecil gue suka banget dengan musik-musik yang didengar oleh ibu, dan mostly arahannya ke musik-musik yang Hindia ciptakan saat ini. Bisa dibilang ini identitas asli yang selama ini terpendam dan akhirnya keluar ke permukaan karena katalis yang tidak sengaja.

Wah, mengejutkan nih. Pengaplingannya gimana, mana yang buat Hindia, mana yang buat .feast? Kan elo menulis lirik di dua kapal itu?

Semua yang gue tulis di Hindia harus, harus banget pengalaman pribadi. Walau di .feast juga ada pengalaman pribadi. Seperti sebagian dari Berita Kehilangan dan banyak elemen di album Multiverses. Mostly mereka merupakan pengalaman pribadi yang tercipta karena gue bersinggungan dengan masyarakat dan sistem. Jika di Hindia, cerita-ceritanya tercipta karena gue bersinggungan dengan individu, dengan keluarga, dengan teman-teman terdekat. Hindia itu karikatur kehidupan gue pribadi, .Feast itu karikatur kehidupan bermasyarakat, kira-kira begitu.

Anyway, kenapa menggunakan nama Hindia?

Coba cek dari penjelasan penggunaan nama Hindia yang pernah gue tulis.

(Bunyinya begini, –red) Saya senang mendengarkan. Hindia diciptakan karena saya menemukan mata air pribadi saya di sini; lebih besar dari oase, lebih ganas dari sungai, lebih dalam dari danau. Dalam mendengarkan, saya menjadi tahu bagian diri mana yang dapat saya buka luka dan ceritanya untuk membasuh orang lain; dalam prosesnya saya juga menemukan tujuan dan kebahagiaan. Pisces hidup di samudra. Mungkin hidup memang harus dilandasi dengan memberi dan memberi, memikirkan air yang kita miliki belakangan, tak sadar bahwa selama ini jawabannya sudah ada dalam diri sendiri, sama seperti bagaimana Hindia ada jauh sebelum semen dan besi berdiri di Indonesia.

Di luar ini, gue sangat suka dengan kata ‘Hindia’. Dia androgynous, dan ada rasa familiar dari kata itu. Sama seperti bagaimana gue selalu ingin menciptakan materi yang selalu punya rasa familiar. Entah dari melodi, pilihan chord, atau feel secara keseluruhan untuk pendengarnya. Agar gimana caranya bahkan gue bisa memberi dengar materi Hindia ke ibu gue dan gue dapat respon kurang lebih begini: “mama pernah denger ini di mana, ya?”

Rumit. Haha. Gue coba menggali musik yang elo pilih. Tadi elo mengakui kalau music rock sebenarnya bukan forte lo. Lalu, seperti apa musik si Hindia ini? Mengingat sekarang kita baru bisa berinteraksi dengan single Evaluasi.

Ada beberapa lagu Hindia yang rasanya modern, dan terdengar modern, dengan produksi terkini, tapi hanya segelintir. Dan penggunaan approach modern selayaknya pop radio atau pop WTF, yang jadi sebutan genre sekarang, juga gue pilih karena berhubungan dengan narasi yang ada di dalamnya. Sisanya gue hanya ingin menciptakan musik yang evergreen, yang secara aransemen dan pilihan instrumen hingga melodi bisa dipertanggungjawabkan sampai masanya cucu dari cucu gue denger lagu-lagu Hindia nanti. Dan gue bisa bilang bahwa kurang lebih materi-materi Hindia yang akan datang akan terdengar seperti ini. Seperti denger ABBA atau Sting, atau Phil Collins. Seperti mendengar lirik dan syair dari lagu-lagu Disney. Hahaha. Namun kebetulan single yang akan datang akhir bulan ini adalah salah satu dari segelintir lagu Hindia yang gue ciptakan dengan approach modern.

Ada niat untuk bawa ini ke panggung?

Ada. Kalau lancar, Hindia bersama keluarga akan tampil pertama kali bulan Agustus nanti. Kalau materi makin cepat rampung, dan ada tawaran lain, mungkin bisa lebih cepat dari itu. Playernya siapa saja belum dapat gue bocorkan, karena inginnya jadi surprise. Hehehe. Sempat jadi bercandaan internal kami bahwa mungkin fee pertunjukan dan produksi Hindia lebih murah dibandingkan bayar player-playernya.

Apakah ok-ok aja jika keduanya jalan barengan? Mengingat .Feast jadi talenta yang diminati belakangan ini. Elo mikir ke sana nggak? Bahwa mungkin orang bingung, kapan mesti melihat Baskara sebagai Hindia dan Baskara sebagai .Feast?

Nggak apa-apa, gue senang justru bahwa gue bisa menyalurkan secara artistik kedua energi yang berbeda yang jadi fondasi diri gue. Secara logistik, pinter-pinteran Sun Eater ngatur jadwal aja, gue terima jalan. Hahaha. Sebenarnya ada keinginan untuk menciptakan Hindia sebagai sebuah pertunjukan ‘spesial’ dahulu setidaknya dalam waktu dekat ini, menjadi pertunjukan yang langka dan jarang-jarang naik panggung. Belum tahu besok-besok.

Sejauh ini, temen seband lo gimana dengan kondisi ini? Hehe…

Mereka sangat suportif, karena kebanyakan anggota tim .Feast juga pekerja di Sun Eater, dan .Feast sebagai talent juga merupakan bagian dari keluarga Sun Eater, seperti Hindia. Kami sama-sama senang jika ada siapapun di dalamnya yang bisa berkarya lebih jauh lagi.

Ok, kembali ke karya Hindia. Ketertarikan pribadi lo tuh ke arah mana sih? Karena dari catatan yang menyertai Evaluasi, itu bicara tentang kesehatan mental. Seberapa lebar isu-isu personal yang coba dijadikan tema karya Hindia?

Sedikit bocoran: Evaluasi adalah lagu terakhir dari album debut Hindia yang akan datang. Album ini memiliki narasi, dan Evaluasi adalah endingnya. Banyak cerita personal dalam flow cerita yang ada di album itu. Kesehatan mental merupakan payung besarnya, trigger dari semua cerita yang ada di album ini. Kasarnya, gue curhat lah. Tentang seberapa susahnya untuk tersenyum terus saat diajak foto oleh kawan-kawan pendengar di kala gue sebenarnya sedang mengalami mental breakdown, seberapa susahnya naik panggung saat badan gue menolak, terlebih harus bergerak sana-sini di bawah lampu spotlight. Banyak cerita dan topik lain juga; tentang hubungan dalam keluarga, tentang angan-angan saat gue belum kenal musik, hubungan romantis pribadi, hingga kejenuhan gue dulu saat masih bekerja 9 to 5.

Berarti, ini bisa jadi satu kesatuan dari depan ke belakang? Si debut album Hindia ini maksudnya…

Betul sekali

Jadi orang terkenal itu enak nggak sih sebenarnya? Gue mengikuti bahwa itu datang bisa jadi secara tiba-tiba dalam kehidupan lo. Haha.

Gue dari dulu tahu, bahwa itu bisa jadi konsekuensinya jika gue ingin musik gue didengar banyak orang. Tapi betul, ini datang tiba-tiba untuk .Feast, untuk gue juga. Kami dari dulu nggak pernah berekspektasi bahwa .Feast bisa jadi sebesar sekarang, hanya angan-angan siang bolong saja. Gue kira gue siap, ternyata tidak. Gue suka anxious jika ingat bahwa orang mungkin kenal gue saat gue keluar rumah. Sering masuk DM yang bilang bahwa mereka lihat gue di manapun gue berada. Beberapa kali bahkan pernah diajak foto saat gue makan di tempat-tempat kecil yang sangat dekat dengan rumah gue, di saat gue lagi nggak siap banget secara tampilan. Hahaha. Gue nggak kebayang gimana rasanya jadi Iga, atau Kunto Aji, atau Danilla.

Tapi, bagaimana menanggulanginya? Dulu gue pernah wawancara Lani dari Frau, dia juga punya isu yang sama. Tapi toh, waktu membuatnya bisa berdamai dengan keadaan. Elo gimana?

Menanggulangi apanya nih?

Ya itu, perhatian yang ‘banyak’ dari orang…

Sejujurnya gue masih belajar, sih. Kehilangan privasi itu berat, berat banget. Rasanya seperti diperhatikan terus, dan seakan gue nggak bisa mengekspresikan apapun tanpa hal itu jadi konsumsi publik. Pasti ada yang ngomongin. Bener-bener solusi sementara gue sekarang adalah keluar-keluar dan berbicara seperlunya saja.

Yang paling menantang bagian apanya sih? Diteriakin orang atau diikutin dan diajak foto? Atau apa?

Kalau ada yang diam-diam perhatikan, bahkan sampai kirim-kirim DM bilang liat gue ada di mana tadi. Atau lagi di tempat umum dan ada yang bisik-bisik, nunjuk, bahkan videoin diem-diem. Walau gue belum pernah liat videonya ada yang kepublish beneran. Kentara banget, kalau ada yang ngeliatin biasanya gue sadar. Itu yang paling bikin anxious.

Teks dan wawancara: Felix Dass
Foto: Arsip Hindia