Berdialog: Gesyada Siregar

Festival Seni Media Internasional Instrumenta #2: Machine/Magic di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, dan Pameran Seni Grafis Out of Register di Bale Tonggoh, Selasar Sunaryo, Bandung. Apabila menyimak setidaknya kedua perhelatan tersebut, Gesyada Siregar nampaknya sedang sibuk-sibuknya berpameran. Tidak hanya dua pameran berturut-turut di akhir tahun itu saja, bukan mainnya seorang kurator muda yang akrab dipanggil Gesya ini setidaknya telah melangkahkan kakinya di medan seni sejak enam tahun yang lalu. Penulis mengajukan beberapa pertanyaan terkait perjalanan karier Gesya dan tentunya termasuk tantangan menjadi kurator, setidaknya di medan seni Indonesia.

Hai Ges, boleh cerita sedikit kira-kira udah berapa lama berkarier sebagai kurator? Bagaimana awalnya tertarik masuk ke medan seni rupa sebagai kurator?

Hmmm, kalau nyemplung di kancah ini udah sekitar enam tahun. Jadi, ini semua berawal lewat ajakan ‘abang-abangan’ atau senior kampus. Tahun 2013, waktu itu gue masih semester tiga di FSR IKJ, gue direkomendasikan untuk mendaftar dan kemudian kaget juga ketika dipilih bersama sembilan orang lainnya se-Indonesia yang usianya di atas gue semua untuk mengikuti Lokakarya Kurator Muda Indonesia oleh ruangrupa dan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Sebelum itu, gue nggak tahu-tahu banget kurator itu apa, walaupun ketika dipikir lagi, dari semester awal di kampus, gue sering menginisiasi pameran bersama kawan-kawan di kampus, yang cara kerjanya kayak kurator. Jadi emang basisnya dari pengalaman, karena waktu itu, di IKJ nggak ada jurusan ataupun mata kuliah soal kurator.

Nah, dari 2013 itu, mungkin karena bawaan gue yang suka ngurus orang, nulis dan kebetulan bisa bahasa Inggris, lalu ada banyak kebutuhan dari penyelenggaraan proyek seni di Jakarta akan orang-orang yang kayak gitu, itu terus jadi pekerjaan dan pemicu pengembangan karir gue. Di tahun 2015, gue diberi kesempatan untuk menginisiasi pameran karya teman-teman perupa muda di RURU Gallery ketika masih di Tebet, di mana gue berperan dengan titel kurator untuk pertama kalinya. 

Di tahun-tahun berikutnya sampai sekarang, ajakan untuk menjadi kurator ada terus. Dari pameran di galeri-galeri kubus putih sampai tempat pembuangan sampah di kampung kota. Dari pameran karya seniman muda sampai seniman yang sudah wafat. Salah satunya, pameran Lukisan Tanpa Teori (2017) di Galeri Cipta III, TIM, yang memamerkan koleksi lukisan DKJ akan karya Nashar, Rusli, Oesman Effendi dan Zaini, pelukis era 1940-1990an, yang gue ko-kuratori bersama Leonhard Bartolomeus, salah satu senior gue di IKJ. Jadi ya, semua berawal dari ‘abang-abangan.’

(Lukisan Tanpa Teori, salah satu pameran yang dikuratori oleh Gesyada Siregar di tahun 2017, dok: Dewan Kesenian Jakarta)

Sejauh ini, apa sih tantangan berkarier sebagai kurator khususnya di Indonesia?

Tantangannya sih kesibukan si kuratornya sendiri, hahaha. Dari pengalaman dan pengamatan gue, seringkali kurator hanyalah satu dari sekian banyak posisi di dalam pameran maupun di luar pameran. Misalnya, ada juga yang mengurus ruang dan program, mengajar, menulis untuk media, mengerjakan riset, berkarya, hingga berumah tangga. Ditambah lagi, kegiatan seni biasanya baru heboh-hebohnya dari tengah sampai akhir tahun, dan periode itu biasanya kurator bisa mengerjakan lebih dari dua proyek sekaligus (awal tahun umumnya musim ‘paceklik’ kejadian seni, hehehe). Di situlah tantangan membagi waktu serta energi untuk bepergian dan berkoordinasi dengan seniman plus seluruh tim kerja dari pameran itu. Ini kan kerja berpikir, dan untuk mewujudkan seideal-idealnya dari gagasan artistik yang direncanakan butuh perhatian dalam tiap prosesnya.

Bagaimana lo mendeskripsikan keterlibatan lo di ruangrupa? Dan kalau boleh, cerita sedikit dong soal ruangrupa yang ditunjuk sebagai direktur artistik Documenta ke-15 tahun 2022 nanti. Persiapannya sudah sejauh mana dan seberapa penting sih perhelatan Documenta ini, setidaknya untuk Indonesia?

Perubahan dari era ketika ruangrupa (ruru) masih menyewa rumah, lalu 2016-2018 bersama Serrum dan Grafis Huru-Hara menyewa di Gudang Sarinah dan menjadi kampung kolektif seni, hingga sekarang menjadi Gudskul di mana ada program studi yang rutin dan punya ruang yang menjadi hak milik, tentu membuat pelibatan gue di sana jadi bermacam-macam untuk menghidupi berbagai elemen di ekosistem ini dan bekerja multitask dengan model-model keberlangsungan yang baru. Sejak 2013 itu, gue dilibatkan di proyek-proyek ruru, umumnya yang seputar penulisan, penyelenggaraan pameran, festival dan program, serta perwakilan untuk proyek-proyek internasional. Misalnya, mewakili ruru untuk undangan riset kuratorial di Seoul (2017) dan residensi kolektif di Toronto (2019). Dari 2014 juga, gue mengurus Jakarta 32ºC, divisi ruru yang berfokus pada pendukungan dan pengembangan jejaring mahasiswa dan seniman muda. Jujur, sangat banyak yang dikerjakan di sini. Dari belasan program tiap kolektif, berbagai kerjasama dengan institusi-institusi lain, serta dua puluh lima kelas selama dua bulanan – jadi, Documenta adalah salah satu bagian dari riuhnya aktivitas ekosistem ini. Model keberlangsungan itu yang sedang terus diriset, dikembangkan dan diperbaiki, untuk dilakukan di Jagakarsa maupun di Kassel, karena keduanya saling berhubungan secara sistem.

(Gesyada Siregar yang mewakili Gudskul dalam Residensi Kolektif di Art Gallery of York University, Toronto, dok: Gesyada Siregar)

Efek perhelatan ini (Documenta) nggak bisa dipungkiri, tiap minggu selalu ada tamu internasional yang berkunjung ke Gudskul dengan berbagai agenda. Hikmahnya, sih, Indonesia atau spesifiknya Jakarta, menjadi titik sirkuit yang lebih kentara buat publik seni kontemporer internasional. Hal ini bisa penting nggak penting, tergantung siapa yang melihatnya.

(Pengalaman Gesyada Siregar dalam proyek Jakarta 32C tahun 2016, dok: Jakarta 32C)

Dalam beberapa bulan terakhir ini, lo mengkurasi setidaknya dua pameran di Jakarta dan Bandung, Festival Seni Media Internasional Instrumenta #2: Machine/Magic di Galeri Nasional Indonesia dan Out of Register di Bale Tonggoh, Selasar Sunaryo Art Space. Bagaimana lo melihat dua perkembangan eksplorasi seni yang berbeda ini di Indonesia: seni media dan seni grafis? 

Gue rasa agak sulit menjawabnya untuk bisa adil dengan artian ‘Indonesia’, karena lokus dan pemainnya yang sering tampil masih dari Bandung, Jakarta, Surabaya dan Yogyakarta. Meskipun di Instrumenta #2 kami mengundang seniman dari Cikarang dan Depok, lalu di Instrumenta #1 ada dari Bogor, Medan dan Samarinda, gue rasa secara statistik masih belum imbang. Gue pribadi sangat gemes untuk mencari seniman-senimannya di kota lain, terutama yang di luar Jawa. Masa iya praktik-praktik ini cuma ada di kota-kota tadi? Seni media dan seni grafis merupakan seni yang lekat dengan budaya media yang diproduksi massal dan segala instrumen teknologinya, maka, keduanya terpengaruh infrastruktur kotanya terkait akses teknologi media dan cetak-mencetak. Akses ini ada kok di kota-kota lain. Kendati, pertanyaan selanjutnya, apakah mereka melakukan praktiknya dengan kesadaran ‘ini seni’ seperti yang kita pahami? Belum lagi mikirin logistik antar pulau ini ketika mau mengadakan pameran. Gue menemukan halangannya seringkali di situ. 

(Gesyada Siregar dalam tur kuratorial Festival Seni Media Internasional Instrumenta #2: Machine/Magic, dok: Andang Iskandar/Humanika Artspace)

Kalau dalam konteks mikroskopis di kedua pameran ini sendiri, seni media dan grafis ini kan perlu perlakuan khusus, dari pra-pameran sampai pasca pameran, karena setelah hari pembukaan, seringkali karyanya nggak bisa ditinggal begitu saja. Di Instrumenta, sangat penting bagi seniman untuk punya petunjuk mengakali kemungkinan-kemungkinan terburuk dari karya, misal ada piranti keras maupun lunak yang tiba-tiba nggak bekerja. Di Out of Register sendiri, kami memang menantang senimannya untuk menghadirkan bentuk presentasi seni grafis yang ‘melenceng’ dari biasanya. Kecakapan seniman dalam menjelajah kedua seni ini bisa dilihat dari cara mengakali ‘kebergeseran’ tadi. Itu kan semacam ujian juga sejauh apa dia menguasai karyanya, bahkan ketika karya sudah keluar dari studionya. Gue sih merasa bersyukur karena seniman-seniman yang gue tangani di kedua pameran ini cukup ulung untuk bekerjasama mengakali hal-hal tadi, yang bisa diartikan, penjelajahan seninya makin mumpuni.

(Gesyada Siregar bersama rekan-rekan seniman di pembukaan dan bincang seniman pameran Out of Register, dok: Jin Panji)

Pertanyaan terakhir, kira-kira lo punya proyeksi artistik seperti apa di masa depan sebagai kurator?

G: Hmm, ngomong-ngomong proyeksi, gue berharap ke depannya gue mampu menyediakan proyektor dengan lumens yang tinggi buat seniman yang gue kuratori tanpa harus pusing anggaran, hahaha. Atau ya, intinya, bisa menyediakan fasilitas presentasi segila dan semahal apapun untuk seniman dan tim kerja gue nantinya. Imajinasi artistik akan suatu pameran kadangkala bisa kepentok sama anggaran dan ruang yang ada. Kalau hal itu bisa nggak jadi halangan lagi, gue penasaran bentuk-bentuk kekaryaan seniman kita terutama yang segenerasi sama gue bisa kayak apa. Selain itu, gue juga mau nambah data zodiak figur seni Indonesia yang aktif pada tahun 1940-1990-an, karena gue punya riset-risetan soal kaitan karya seniman dan zodiaknya, hehehe. Saat ini udah ada tujuh puluh dua nama di Ms. Excel gue, yang dua puluh duanya belum ketahuan tanggal lahirnya. Pengetahuan ini sangat menghibur gue pribadi sih, apalagi untuk memahami dan berkomunikasi dengan orang-orang di tiap proyek seni. Terakhir, gue lagi mikir, entah gimana caranya profesi ini suatu saat bisa membuat gue bertemu musisi idola gue, BTS, karena gue sangat tergugah sama lirik lagu BTS – Paradise yang terinspirasi langgam Marx. Amin. Udah itu aja kayaknya, Bob.

Teks: Bob Edrian
Visual: Arsip Gesyada Siregar/Dewan Kesenian Jakarta/Jakarta 32C/Andang Iskandar/Humanika Artspace/Jin Panji

Nada Siasat: Pekan Pertama Februari

Sampailah kita di penghujung pekan pertama bulan Februari. Harapan-harapan terus tumbuh di tengah situasi yang belum membaik sepenuhnya. Meskipun situasi masih belum jauh berbeda dengan hari-hari sebelumnya, namun para musisi...

Keep Reading

Seniman Roby Dwi Antono Gelar Tiga Pameran Sekaligus di Jepang

Seniman Indonesia yang satu ini memang kerap membuat pameran di luar negeri. Lewat karya-karyanya yang memukau, nama Roby Dwi Antono kian dikenal oleh para pelaku mau pun kolektor seni Internasional....

Keep Reading

Nada Siasat: Meretas Tahun Penuh Harapan

Tak terasa sudah 2 tahun kita berdampingan dengan pandemi, selama kurun waktu itu pula kita terus bertahan dari terpaan yang ada. Kini, nyaris semua sektor perlahan kembali pulih. Adaptasi adalah...

Keep Reading

50 Lagu Indonesia Favorit Siasat Partikelir 2021

Berikut adalah 50 lagu yang menjadi favorit Siasat Partikelir, yang sering kami dengarkan di berbagai situasi dalam rentang waktu tahun 2021.

Keep Reading