Berdialog: Gary Mader (EYEHATEGOD)

New Orleans, Lousiana adalah salah satu kota di Amerika Serikat yang kehidupan masyarakatnya merupakan peleburan dari beberapa budaya yang membuatnya unik. Keunikan yang juga melahirkan kultur musikal yang kuat dari jazz hingga metal. Dan salah satu eksponen dari kancah musik kerasnya adalah EYEHATEGOD. Dibentuk pada tahun 1988, EYEHATEGOD bukan hanya sekedar band yang muncul dari New Orleans tapi juga merupakan grup musik yang esensial bila berbicara akan ranah musik sludge metal di Amerika Serikat. 

Bagi fans EYEHATEGOD di Indonesia kabar paling menggembirakan adalah ketika mengetahui Maternal Disaster dan Rock In Celebes bertindak sebagai promotor dan menggelar tur band asal New Orleans itu. Tidak hanya untuk satu konser tapi untuk lima jadwal yang dilangsungkan di Bali, Yogyakarta, Bandung, dipromotori oleh Maternal. Lalu untuk Surabaya dan Makassar dipromotori oleh Rock In Celebes pada akhir bulan November 2019 lalu.

Setelah non-stop menguras semua agresi, berkeringat, moshing, stagedive dan berteriak menyanyikan liriknya di moshpit jadwal konsernya di Bandung (23/11/2019), saya berkesempatan mewawancarai pemain bassnya, Gary Mader, di kamar hotelnya sebelum rombongan tur EYEHATEGOD bersiap dan bertolak ke Jakarta untuk mengejar jadwal penerbangan mereka ke Makassar. Sayang sekali Mike IX Williams tidak bisa ikut serta sesi wawancara karena kelelahan dan mencoba menjaga staminanya untuk tur yang bisa dibilang cukup menguras tenaga.

Ini pertama kali EYEHATEGOD melakukan tur ke Indonesia. Bagaimana menurutmu akan rangkaian shows dan respon dari penggemar kalian disini?

Sangat luar biasa. Kami merasa tur ini akan seru sebelum kami datang kesini karena sedikit banyak kami sudah tahu bahwa ada banyak fans kami disini; dari respon yang kami terima secara online dan juga banyaknya bootleg dari merchandise kami disini. Jadi sudah terbayang di kepala kami tur ini akan menyenangkan dan sementara ini ianya sangat luar biasa. Senang sekali untuk bisa disambut dengan baik, dan shows-nya pun seperti malam ini keren banget. Yang datang begitu antusias, mereka tahu lirik dari semua lagu dan hal seperti itu jarang sekali terjadi. Seusai show tadi kami merasa .. Wow luar biasa! Karena bila kami tur tak setiap malam kami mendapatkan respon seperti itu, terkadang kami main di depan penonton yang memberikan respon yang biasa-biasa saja. Tapi disini berbeda, orang-orang datang dengan semangat, gairah dan dedikasi yang luar biasa terhadap musik dan band kami. Itu jarang sekali kami lihat dan rasakan. Kami sudah main di banyak shows dan tur keliling dunia, tapi respon yang kami terima di tempat yang tak pernah kami datangi khususnya Indonesia melampaui ekspektasi yang bisa kami bayangkan. Orang-orang stagedive, meneriakkan lirik lagu kami dan bersenang-senang, itu sangat berarti bagi kami. Orang-orang sangat apresiatif dan kami bersyukur untuk bisa datang kesini.

EYEHATEGOD sudah eksis sebagai band dalam rentang waktu yang sangat panjang, dan menjadi bagian dari kancah musik hardcore punk dan metal di Amerika Serikat. Apa kekuatan penggerak utama yang membuat kalian bertahan hingga sekarang?

Bagi saya jelas adalah karena kecintaan saya memainkan musik, dan begitupun kami sebagai band. Di kampung halaman kami, masing-masing dari kami pun main dan terlibat di band lain juga. Itu menjadi semacam bukti bahwa kami benar-benar mencintai apa yang kami lakukan. Dan, ada semacam ikatan persahabatan antar tiap band. Kami bukan band yang bisa dengan mudah memecat dan gonta-ganti personil, karena kami adalah teman yang main musik bareng. Dan menurut saya itu yang mengikat kami bersama, karena bila band ini dalam masa sulit dan kami tidak menyatu Ianya bisa dengan mudah berantakan. Tapi karena persahabatan antara kami, band ini jadi bisa lebih teguh bertahan untuk sekian lamanya. Menurut saya bila bermain di band dan tak punya ikatan seperti itu mungkin hubungan yang tercipta seperti palsu, dan apa yang kami miliki nyata. Kami jujur menjadi diri sendiri, baik secara pribadi maupun sebagai band.

Saya sempat membaca beberapa buku dan menonton film dokumenter tentang kancah musik di Amerika Serikat dan juga New Orleans. Bisa kamu ceritakan bagaimana kancah musik di New Orleans?

Belakangan ini bisa dibilang semakin menarik dan luar biasa. Pasca badai Katrina pada tahun 2005 banyak band yang bubar karena orang-orang harus mengungsi atau pindah. Masa yang berat dan juga aneh bagi kami waktu itu karena semua aspek kehidupan terguncang. Tapi seusai bencana dan orang-orang mulai kembali, lahir semacam antusiasme baru karena menyadari untuk bisa tetap hidup dan masih bisa bermain musik adalah hal yang sangat luar biasa. Bencana itu sangat membuka mata dan menyatukan kami, hingga kami menjadi lebih menghargai teman-teman kami, lebih mengapresiasi band-band lokal yang ada, dan pastinya bersyukur kota kami masih tetap ada selepas semua kekacauan yang terjadi. Sekarang kancah musiknya lebih hidup dan banyak sekali band yang muncul dari punk, hardcore, metal, garage rock yang juga menjadi bagian dari kancah musik yang sama dengan mereka yang memainkan hip hop atau DJ sebagai satu kesatuan dari apa yang kami miliki di kota kami. Dan, komunitasnya sekarang ini bisa dibilang menjadi lebih kuat dan besar daripada sebelumnya. Lebih banyak band yang muncul. Yang mana sebelumnya kami mungkin sedikit menyia-nyiakan apa yang kami punya, tapi setelah badai Katrina kami jadi lebih mengapresiasi band-band baru yang muncul dan mencoba untuk melihat mereka ketika manggung karena bencana itu membuka mata apa yang kami punya hari ini bisa hilang dalam sekejap. Dibalik tragedi yang terjadi, Ianya juga melahirkan semangat baru bagi kota kami.

Berbicara tentang badai Katrina, dari berita yang saya simak bencana itu sangat mengguncang sendi-sendi kehidupan dari mulai sosial, ekonomi dan beragam aspek lain dalam kehidupan bermasyarakat di New Orleans. Dan, kalian merekam kekacauan dan tragedi itu dalam lagu “New Orleans Is The New Vietnam”. Belasungkawa saya untuk teman dan saudara kalian yang menjadi korban bencana itu. Maaf, tapi bisa ceritakan bagaimana dampak bencana itu secara langsung terhadap EYEHATEGOD?

Tak apa dan terimakasih untuk belasungkawa kamu. Yang pasti masa itu sangat kacau. Mike (Mike IX Williams) ketika itu dipenjara tak lama setelah badai Katrina terjadi pada akhir Agustus 2005 hingga bulan Desember 2005. Dan, kala itu saya dan istri saya harus menumpang di rumah Jimmy (Jimmy Bower) dan ibunya karena rumah saya hancur. Bisnis dan rumah orangtua saya juga hancur karena badai itu. Ketika sedang tinggal di rumah Jimmy kami mulai jamming dan latihan disitu karena tempat latihan band kami juga hancur, dan tak bisa diakses karena zona kota yang ditutup aksesnya dan juga diberlakukan jam malam. Kami mencoba menulis materi baru, dan ketika Mike dibebaskan dari penjara pada bulan Desember 2005 baru kami mulai manggung lagi. Setelah semua kekacauan itu kami bersyukur untuk bisa melewatinya, dan bisa main bareng lagi sebagai band. Dan setelah semua yang harus kami lewati kala itu, kami menjadi lebih bersemangat dan antusias akan apa yang kami lakukan. Dan bila kami pikir lagi bila kami tak melewati itu dan semua selalu baik-baik saja mungkin kami tak akan pernah sadar apa yang kami miliki sebagai band dan menjadi cepat puas, sekarang kami lebih mengapresiasi apa yang bisa kami lakukan sebagai band.

Di satu sisi bisa dibilang setelah melewati bencana besar badai Katrina malah menguatkan EYEHATEGOD sebagai band. Nah, kamu bergabung dengan EYEHATEGOD sejak tahun 2002, sebagai band yang sangat berpengaruh dan kamu bergabung di dalamnya; apa makna band ini bagi kamu? 

Sebelum bergabung, pastinya saya suka sekali EYEHATEGOD. Ketika dulu di akhir 1980an ketika saya kerap mengorganisir acara musik di venue untuk semua umur karena band-band dengan personil di bawah umur tak bisa main di bar, saya mengajak band-band lokal untuk main dan saya fans berat dari EYEHATEGOD. Pada waktu itu dengan pengaruh thrash metal semua band bermain ngebut, dan ketika saya melihat mereka main ada seolah ada sesuatu yang menarik saya dalam musik mereka dengan feedback dan agresi yang murni dari band itu. Saya tak pernah melewatkan show mereka. 

Apa yang membuatmu secara khusus tertarik dengan musik EYEHATEGOD?

Pada masa itu apa yang mereka lakukan dengan musik mereka adalah hal yang baru bagi saya. Sangat in your face tanpa pretensi dari lirik sampai gaya musiknya yang melibas batasan genre. Hingga sekarang pun kami tur dengan band dengan band hardcore seperti Negative Approach, band grindcore seperti Napalm Death bahkan Black Label Society, saya merasa kami tak pernah membatasi audiens kami dan bisa diterima karena pada hakekatnya kami memainkan rock’n’roll. Dan rock’n’roll adalah hal yang universal, apakah ianya lambat, ngebut atau noise. Dan, kami pun mengambil dan dipengaruhi oleh beragam musik seperti musik delta blues lama seperti John Lee Hooker, Robert Johnson, Son House atau Dr. John dan band-band di New Orleans. Dan, bahkan ketika Joey (Joey LaCaze) masih hidup dia sangat dipengaruhi oleh gaya permainan drum Voodoo yang digunakan untuk upacara spiritual oleh imam Voodoo di New Orleans. Pengaruh ritme itu pun masuk ke dalam musik kami. Dan sejujurnya kami pun tak mendefinisikan musik kami sebagai sludge. Jimmy (Jimmy Bower) sebelum Crowbar bandnya itu namanya The Slugs, dan dia seingat saya dulu punya kaos yang bertuliskan “It’s Not The Speed, It’s The Impact”, dan menurut saya itu mendefinisikan semuanya secara gamblang. 

Kalian merilis album kelima Eyehategod pada tahun 2014. Lima tahun telah lewat, bisa ceritakan apa yang sedang kalian kerjakan dan persiapkan dalam waktu dekat ini?

Sudah hampir setahun kami mengerjakan materi baru, kami merekam 12 lagu di bulan Januari dan Februari 2019.  Salah satunya adalah lagu “Three Black Eyes” yang kami lepas untuk program Adult Swim. Lagu itu dan sebelas lagu lainnya nanti akan masuk dalam album baru kami. Yang tersisa dan harus kami rekam adalah vokal Mike, yang harus tertunda karena jadwal tur kami yang padat. Kami hanya punya jeda dua sampai tiga minggu diantara jadwal untuk kemudian lanjut jalan tur lagi, bahkan kadang hanya jeda istirahat beberapa hari saja untuk lanjut tur lagi. Itu sedikit banyak menghambat penyelesaian album baru kami, tapi kami pun tak ingin terburu-buru. Kami mau album itu dikerjakan dan dirilis dengan baik tidak karena kejar tayang. Dan, kami juga mengerjakan split 7” dengan Sheer Terror dimana kami merekam versi cover dari lagu Devo “Gates of Steel”, dan Sheer Terror merekam versi cover dari lagu Depeche Mode. Hal yang menarik karena kami ingin mencoba hal yang baru dan keluar dari zona nyaman kami, mengulik hal yang sangat jauh dari musik EYEHATEGOD. Itu mungkin yang sedang kami kerjakan dan persiapkan. Selain itu kembali menjalankan tur seperti sekarang.

Berbicara soal tur, ada jadwal tur yang paling kamu nantikan?

Mungkin tur kami bersama Napalm Death. Saya fans mereka sejak umur 15 tahun, dan itu pasti akan jadi pengalaman tur yang keren banget. Kami diajak sebagai band pembuka untuk Napalm Death selama empat minggu di Eropa. Dan, seperti yang saya bilang sebelumnya kami juga suka dengan band hardcore punk lawas, kami pernah mengajak tur band seperti Cro-Magz, Negative Approach, Sheer Terror, The Accused. Sebenarnya saya tak bisa bilang tur mana yang menjadi favorit saya karena kami sudah tur dengan banyak band keren, dan tiap tur adalah pengalaman tersendiri seperti waktu kami tur dengan The Obsessed dan mereka adalah band yang mempengaruhi kami. Menyenangkan bisa melihat band yang kami suka setiap malam. Yang membedakan kami dengan band lain adalah band lain mungkin tak terpikir untuk mengajak band dengan genre yang berbeda dalam tur mereka, tapi kami melakukan itu.

Kamu tadi sempat bahas soal Joey LaCaze, saya melihat dia punya peran yang besar dan spesial dalam EYEHATEGOD. Saya sebagai fans juga sangat terpukul ketika mendengar beliau meninggal di tahun 2013. Bagaimana sosok beliau dan warisan yang ditinggalkannya bagi EYEHATEGOD?

Tak terlupakan. Dia menulis beberapa lagu terbaik EYEHATEGOD, dan dia pemain drums tapi di kala jeda sesi jamming dia kerap memainkan gitar dan muncul dengan ide lagu yang keren. Cara dia mengerjakan riff gitar kadang sangat diluar dugaan. Permainan drums dan ide lagu yang muncul darinya adalah warisan musikal yang ditinggalkan dan akan tetap hidup bersama band ini. Ketika dulu masih bermain bersama kami, dia adalah kekuatan pendorong besar yang kami punya. Dia punya getaran dan energi besar yang luar biasa dari balik drums-nya. Dan, sangat berbakat hingga dia tak perlu keluar usaha besar untuk mengasah permainannya, jujur saya harus berlatih agar bisa bermain bagus dan Joey sebagai pemain musik tak butuh itu. Jazz adalah salah satu musik yang berkembang di New Orleans, dan permainannya banyak dipengaruhi oleh pemain drums jazz, dan dia membawa itu ke musik kami sebagai salah satu representasi New Orleans dalam EYEHATEGOD. Apa yang dilakukannya sedikit banyak membedakan kami dengan band lain. Kami menyimpan kenangan akan dirinya di lubuk hati yang paling dalam. Dia teman yang luar biasa dan keren. Saya ingat ada satu wawancara yang dilakukan setahun sebelum dia meninggal, dan dia ditanya “Bagaimana hidupmu ingin dikenang nanti?”,  dia menjawab ingin dikenal sebagai orang yang sederhana dan perampok bank ternama ahahahahaha

Seorang pemuda bersahaja yang nakal ..

Ya! ahahahaha

Kenapa Jimmy Bower tak ikut untuk tur ini?

Kami mulai seri tur dunia ini pada pada bulan September. Dan sebelum itu dia mencederai lengannya di rumah sebelum kami berangkat untuk jadwal tur kami selama sebulan di Eropa. Dan sepanjang tur itu dia main gitar dengan lengannya yang sakit. Seusai tur itu dia ke dokter, dan dokter bilang Jimmy harus dioperasi karena tendon bisepnya cidera. Dia harus dioperasi dan waktu pemulihannya cukup panjang hingga kami harus menjalankan tur tanpa Jimmy. Jadi kami mengajak Brian (Brian Patton) yang juga sempat menjadi gitaris kedua dari EYEHATEGOD untuk mengisi posisi Jimmy untuk beberapa jadwal tur, tapi Brian juga jeda sejenak karena istrinya akan melahirkan hingga sekarang kami mengajak Paul (Paul Webb) yang juga teman dekat kami. Paul juga main bareng dengan Jimmy Bower di The Mystick Krewe of Clearlight, dan dengan Aaron (Aaron Hill) di Mountain of Wizard. Saya kenal Paul sejak 1995 dan sempat main bareng dengan band saya Hawg Jaw dan Classhole. Jadi Paul adalah pilihan yang terbaik. Dia punya toko musik di New Orleans dan kami bersyukur dia bisa meninggalkan tokonya untuk bisa membantu tur kami hingga tak perlu membatalkan jadwal yang ada. Jadi kalau ada yang tidak suka Jimmy tidak ikut tur ini, fuck all that! Walau memang Jimmy punya fanbase-nya sendiri ahahahahaha

Dengan pengalaman pertama kalian menyinggahi Indonesia ini, apakah ada kemungkinan kalian akan kembali lagi untuk tur kesini?

Pastinya! Bila promotor disini ada yang mengajak kami lagi pasti kami akan kembali. Tapi dengan pengalaman ini dan shows yang luar biasa, kami pasti akan kembali, dan kami akan kembali dengan Jimmy ahahaha dan album dan lagu baru. Dan pastinya untuk kembali makan dengan sambal tradisional dan makanan lain yang kami suka ahahaha

Ahahahaha kalian orang New Orleans suka makanan pedas ya?

Ya kami suka sekali, itu makanya kami suka sambal

Terimakasih untuk kesempatan wawancara ini. Ada yang ingin kamu sampaikan untuk fans kalian di Indonesia?

Terimakasih banyak untuk kalian yang menyempatkan hadir di shows kami. Tanpa kalian shows kami tak akan bermakna. Sangat menyenangkan untuk bisa main di depan orang-orang yang memberikan apreasiasi yang begitu mendalam. Dan pastinya bukan hanya untuk mereka yang datang ke shows tapi untuk semua orang Indonesia yang kami temui dan begitu ramah dan baik pada kami

Seperti berasa di rumah ya dengan semacam rasa southern hospitality

Ya betul ada rasa southern hospitality di sini hahahahaha

Teks: Farid Amriansyah

Visual: Arsip Foto EYEHATEGOD

Video: Arsip Rizky R Ude

EP Who Suffer?, Jalan Keluar Defy dari Kekacauan Pandemi

Grup metallic hardcore dari kota Palu, Defy, baru-baru ini telah meluncurkan sebuah album mini bertajuk Who Suffer?. Perilisan album ini juga sekaligus sebagai tanda berjalannya kerja sama antara Defy dan...

Keep Reading

Menuju Album Kedua, Modjorido Rilis Nomor "Bebal"

Usai memperkenalkan album perdana self-tittled di tahun 2021 lalu, grup musik dari Bali, Modjorido akhirnya kembali merilis karya teranyar. Kali ini unit yang dihuni oleh Rico Mahesi (Vocal & Guitar),...

Keep Reading

Koil Rilis Digital EP Lagu Hujan

Band rock industrial asal Bandung, Koil resmi merilis album mini terbaru berjudul Lagu Hujan dalam format digital (22/7) diseluruh layanan streaming musik. Perilisan ini merupakan milestone lanjutan dari Otongkoil (vokal),...

Keep Reading

Semesta Manusia di Lagu Terbaru The Hollowcane

Selang satu tahun usai merilis singel “Verbal Irony”, kuartet Indie rock dari kota kembang, Bandung, bernama The Hollowcane akhirnya kembali memperkenalkan karya teranyarnya. Kali ini unit yang dihuni oleh Ega...

Keep Reading