Berdialog: Dhigel

Adi Dhigel Setiawan merupakan salah satu penggagas dari Kolektif Grafis Huru-hara. Dengan mengedepankan keragaman warna pada tiap karyanya, Dhigel belum berhenti dalam bereksplorasi. Saat ini, nama tersebut identik dengan illustrasi, printing, dan mural.

Bagaimana kisah selengkapnya? Mari simak bersama obrolan kami bersama Dhigel di bawah ini.

Bagaimana ceritanya hingga bisa terjun ke dunia seni visual seperti sekarang?

Dari SMP udah mulai tertarik, mulai gambar-gambar di buku pelajaran sampai pertama kali bikin graffiti di jalan pas smp.

Kamu adalah seorang ilustrator, print making artist, dan mural artist. Bagaimana ceritanya hingga kamu bisa menggeluti ketiganya?

Mulai nya tuh pas kuliah semester 6, waktu itu sempat agak bosen berkarya printmaking karena gue tuh agak ribet kalo mau bikin karya printmaking, soalnya persiapannya mesti total dan tersistematis, nah abis itu gue nyoba ekplorasi bikin karya yang gak usah dipikirin, bebas aja. Nah lalu gue coba mural dan ilustrasi. Di situ gue gak pernah mikir mau bikin apa, gak pernah mikir bakalan jelek apa bagus, gak pernah mikir ini akan berdampak apa buat orang, ngalir aja. Soalnya disini gue cuma mau eksplorasi karena bosen dengan ke sistematisan berkarya grafis.

Dari proses ini gue dapet sesuatu yang menarik, kayak ilustrasi di sini gue bisa  eksplorasi warna yang colourful seenaknya tanpa mikir gue mesti beli cat, secara ini digital. Lalu proporsi dan size besar gue main di mural dan warnanya gue dapetin dari proses ilustrasi gue secara digital dan kedetailan berkarya gue main di printmaking. Dan akhir kekaryaan gue seperti sekarang deh..

Selama ini, biasanya karya-karyamu terinspirasi dari hal-hal apa saja?

Terinspirasi dari lingkungan sekitar gue. Biasanya tentang sosial kota, keluarga, pertemanan, dan tongkrongan

Lalu, siapa seniman lokal maupun internasional yang banyak menginspirasimu, dan kenapa?

Seniman lokal sih banyak, dari temen- temen kampus, temen- temen Gudskul sampe temen- temen per-graffitian semua menginspirasi gue. Yah, mereka menginpirasi gue dari proses manajemen berkarya, pola berfikir, melihat sekeliling sampai pergaulan, banyak banget deh gue dapet dari mereka. Kalo internasional juga banyak, tapi gue lupa nama-namanya. Soalnya gue liat karya-karyanya di internet, paling kayak gaya visual, pengolahan warna sama kegokilan karyanya yang gue liatin.

Apa karyamu yang paling favorit

Karya favorit gue? Hhhhm..ada 2  yang paling gue seneng. Dua-duanya karya cukil, yang satu judulnya Kampung Semut dan satunya lagi judulnya A Message.

Kampung semut tuh karya cukil yang ukurannya paling besar yang pernah gue buat ukuranya 280 cm x 150 cm, itu bercerita tentang kehidupan sebuah kampung yang warganya nya masih suka bergotong royong dalam melakukan berbagai hal, salah satunya kerja bakti benerin jalan, yang dimana gue lihat itu udah jarang dilakukan karena banyak kesibukan yang dialami sama warga-warganya. Dan karya ini butuh 5 bulan buat ngerjainnya, makanya gue seneng sama karya ini.

Karya A Message tuh juga karya cukil yang colourfull. Ukurannya juga lumayan sekitar 180cm x 140cm. Karya ini bercerita tentang seorang ayah/suami yang udah meninggal namun ia berusaha untuk memberi pesan kepada istri/ibu untuk tetap semangat dalam mengurus anak-anak walaupun sendirian, tidak bersedih tanpa kehadiran suami dan sekarang menjadi single parent. Nah karya ini sebenarnya cerita pengalaman pribadi tentang seorang ibu yang tetap tegar, semangat dan kuat walaupun menjadi seorang single parent, makanya ini salah satu karya yang gue seneng banget pas udah jadinya..

Sejauh karirmu dalam berkesenian, apa momen yang menurutmu paling berkesan dan membanggakan?

Momen yang berkesan dan membanggakan itu ketika gue bisa membuat sebuah kolektif Grafis Huru Hara bersama teman-teman dan masih bertahan sampe sekarang dan juga ikut tergabung di Gudskul Ekosistem yang dimana isinya adalah kolektif-kolektif yang memiliki proses yang berbeda-beda dan saling berbagi pengetahuan antar yang lain sehingga bisa berkembang bersama.

Menurutmu, pola pikir apa yang paling dibutuhkan seorang seniman agar tetap konsisten?

Pola pikir yah? Hhhmm.. menurut gue sih mesti bisa pola pikir manajemen. Dimana lo mesti bisa mengatur waktu saat lo mesti bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, terus mesti bikin karya untuk memenuhi hasrat emosional. Mesti diatur sih menurut gue. Lalu nongkrong, dari nongkrong kita bisa ngobrol berbagai hal. Nah pas lo kehabisan ide, terkadang tuh dari nongkrong bisa dapet ide-ide yang bikin pengen langsung berkarya dan juga bisa sharing.

Itu sih menurut gue yang bisa bikin seniman konsisten dalam berkarya.

Selain menjadi seniman visual art, apalagi kesibukanmu?

Kesibukan gue sebagai manager Studio dan program di studio Grafis Huru Hara, menjadi Art Handler di beberapa event pameran Seni Rupa, menjadi Tutor workshop bersama Grafis Huru-hara.

Teks: Rizki Firmansyah
Visual: Arsip Dhigel

Sebuah Pertanyaan Residensi, Mengapa Jalan-jalan untuk Seniman itu Penting?

Seperti apa sebenarnya peran residensi seni, dan bagaimana dampak sebuah kunjungan sementara terhadap proses kreatif seniman? Karena makin ke sini istilah residensi jadi template untuk sekadar program plesir yang dilakukan...

Keep Reading

Universal Iteration, Pameran Selanjutnya dari Salihara

“Ragam aktivitas di dunia maya tidak hanya menghasilkan keuntungan berupa kemudahan akses informasi serta terbukanya peluang-peluang baru di berbagai bidang. Pada kenyataannya, aktivitas-aktivitas virtual menghasilkan emisi berupa jejak karbon secara...

Keep Reading

Tambah Line Up, Hammersonic Siap Hadirkan 53 Band Metal dan Rock Dunia!

Setelah mengalami beberapa kali penundaan, festival musik metal raksasa Hammersonic akhirnya dipastikan siap digelar pada awal tahun 2023. Sebelumnya salah satu headliner yakni Slipknot telah mengumumkan konfirmasi lewat unggahan twitter...

Keep Reading

Tahun ini, Synchronize Fest Balik Lagi Secara Luring!

Penantian panjang akhirnya terjawab sudah! Synchronize Fest memastikan diri akan digelar secara offline pada 7, 8 , 9 Oktober 2022 di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta. Mengusung tema “Lokal Lebih Vokal”,...

Keep Reading