November lalu, sebuah pameran bertajuk “December” diselenggarakan di Rubanah Underground Hub, Jakarta Pusat. Pameran yang berlangsung sejak tanggal 2 hingga 23 November tersebut merupakan sebuah proyek tunggal kekaryaan seorang seniman muda bernama lengkap Bunga Yuridespita. Komposisi bidang berwarna merah ringan, biru, hingga turunan dan irisan keduanya tampil mencolok dalam ruang pamer yang kali ini dikurasi oleh Ganjar Gumilar.

“It is about the body and space inside of a dialogue, which leaves a memory that creates an identity to form an individuality.”

Begitu kutipan pernyataan sang seniman dalam pamflet pameran. Penulis berkesempatan mengajukan beberapa pertanyaan terkait kekaryaan Bunga Yuridespita, seniman yang ternyata lahir di bulan Desember. Apakah hal tersebut merupakan alasan di balik pemilihan tajuk pameran tunggal Bunga?

Hai Bung, bisa cerita sedikit soal latar belakang lo sampai bisa terjun ke medan seni sebagai seniman?

Meskipun lahir di tengah keluarga yang jauh dari dunia seni, sebenarnya ketertarikan akan dunia seni sudah muncul sejak gue kecil, awalnya karena suka film dan penasaran sama dunia perfilman. Cita-cita gue sewaktu kecil ingin jadi sutradara. Cuma karena lahir di keluarga yang jauh dari dunia seni, keinginan untuk masuk sekolah film/seni dipendam dan memilih untuk masuk sekolah arsitektur. Selama perjalanan kuliah di arsitektur, keinginan untuk menekuni dunia film masih gue harapkan bisa terealisasi setelah menyelesaikan studi arsitektur. Dalam perjalanannya, gue akhirnya mencoba mencari benang merah arsitektur dan film dengan menelaahnya lewat penulisan tugas akhir. Membahas bagaimana ruang bisa mempengaruhi citraan satu ruang dengan sejarah dan kualitas ruang yang dimiliki ruang tersebut. Hal ini juga banyak mempengaruhi proses dan pola pikir gue dalam melakukan praktik seni rupa. Karya gue pada akhirnya tetap membicarakan soal ruang, memori, dan persinggungan tubuh dengan ruang yang membuat satu ruang menjadi penting dalam persoalan identitas yang gue angkat dalam kekaryaan.

Setelah lulus, gue bekerja sebagai arsitek sekaligus fotografer band selama 2 tahun. Ada banyak pergeseran dalam hal cara gue melihat apa yang sebenarnya ingin gue capai setidaknya dalam dua tahun belakangan ini. Seni rupa seringkali menjadi jeda ketika gue jenuh bekerja di ranah arsitektur dan fotografi. Namun, dalam perjalanan gue bekerja di industri musik sebagai fotografer, justru banyak peluang yang akhirnya mendorong gue menekuni seni rupa yang sebelumnya hanya sebatas jeda untuk menghilangkan jenuh dalam keseharian gue bekerja. Hal tersebut membuat gue mengambil benang merah dari semua hal yang menjadi ketertarikan gue, yaitu seni. Dan akhirnya, tanpa sepengetahuan orang tua, gue meneruskan pendidikan S2 di ITB jurusan seni rupa. Belakangan ini mereka mulai paham dan menerima juga pada akhirnya.

Ada pengaruh yang cukup kuat ngga antara latar belakang lo di keilmuan arsitektur dengan eksplorasi artistik saat ini?

Ketertarikan gue pada arsitektur sebenarnya tidak pernah hilang, gue malah merasa arsitektur jadi trigger dominan dalam melakukan praktik seni rupa. Dari bentuk, proses, dan sistem yang terjadi dalam proses artistik gue, selalu berkaitan dengan arsitektur. Ruang menjadi alat untuk menjembatani karya gue dengan apresiator. Gue masih memanfaatkan keilmuan arsitektur dalam proses berkarya. Seperti membuat maket dan 3D ruang pameran sebelum pameran untuk merancang pameran yang akan gue eksekusi. Juga dalam proses menggambar karya, gue masih memanfaatkan perangkat lunak arsitektur sebagai tools, seperti Autocad dan Sketchup. Visual yang gue hadirkan pun masih menggunakan berbagai unsur arsitektur seperti denah, lansekap dan ruang yang gue olah kembali melalui perspektif seni rupa.

(Exhibition view pameran tunggal Bunga Yuridespita di Rubanah Underground Hub, dok: Bunga Yuridespita)

Pameran tunggal di Rubanah kemarin kan judulnya “December”, ada gagasan spesifik terkait judul pameran itu yang bisa diceritain?

Judul “December” dalam pameran tunggal gue merupakan sebuah pesan soal waktu yang juga merepresentasikan memori. Di dalam visual yang gue hadirkan, banyak cerita soal ruang yang selalu bersinggungan dengan waktu. December sendiri bagi gue pun bukan sekadar nama dari bulan namun bagian dari identitas gue yang merepresentasikan masa kecil, memori-memori di masa kecil, trauma dan lain sebagainya.

(Salah satu karya Bunga Yuridespita bertajuk ‘Brainville, Let’s Get In’ dalam pameran tunggalnya, dok: Bunga Yuridespita)

Udah berapa lama kira-kira lo mengeksplorasi bentuk dan warna-warna yang hadir di lukisan-lukisan lo? Dan, kenapa memilih seni lukis sebagai medium utamanya?

Untuk eksplorasi karya yang berhubungan dengan bird eye’s view ini kira-kira udah berjalan 4 tahun ya. Eksplorasi karya 2 dimensi lekat dengan mata kuliah yang gue sangat suka dan dalami, yaitu perancangan tapak dan arsitektur lansekap. Meskipun dalam berkarya, gue tidak lagi menggunakan ‘fungsi’ seperti yang sewajarnya di arsitektur. Kalau di arsitektur kan banyak simbol warna yang merepresentasikan fungsi, seperti merah untuk daerah komersil atau hijau untuk ruang terbuka hijau misalnya.

Seni lukis bagi gue pribadi merupakan medium yang familiar, baik bagi gue sendiri dan juga bagi banyak orang. Seni lukis menjadi jembatan yang lebih dekat antara gue dan juga apresiator. Di samping itu, seni lukis juga merupakan alat yang paling tepat untuk self-healing gue. Gue menemukan seni lukis sebagai satu hal yang intim antara seniman dan karya di ruang nyata dan ruang yang sifatnya lebih abstrak atau imajiner. Intim dengan gue sebagai self-healing dan juga lebih mudah dicerna oleh apresiator sebagai awalan.

Hal tersebut tentunya nggak membatasi gue dalam melakukan eksplorasi karya. Gue sekarang mulai mengulik kata ruang yang mengarah ke tiga dimensional. Di pameran tunggal gue di Rubanah, gue mulai mengolah karya dalam ruang pamer. Mencoba melihat potensi karya gue sebagai karya site-specific, membuat cara lain dalam mengolah denah atau sudut pandang burung melalui cara pandang manusia pada umumnya.

Terakhir, boleh diceritain sedikit terkait proyeksi kekaryaan lo ke depannya, apakah masih akan mengeksplorasi gagasan dan medium yang sama? Dan pameran terdekat berikutnya kira-kira dimana nih?

Sebagai dasar gagasan, gue memilih untuk mencoba konsisten dengan apa yang perlu gue sampaikan dalam karya, jadi akan tetap bersinggungan dengan ruang, memori dan identitas. Eksplorasi berikutnya akan bergeser ke arah yang lebih berjarak dengan diri gue sendiri. Untuk medium, seperti yang tadi gue ceritakan, akan mulai mengeksplorasi ruang tiga dimensional walaupun tentu akan tetap melukis juga.

Pameran terdekat sepertinya belum bisa gue pastikan, tapi tahun depan gue akan fokus pada group exhibition, ada rencana kolaborasi dengan arsitek dan mungkin juga beberapa produk.

Teks: Bob Edrian
Visual: Arsip Bunga Yuridespita