Berdialog: Audial Plane

Sound art adalah istilah lama. Menurut Alan Licht, seorang komposer asal Amerika Serikat, Istilah itu sendiri berawal dari Yayasan SoundArt William Hellermann, yang didirikan pada akhir tahun 1970-an, dan berhasil menghasilkan pameran berjudul Sound/Art di Sculpture Center di New York sekitaran tahun 1983.

Di waktu-waktu selanjutnya, istilah sound art mulai banyak digunakan untuk mendefinisikan aktivitas-aktivitas seperti pertunjukan musik eksperimental, musik noise ataupun bentuk pertunjukan lainnya yang dianggap di luar wilayah musik konvensional.

Bila mengutip Bob Edrian, seorang pengamat sound art sekaligus kurator asal kota Bandung dalam artikel berjudul Musik dan Industri: Sound Art di WordPress-nya, di Indonesia sendiri, meskipun pameran dengan tajuk spesifik sound art baru pertama kali diselenggarakan pada tahun 2007 di Galeri Soemardja, Institut Teknologi Bandung (pameran berjudul Good Morning: City Noise!!! Sound Art Project yang dikuratori oleh Aminudin TH Siregar dan Koan Jeff Baysa asal Amerika Serikat), kesadaran seniman Indonesia terhadap medium baru (yang salah satunya adalah elemen bunyi) telah muncul sejak periode Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia (GSRBI) di pertengahan 1970-an.

Selanjutnya Bob juga menuliskan bahwa di samping itu semua, keterlibatan Heri Dono dalam pameran besar sound art di Hayward Gallery, London, pada tahun 2000 bertajuk Sonic Boom: The Art of Sound, juga perlu dicatat sebagai salah satu percikan awal perkembangan sound art dalam ranah seni Indonesia. David Toop, selaku kurator pameran tersebut mengungkapkan bahwa telah muncul seniman generasi baru yang menekankan elemen bunyi dalam karya instalasinya.

Orange Cliff Records, sebuah label rekaman dengan rilisannya semisal Sigmun, Logic Lost, VIra Talisa, dan Bin Idris, tidak lama ini terdengar telah membentuk sub-label bernama Audial Plane yang bergerak di ranah sound art. Ide penciptaannya datang dari sang owner sendiri, Anindito Ariwandono, dengan dibantu oleh Bob Edrian sebagai nahkodanya.

Saya bertemu dua orang tersebut di kantor kecil milik mereka di jalan Sukasenang no. 5, Bandung, untuk memperbincangkan Audial Plane dan agendanya kedepan.

Jadi, bagaimana sejarahnya hingga Audial Plane bisa terbentuk?

DIto: Jadi, semuanya berawal saat Orange Cliff Records memutuskan untuk merilis Vincent Vega. Waktu itu, sang vokalis, Ariel Williams Orah atau El, yang kini berdomisili di Berlin, pulang ke Indonesia. Gue pun bertemu dengannya. Kami saling bercerita tentang banyak hal, salah satunya tentang kolektif sound art bernama L_Klangkunst Werk (L_KW) yang salah satu pengurusnya adalah El. Dari topik tersebut, berujung ke pertanyaan: “lo gak tertarik buat ngulik ranah sound art?”. Gue kayak yang kegiring sama dia sih, karena ketertarikan gue untuk membuat Audial Plane berawal dari obrolan sama hahaha. Tapi, selain itu gue rasa sound art patut di ulik karena hal tersebut bagi gue merupakan tahap lanjutan untuk mengerti bunyi secara lebih luas.

Anindito Ariwandono

Kenapa Bob juga bisa terlibat?

Dito: yang pertama karena gue gak mengerti sound art sama sekali, semua yang gue rintis, termasuk Orange Cliff Records selalu bermodal nekat hahaha. Lalu, gue udah kenal Bob dari tahun 2008, dan gue lihat, Bob memang orang yang punya perhatian lebih terhadap seni bebunyian. Kedua hal tersebut yang membuat gue memutuskan mengajak Bob.

Lalu, kenapa Bob bisa sampai tertarik terlibat di Audial Plane?

Bob: Sound art adalah riset pribadi gue yang sudah gue mulai sejak 2013. Saat Dito ngajakin, gue berpikir bahwa Audial Plane bisa jadi platform baru untuk menjawab pertanyaan: ranah sound art ini bisa dibikin apa lagi, ya, selain eksibisi atau showcase? Lalu, gue juga memang sedang meraba-raba market label rekaman di ranah sound art, karena sebelumnya sering ngobrol juga dengan Duto Hardono pemilik label rekaman Hasanah Editions yang bergerak di bidang serupa, dan dari sana gue paham bahwa sound art bisa menyebar lebih luas lagi, tidak hanya di lingkup seni rupa saja. Intinya gue tertantang sih.

Sebenarnya seorang Bob Edrian ini mendalami sound art sejak kapan, sih?

Bob: gue mulai mempelajarinya sejak zaman S2 dulu, tepatnya saat mengerjakan tesis di sekitaran tahun 2013. Riset tesis awal gue sebenarnya bukan tentang sound art, tapi disekitaran akhir tahun 2013, gue ditawarin oleh Wibi dari Ruang Gerilya untuk menulis kata pengantar sebuah pameran sound art bertajuk 5 | SENIMAN | SUARA | RUANG yang menampilkan Etza Meisyara, Haikal Azizi, Fajar Abadi, Ferry Nurhayat, dan Bagus Pandega. Dari tawaran Wibi tersebutlah gue pertama kalinya mendengar istilah sound art, dan jadi gerbang awal gue untuk mencari informasi lebih dalam tentang hal tersebut. Lalu di semester 2 studi S2, gue memutuskan untuk ganti pembahasan tesis menjadi tentang sound art. Lalu, di tahun 2016 gue semakin mantap di jalur ini karena waktu itu ada gelaran Bandung New Emergence milik Selasar Sunaryo yang membuka kesempatan bagi seniman muda untuk mengungkapkan idenya agar riset serta pamerannya bisa dibiayai. Gue ngirim proposal, dan akhirnya keterima. Dari event itu jejaring gue di ranah sound art mulai terbentuk.

Bob Edrian

Prospek dan pencapaian seperti apa yang kalian harapkan dari Audial Plane?

Dito: gue secara pribadi hanya berharap Audial Plane bisa menjadi wadah yang bagus untuk gue belajar dan bikin sesuatu perkara sound art. Lalu, gue pengen bikin rilisan yang berbeda dari apa yang sering dikeluarkan oleh Orange Cliff Records.

Apa yang membuat kalian memilih Audial Plane sebagai nama project kalian tersebut?

Bob: tadinya kita mau pakai istilah “aural” untuk nama proyek ini, karena di dunia literarur sound art kata tersebut lebih populer ketimbang “audial”. Sedikit informasi, aural itu artinya segala hal yang berkaitan dengan bebunyian tapi penekanannya lebih ke telinga, sedangkan audial memiliki pengertian serupa, namun penekanannya ada di aktifitas mendengarkan. Audial Plane Dito yang ngasih nama. Awalnya gue juga bingung kenapa Dito lebih memilih kata audial ketimbang aural. Beberapa teman juga ada yang mengerenyitkan dahi ketika gue bilang Audial Plane, tapi kemudian gue berpikir nama tersebut bisa menarik karena datang dari orang yang awam soal sound art, dan siapa tau bisa pula jadi sebuah pemantik diskusi.

Menurut kalian, bagaimana cara terbaik untuk orang awam supaya bisa menikmati sound art?

Dito: itu pertanyaan sulit sih, karena hingga hari ini gue belum bisa menikmati sound art seperti mendengerkan musik atau menyaksikan konser pada umumnya hahaha, tapi, sepertinya gue sangat menikmati proses untuk bisa menuju kesana, dan sampai saat ini, bagian terbaik dari sound art adalah ide atau cerita yang melatari penciptaan suatu seni bebunyian. Pengalamannya seperti melihat karya seni rupa.

Bob: saya sepakat dengan Dito, memang cara terbaik bagi orang awam untuk memasuki wilayah sound art adalah dengan menelusuri narasi dari karyanya. Di ranah akademik juga dikenal istilah ekstra musikal, yang kurang lebih definisinya adalah elemen diluar musik itu sendiri namun melekat erat di dalamnya seperti latar belakang personilnya, ide musiknya, atau proses berkaryanya. Memahami karya-karya sound art bisa dimulai dengan melakukan pendekatan ke hal-hal yang demikian.

Apa proyek Audial Plane yang terdekat?

Dito: rencananya kita akan merilis Tesla Manaf dan Grauund (Berlin), serta sebuah pameran atau showcase juga sedang dirancang untuk segera dieksekusi.

Teks dan wawancara: Rizki Firmansyah
Visual: Arsip Audial Plane

Mocca Gelar Konser di Metaverse

Di ranah musik, kini istilah blockchain bukan lagi suatu hal yang asing. Sebelumnya, penjualan karya lewat NFT sudah banyak dilakukan oleh musisi, kini konser musik di metaverse pun menjadi salah...

Keep Reading

Trailer Film Biopik Sex Pistol Resmi Dirilis

Kabar baik untuk kalian para penggemar Sex Pistols. Baru-baru ini (4/4) FX Networks telah merilis trailer resmi untuk serial film biopik Sex Pistols berjudul “Pistol”. Film yang dikabarkan bakal tayang...

Keep Reading

Pemerintah Ukraina Bangun Museum Perang dalam Aset NFT

Invasi Rusia atas Ukraina terus berlanjut. Di tengah kekacauan yang terjadi, tentu banyak korban yang berjatuhan, entah itu dari satuan militer atau pun warga sipil yang tak bersalah. Perang yang...

Keep Reading

Terhubung Langsung di Collabonation Creative City Edisi Bandung

Setelah mengunjungi Makassar, Medan, dan Malang, Collabonation Creative City kembali melanjutkan perjalanannya. Kali ini Bandung yang menjadi titik pemberhentiannya. Collabonation Creative City hadir membawa semangat baru melalui rangkaian kegiatan salah...

Keep Reading