Berburu Jejak Soundtrack Game di Belantara Genre Musik

“Hari ini musik video game sulit diingat dibanding dulu,” keluh Tomoyuki Nakamura, animator video musik band beraliran chiptune asal Jepang, YMCK. “Memang, musik video game saat ini lebih sinematik. Sayang, ia tak semengesankan sebelumnya.” YMCK ialah band yang unsur musiknya terpengaruh musik atau soundtrack yang mengiringi video game. Chiptune, aliran yang mereka tapaki, banyak menukil ritme-ritme soundtrack video game. “Ketika sampai di bagian akhir ‘Metroid’ (game petualangan Nintendo di tahun 1986) dan mendengar musik penutupnya, saya merasa berada di ujung sesuatu,” imbuh Midori Kurihara, vokalis YMCK.

Begitu melimpah band di dunia yang inspirasi bermusiknya mencuri nada-nada yang ada di video game, sementara YMCK hanya satu dari sekiannya. Sejak akhir 1970’an, masa di mana video game tengah berada di garis depan di pentas hiburan budaya populer – kehadiran Nintendo dan konsol game terutama, lahirlah genre video game. Seperti musisi yang basis musiknya memakai instrumen elektronik dan digital, haluan musik video game rajin menciptakan bebunyian sedemikian rupa dengan memanfaatkan teknologi. Katakanlah Yellow Magic Orchestra alias YMO.

Mereka ialah salah satu pionir synthpop dunia. Dibentuk Haruomi Hosono, Yukihiro Takahashi, juga Ryuichi Sakamoto di Tokyo tahun 1978, musik mereka menirukan suara permainan-permainan klasik yang ada di mesin game dingdong atau arcade. Space Invaders, contohnya. Pada album debutnya itu, dengan lagu hitsnya “Computer Game”, sebaliknya mereka turut bertanggung jawab atas makin bervariannya soundtrack video game terlebih di zaman melambungnya Nintendo, Sega, konsol game juga game PC. 

Triangle wave, gelombang nada mengeras-mengecil, yang diperdengarkan di soundtrack video game di era Nintendo, atau di game generasi ketiga lainnya, betul menjiplak intonasi musik band-band rock di masa itu. Tetapi bukan berarti ia tak punya ciri khas. Komposer pembuat soundtrack video game acapkali menciptakan nada-nadanya lebih kompleks dan cepat. Apabila diperbandingkan, di sinilah letak kemiripan komposisi musik mereka dengan gubahan para komponis di periode Baroque. Di periode awal-awal abad ke-17 hingga pertengahan abad ke-18 di Eropa itu, improvisasi nada ialah inti gaya bermusik komponisnya, apalagi jika ia sedang bersolo.

Demikian ini ia mainkan semata untuk mencocokkan alat musik yang ia gunakan, ketika itu harpsichord biasanya. Harpsichord atau piano klasik pada zaman itu hanya dapat mengeluarkan bunyi sangat sederhana. Ciri khas lainnya ialah soundtrack video game punya irama yang sama dengan jazz di masa itu: alur musiknya mengalir landai, tapi tiba-tiba intonasinya naik merambat begitu cepat. Seiring berjalannya masa, semua ciri khas soundtrack video game itu pada akhirnya punya pengaruh besar di perkembangan musik heavy metal dan j-pop. 

Sebaliknya bergantian, di kemudian hari, di era 16-bit atau game generasi keempat seperti konsol game dan game PC, heavy metal maupun j-pop yang memegang kendali penting di kancah soundtrack video game. Produsen game di Eropa dan Amerika Utara, misalnya di beberapa dekade lalu, pun tak jarang mengambil unsur bebunyian yang umum kita temui di heavy metal juga j-pop dalam mengomposisi soundtrack video gamenya, hingga menciptakan gaya tersendiri soundtrack game komputer rumahan sewaktu itu di sana. Di 1980’an, musik berformat file modul yang ada di komputer, khususnya yang MOD, juga tak sedikit menggunakan komponen heavy metal dan j-pop, meski lebih banyak dipengaruhi dari dunia musik elektronik saat ia dikembangkan ketika itu.

Soundtrack video game yang sudah diolah sedemikian bentuknya dari elemen heavy metal dan j-pop itu berlanjut deras menghasilkan ritme yang sangat berbeda di sejumlah pemrograman musik di komputer. Sebagai contoh “demoscene”. Program komputer khusus menampilkan audio-visual itu, di awal-awal 1980’an ketika ia tengah ramai dipakai, band-band di masa itu giat mencontek irama dan tempo musiknya dan masih memengaruhi soundtrack video game hingga saat ini – tetapi sebelum itu “demoscene” lebih dulu mencontoh suara heavy metal juga j-pop di pertama masa pengembangannya, sebagaimana dijelaskan tadi.

“Kemampuan teknologi kini sudah lagi tak terbatas. Komposer semakin diberi banyak kebebasan dan ruang di sana. Pengaruhnya pun tak dapat terbendung, terlebih kala soundtrack pra-rekam di CD-ROM dibuat dan mendominasi pemrograman audio-visual di komputer, ritme yang diperdengarkannya menghasilkan pergeseran besar dalam komposisi dan gaya musik band-band saat ini,” kata komposer musik video game, Yoko Shimomura.

Game Sound: An Introduction to the History, Theory, and Practice of Video Game Music and Sound Design, Karen Collins di bukunya itu, ia menulis: “Dengan hasil rekaman beresolusi tinggi, CD-ROM menggeser penggunaan program audio-visual di komputer yang dulu amat bergantung pada perangkat keras macam sound-card.” Masih dalam catatannya bertarikh 1973 itu, Collins menjelaskan bila CD-ROM memastikan komposer dan perancang suara dapat mengetahui jenis audio seperti apa yang kerap didengar penggunanya. “CD-ROM mampu pula merekam berjenis-jenis efek suara, dialog untuk game, bentuk vokal dan instumen musik secara live.” Dengan teknologi CD-ROM itulah wajar jika soundtrack video game kian menarik minat band-band membentuk genre musiknya sendiri hari ini. 

Sementara itu, tak cuma YMCK dan YMO dengan chiptune dan synthpopnya, dalam industri musik populer musik dan suara-suara di video game telah muncul dalam lagu-lagu oleh berbagai musisi hip-hop. Sebagaimana menurut David Toop, di tahun 2000 di sebuah tulisannya berjudul Rap Attack 3: African Rap to Global Hip Hop ia mengatakan soundtrack di beberapa game dingdong memiliki pengaruh yang sangat kuat pada genre yang lahir di negerinya Donald Trump tahun 1970’an itu. Bahkan, baru-baru ini detak efek musik video game masih begitu terasa. Di lagu “Tik Tok” rilisan tahun 2009, umpamanya. Kesha, pelantun lagu itu yang juga seorang rapper berdarah Amerika Serikat, dalam sebuah wawancara mengaku bahwa Dr. Luke dan Benny Blanco sebagai produser dan penulis liriknya mencari inspirasi untuk single debutnya itu lewat beberapa soundtrack video game. “Tik Tok” kemudian didapuk sebagai single terlaris setahun setelahnya. 

“Pengaruh musik video game juga dapat dilihat dalam ‘Hellbound’ milik Eminem. Ia juga tak samar terdengar di musik electronik kontemporer seperti lagu-lagu yang dibawakan dua musisi Inggris Dizzee Rascal (rapper) dan Kieran Hebden (solois alternatif rock),” tulis John Lewis dalam ulasannya, Back to The Future, di surat kabar Guardian di 2008 lalu. Grime juga sama. Subgenre musik elektronik yang hadir di sekitar awal 2000’an itu malah lebih spesifik lagi menirukan suarasuara video game: gelombang bunyi gemeretak gigi. Begitupun DragonForce. Band power metal Inggris itu dikenal dengan riff gitarnya yang mirip dengan suara permainan di video game retro atau retrogaming.           

Teks: Emha Asror
Visual: Arsip dari Berbagai Sumber

Kolaborasi Semiotika Dan Iga Masardi

Menggunakan moniker Sagas Midair, Iga Massardi yang merupakan gitaris sekaligus vokalis grup Barasuara merilis single kolaborasi bersama Semiotika, unit Instrumental Rock dari Jambi. Diberi tajuk Iskaashi, rencananya single ini akan...

Keep Reading

Nyala Api Dari Angkatan Baru Hip-Hop Jakarta

Berawal dari hal yang tidak direncanakan, La Munai Records, label rekaman Jakarta, Pesona Experience dan Bureau Mantis kolektif dan manajemen musik dari kota yang sama akhirnya menemui kesepakatan untuk merilis...

Keep Reading

Plvmb Memulai Debut Dengan Blue

Bandung kembali memiliki kuintet indiepop yang terdiri dari Vina Anesti (Vokalis), Azka Aulia Rachman (Bass), Diaz Febryan (Drum), Salman Wahid Putra Kamaludin (Gitar), Irfan Zahid Abdussallam  (Gitar). Mereka tergabung ke...

Keep Reading

Superglad Yang Kembali Melangkah

Superglad adalah band yang namanya tidak perlu lagi dipertanyakan di kancah musik tanah air. Setelah diterpa berbagai permasalahan yang sempat terjadi di dalam tubuh mereka, band yang terbentuk sejak tahun...

Keep Reading