Berbicara Subkultur, Fesyen dan Maternal Disaster Bersama VIDI NURHADI

Membahas kultur busana dan fesyen anak muda maka Bandung adalah kota yang menjadi acuan nasional. Bila ditilik dari sejarahnya, kita bisa melihat bagaimana dahulu distro dan jenama clothing lokal muncul di kota itu sebelum menjadi fenomena yang meluas menyebar ke sepenjuru nusantara dan menjadi penanda zaman. Sebagai bentuk dari industri kreatif jelas fenomena tersebut sangat positif, terutama bila dilihat sebagai bentuk emansipasi, ruang kreasi dan bisnis orang-orang muda.

Bergerak maju sekian tahun kemudian, kita juga kemudian menyaksikan bagaimana jenama apparel lokal yang berjaya pada masa-masa awal berundur pamit karena beragam alasan. Tapi bukan berarti tidak terjadi regenerasi karena sesudahnya muncul jenama-jenama fesyen anak muda baru yang menorehkan eksistensinya sebagai penerus para pembuka jalan. Tapi jelas dari sekian banyak jenama yang bermunculan sekarang mungkin hanya segelintir yang memiliki arah dan konsep yang cukup menarik, salah satunya adalah Maternal Disaster.

Arsip foto lookbook Maternal Disaster

Dalam ranah subkultur, busana bukan hanya sekadar apa yang kita pakai sebagai kebutuhan sandang mendasar tapi bisa menjadi penanda identitas jati diri dan juga sebuah pernyataan sikap. Itu pula yang coba diolah secara konseptual untuk produknya oleh Maternal Disaster sejak inisiasinya pada tahun 2003 lampau. Budaya anak muda seperti musik khususnya hardcore punk dan metal menjadi sumber inspirasi mereka, begitu pula elemen lain seperti skateboarding dan film horor yang dikemas sedemikian rupa hingga terejawantahkan dalam barang-barang yang mereka produksi.

Di akhir tahun 2019 kemarin, Maternal Disaster merayakan 16 tahun eksistensinya sebagai jenama lokal nasional. Suatu hal yang layak diacungi jempol mengingat awalnya yang hanya bermula sebagai bentuk keisengan atas nama kreativitas. Tak lama berselang, di bulan April 2020 lalu, Maternal Disaster – lewat divisi penerbitannya Consumed Media – melepas sebuah buku Forever: Maternal Disaster Sixteen Years Anniversary (2003-2019) sebagai bentuk literatur dokumentasi yang merekam proses dan perjalanan kreatif mereka selama 16 tahun.

Beberapa produk dalam katalog Maternal Disaster

Dalam perkembangannya, tak luput juga peran besar seorang sosok di balik Maternal Disaster yaitu Vidi Nurhadi. Pemuda bertubuh ramping kelahiran Bandung pada 16 Desember 1985 ini adalah owner dan juga salah satu co-founder Maternal Disaster bersama sahabatnya, Agan Ahsan. Apa yang diwujudkan Vidi di Maternal Disaster juga adalah cerminan dirinya yang terlibat dan menjadi bagian dari kancah subkultur di Bandung. Ruang gerak pemuda yang sempat mengecap perkuliahan di Fakultas Seni Rupa dan Desain ITENAS ini di Maternal Disaster juga didukung minatnya yang besar terhadap seni visual. Vidi bisa dibilang telah mempersenjatai dirinya dengan minat besar yang bersinergi dengan gairah yang tinggi sebagai bahan bakar kerja kreatifnya. Buah dari usaha dan kerja kerasnya bersama rekan kerja di Maternal Disaster pun mewujud dengan tujuh toko resmi yang sudah berdiri di Medan, Yogyakarta, Malang, Semarang, Bali, Balikpapan dan toko utama di Bandung. Untuk menyelisik lebih dalam sosok Vidi Nurhadi dan Maternal Disaster, maka penulis sengaja menghubunginya untuk mengobrol lewat aplikasi pesan teks daring pada Minggu (03/4) sore akhir pekan lalu. Bagaimana perbincangannya? Silakan disimak.

Tak terasa sudah 16 tahun Maternal Disaster berdiri. Bagaimana ceritanya Maternal Disaster di masa awalnya dahulu?

Dulu itu akhir tahun 2002 kami iseng berencana membuat Maternal, waktu itu saya sedang suka banget main skateboard dan corat-coret di tembok. Dan, Agan kerja sebagai penjaga distro. Berawal dari sebuah tongkrongan di distro yang bernama Venom, disitu saya ketemu Agan dan kami sepakat membuat merek pakaian bernama Maternal, yang namanya kami minta dari kawan kami Ucup personil Milisi Kecoa dan Krowbar .Ed – yang pada saat itu membuat stiker bertuliskan M47312N4L kalau tidak salah. Awalnya iseng saja, karena lingkungan di tongkrongan waktu itu membuat kami jadi ikut-ikutan untuk bisa belajar sablon dan membuat produk sendiri. Terus mulai lah dijual ke teman-teman. Toko-toko yang mau dititipkan produk kami pun masih sedikit bahkan banyak yang enggak mau titip edar. Hanya Linoleum, Howling Wolf – sekarang berevolusi menjadi Lawless Jakarta .Ed –, dan Omuniuum yang mau, dan tentunya di Venom. Mungkin karena waktu itu produk Maternal belum populer dan belum bisa diterima secara desainnya. Lalu setelahnya saya masuk kuliah, dan mulai lah teman-teman di kampus beli, dan dari situ mulai dikenal.

Tapi pada waktu itu sudah mulai terpikir belum ini akan menjadi sebuah bisnis. Ya, sederhanya kalian sudah berpikir soal untung rugi belum?

Enggak ada sama sekali, hanya pengen keren-kerenan saja bisa bikin kaos dari desain sendiri, dan dipakai sendiri. Baru sekitar tahun 2008 mulai memikirkan untung rugi. Walaupun sampai sekarang sebenarnya kita belum melaksanakan bisnis secara benar secara perhitungan untung rugi dan target penjualan. Pengen memang sedikit fokus untuk itu ke depannya.

Sekarang Maternal Disaster sudah 16 tahun, apa sisi yang menyenangkan dalam menjalankannya?

Senangnya banyak ketemu teman baru, banyak pengalaman seru, ketemu orang-orang hebat, dan banyak pengetahuan baru juga. Bisa melakukan apa yang saya suka, dan tentunya juga sudah bisa menghidupi saya dan kawan-kawan secara ekonomi sehari-hari.

Maternal Disaster Store di Malang

Apa yang menjadi sumber energi Maternal Disaster hingga bisa bertahan sampai sekarang?

Sederhana sih, senang dan konsisten saja menjalankannya.

Sebagai owner dan co-founder mungkin kamu bisa konsisten atau tetap merasa senang menjalankannya. Bagaimana dengan rekan atau teman yang bekerja di Maternal Disaster. Bagaimana kamu bisa menyamakan frekuensi dengan para kru dan pegawai?

Nah itu yang susah. Sampai sekarang pun saya enggak tahu perasaan aslinya mereka, entah senang atau menderita. Tapi yang pasti saya tidak pernah memaksa mereka, dan bekerja sesuai hasil kesepakatan bersama. Kalau frekuensi pemikiran dalam pekerjaan harian, sering juga tidak satu frekuensi. Karena saya orangnya tidak komunikatif secara sosial mungkin, hanya duduk dan main komputer. Yang pasti selama Maternal berdiri saya tidak pernah memecat pegawai, dan yang keluar pun sangat sedikit. Jadi saya pikir itu karena suasana kerja di kantor yang santai mungkin membuat betah ya. Dan, sebenarnya 40 – 60 % pekerjaan di Maternal masih saya sendiri yang mengerjakan semua, dari mendesain sampai urusan social media. Walau sejak awal tahun 2019 sudah mulai sedikit-sedikit saya serahkan ke anak-anak untuk pembagian kerja.

Maternal Disaster Store di Balikpapan

Sampai titik sekarang ini, apa pernah terlintas di kepala kamu ternyata capek dan menguras energi juga ternyata menjalankan Maternal Disaster?

Sering terlintas, dan memang makin kesini makin berat ternyata hahaha.

Tapi pada dasarnya cintamu terhadap Maternal Disaster sangat besar kan?

Cinta, karena dia sudah melekat dengan saya hampir setengah umur saya.

Salah satu wujud cinta kan salah satunya pengorbanan. Ada cinta ada pengorbanan. Kalau boleh tahu langkah paling beresiko atau pengorbanan terbesar apa yang pernah kamu lakukan untuk Maternal Disaster?

Tahun 2013 sempat nekat untuk berani pinjam uang ke bank dengan jaminan rumah orang tua, tapi sebenarnya pengorbanan terbesar yang saya berikan untuk Maternal adalah waktu.

Masih soal personal ini. Berbicara soal pengorbanan waktu, kalau dulu masih bujangan kan energi dan gairah besar banget bisa dicurahkan untuk hal yang disenangi dan sedang dijalankan terutama Maternal Disaster. Nah, kalau sekarang sudah berkeluarga apa bedanya, Vid?

Untuk energi dan gairah sebenarnya masih sama besarnya, bahkan saya rasa sekarang lebih bergairah. Hanya sekarang saya bermasalah dengan membagi waktunya dan terkadang susah untuk satu frekuensi dalam pemikiran dan pemahaman akan apa yang saya lakukan di keluarga atau diantara rekan kerja.

Soal satu frekuensi pemikiran dengan keluarga dan rekan kerja itu bagaimana contohnya?

Kalau di kantor kadang yang saya maksud kerap tidak selaras dengan apa yang dilakukan oleh anak-anak. Dan, kalau saya kerja lebih keras kadang saya merasa sendirian melakukannya. Masalah pengertian juga sih. Standar.

Mungkin karena latar belakangmu yang sebagai seniman dan pekerja kreatif, ya. Hingga di kala menyampaikan sesuatu cenderung personal pendekatannya. Apalagi soal konsep dengan penafsiran yang mestinya tersampaikan dan bisa dieksekusi.

Iya benar. Dan mungkin di kantor ataupun kelurga pun bisa dibilang tidak ada hirarki yang tegas, jadi mungkin semua jadi santai-santai saja ahahaha.

Balik lagi ke Maternal Disaster, tadi kamu sempat bilang bahwa tuntutan yang kamu hadapi di Maternal Disaster semakin ke sini ternyata semakin berat. Bagaimana contohnya?

Tanggung jawabnya lebih besar, jumlah pegawai tambah banyak, toko makin banyak, jumlah produksi harus lebih diperbesar. Kendalanya tentu dengan modal, waktu, vendor pihak ketiga, dan banyak hal lainnya. Otomatis segala aspek. Malahan yang menjadi fokus utama lebih ke proses kreatif, produksi dan R&D-nya. Kalau tuntutan bisnis malah enggak terlalu bikin pusing. Justru lebih di internal Maternal.

Maternal Disaster Store di Bandung

Terlepas dari itu yang pasti Maternal Disaster telah mendapat pengakuan dan apreasiasi yang besar dari publik. Di dalam buku Forever: Maternal Disaster Sixteen Years Anniversary (2003-2019) yang kalian terbitkan, banyak sekali catatan opini yang diberikan oleh mereka yang bersentuhan dengan Maternal Disaster. Pernah terbayang enggak sebelumnya bahwa apa yang kamu lakukan di Maternal Disaster ternyata bisa berpengaruh besar ke banyak orang?

Enggak pernah terbayang dan enggak pernah direncanakan, bila benar pengaruh kami besar terhadap banyak orang. Karena menurut saya, kami pun sangat terpengaruh dengan lingkungan dan komunitas di mana kami berada; bahkan mempengaruhi kehidupan pribadi saya.

Bicara soal kehidupan pribadi dan komunitas. Apa yang membuat kamu tertarik dengan seni visual dan subkultur? Sejak kapan mulai bersentuhan dan menjadi bagian dari komunitas dan subkultur di Bandung?

Saya tidak terlalu ingat kapan mulai tertarik dengan seni visual. Mungkin saya dulu sering corat-coret di buku pelajaran. Tapi seingat saya waktu SMP dan SMA saya sering diminta teman-teman untuk bikin tato-tatoan di tangan mereka. Terus main ke rumah paman saya, dan disana ada komputer dan mencoba program Corel. Kemudian masuk SMA mulai suka grafiti karena lihat di jalan banyak terpampang di tembok-tembok. Mulai main skateboard, dan makin sering lihat gambar-gambar di kaos brand skate kan. Sebelumnya lagi, saya juga senang melihat cover album di kaset band-band. Dari situ mungkin ya terbangun ketertarikan dengan seni visual. Terus akhirnya jadi nongkrong di distro yang sedikit banyak beririsan dengan komunitas DIY – Do It Yourself Ed. – pada saat itu.

Memang mengalir dan bertumbuh secara organik ya passion kamu di dunia desain dan seni visual sampai keterlibatan di ranah subkultur

Iya benar, mengalir begitu saja.

Tidak melulu hanya urusan apparel. Dari pengamatan saya Maternal juga berhubungan rapat dengan komunitas dari seniman visual hingga kancah musik. Bagaimana kalian melihat bahwa sekarang Maternal Disaster bisa dibilang menjadi bagian yang integral dengan subkultur?

Karena dari awal kami memang berhubungan baik dengan mereka. Bahkan kami pun menjadi bagian dari komunitas tersebut. Jadi bukan Maternal yang menjadi bagian dari komunitas, tapi justru saya dan komunitas lah yang turut membangun Maternal.

Bagaimana bentuknya komunitas turut membangun Maternal Disaster?

Dengan bantu mempromosikan Maternal, membantu acara-acara yang kami selenggarakan, serta memakai produk yang kami buat. Dalam segi pekerjaan pun sama. Sama-sama membantu dan belajar lah. Komunitas disini tidak hanya satu komunitas ya, ada juga individu-individu.

Dokumentasi foto dari Disaster Showcase program acara musik besutan Maternal Disaster

Karena jelas Maternal Disaster perlu membangun simbiosis yang sehat dengan semua elemen komunitas termasuk individunya agar bisa bertumbuh kembang ya

Iya, membangun ekonomi mandiri.

Tapi itu memang terlihat dari program Maternal Disaster sendiri. Sekarang ruang lingkup dari Maternal berkembang dari apparel ke record label yaitu Disaster Records, kerja media dan penerbitan dengan Consumed dan unit usaha Svbliminal, termasuk Temporal. Bisa jelaskan soal divisi-divisi itu?

Ya, seiring dengan kebutuhan yang berbeda-beda dan spesifik maka dibuatlah Disaster Records, Consumed Media, Temporal, dan Svbliminal Studio. Walupun Consumed sebenarnya masih setengah-setengah, dan Svbliminal sedang diistirahatkan. Disaster Records sendiri adalah label rekaman yang berfokus memproduksi, merilis dan mendistribusikan rilisan fisik atau digital dari band yang kami suka secara mandiri. Consumed Media, ide awalnya adalah sebuah majalah cetak yang juga penerbit yang mempublikasikan buku dari individu atau komunitas kreatif, tapi belum jelas ke depannya mau bagaimana. Kalau Temporal Platform, itu sebuah ruang untuk siapa pun yang mau memajang karya mereka – baik seni atau produk – secara gratis. Svbliminal Studio sendiri sebuah studio musik untuk latihan.

Semuanya berada di bawah payung manajemen Maternal Disaster atau ada pemisahan secara organisasionalnya?

Ada beberapa yang dipisah secara organisasi, tapi ada beberapa bagian yang masih harus bergabung dengan Maternal. Seperti Temporal dan Disaster Records sekarang satu payung langsung dibawah Maternal. Tapi Consumed dan Svbliminal itu terpisah.

Maternal Disaster sesekali menyelipkan produk yang tak biasa dalam katalognya, dari mangkuk mie sampai sarung tinju. Bisa ceritakan kenapa? Dan apakah ada pasarnya untuk produk niche seperti itu?

Awalnya karena bosan sepertinya. Kami senang bereksperimen dengan kreativitas kami, walaupun yang dilakukan Maternal dengan membuat produk-produk “niche” tersebut bukanlah hal yang baru. Ada 347 dan Ouval yang terlebih dahulu sering bereksplorasi dengan produk-produk mereka. Sebenarnya kami hanya mengadaptasi, melanjutkan dan memodifikasi apa yang telah dilakukan oleh para pendahulu. Adakah pasarnya? Pasti ada, tapi kami tidak tahu pasti jumlahnya.

Tapi, apa setiap produk unik itu keluar penjualannya bagus?

Ada yang bagus ada yg enggak. Nah, enggak tahu juga kenapa. Belum terselidiki secara akurat ahahaha.

Dari sekian banyak produk unik yang kalian buat, yang paling tidak disangka ternyata bagus penjualannya, jenis produk yang mana?

Kalau yang enggak menyangka bagus penjualannya itu jaket kulit dan sarung tangan.

Maternal Disaster Store di Bali

Dan, ada apa dengan baju seragam SMA yang waktu itu sempat kalian produksi? Untuk yang produk itu bagaimana responnya? Meluas sekali impresinya sampe orang ada yang merespon dengan sindiran.

Nah, itu juga bagus penjualannya, dan kayaknya paling banyak likes-nya selama kita unggah ke social media. Responnya sudah terlalu jauh, dan kita enggak berharap kesana, sampai kita sudah enggak peduli lagi responnya seperti apa. Awalnya hanya ide iseng lagi boker ketika mau berangkat ngantor. Lihat-lihat katalog Maternal di Instagram kemeja putih lengan pendek, terus saya kepikiran ini tinggal pakai patch OSIS bisa jadi seragam SMA. Sampai kantor langsung minta tolong bagian produksi untuk cari vendor seragam, dan kebetulan sedang mau bikin worksheet untuk issue selanjutnya.

Ahahahahahaha asli total random idea ya.

Asli. Enggak menyangka juga responnya ramai. Bahkan ada yg protes juga, bisa jadi kesenjangan sosial. Makanya kita stop enggak akan bikin lagi kalau itu bakal menjadi kesenjangan sosial. Walaupun sebenarnya barang seperti sepatu, ponsel dan tas bisa juga jadi simbol kesenjangan sosial di sekolah.

Ada yang sampai kesana ya mikirnya. Padahal kan diproduksi memang sebagai consumer product. Soal pilihan kan sesuai dengan kemampuan pribadi saja.

Iya, enggak menyangka. Awalnya iseng, tapi malah jadi polemik juga. Kayak misal sepatu, Vans saya selalu beli KW. Baru empat tahun belakangan saja bisa beli yang orisinal. DocMart juga baru kebeli tiga tahun terakhir ini.

Maternal Disaster Store di Semarang

Tapi ada pandangan yang menarik soal respon kalian akan kesenjangan sosial tadi. Apakah Maternal Disaster punya etos yang jadi pegangan prinsipil dalam menjalankan bisnisnya?

Pegangan prinsipilnya sih kita semua sedang kerjasama. Baik di kantor, di toko, di komunitas, dan juga antara kita dengan konsumen. Intinya kerjasama adalah harus menguntungkan kedua belah pihak, nah kita sangat menjaga itu. Jadi jangan sampai ada yang merasa dirugikan. Mungkin itu kali ya kalau soal pegangannya. Semuanya dijalankan dalam prinsip kooperatif. Dan kita menjalankan ini dari luang lingkup mandiri pertemanan.

Kalian mencoba menjaga prinsip tapi sebagai bisnis apparel dan brand ternyata motif dan niat yang baik saja mungkin tak cukup. Karena banyak juga pihak yang oportunis dalam hal ini soal pembajakan. Bagaimana kamu dan Maternal Disaster menyikapi itu?

Saya pribadi sebenarnya tidak terlalu masalah dengan pembajakan, tapi menjaga kepercayaan konsumen juga perlu. Jadi posisinya menjadi serba membingungkan. Satu-satunya opsi adalah kita selalu berinovasi aja. Toh sebuah produk bisa sah menjadi orisinal ketika sudah ada yang bajakannya. Layaknya tidak akan ada terang jika tidak ada gelap.

Apakah berarti keberadaan produk bajakan itu juga di satu sisi memberikan semacam pengakuan terhadap Maternal Disaster sebagai brand yang sudah dikenal luas?

Bisa juga begitu. Walaupun yang produksi bajakan itu beberapa mafia brengsek. Produksinya bisa sepuluh kali lipat dari kita. Dan harga otomatis jauh lebih murah karena kuantitas yang diperbanyak dan kualitas yang sangat rendah.

Maternal Disaster Store di Yogyakarta

Apakah kalian juga sudah melakukan penelusuran lapangan untuk mencari tahu akan aktivitas pembajakan brand Maternal Disaster? Apa saja yang kalian lakukan?

Sudah empat kali melakukan itu. Sudah menempuh jalur hukum juga, dan sudah beres. Tapi itu sangat melelahkan, memakan waktu dan biaya. Fokus pekerjaan kami yang utama bisa terbengkalai kalau mengurus itu terus. Walaupun ke depannya mungkin saja ada tim khusus untuk itu.

Berarti sedikit banyak hal tersebut juga tidak dibiarkan begitu saja oleh Maternal Disaster ya?

Iya betul. Soalnya banyak konsumen yang mengeluh dan melapor. Dan proses kami menyelidiki itu hampir setahun. Karena kita enggak mau ambil yang menjual, tapi mencari yang membuat. Kalau yang jual itu kebanyakan enggak tahu dan kasian juga.

Balik ke hal yang ringan lagi. Soal personal nih, Vid. Selain kehidupan domestik berkeluarga dan mengurus Maternal Disaster. Aktivitas harian kamu apa saja? Kabarnya bikin band baru nih?

Enggak ada aktivitas lain yang signifikan sebenarnya, hanya Maternal dan berkeluarga. Palingan seringnya nonton film, atau sesekali nongkrong. Dan iya ada band namanya Ministry Of Satan, tapi ya gitu hahaha masalahnya waktu lagi. Pengennya sebenarnya albumnya rilis cepat tapi susah.

Maternal Disaster Store di Medan

Nah, sekarang bisa dibilang kondisi yang rumit dengan pandemi ini. Bagaimana dengan aktivitas harian pribadi di masa begini, Vid?

Saya dan beberapa kawan di kantor masih bekerja, hanya saja jam kerjanya dipersingkat, dan sebagian orang kerja dari rumah. Demi meminimalisir resiko penyebaran saja.

Secara bisnis pasti Maternal Disaster juga terdampak. Apa dampak yang paling signifikan terhadap Maternal?

Sampai saat ini untuk penjualan online sebenernya masih sangat stabil. Namun untuk toko-toko offine untuk sekarang sangat terpengaruh, penurunan penjualan bisa sampai 60 %.

Bagaimana strategi Maternal untuk mengakali situasi yang rumit sekarang ini?

Tidak ada strategi khusus sih, hanya pengurangan jam operasional, work from home dan mewajibkan masker dan cuci tangan. Kalau strategi secara marketing, di toko sempat ada gratis ongkir untuk pembelian melalui GoSend.

Secara hitung-hitungan nih. Mengingat Maternal Disaster juga pasti punya proyeksi secara finansial dan bisnis. Apa kalian kira-kira bisa beradaptasi dengan situasi sekarang? Karena sepertinya kondisi sekarang akan berlarut dan panjang

Nah kita belum menghitung kesana sih, hahahaha. Kalau masih PSBB – Pembatasan Sosial Berkala Besar .Ed – mungkin kami bisa bertahan sampai Juni atau Juli, tapi saya berharap ini segera berakhir. Kalau di kantor sih masih normal gajinya, enggak ada potongan, untuk toko-toko pun kami sarankan seperti itu. Tapi kondisi bertahan ini kami tidak tahu kuat sampai kapan.

Tantangan sekarang jelas menguji Maternal sebagai bisnis. Bagaimana kamu melihat Maternal dalam lima atau sepuluh tahun ke depan?

Waduh enggak tahu euy, saya soalnya enggak pernah merencanakan sesuatu sejauh itu. Mungkin masih seperti sekarang saja, hanya mungkin dengan penambahan toko, kantor sendiri dan subdivisi-subdivisi yang lebih rapi manajemennya.

Oke, terimakasih atas waktunya Vidi, semoga rekan-rekan di Maternal Disaster bisa berkuat menghadapi krisis sekarang ini.

Sama-sama, terimakasih juga wawancaranya.

 

Video musik sebagai media promo kolaborasi sepatu Maternal Disaster x Kelelawar Malam

Teks: Farid Amriansyah

Visual: Arsip Maternal Disaster

Sebuah Pertanyaan Residensi, Mengapa Jalan-jalan untuk Seniman itu Penting?

Seperti apa sebenarnya peran residensi seni, dan bagaimana dampak sebuah kunjungan sementara terhadap proses kreatif seniman? Karena makin ke sini istilah residensi jadi template untuk sekadar program plesir yang dilakukan...

Keep Reading

Tambah Line Up, Hammersonic Siap Hadirkan 53 Band Metal dan Rock Dunia!

Setelah mengalami beberapa kali penundaan, festival musik metal raksasa Hammersonic akhirnya dipastikan siap digelar pada awal tahun 2023. Sebelumnya salah satu headliner yakni Slipknot telah mengumumkan konfirmasi lewat unggahan twitter...

Keep Reading

Tahun ini, Synchronize Fest Balik Lagi Secara Luring!

Penantian panjang akhirnya terjawab sudah! Synchronize Fest memastikan diri akan digelar secara offline pada 7, 8 , 9 Oktober 2022 di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta. Mengusung tema “Lokal Lebih Vokal”,...

Keep Reading

Mocca Gelar Konser di Metaverse

Di ranah musik, kini istilah blockchain bukan lagi suatu hal yang asing. Sebelumnya, penjualan karya lewat NFT sudah banyak dilakukan oleh musisi, kini konser musik di metaverse pun menjadi salah...

Keep Reading