Beragam Warna di Pameran Colour of Timor Besutan Timore Art Graffiti

Meskipun dalam keadaan yang belum sepenuhnya normal, kancah kreativitas di Indonesia masih tetap dan terus hidup. Para pelaku kreatif yang tersebar dari Sabang sampai Merauke terus berupaya mengakali keadaan dengan berbagai inovasi dan fasilitas yang ada. Seperti yang dilakukan oleh kawan-kawan yang ada di Pulau Timor, Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Terhitung sejak tanggal 27 Oktober 2021, kolektif bernama Timore Art Graffiti menggelar sebuah pameran seni bertajuk Colour of Timor. Pameran yang dibuka secara resmi oleh Ibu Darmawati selaku Koordinator Umum dan Kerjasama Sekretariat Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia ini sejatinya sudah terlaksana sejak awal Oktober 2021 lalu, dengan menyajikan berbagai program yang menarik.

Rangkaian kegiatan Colour of Timor terdiri dari pembuatan film dokumenter, workshop pembuatan pewarna dari bahan alami, sharing session seniman dan kurator, pembuatan karya dari bahan pewarna alami oleh seniman, dan puncak kegiatannya adalah pameran karya secara virtual yang akan berlangsung dari tanggal 27-31 Oktober 2021.

Wandri Dami, Koordinator Umum Colour of Timor, dalam sambutannya, mengatakan “pameran dalam bentuk daring diharapkan dapat menjadi ruang yang lebih luas, tak terbatas dan menjadi support system bagi perupa, pelaku, penikmat seni rupa di Nusa Tenggara Timur”.

Pada kesempatan ini hadir pula kurator karya Colour of Timor, Yopie Liliweri menyampaikan “Semuanya berangkat dari konsep alam dan budaya , bagaiamana kita diciptkan serta darimana kita berasal, semua menjadi gambaran masalah sosial yang dihadapi oleh semua orang lalu kemudia seniman mengangkat dan menyeruakannya lewat media seni rupa”.

Tujuh belas seniman yang karyanya ditampilkan dalam pameran kali ini adalah Jackson Ryan Moy, Della R. Ndoen, Ivan Baowolo, Aim Pranamantara, Antonio B. P. Nelson Riberu, Maryam Mukin, Sandy V. J. Rihi, Agustina Tresia Doporiko, Fadiah Nur Widiyanti, Alwi Kolin, Yozhy Leopold Hoely, Mayk Tjung, Richard Ivan Adrian Radja, Armando Soriano, Fritz Tary, Enrico Amtiran, dan Ikka Marwani Kase.

Para seniman ini berasal dari beragam latar belakang budaya, tempat tinggal, usia dan pekerjaan. Seniman termuda yang turut ambil bagian dalam pameran ini adalah Sandy Rihi yang berusia 12 tahun mengatakan bahwa

”Ini adalah pengalaman pertama saya sehingga mempeljari hal yang baru dan unik, bisa belajar banyak hal termasuk menggunakan bahan pewarna alami ketimbang selama ini menggunakan cat akrilik yang dijual di toko”.

Selain pameran karya, rangkaian kegiatan Pameran secara virtual ini juga akan diisi dengan 17 karya seniman beserta penjelasan karya oleh kurator, Artist Talk, dan penampilan dari musisi-musisi muda di Kota Kupang antara lain Ulrich Pingga, Holy Spirit, Underground Chips dan masih banyak lagi. Dalam penutupan pameran pada tanggal 31 Oktober nanti juga akan ditampilkan trailer dokumenter Colour of Timor yang menceritakan proses pembuatan pewarna alami di Desa Biboki dan Desa Borunabaen Utara, Kabupaten Timor Tengah Utara.

Semua rangkaian acara ini dapat disaksikan melalui kanal Youtube Timore Art Graffiti.

Teks: Dicki Lukmana
Visual: Arsip dari Timore Art Graffiti

Cara Retlehs Tuangkan Keresahan Sang Pembetot Bas

Retlehs (nama yang cukup njelimet untuk dieja dan disebutkan) telah merilis sebuah nomor dengan judul “Matahari” pada Senin (29/11) dengan bantuan Sinjitos Collective. Lirik dari nomor tersebut diangkat dari masalah...

Keep Reading

Libido Bermusik Muto dalam EP Debut

“Dalam proses penciptaan lagu-lagu Muto, kata ‘yeah yeah yeah‘ juga merupakan ekspresi kepuasan mereka terhadap lagu-lagu yang mereka ciptakan; seperti merasakan nikmatnya masturbasi,” jelas keterangan pers yang dikirimkan Muto mengenai...

Keep Reading

Urban Sneaker Society Akhirnya Kembali Secara Luring

Kabar gembira bagi para fesyen enthusiast, Urban Sneaker Society 2021, event Sneakers tahunan yang diadakan USS Networks sejak 2017, kembali hadir secara offline di Jakarta Convention Center (JCC) pada tanggal...

Keep Reading

Nuansa Abad Pertengahan Progresif di Karya Baru Tara Sivach

Tara Sivach merupakan seorang solois asal Jakarta yang mencoba masuk dalam ranah goth. Dengan nuansa abad pertengahan kelam khas gotik yang dicampur dengan rok semiprogresif dan gaya vokal klasik, ia mencoba...

Keep Reading