Belok dari Arsitek ke Seni Lukis

Dian Suci Rahmawati adalah seorang seniman lukis asal Jogjakarta. Ia mencampuradukkan seni lukis dan latar belakang arsitektur yang dimilikinya dari bangku sekolah formal.

Belok dari satu disiplin ilmu ke yang lainnya, merupakan awalan yang jadi keterusan. Dari upaya, malah jadi profesi. “Awalnya, iseng kabur dari jenuh ngarsitek. Eh, ternyata nggak jelek juga gambarnya dan malah keterusan deh sampai sekarang,” ucapnya membuka pembicaraan.

Kebanyakan karyanya dieksekusi dengan cat air, kertas dan pendekatan teknik yang manual, tidak banyak menggunakan sentuhan digital imaging.

Dalam perjalanannya beberapa tahun terakhir ini, ia mengaku telah menemukan gaya berkesenian yang cocok untuk dideskripsikan. “Sedikit mengaku teatrikal boleh ya? Aku suka pakai bahasa tubuh untuk menggambarkan peristiwa dan perasaan,” jelasnya.

Itu diterjemahkan dengan awalan yang unik. “Karena cukup suka pakai gestur tubuh dengan objek-objek sebagai metafora, aku banyak pakai bahasa tubuh pertunjukan-pertunjukan teater sebagai referensi. Aku biasanya memotret diri sendiri dengan pose-pose hasil terjemahan dari apa yang mau digambar sebelum akhirnya digambar (di medium yang dipilih),” tambahnya.

Ia mengaku mendapatkan inspirasi besar dari dua orang seniman Asia, Tetsuya Ishida dan Lee Jin Ju. “Kalau urusannya sama gambar atau lukisan, aku suka sama karya-karya mereka. Mungkin karena karya mereka itu nyinyir, menggigit dan gelap. Banyak menggambarkan hal-hal yang ada di lingkungan keseharian kita dengan cara yang bikin miris. Tapi memang realitanya kan begitu,” terangnya.

Karakter Dian adalah sesuatu yang jarang ditemui. Ia membuka diri dengan banyak irisan kolaborasi lintas disiplin sambil mengendalikan kehidupan domestik bersama tiga orang anaknya.

“Aku nice banget, jadi biasanya nurut. Haha. Terlebih kalau suka dengan permintaannya,” ceritanya menjelaskan bagaimana proses kolaborasi lintas disiplin terjadi dalam kisahnya. “Kebanyakan lebih kea rah memintaku tetap menjadi diri sendiri. Kalau mau dikembangkan, mending ngulik tema lebih dalam. Aku biasanya jadi lebih semangat. Bukan berarti nggak boleh eksperimen, tapi malah kemudian lebih paham aku maunya apa dan harus gimana,” imbuhnya.

Itu proses berkomunikasinya. Tapi, sebaliknya, ketika sedang mengeksekusi sebuah proyek, ia memilih jalan yang sunyi dengan bekerja sendiri.

“Mulut suka nggak sinkron untuk komunikasi, terlebih jika face to face. Bisa ambyar,” candanya. Ia menambahkan, “Biasanya ide akan kutulis atau sketsa lebih dulu. Karena kerja tim kan utamanya soal komunikasi, yang mana itu aku blong banget,” jelasnya lagi.

Salah satu kolaborasi lintas disiplin yang mencuri perhatian adalah artwork Seperti Rahim Ibu yang digarap setelah datang tawaran dari kelompok musik Efek Rumah Kaca yang pada waktu itu sedang menyelesaikan lagu berjudul sama untuk lagu tema program televisi Mata Najwa.

Ia mengingat momen itu. “Selain karena mereka idolaku dan idola banyak orang, dari sana kemudian banyak muncul pertanyaan dan terjemahan tafsir, yang kebanyakan masih tetap terbaca sesuai apa yang aku mau,” jelasnya.

Menurutnya, apresiasi bisa datang dalam berbagai macam bentuk. Bisa pujian, bisa pertanyaan yang dilandasi ketertarikan, “Selain itu, ya karya terjual,” tambahnya sambil terkekeh.

Kebiasaan untuk berkolaborasi lintas disiplin itu, sebenarnya punya efek samping yang menarik untuk ditelusuri. Ia mengaku bisa melihat batasan-batasan yang cair yang tidak menghilangkan karakter dan spesialisasi masing-masing seniman.

“Pada dasarnya kita bisa eksplor dan bereksperimen dalam berkarya. Tapi di antara itu semua, tetap bisa ditemukan benang merah karakternya,” paparnya.

Pemahaman itu, membuatnya terus melangkahkan kaki ke wilayah baru. Ia, misalnya, memakai beberapa medium dan tehnik yang berbeda. Satu yang membuatnya penasaran adalah medium keramik.

“Aku pengen banget belajar keramik. Banyak ide buat bikin karya 3D yang dalam bayangan idealku kayaknya oke kalau pakai keramik. Juga video, mungkin,” katanya.

Selain medium itu, ia juga mengaku sangat tertarik dengan seni teater di mana semua aspek pembentuk pertunjukan ada di dalam sebuah kesatuan yang utuh. “Cerita, kosa-gerak, ekspresi, cahaya, scenography dan yang mungkin belum aku sebutkan itu, cukup berpengaruh karena aku menerjemahkan apa yang mau kugambar seringkali dengan membayangkan kertas atau kanvas itu seolah panggung,” jelasnya lagi.

Kompleksitas akrab dengannya. Salah satu yang pernah ia lakukan adalah berpameran tunggal di Kedai Kebun Forum, Jogjakarta. Di pameran yang berjudul ‘Aku Pingin Crita Dawa – Nanging Apa Kowe Kuwawa? Aku Kuwawa?’ yang diselenggarakan Maret 2018, ia mengantarkan tema perempuan dalam ranah domestik yang membuatnya seolah berkomunikasi dengan dirinya sendiri dan seluruh kemungkinan yang ada di sekitarnya, terutama dalam ranah rumah tangga.

Pameran yang kalau diterjemahkan ke Bahasa Indonesia menjadi ‘Aku ingin cerita panjang. Tapi apakah kamu sanggup? Aku sanggup?’ itu, menjadi medianya untuk bercerita tentang caranya memandang isu yang ia angkat. “Karena di zaman yang katanya perempuan juga musti speak up ini, aku masih berada di dalam pagar yang membatasi diri dan sulit mengungkapkan apa yang kurasa bersifat private. Dan kupikir masih banyak perempuan yang begitu,” jelasnya.

Ada ketabuan yang diemban oleh isu yang dibicarakan. Ia sendiri, merasa tidak bisa begitu saja membongkar dinding rumahnya untuk diekspos isi dalamnya.

“Jadinya, sekarang urusan domestik apa yang kemudian bisa dikupas?” tanyanya.

Ia kemudian menjelaskan urusan domestik seperti tentang kesetaraan produktif dan reproduktif, yang bahkan kemudian mempunyai lapisan-lapisan yang sifatnya relatif dan penting. Tapi tidak banyak dibicarakan secara terbuka.

Ia melanjutkan, “Yang jelas butuh untuk diperhatikan, dijembatani dan diperjuangkan. Itu tadi kalau ngomongin domestik, ya. Kalau urusannya dengan gender dalam kehidupan sosial pasti beda lagi.”

Ketika ditanya mengenai pendapatnya mengenai hubungan antaran feminisme dan kesenian di Indonesia, dengan sambil tertawa ia menjawab bahwa kedua hal tersebut statusnya, “Makin membaik dan makin akrab.”

Lalu, ia melanjutkan, sambil meminta, “Sampai di sini saja, ya? Hahaha.” (*)

 

Teks: Indra Menus
Foto: Dokumentasi Dian Suci Rahmawati

Geliat Kreatif Dari Sulawesi Tengah Dalam Festival Titik Temu

Terombang-ambing dalam kebimbangan akan keadaan telah kita lalui bersama di 2 tahun kemarin, akibat adanya pandemi yang menerpa seluruh dunia. Hampir semua bentuk yang beririsan dengan industri kreatif merasakan dampak...

Keep Reading

Memaknai Kemerdekaan Lewat "Pasar Gelar" Besutan Keramiku

Di pertengahan bulan Agustus ini, ruang alternatif Keramiku yang mengusung konsep coffee & gallery menggelar acara bertajuk “Pasar Gelar” di Cicalengka. Gelaran mini ini juga merupakan kontribusi dari Keramiku untuk...

Keep Reading

Semarak Festival Alur Bunyi Besutan Goethe-Institut Indonesien

Tahun ini, Goethe-Institut Indonesien genap berusia 60 tahun dan program musik Alur Bunyi telah memasuki tahun ke-6. Untuk merayakan momentum ini, konsep Alur Bunyi tetap diusung, namun dalam format yang...

Keep Reading

Head In The Clouds Balik Lagi ke Jakarta

Perusahaan media serta pelopor musik Global Asia, 88rising, akan kembali ke Jakarta setelah 2 tahun absen karena pandemi pada 3-4 Desember 2022 di Community Park PIK 2. Ini menandai pertama...

Keep Reading