Perjalanan panjang dari Samarinda ke Medan makan waktu total enam belas jam. Di dalamnya ada perjalanan darat, udara dan proses menunggu antar penerbangan yang dilengkapi penundaan jadwal. Itulah waktu yang dibutuhkan oleh Murphy Radio untuk tiba di kota pertama Stand a Chance on the Road Tour 2019.

Murphy Radio dan The Panturas dari Jatinangor merupakan dua band yang kebagian jadwal pertama untuk membuka tur ini di leg Sumatera. Medan yang ada di ujung barat Indonesia, jadi tuan rumah pertama tur ini. Perjalanan panjang yang ditempuh adalah satu cerita tersendiri.

“Kami berangkat pukul lima subuh dari Samarinda lewat Balikpapan, sempat transit di Halim Perdanakusumah di Jakarta dan tiba di Medan pukul sembilan malam,” cerita Aldi Yamin, pemain bas yang sering menjadi juru bicara band.

Bersama dua orang kompatriotnya, Wendra (gitar) dan Amrullah Muhammad (drum), trio ini sedang menjalani salah satu bagian paling tangguh dalam perjalanan karir mereka; tur jalan darat di Pulau Sumatera.

“Waktu lihat itinerarynya, ada jalan dua puluh jam, tujuh belas jam. Tapi kayaknya nggak bakal gimana-gimana. Toh kita ramai-ramai jalannya,” lanjut Aldi lagi.

Jarak antar kota di Pulau Sumatera, memang tantangan tersendiri. Bahkan, rute menyisir dari Medan di bagian atas pulau sampai ke Lampung di bawah dan berbatasan langsung dengan Pulau Jawa, bukan merupakan rute yang ramah bagi orang dari pulau itu sendiri.

Wendra menimpali, “Kami ingin merasakan, seberapa ‘hancurnya’ sih perjalanan di sini. Wajib dicoba.”

Aldi menambahkan, “Banyak orang bilang bahwa kita bakal tumbang jalan darat tur di Pulau Sumatera. Kita lihat saja.”

Stand A Chance on the Road Tour 2019 di Pulau Sumatera memang tidak berlangsung setiap hari. Ada jeda satu hari antar masing-masing kota. Ini untuk mengakali jarak yang memang tidak bisa diajak kompromi.

Bentangan satu kota ke kota lainnya, memang jauh. Dan itu yang menyebabkan tur jalan darat di Pulau Sumatera bukan merupakan hal mudah yang bisa dilakukan. Perlu ketahanan mental dan fisik untuk menjalaninya.

“Penasaran, takut, excited, ada semua,” tutup Amrullah.

Sepertinya, dengan memulai cerita lewat enam belas jam di jalan dari kota mereka ke Medan, juga memberikan penyesuaian terhadap perjalanan antar kota berikutnya. Semoga selalu diberi kekuatan menjalaninya. (*)