Jeda sembilan tahun sejak perilisan album perdana; Invasion, unit rock asal Bandung, Bohemians akhirnya merilis album sophomore berjudul Euphemism. Album dari kugiran yang berpersonelkan Anwar Sadat (gitar), Bayu Prasetyo (bas), Kamran CR (vokal), Luky Kusumah (gitar) dan Refa Ariavianda (drum) tersebut bisa didengar di pelbagai layanan musik digital macam Spotify, Apple Music, JOOX dan lain sebagainya terhitung sejak Minggu, 1 September 2019.

Euphemism di dalamnya menawarkan sepuluh (tiga diantaranya telah dikenalkan selama empat bulan terakhir dalam format video musik, masing-masing bertajuk “Dead Mind Dead Soul”, “Borderline” dan Hippies New Year”) lagu rock n roll kotor dengan peleburan ragam unsur musikal baru dari band yang terbentuk sejak 2009 ini. Adapun bungkus tema yang diusung berkisar tentang kepedulian sosial dalam kehidupan sehari-hari, semisal soal kondisi mengapa orang melakukan bunuh diri, peduli terhadap anak-anak berkebutuhan khusus, ketidaksempurnaan manusia dan lain sebagainya.

Euphemism merupakan ekspresi sopan yang digunakan pada kata atau frasa yang mungkin dianggap kasar atau tidak menyenangkan untuk didengar. Kenapa akhirnya kami memilih diksi tersebut sebagai tajuk album? karena dari sekian banyak ‘perpecahan’ yang terjadi, biasanya dimulai dari penempatan atau penggunaan kata atau bahasa yang kasar, dan kami berusaha mengkritisi itu dan mengejawantahkannya secara musik dan lirik,” ujar Luky Kusumah menjelaskan filosofi Euphemism.

Atas dasar itu pula, misalnya dari sisi musik, meski secara bunyi album ini memuat gaya bermusik rock n roll serampangan, Bohemians berusaha membentangkan satu garis lurus riff menghujam yang terdengar lebih teratur, atau dalam konteks lain merupakan bunyi distorsi dengan eksplorasi ruang yang sangat luas. Gaya menyalak; auman gitar kokoh dengan pemilihan heavy-sound, sesekali menawarkan notasi-notasi ganjil yang rumit namun memiliki kadar yang linier dengan musik bising, dan tentu saja relevan dengan isian lirik yang termaktub.

Di luar alasan definisi arti kata Euphemism, album ini juga memiliki catatannya tersendiri dimana album ini merupakan titik awal dan semangat baru bagi Bohemians untuk berkumpul lagi dan mengeksekusi karya yang bukan sekedar berakhir pada definisi hura-hura semata, “Kami ingin menawarkan sesuatu yang lugas tentang sebuah wacana yang relevansinya bersinggungan dengan hal-hal yang positif, dan semoga hal itu dapat terealisasikan mulai dari album ke dua ini,” sahut Luky Kusumah.

Dalam prosesnya, sophomore Euphemism sendiri turut melibatkan pelbagai pihak, mulai dari 3 on Choir yang terdiri dari Rieza Mahendra, Kalia Nisrina dan Asilah Andreina, Fajri Aziz Navary yang memberi sumbangsih pada departemen tiup (harmonica) hingga musikus multitalenta Nissan Fortz yang tutur andil dalam mengarahkan vokal. Untuk materinya sendiri seluruh lagu dalam album ini di aransemen oleh Bohemians, sedangkan liriknya ditulis oleh gitaris, Luky Kusumah. Tak lupa Kamran CR juga turut menyumbangkan goresannya untuk beberapa lagu.

Proses rekaman Euphemism dikerjakan di Escape Studios (Bandung) pada akhir 2018. Untuk mixing diserahkan kepada Fabby Lazuardi, sementara mastering-nya dilakukan oleh Avedis Mutter yang merupakan anak dari mantan drummer PAS Band, Richard Mutter di Rebuilt 40124 Studio, Bandung. Untuk memperkuat laju musikal, Bohemians juga mengajak pelukis muda bernama Luthfil Hadi untuk menuangkan ide dan gagasannya tentang isi dari album Euphemism melalui elaborasi gambar ragam bentuk dan corak yang indah dan magis.

Teks: Rizki Firmansyah
Visual: Arsip Bohemians