Selama empat tahun berkarya, band asal Malang, Beeswax, telah menghasilkan tiga buah album penuh. Saudade, rilisan paling baru mereka, toh punya ceritanya sendiri.

“Untuk Saudade sendiri, kami sebenarnya sudah memulai penggarapan album ini dengan single Wellspring yang bisa dilihat sendiri responnya di soundcloud kami. Bahkan menurut teman kami pengasuh tumblr weztrenative (weztrenative.tumblr.com), bahwa single Wellspring lah yang mencetuskan sebuah label rekaman Hongkong Sweaty & Cramped dan Qii Snacks Records untuk membuat sebuah kompilasi berjudul ‘Emotion, No’ yang berisikan band-band midwest emo seantero Asia,” tutur rilis yang mereka sebarluaskan.

Keberagaman yang dimiliki oleh Kota Malang, sangat terasa spesial. Terlepas dari penghargaan ekonomi yang masih minim secara umum, geliat gigs rajin dihelat di sana. Masalah klasik juga mengintai: venue pertunjukan masih sedikit. Terutama yang mengakomodir geliat yang begitu aktif itu.

Tapi toh, keterbatasan yang jamak terjadi, tidak membuat Beeswax berhenti bergerak. Sama seperti banyak nama lain dari Malang, mereka terus menghasilkan karya. Saudade sendiri diambil dari Bahasa Portugis yang artinya kerinduan. Bukan sekedar kerinduan di permukaan dalam kisah cinta manusia, tapi ini merupakan kerinduan yang mendalam dan keresahan jika yang dirindukan tidak akan kembali. Itulah kenapa lagu – lagu di album Saudade merangkum banyak sisi emosi yang dimiliki manusia.

Di album ketiga ini mereka tidak banyak berubah dalam pola musiknya, namun ada beberapa sound yang bisa dibilang terdengar kasar. Di album ini juga mereka berkesempatan untuk berkolaborasi bersama beberapa musisi Malang sendiri seperti, Steffani BPM dan Sabiella Maris.

Untuk sampul album sendiri, memiliki makna terbalik dari arti kata Saudade. Payung pada cover album ini malah sebenarnya mempunyai semiotika lain yang berseberangan dengan kata Saudade. Seakan menjadi sebuah alat pertahanan dari berbagai hal termasuk “kerinduan” itu sendiri.

 

“Payung adalah objek yang sifatnya defensif, melindungi. Jika diibaratkan, hujan itu sebuah halangan dan kita harus menuju ke suatu tujuan, kita harus melindungi diri agar kita bisa tetap survive hingga bisa sampai ke tujuan kita dengan memberikan batasan tertentu agar tidak terlalu nekat dan bertindak bodoh. Intinya, apapun masalah yang mendera, kita harus mampu menepisnya, karena perjalanan kita masih panjang,” papar mereka.

Pada tanggal 24 Agustus 2018 mendatang, mereka akan menggelar sebuah showcase peluncuran album  Saudade yang bertajuk reEMOtion. Bekerja sama dengan kolektif Kementerian Budaya Urban, reEMOtion adalah wujud rasa syukur Beeswax  atas eksistensi bermusik mereka selama ini dan ungkapan terima kasih atas semua pihak yang telah mendukung perjalanan mereka.

Acara reEMOtion tidak hanya didominasi oleh performance musik dari Beeswax saja, namun akan ada segmen acara yang berkolaborasi dengan fans seperti open submission artwork yang terinspirasi oleh Saudade yang dibuka dari tanggall 4 – 19 Agustus. Akan dipilih sebanyak 10 – 15 artwork yang akan dipamerkan ketika acara berlangsung. Pemenang utama berhak mendapatkan royalti dari penjualan merchandise yang akan memuat karya mereka. Selain itu, Beeswax telah mempersiapkan sesi karaoke yang mengajak para pemuda-pemudi emo se-Malang Raya untuk meluapkan emosinya. Acara akan dilangsungkan di Rust Bar, Malang. (*)

 

teks: Adjust Purwatama
foto/dok: Beeswax