Banyaknya venue-venue kolektif yang gulung tikar memang menjadi perhatian tersendiri bagi para pelaku seni musik di Indonesia. Pembiayaan tempat, perawatan alat, keamanan dan lain sebagainya selalu menjadi masalah penting bagi tempat-tempat ini. Spasial adalah nama terakhir yang secara mengejutkan menyudahi perjalanan mereka selama 4 tahun.

Dengan adanya kejadian yang sudah-sudah, rasanya membuka venue seperti ini menjadi perjudian yang harus difikirkan dengan matang. Namun nampaknya hal ini tidak berlaku untuk venue kolektif yang ada di kota Medan. Seakan cuek dengan keadaan yang ada, kota ini malah semakin hari semakin banyak tempat alternatif yang menjadikan Medan memiliki banyak pilihan untuk melakukan kegiatan berkesenian. Meski ada beberapa venue yang tutup, akan tetapi hal ini bukan menjadi masalah besar dan malah semakin banyak lahir venue-venue baru dengan segala macam konsep yang disediakan.

Arsip Tujumpa Livespace

Lihat saja bagaimana Pitu Room atau Ruang Karya Cipta dan Kreasi yang tetap gagah dan konsisten menjaga rumah bagi pelaku seni kota Medan yang bertahan selama 9 tahun. “KAMI BERBICARA TENTANG REGENERASI BUKAN SEKEDAR EKSISTENSI” menjadi ayat penyemangat Pitu Room untuk terus memberikan ruang bagi bakat-bakat baru di kota Medan dan seakan melupakan bagaimana mereka dibuat repot dengan persoalan mengurus ijin keramaian atau keamanan.

Kemudian ada Degil House dan Literacy Coffee yang membuka ruang untuk berkegiatan tentang apapun mulai dari film, buku ataupun musik. Tak hanya itu, mereka juga menyertakan perpustakaan yang dapat disinggahi untuk membaca koleksi-koleksi buku yang bisa dinikmati dengan teh atau kopi dan pilihan jajanan pasar yang menjadi tonggak usaha untuk tetap bertahan menghidupkan ruang kolektif itu. Lalu ada nama baru yang juga muncul, mereka adalah Tujumpat live space. Tempat ini belakangan sedang ramai menjadi tempat untuk melaksanakan gigs-gigs kecil dengan beragam tema berbeda di setiap bulanannya.

Arsip Literacy Coffee

Ketiga venue tersebut setidaknya tetap konsisten dan tetap berdiri tegak hingga sampai saat ini. Dengan banyaknya pilihan venue, berkegiatan berkesenian pun semakin menjadi mudah. Bahkan band-band yang sedang tur dan mampir di Medan selalu siap sedia disambut tanpa memikirkan masalah venue. Tanpa adanya keterbatasan tempat, setiap bulannya selalu ada gigs hasil gagasan teman-teman komunitas yang bisa dinikmati.

Selain nama-nama di atas, ada juga Kirana studio, Kampus ITM dan Bajak V/Bukan distro yang meski tidak setiap bulan rutin membuat gigs, namun paling tidak dalam satu tahun selalu ada acara kejutan yang digagas oleh mereka. Dengan adanya kolaborasi antara penggiat musik, komunitas dan pemilik tempat seperti ini, rasanya venue-venue ini akan tetap berjalan dengan tambahan bumbu “keras kepala” yang tetap ingin menjaga api agar selalu menyala dan juga untuk melihat generasi selanjutnya terus tumbuh.

Teks: Friend Gultom
Visual: Arsip dari Berbagai Sumber