Balaan Tumaan dan Upaya Mempertahankan Budaya

Musik tradisional masih bernafas. Geliatnya masih menunjukkan tanda kejayaan. Walaupun beberapa di antaranya bernasib sekarat, bukan mainnya masih saja ada sekelompok orang yang berusaha menghidupkannya. Balaan Tumaan Ensembel, misalnya.

Dalam bahasa Dayak Kayaan, “Balaan” berarti tepian batas. Sedangkan “Tuman” maknanya adalah pertemuan. Lalu, mitologi Dayak Kayaan mengungkapkan bahwa Bumi itu berbentuk mangkuk yang tertelungkup dan berselimutkan langit. Istilah Balaan Tumaan lalu dipilih karena memiliki makna yaitu titik atau batas pertemuan antara bumi dan langit. Secara paradoks, bisa juga diinterpretasikan sebagai sebuah ujung tempat bertemu yang belum tentu mempertemukan, karena menemukan berarti merelakan.

Diantara anggotanya yang berjumlah sepuluh orang, kami bertemu Max. atau Reza Zulianda, Seorang pemegang posisi pemain alat musik berdawai dan vokalis dari Balaan Tumaan. Di sebuah sudut gedung jurusan PGSD FKIP Universitas Tanjungpura, yang sedang bernuansa remang-remang, kami berbincang tentang proyek musik tersebut.

Bagaimana Balaan Tumaan bisa terbentuk?

Max: Jadi, semua personil itu adalah teman satu kampus (Universitas Tanjungpura), kebetulan dosen kami, Dicky Indra Praja, yang merupakan bagian dari Balaan Tumaan, mendaftarkan kami untuk mengikuti program muhibah seni dari pemerintah di tahun 2014. Meski sebelumnya kita sering Jamming juga, tapi ketika ada program hibah seni itu lah kita meresmikan Balaan Tumaan sebagai nama kelompok. Program tersebut lah yang membuat Balaan Tumaan bisa berkunjung ke Jerman dan Perancis.

Saat berkunjung ke Jerman dan Perancis, kalian tampil di berapa titik?

Max: Di Perancis, tepatnya kota Potiers kita bermain di tiga titik seperti Hotel de Ville, lalu juga di sebuah gedung yang bila saya lihat interiornya seperti bekas katredal, serta satu titik lainnya. Lalu di Paris kita tampil juga di Kedutaan Besar Indonesia, dan di Jerman, kita perform di Übersee Museum, Bremen. Saat itu, total kita melakukan perjalanan adalah 2 minggu.

Sejak kapan kalian mulai getol dalam mengarsipkan budaya lokal? Memang seperti apa kondisi pengarsipan di Pontianak?

Max: Saat ke Jerman dan Perancis, kita belum memulainya, tapi sebenarnya gairah pengarsipannya sudah ada. Kondisi pengarsipan di Pontianak agak mengkhawatirkan, sih. Sumber tulisan untuk beberapa topik kebudayaan sangat sulit dicari.

Dalam pertunjukan bertajuk HNNOH: Sinema Bunyi pada 16 Maret 2019 kalian mengangkat budaya tutur di Kalimantan Barat yaitu mantra. Menurutmu, kenapa itu menjadi menarik?

Max: Kebanyakan pertunjukan musik tradisional di Kalimantan Barat itu selalu disandingkan dengan bentuk-bentuk kesenian lain yang meliputi seni performance, tari, lalu ada teks berbahasa lokal yang dituturkan. Nah, kami memang selalu tertarik dengan fonetik dari ragam aksen bahasa daerah-daerah di Kalimantan Barat ini, dan hal tersebut lalu kami sampling, karena fonetik berbahasa akan selalu bisa menjadi idiomatik dalam musik. Semisal logat Jawa yang mempengaruhi musik gamelan.

Di Balaan Tumaan, masing-masing personil biasanya memilki risetnya sendiri, untuk kemudian didiskusikan. Misalnya, waktu itu saya pernah meneliti musik di daerah Sungai Kunyit, Mentawah. Waktu itu saya kebingungan karena saya kesulitan untuk mendapatkan musik asli sana, tapi akhirnya saya tertarik dengan cara mereka berbicara yang agak mendayu-dayu, dan berpikiran jangan-jangan logat mereka itulah musik asli Sungai Kunyit. Hal-hal seperti itu sering menjadi inspirasi kami dalam berkarya.

Lalu, mantra-mantra apa saja yang diangkat pada pertunjukan HNNOH itu?

Max: Banyak, karena waktu itu kita mengangkat tema music vocal ritual, soalnya di Kalimantan Barat itu musik sering muncul di beberapa ritual seperti Sadange, yaitu pesta panen padi.

Waktu tahun 2016, Balaan Tumaan juga sempat ke Jepang. Dalam rangka apa itu?

Max: Kita punya anggota namanya Juan. Dia bekerjasama dengan seniman jepang, Yasuhiro Morinaga, untuk membuat acara Marginal Gongs. Jadi, Yasuhiro itu tertarik dengan kebudayaan gong di Asia, dan dia pun akhirnya mengeksplorasi beragam Gong melalui sudut pandang dia.

Juan yang memiliki background seorang musisi, menari di gelaran Marginal Gongs tersebut. Saat Yasuhiro mengunjungi Pontianak dia mengatakan kepada Juan, bahwa ia tertarik dengan anatomi tubuhnya, dan bila dipertunjukkan kedalam seni tari, hal tersebut bisa membuat representasi dari Kalimantan Barat.

Soal gairah pengarsipan di Kalimantan Barat, apakah bermasa depan cerah?

Max: Perkembangannya hari ini cukup baik, saya masih optimis melihat masa depannya. Beberapa teman ada yang sudah menggalakannya, tapi sayang sekali pemerintah disini tidak terlihat pernah turun tangan untuk menanggulangi hal tersebut

Oke, berarti apa proyek terdekat yang akan segera digarap oleh Balaan Tumaan?

Max: Kami dalam beberapa waktu ke depan masih sangat disibukkan oleh riset-riset beberapa kebudayaan lokal di Pontianak

Teks: Rizki Firmansyah
Visual: Arsip Balaan Tumaan

The Box Perkenalkan Formasi Baru Lewat Live Session

Pandemi yang sudah berlangsung selama dua tahun ini telah membuat kita semua kembali dari awal. Menyusun ulang rencana dan mulai menata kembali langkah-langkah yang akan diambil. Kini industri sudah mulai...

Keep Reading

Sajian Ska Berbeda dari Slowright

Slowright, unit ska dari kota Malang baru-baru ini telah melepas album mini teranyarnya bertajuk Believe. Dirilis oleh label rekaman yang bermarkas di Yogyakarta, DoggyHouse Records, lewat rilisannya kali ini Slowright...

Keep Reading

Zizi yang Menyapa Kampung Halaman Lewat Hometown Tour

Setelah menyelenggarakan showcase perdananya yang bertajuk Unelevated Intimate showcase di Bandung pada akhir Februari lalu. Kini, Zizi kembali ke rumah tempat ia tumbuh dan menemukan passion terbesar dalam dirinya. Ia...

Keep Reading

Realita Kaum Pekerja di Nomor Kolaborasi Dzulfahmi dan Tuantigabelas

Dzulfahmi, MC dari kolektif Def Bloc dan Dreamfilled yang bermukim di Jakarta baru-baru ini (6/5) telah memperkenalkan karya terbarunya bertajuk “Rotasi”. Lewat rilisannya kali ini Dzulfahmi menggaet salah satu nama...

Keep Reading