Bandung Contemporary Art Awards (BaCAA) #6 telah sukses diselenggarakan pada tanggal 27 Oktober 2019 di Lawangwangi Creative Space, Bandung. ArtSociates Indonesia sebagai pihak penyelenggara secara konsisten menggelar BaCAA sebagai penghargaan per dua tahun untuk menstimulasi perkembangan seni rupa Indonesia dan mendorong karir seniman muda berbakat.

“BaCAA dari tahun ke tahun memang semakin berkualitas, melihat seleksi yang kita perketat dan bagaimana dampaknya pada kualitas yang meningkat. Sehingga tampaknya tahun ini mereka sangat serius untuk submit karya-karya ke BaCAA ini,” ungkap Wiyu Wahono, selaku dewan juri.

Semenjak tahun 2010 Artsociates terus mengembangkan BaCAA baik dari sisi tata kelola mau pun proses penjurian, membantu promosi dan pemasaran karya seni rupa kontemporer dari finalis pilihan Dewan Juri BaCAA.

Agenda BaCAA ini sudah sepatutnya menjadi perhatian seniman-seniman Indonesia juga pencinta seni kontemporer, dengan terus mengusung ketetapan praktik seni kontemporer dari seniman Indonesia. Harapan dari anugerah ini adalah terbukanya akses untuk mengapresiasi pada tiap kalangan pecinta seni, kolektor dan masyarakat dunia agar seni rupa Indonesia menjadi lebih baik. Sehingga seniman Indonesia mendapat posisi penting dalam medan dan sejarah seni rupa kontemporer di Asia di masa yang akan datang.

Kompetisi ini telah menerima ratusan pendaftar untuk para perupa Indonesia di bawah 35 tahun sampai dengan 17 Juli 2019 lalu. Setelah proses kurasi, muncullah 15 nama finalis. Mereka adalah Audya Amalia, Azizi Al Majid, Bandu Darmawan, Egga Jaya Prasetya, Ephraim, Haqiqy Zahwa Hawary, Hilmy Pratama Soepadmo, I Wayan Piki Suyersa, Mira Rizki Kurnia, Moch. Hasrul, Moch. Krismon Ariwijaya, Putra Wali Aco, Sandi Jaya Saputra, Susilo Nofriadi, dan Vincent A. S. Rumahloine.

Juri yang turut perpartisipasi pada BaCAA #6 pun adalah para profesional dari bidangnya, Asmujo J. Irianto (Kurator, Indonesia), Hady Ang (Kolektor dan Penikmat Seni, Singapura), Naima Morelli (Kritikus dan Jurnalis Seni, Italia), Melati Suryodarmo (Seniman, Indonesia), Pei-Yu Lin (Praktisi Galeri, Projek Fullfill Art Space, Taiwan) dan Wiyu Wahono (Penikmat Seni dan Kolektor, Indonesia).

Dewan Juri BaCAA pada edisi #6 kali ini cenderung menyeleksi karya para Finalis BaCAA #6 yang bersifat naratif, berlandaskan riset. Selain itu juga dipilih karya-karya dngan konsep yang lebih menyentuh persoalan sosial mau pun personal dan sejarah yang diwujudkan melalui pilihan medium yang makin beragam, baik dari aspek pilihan material juga cara penyajiannya. Atas dasar tersebut, maka terpilihlah tiga nama pemenang. Mereka adalah Vincent Rumahloine, Bandu Darmawan, serta Audya Amalia.

Masing-masing seniman mendapatkan hadiah yang berbeda. Vincent Rumahloine mendapatkan uang tunai sebesar Rp 100 juta rupiah; Bandu Darmawan memperoleh kesempatan untuk melangsungkan kegiatan Artist in Residen di Intermondes, La Rochelle, Perancis, lalu, Audya Amalia berkesempatan untuk melakukan Art Trip selama satu minggu di Eropa atau di Amerika untuk mengunjungi museum seni, galeri, institusi seni serta sejumlah pameran.

Karya Vincent Rumahloin merupakan arsip foto bertajuk “Don’t Call Me Hero: Soegeng Soejono” yang diperoleh dari Pak Sugeng Soejono, atau biasa dipanggil Bung Yono. Seniman muda yang gemar mengekplorasi ranah fotografi seni ini memetik bagian-bagian sejarah masa peralihan Orde Lama ke Orde Baru.

Karya Bandu Darmawan bertajuk “Tak Kenal Maka Tak Apa” menyoroti usaha manusia untuk selalu berupaya menemukan cara berkomunikasi dari zaman ke zaman. Bandu menyimulasikan fenomena ini melalui instalasi kinetik menggunakan papan Ouija di atas meja, dan sebuah proyeksi hitam putih seseorang yang sedang duduk seorang diri menggunakan proyeksi video.

Ada pula karya Audya Amalia berjudul “His Mom Told Me To….”. Dengan melibatkan partisipan beberapa laki-laki yang dipilih secara acak untuk sebuah proses dialogis, ia menciptakan katalis untuk mengarahkan rasa keingintahuan seniman mengenai pandangan laki-laki terhadap sosok ibu dalam lingkungan rumah.

Teks: Rizki Firmansyah
Visual: Arsip BaCAA