Zoo adalah salah satu band Indonesia yang terdepan untuk urusan eksperimentasi musik berbasis budaya. Outputnya adalah musik, tapi proses penggalian karyanya berjalan. Yang mereka lakukan adalah mereka ulang peradaban.

Zoo beranggotakan Ramberto Agozali, Bhakti Prasetyo, Rully Shabara dan Dimas Budi Satya.

Jika menyederhanakan persoalan, mungkin Zoo bisa diartikan sebagai band unik karena formasi musiknya tidak biasa; dua perkusi, satu bas dan satu vokal super gahar. Tapi, permukaan yang sudah menarik itupun, ternyata belum apa-apa kalau dibandingkan dengan apa yang sedang mereka rangkai sebagai seniman suara.

Di pergantian tahun 2018/ 2019, Zoo merilis album baru mereka, Khawagaka. Ini merupakan kelanjutan dari Trilogi Peradaban, Prasasti dan Samasthamarta. Keempat album ini dirilis dalam kurun waktu satu dekade sejak 2009.

Dalam perkembangan karya, Zoo layaknya menemukan kembali lembaran prasasti dan artefak dari kebudayaan lama (era Trilogi Peradaban, Prasasti) yang sudah terkubur, terkoyak, menyatukan lembar demi lembar, lalu kemudian menerjemahkannya ke dalam beberapa bahasa supaya dipahami oleh orang di masa sekarang.

Di sisi lain, terjemahan ke dalam beberapa bahasa yang berbeda ini menimbulkan interpretasi yang berbeda pula. Masing-masing orang yang mendengarkan karya mereka, dibebaskan untuk menginterpretasikan lembar ayat dari kitab dan prasasti tersebut, hasil akhirnya dibiarkan mengambang sesuai dengan pengertian masing-masing.

Secara implisit, Zoo lebih menginginkan bagaimana lirik yang mereka ciptakan diartikan denga tingkat kemerdekaan yang cair. Setiap orang bisa secara berbeda memahaminya. Masalah orang menginterpretasikan lirik Zoo secara salah kaprah itu tergantung pemahaman orang tersebut ketika mempelajari kitab dengan bahasa dan terjemahan yang berbeda. Di beberapa kasus, hal ini mungkin mirip seperti penemuan agama di masa lalu. Atau mungkinkah Zoo sedang ber-eksperimen menyebarkan sebuah agama baru?

Album Khawagaka dirilis di hari pertama tahun ini, di Kepulauan Line, Republik Kiribati (UTC+14). Zona waktu ini adalah lokasi yang pertama kali di dunia yang merasakan datangnya tahun 2019.

Bicara tentang karya, tidak bisa memisahkan Khawagaka sebagai lepasan utuh. Ia berkaitan dengan tiga karya Zoo sebelumnya.

Di album Trilogi Peradaban, ada tiga babak album yang jadi satu kesatuan. Musiknya menjadi lebih primitif, mentah dan berbasis suara akustik. Pendekatan ini menggambarkan bahwa sedang terjadi kemunduran pada peradaban modern manusia. Tema lirik di Trilogi Peradaban masih relevan untuk didengarkan hari ini kendati usianya telah menyentuh satu dekade. Misalnya Bulldozer (penggusuran, simbol mesin yang mengganti alam dengan manusia), Para Raksasa (tentang manusia berkuasa) atau Manekin Bermesin (kehidupan sehari yang tidak melihat banyak hal selain pekerjaan seperti layaknya mesin). “Tema ini yang tidak ada di album sekarang,” jelas Rully, sosok suara Zoo yang sering mengambil peran menjelaskan apa yang sedang mereka lakukan.

“Kebudayaan masyarakat kemudian mundur menjadi primitif, muncul kemudian batu Prasasti. Kita reset ulang, kembali menemukan peradaban baru, tapi kita belum tahu itu apa. Hanya berbentuk prasasti dengan aksara yang sangat primitif yag tidak kita ketahui itu apa,” lanjutnya menjelaskan ide di balik karya selanjutnya, Prasasti.

Album Prasasti dirilis tahun 2012 dalam bentuk batu yang diperkirakan awet sampai kapanpun. Di album ini aksara hanya diberikan dalam bentuk petunjuk yang tidak jelas, primitif, dengan lirik yang memkai sepuluh macam bahasa daerah. Sekilas orang pasti melihat album ini berbicara tentang aksara dan bahasa, yang ditekankan lewat bentuk rilisan prasasti batu. “Banyak yang pemahamannya baru sampai di sini termasuk saya. Nah, selanjutnya apa?” tanya Rully.

Pada saat penggarapan Prasasti, masing-masing personil Zoo menyadari bahwa tema ini bisa dikembangkan dari sekedar menyetel ulang peradaban menjadi memulainya lagi dengan membuat bahasa yang baru. Sejumlah elemen di Prasasti, misalnya font aksara, sebenarnya dibuat untuk bisa dikembangkan di masa yang akan datang.

“Liriknya juga berubah, tentang bagaimana manusia ingin menentang kematian, ingin menjadi kekal, sebagai manusia baru. Manusia yang sudah sadar dulu pernah membuat kekacauan, lantas mau diapakan peradaban baru ini?,” jelas Rully lagi.

Ranah lain yang berkelanjutan disentuh di karya berikutnya, Samasthamarta yang dirilis tahun 2015. Karya ini memperkenalkan mitologi kota yang memiliki unsur falsafah nilai moral tertentu di dalam sebuah peradaban.

Samasthamarta diperkenalkan sebagai sebuah rancangan kota, mitologi bagaimana kota tersebut bangkit, tumbuh dan kemudian hancur. Dari peradaban itu ditemukan aksara di rancangan kota yang mirip dengan aksara di Prasasti, yang menjelaskan kenapa kedua peradaban itu ternyata mempunyai sebuah hubungan. Tema lagu di Samasthamarta lebih abstrak berbicara tentang sepuluh struktur arsitektur kuno legenda dari berbagai belahan dunia. Bukan tentang teknik arsitekturnya, tetapi tentang nilai moral masyarakat di sekitar bangunan yang dipengaruhi oleh adanya struktur bangunan tersebut. Musik Zoo seolah-olah mulai menggiring kita ke suatu tempat tertentu.

Di pergantian tahun 2019, muncul Khawagaka yang sangat penting, karena menjadi kumpulan dari semua yang pernah dirilis Zoo. Dengan fitur aksara yang berfungsi lebih canggih, ada bahasanya, juga ada ajarannya di manuskrip. Semuanya itu merupakan peninggalan dari kaum sebelumnya yang hancur di Samasthamarta. Banyak yang kemudian menyimpulkan tema Khawagaka sebagai sebuah album mengenai post apocalyptic, dimana peradaban Samasthamarta hancur dengan meninggalkan enam ajaran yang kemudian ditemukan oleh masyarakat saat ini.

Ketika ditanya apa yang membuat eksperimentasi kreatif dibalik motivasi perkembangan musik di Zoo, Rully menjawab, “Sama kayak membuat patung, kita pengen itu bagus dan selesai. Sayang kalau tidak diselesaikan.”

Ia melanjutkan, “Saya melihat bagaimana hal tersebut bisa berkembang terus bukan tentang membuat sesuatu yang aneh terus kemudian tidak ada kelanjutannya. Kalau tidak ada kelanjutannya berarti gagal.”

Pada Zoo eksperimentasi yang dikerjakan adalah upaya story telling yang dihidupkan dan bereksperimen dengan cerita tersebut. Dalam menulis cerita harus membangun karakter dari awal, harus ada tahapan yang dilewati. Itu sebabnya setelah album Prasasti, Zoo harus punya visi. Di setiap rilisan digital downloadnya, Zoo kemudian menyertakan dokumen berisi visi, time line dan milestone dimana semua orang bisa mengecek perkembangannya seperti apa.

Masing-masing personil Zoo menerapkan banyak perubahan di Khawagaka. Secara otomatis, dengan cerita yang berkembang, perlu pola pandang yang berkembang pula. Bhakti, misalnya. Ia diberi kebebasan dalam eksplorasi sound yang digunakan. Porsi bass yang biasanya lebih dominan karena mengambil jatah nada-nada melodius, kini banyak bermain dengan noise. Ternyata, cakrawala musiknya malah meluas. Rully juga bereksperimen dengan eksplorasi efek loops dan reverb. Karena punya jalinan satu sama lain, album ini rasanya lebih kontekstual jika didengarkan dari depan sampai belakang di saat bersamaan.

Jika ingin mencari tahu dan mengurut jejaknya, seluruh rilisan Zoo bisa didengarkan secara digital di www.yesnowave.com. Satu kalimat favorit di kitab Khawagaka: Yakinlah Pada Zaman.

Dan Zoo pun kemudian terus bergerak. “Yang jelas proyeknya selesai. Kita nggak tahu apa ada proyek lain yang bisa dijadikan sumber inspirasi. Dua album setelah yang sekarang, kita punya sebuah rencana besar tentang bagaimana Zoo akan menjadi,” terangnya. (*)

Teks: Indra Menus/ Felix Dass
Foto: Dokumentasi Zoo