Risa Saraswati, mungkin sekarang lebih dikenal sebagai seorang penulis dengan reputasi yang sangat lebar. Karya-karyanya sudah dialihwahanakan dengan sukses jadi sejumlah film yang laku keras di pasar. Bisa jadi, banyak yang belum tahu kalau ia sebenarnya memulai karir sebagai vokalis pertama kelompok musik elektronik Homogenic. Bersama band itu, ia merilis dua album penuh dan memutuskan untuk berpisah ketika sedang menyiapkan album ketiga. Selepas itu, ia merintis Sarasvati, band di mana ia menjadi pemimpin sekaligus penulis lagu utama, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan di Homogenic. Hidup berkeseniannya berkembang, wilayah-wilayah baru dijelajahi.

Karir kepenulisannya, berkembang pesat. Fokusnya bercerita tentang hantu, ternyata menciptakan pasarnya sendiri. Perhatian yang ditujukan padanya, sebagai efek lanjutan dari karya yang ia produksi, datang bertubi-tubi.

Di karya terbarunya, Sandekala, ia menggunakan pendekatan yang menyegarkan; mencampuradukkan penulisan dengan lagu. Ia kembali ke dunia yang sempat ditinggalkan, memproduksi rekaman dalam bentuk album penuh dengan nama sendiri, Risa Saraswati.

“Musikalisasi cerita,” jelasnya tentang format yang sedang dijalankan ini. Wawancara di bawah ini, mungkin bikin patah hati level khawatir. Belum level akut. Musik dikesampingkan. Tapi toh, semuanya jadi pilihan. Selamat membaca! (*)

Setelah berkali-kali akan merilis album, sekarang perasaannya apa sih merilis karya baru?

Nggak karuan. Saat ini udah sampai ke tahap paling rendah kepercayaandiri soalnya, mungkin sindrom umur menjelang 35 kali ya? Haha. Ada perasaan yang kuat masih ingin bermusik, tapi di balik itu ada juga perasaan enggan karena takut satu dan lain hal.

Loh, jadi sempat ingin berhenti main musik?

Bahkan sekarang saya pikir ini adalah karya musik terakhir. Tapi nggak tau yah, ke depannya gimana. Saya agak takut dengan rencana, takut tidak sesuai seperti yang sudah-sudah.

Apa yang paling ditakutkan sebenarnya?

Saya takut menghadapi sepak terjang dunia musik. Haha. Rasanya tak sanggup lagi. Makanya, kali ini saya pakai strategi yang berbeda untuk karya musiknya.

Sepak terjang musik yang gimana? Terus strategi beda yang seperti apa?

Saya merasa di masa lalu, agak ambisius mengejar karir di dunia musik. Saya pikir musik adalah satu-satunya passion, hingga yang terpikir adalah gimana caranya harus produktif, harus banyak panggung, kalau bisa harus bikin konser tunggal dengan banyak penonton setiap tahun. Sepak terjang di sini, bukan berurusan dengan pihak lain. Tapi lebih ke emosi diri saya yang kerap bergelut dengan ambisi ini. Belum lagi berurusan dengan arranger karena saya bukan penulis lagu yang bisa memainkan alat musik. Seringkali terjadi perdebatan di situ yang membuat semuanya terasa mentah. Tiba-tiba saja saya dihadapkan dengan kata lelah, dan merasa lagu-lagu yang saya tulis tidak lagi memakai hati. Pada akhirnya saya bertemu dengan karya tulis, yang ternyata belakangan baru disadari juga punya passion yang besar di sini. Apalagi ini hanya urusan kepala saya dan segala imajinasi, tidak berurusan dengan banyak kepala seperti saat bermusik. Beberapa tahun ini, saya menikmati profesi baru sebagai penulis, bahkan hampir hampir lupa pada musik. Saat menulis buku terakhir berjudul Sandekala, tiba-tiba saja nada-nada yang sempat hilang dari kepala bermunculan mencipta lagu-lagu baru. Rasanya sayang kalau diabaikan, tapi tetap saya tak mau terlalu terjun di musik. Strategi barunya adalah, musikalisasi cerita. Dan benar-benar difokuskan pada karya tulis (bukunya). Musik dan lagu dalam cd hanya saya jadikan sebagai bonus untuk para pembaca buku.

Jadi, musik agak terpinggirkan sekarang ya? Karena ketemu mainan baru dan difungsikan sebagai teman, ketimbang menu utama. Gitu?

Kurang lebih begitu.

Apa yang membuat tulis-menulis bisa membuat elo meminggirkan musik?

Ya itu tadi, menulis hanya melibatkan satu kepala manusia yang bisa seidealis mungkin menyuarakan isi pikiran. Bermusik, mau tak mau harus berhadapan dengan banyak kepala yang seringkali tidak satu visi.

Tapi, dengan berbagai kemungkinan yang pernah terjadi (anggota band, pemimpin band), akhirnya pilihan menggunakan nama Risa Saraswatilah yang sekarang dipilih? Bedanya apa?

Karena memang strateginya sebagai bonus buku, jadi nama itu yang dipilih. Musikalisasi cerita dari seorang penulis bernama Risa Saraswati. Hehehe.

Nah, karir kepenulisan sendiri, seberapa menariknya? Sudah jadi milyarder dong jadi penulis?

Haha. Gila, gila, nggak segitunya. Tapi dengan buku dan tulisan, saya bisa tetap menjaga keluarga pendengar Sarasvati (Sarasvamily) untuk tetap bersama dan bekerjasama di manajemen. Dan (mereka) ikut andil dalam penjualan online karya-karya saya. Menyenangkan sih.

Tapi, kasus penulis susah melakukan monetisasi terhadap karyanya nggak terjadi di dalam cerita Risa Saraswati ya?

Sejauh ini tidak sih. Hubungan saya dengan penerbit, pembaca dan teman-teman yang membantu di manajemen terjalin dengan sangat baik. Semuanya transparan dan bisa saling menghidupi satu sama lain. Intinya, banyak keuntungan kok yg saya dapat dari menulis. Alhamdulillah.

Apa yang ada di Sandekala?

Sandekala itu mitos dan kejadian mistis di pergantian siang ke malam. Berisi cerita dan lagu.

Ngomong-ngomong, wilayah mistis ini selamanya akan ada dalam wilayah karya elo ya?

Susah lepasnya. Mau bagaimana lagi sudah terlanjur nyemplung, berenang saja sekalian.

Tapi nggak kepikiran untuk melakukan eksplorasi di bidang lain?

Kadang-kadang kalau jenuh, saya tulis fiksi romantis. Tapi tetap saja, selalu kembali ke mistis. Buat saya menulis tentang hantu salah satu hal untuk membuang penat atas banyak kejadian mistis di hidup. Bercerita tentang mereka, mengurangi beban saya dihantui mereka.

Jadi terapi? Eh, tapi nggak habis-habis emang cerita hantunya?

Yes, beban saya berkurang jauh, ajaib. Nggak akan pernah habis, populasi mereka bahkan lebih banyak dari manusia. Hehehe.

Haha. Trauma gue ngomong hantu sama elo. Tapi ya, di topik ini kan elo sudah menerjemahkannya menjadi berbagai macam pengeluaran; musik, jadi host tv, penulis dan kemudian difilmkan. Mana yang paling seru?

Tetap jadi penulis.

Apa sih yang spesial dengan jadi penulis?

Nggak perlu lihat ekspresi orang saat menikmati karya tulis saya. Dan saya masih bisa berkarya di dalam kamar sambil menikmati semangkok bakso panas.

Loh, tapi berkarya dengan langsung berhadapan dengan orang kan sudah dilakukan bertahun-tahun, memang masih jadi beban tersendiri? Gue pikir biasa aja karena sudah berpengalaman naik turun panggung dielu-elukan penggemar.

Tahu sendiri kan, dari dulu juga sebenarnya saya agak introvert. Kalau bukan karena pernah jadi penyiar, mungkin saya nggak akan banyak omong seperti sekarang. Jawabannya tetap lebih nyaman di balik layar, tanpa melihat banyak pasang mata memandang.

Punya proyeksi jangka panjang akan berbuat apa dengan kepenulisan? Toh, kemungkinannya kan liar; selain jualan karya ketengan, cerita lo udah jadi film…

Mimpi besarnya sih jadi publisher, buat temen-temen yang suka nulis tapi nggak tahu harus lari ke mana. Tapi, ya itu besar banget.

Sudah mulai dirintis tapinya?

Baru rilis buku sendiri dulu dalam jumlah terbatas. Kalau sudah nemu alurnya, suatu saat ya semoga aja bisa.

Menurut lo ya, dari perjalanan yang sudah lo lalui, rumusnya apa sih bisa menemukan cara berkarya yang enak sekarang dalam kisah Risa Saraswati?

Ketika tidak nyaman, tinggalkan. Nggak akan benar menjalani sesuatu yang tidak nyaman, hasilnya juga akan terasa dipaksakan.

Teks dan wawancara: Felix Dass
Foto: Dok. Risa Saraswati