Asimilasi Belanda-Indonesia di Lezatnya Spekkoek dan Roti Buaya

Sekilas, masakan khas Belanda yang beriklim dingin – seperti frites yang berkomposisi kentang goreng dan kerang dengan lumuran saus kari dan mayonaise atau makanan stroopwafels – dan Indonesia yang bercuaca tropis – macam sambal dengan lalapannya atau sate – itu tampaknya tidak memiliki banyak kesamaan. Tetapi penjajahan Belanda ternyata meninggalkan kesan yang tak terhapuskan di banyak makanan Nusantara, begitu pula sebaliknya.

Belanda tiba di Indonesia pada abad ke-16, mencari rempah-rempah seperti cengkeh, pala, dan merica. Mereka bukan yang pertama kali dan negara satu-satunya yang menjajah Indonesia – Portugis datang sedikit lebih awal, tetapi kemudian Belanda merebut kekuasaan mereka pada 1602 dengan ditandai pembentukan the Dutch East India Company alias VOC. Meskipun VOC bangkrut pada tahun 1799, Belanda tidak menarik angkatan bersenjatanya di Indonesia hingga lebih tiga abad lamanya. Belanda tetap tinggal sampai berakhirnya Perang Dunia II ketika pendudukan Jepang hadir dan menggantikan supremasi Negeri Tulip itu.

Tiga setengah abad adalah waktu yang tak sebentar, dan selama tahun-tahun itu, Belanda tentu meninggalkan jejaknya pada makanan Indonesia. Bertolak dari ini, Indonesia tak sedikit mengadopsi teknik dan bahan-bahan Eropa yang diperkenalkan oleh Belanda, memunculkan asimilasi bermacam makanan-makanan unik Indo-Belanda. Sebelum kedatangan Belanda, misalnya, roti masih belum terlalu menjadi bagian penting dari makanan penduduk Indonesia. Tetapi ketika Belanda datang, dengan teknik pembuatan roti ala Eropa, roti menjadi lebih populer di negeri ini. Roti buaya, misalnya, merupakan roti manis berbentuk buaya yang biasanya disajikan pada acara pernikahan dan perayaan lainnya. 

Saat ini, roti buaya dibuat dengan ditambah adonan pengembang ragi, tetapi sebelum kolonisasi Belanda dan pengenalan teknik pembuatan roti ia dibuat dengan tepung berbahan singkong. Demikian pula masakan semur. Semur, atau smoor dalam bahasa Belandanya, adalah masakan asimilasi antara Indonesia dan Belanda. Di Indonesia semur hadir dengan cita rasanya, yakni dengan menambahkan kecap manis, tapi teknik pembuatannya masih diambil dari Belanda. 

Pengaruh masakan Belanda atas makanan Indonesia paling terlihat jelas pada hidangan penutup. Spekkoek, atau di Indonesia lebih dikenal dengan kue lapis legit, mungkin salah makanan Indo-Belanda yang paling terkenal. Dibuat dengan kayu manis, cengkeh, pandan, dengan atau tanpa kacang dan cokelat, kue ini merupakan suguhan saat santai baik di Indonesia maupun di Belanda. Salah satu makanan hasil perpaduan Indo-Belanda lainnya ialah klappertart. Kini, klappertart adalah kue yang sudah jadi khas Manado. Tiba di Indonesia, klappertart dibuat dengan dicampur parutan kelapa, tapi sekali lagi cara pengerjaannya mengambil dari Belanda. Ada juga poffertjes, pancake Belanda yang terkenal, yang juga populer di seluruh Indonesia. Konon, kue cubit terpengaruh dan berasal dari poffertjes. Mirip poffertjes, kue cubit dibuat dengan wajan khusus. 

Sementara makanan Belanda yang terpengaruh Indonesia antara lain adalah saus topping untuk makanan frites. Lainnya ialah rijstaffel. Rijstaffel, yang terjemahan harfiahnya ialah “meja nasi” adalah sebuah pesta makan yang juga diadaptasi oleh Belanda. Meskipun menu utamanya adalah nasi, tapi pelayanan serta tata cara makan sangat khas Belanda. Pada pesta makan itu, di samping nasi, ada pula makanan khas Indonesia seperti rendang, sate, kari, sambal, acar yang disajikan di atas meja panjang. Para tamu undangan pesta biasanya mengambil sendiri hidangan yang sudah disediakan itu. Awalnya rijstaffel merupakan cara penjajah Belanda untuk memamerkan hasil bumi dari negara jajahannya itu. Rijstaffel kini jarang dilakukan di Indonesia lagi, tetapi masih sangat populer di Belanda. Menurut berbagai sumber, cara penyajian prasmanan yang umum di pesta pernikahan di Indonesia dipengaruhi rijstaffel.

Teks: Emha Asror
Visual: Arsip dari Berbagai Sumber

Interview: Caccia dan Perjalanannya Menyusuri Musik

Apa rasanya bisa band-bandan dengan pasangan? Caccia mungkin salah satu dari beberapa unit musik yang bisa menjawab pertanyaan tersebut. Duo asal Jakarta ini dimotori oleh sepasang kekasih, Anya (vokal) dan...

Keep Reading

Nada Siasat: Pekan Pertama Penutup Tahun

Di awal bulan Desember ini kami merangkum berbagai karya musik yang datang dari beberapa musisi. Diantaranya datang dengan berbagai tema, mulai dari gulana ditinggal cinta sampai harapan-harapan yang muncul setelah...

Keep Reading

Nada Siasat: Sajian Ragam Warna dari Tiap Penjuru

Pekan ini, Siasat Partikelir ingin merangkum penemuannya dari tiap penjuru. Mungkin, nama kami lekat dengan penjuru-penjuru geografis, namun kali ini kami akan mengangkat beberapa musisi dari tiap penjuru jenis musik...

Keep Reading

Menyimak Muda-Mudi Musisi Kiwari Merayakan Dangdut

Dang! Dang! Dang! merupakan salah satu panggung di Soundrenaline tahun ini yang diselenggarakan secara virtual. Biarpun keseluruhan Soundrenaline menyajikan konser virtual yang berbeda, panggung Dang! Dang! Dang! menampilkan aksi yang...

Keep Reading