Arsitektur Bunyi dalam Debut Album Dansifutura

Dansifutura, solo elektronika asal Yogyakarta telah melepas debut albumnya bertajuk “Reaktor Amatir” melalui label independen Futurkultur Records. Album yang berisi 14 trek komposisi bunyi ini membawa segudang narasi dan segala macam wacana dibalik suara yang ia hadirkan. Setumpuk istilah teknis seputaran “Reaktor Amatir” pun Dansifutura tumpahkan. Menariknya,  album penuh ini semacam manifestasi tentang gagasan yang tak melulu menyoal tata bunyi semata. Lebih jauh, Dansifutura juga menggaet sastrawan kenamaan, Afrizal Malna, sebagai kolaboratornya untuk spoken words di nomor ‘Sosialisme Data’ yang membuat album ini makin semarak dan padat akan pemikiran.

Menurut Dansifutura,  keseluruhan album “Reaktor Amatir” secara prinsip menggunakan analogi arsitektur dalam setiap proses pengkaryaan dan kerangka berpikir. Analogi yang digunakan kebanyakan ingin mencari dan menerjemahkan kesesuaian dan persamaan  parameter, komputasi, dan generatif yang berkembang sekarang ini pada disiplin arsitektur.

Proses ini dilakukan agar terjadi sinkronisasi baik secara prinsip, metode, dan eksplorasi agar kedua disiplin ini bisa berjalan beriringan. Alasan Dansifutura ini, secara emosional dilakukan untuk menghancurkan batasan keilmuan, waktu, dan material dan menjadi tanda keluar dari ruang liminal dalam transisi hidup yang absurd.

Secara musikalitas, lebih lanjut Dansifutura menjelaskan bahwa semua sistem penghasil suara pada album ini menggunakan simulasi digital untuk menghasilkan ritmis yang konstan dengan variasi-variasi aksen yang random dan glitchy. Beberapa material bunyi pada album ini juga menggranulasi temuan-temuan bunyi yang didapat dari internet dan rekaman kualitas rendah milik pribadi yang memiliki nilai-nilai tersendiri untuk dijadikan parameter. Satu atau banyak dari satu komposisi merupakan reaksi dari parameter yang ada untuk menghilangkan proses rutin yang menjelimet. Metode ini dipakai atas dasar kemalasan dan ketidakmampuan secara motorik.

Berbicara di wilayah pola yang dibangun, Dansifutura menerangkan lagi bahwa komposisi pola pada album ini dibuat seminimal mungkin dengan menggunakan parameter-parameter musik techno dan electronica sebagai dasar, kemudian dimodulasi atau dimodifikasi dengan parameter-parameter yang random atau penuh perhitungan dan teoritis.

Secara keseluruhan, walaupun elemen dan material bunyi pada album adalah generatif dari data-data yang ada, dan menghasilkan data suara yang abstrak nan kacau, namun terdapat orde penataan agar tetap menjadi padu dan padat, dan bisa menjadi parameter yang dapat memicu reaksi terhadap aspek visual.

Secara estetika, album ini memberikan bentuk dan tekstur ketidakdewasaan dalam kesadaran. Proses transisi yang absurd, menyebalkan, dan penuh dengan drama memicu reaksi yang tidak ortodoks dari seorang amatiran dalam batasan pengertian dogma-dogma keilmuan yang penuh pertentangan pada prinsip dan tujuan. Selintas apa yang diterangkan oleh Dansifutura satu garis dengan apa yang sering diletakan oleh Afrizal Malna dalam karya-karya sastranya, ihwal absurditas dan segala macam pertentangan yang ada dibaliknya.

Dengan sentimentil harapan, Dansifutura yang tak lain adalah moniker dari Ramdhan Alfasya juga mengatakan bahwa album ini harus bisa menjadi penanda untuk penerimaan dan perdamaian pada diri untuk berani keluar dan mengambil tanggung jawab menjadi manusia bermanfaat dalam keadaan sosial yang mengerikan. Demi melanjutkan algoritma ke langkah selanjutnya dengan terus mencari dan memasukan parameter-parameter secara sadar. Kesadaran jika terciptanya satu bentuk dari beberapa parameter yang akan mempengaruhi atau memicu bentuk lain juga merupakan alasan estetika kenapa album ini dibuat.

“Lalu, dalam Al-Quran saya menyadari jika 23 : 12 – 20 adalah teks yang sangat estetis terlepas bacaan ini adalah bacaan dari komunitas tertentu” tulis Dansifutura. “Terakhir, album ini adalah karya yang menyenangkan dalam proses dan hasil produksinya. Album ini bukan album yang memuja kekacauan dan kecemasan, album ini sebagai bentuk perlawanan terhadap hal yang terasosiasi dengan hal yang demikian. Album ini mendefinisikan tentang penataan dan kesadaran, tentang arsitektur, musik dan psikologi, tentang masa depan dan tahapan-tahapannya, tentang menjadi manusia yang manusia” pungkasnya

Selain merilis album penuh, Dansifutura juga menyusun sebuah booklet berisi berbagai macam visual yang terlihat futuristik sebagai pendamping. Dari pengambilan judul-judul lagunya saja album ini sudah menarik. Mari kita simak.

Teks: Dicki Lukmana 
Visual: Arsip dari Futurkultur Records

Bersama Ello dan Virzha, Dewa19 Rilis Ulang Materi Lama "Still I’m Sure We’ll Love Again"

Dewa19 melanjutkan perilisan karya-karya lama mereka dalam format baru. Kali ini, mereka merilis “Still I’m Sure We’ll Love Again”, sebuah lagu dari album Format Masa Depan yang aslinya menampilkan vokal...

Keep Reading

Langkah Berikutnya dari Bilal Indrajaya

Usai melepas beberapa materi singel dan album mini Purnama (2019) solis dari Jakarta, Bilal Indrajaya, akhirnya melanjutkan perjalanannya dengan meluncurkan karya terbarunya bertajuk “Saujana” lewat label rekaman legendaris yang kini...

Keep Reading

Themilo Rangkum Perjalanannya di Nomor "Flow"

Dua dekade berlalu dan Themilo tetap berjalan dengan syahdu. Pada akhir Juli 2022, unit shoegaze dari Bandung yang berdiri sejak 1996 ini baru saja merilis single terbaru mereka berjudul “Flow”....

Keep Reading

Adaptasi Kehidupan Digital di Koleksi Terbaru Monstore

Jenama pakaian dan gaya hidup Monstore mengumumkan koleksi terbaru mereka dengan nama “New Fictional Temptation”. Koleksi ini diluncurkan sebagai rilisan ‘solo’; non-kolaborasi dari Monstore setelah berbulan-bulan lebih fokus bekerja sama...

Keep Reading