Apresiasi untuk Para Penulis Muda Berbakat di Hari Buku Nasional

Hari Buku Nasional adalah hari yang penting bagi pecinta buku di seluruh nusantara. Setiap tahun pada tanggal 17 Mei yang dimulai dari 2002, momentum ini dijadikan pengingat akan pentingnya budaya membaca. Saat itu, bapak Abdul Malik Fadjar yang menjabat Menteri Pendidikan adalah sosok yang berinisiatif untuk memperingati betapa pentingnya peranan buku dalam pengembangan karakter bangsa. Pemilihan tanggal pun jelas tidak sembarangan, ada banyak pertimbangan yang mesti dimasukkan. Salah satunya adalah karena tanggal tersebut bersamaan dengan momen hari lahirnya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia pada 17 Mei 1980. Sejak dicanangkannya, hari penting ini langsung mendapatkan respon positif dari berbagai masyarakat, khususnya mereka yang mencintai buku.

Dari dulu hingga sekarang, Indonesia dikenal dengan banyaknya penulis handal dengan karya yang sangat bagus. Sayangnya, besaran angka penulis dengan pembaca tidak sebanding. Dalam catatannya, BPS menyebutkan bahwa penduduk usia 15 tahun yang melek huruf mencapai jumlah 96 persen. Angka ini seharusnya bisa menjadi tolak ukur suatu negara akan minat bacanya, tapi nyatanya hal itu berbanding terbalik. Minat baca Indonesia hanya 0,001 persen, yang bila diumpamakan, dari 1000 orang hanya 1 orang saja yang rajin membaca. Pada tahun 2018, proyeksi penduduk berdasar survei penduduk mendapat angka 265 juta jiwa, bila dikonversikan maka terdapat 265 ribu orang yang punya minta baca tinggi. Angka itu masih terbilang kecil bila dibanding negara lain yang memiliki minat baca tinggi.

Seperti yang telah disebutkan di atas, negeri kita memiliki banyak sekali penulis bagus. Sebut saja seperti Pramoedya Ananta Toer, Mochtar Lubis, Ahmad Tohari, hingga Eka Kurniawan yang tersohor dengan novel Cantik itu Luka. Sebagai orang yang suka membaca, tuntunan zaman dan keadaan juga banyak membuat orang-orang ingin mendapat karya baru dan beda dari penulis yang sudah ada. Beruntunglah negeri ini masih memiliki banyak penulis yang bagus dari generasi mudanya sebagai bagian dari proses regenerasi. Karyanya pun tak kalah dari mereka yang muncul sebelum mereka.

Bagi kalian yang ingin mencari sosok penulis baru, mungkin artikel ini bisa sedikit membantu. Mereka menghadirkan banyak gaya baru yang berbeda dibanding pendahulunya. Karya-karya dari mereka pun banyak diburu, baik itu berbentuk fisik ataupun digital. Siapa saja mereka? Silakan dibaca.

Rio Johan

Sosok pemuda kelahiran 1990 ini, pertama kali merilis sebuah kumpulan cerpen berjudul Aksara Amananunna. Sejak itu, nama Rio Johan mulai bergema di kalangan pecinta literasi di penjuru nusantara. Karya pertamanya itu tercatat pernah masuk dalam Kusala Sastra Khatulistiwa 2014 sebagai 10 besar cerpen terbaik, dan terpilih sebagai buku sastra terbaik pilihan Tempo di tahun yang sama. Karyanya tersebut dianggap mampu membawa dunia dan pendekatan baru ke dalam sastra Indonesia. ASEAN Literary Festival, UBUD Writers Reader Festival, dan menjadi salah satu penulis Indonesia yang dikirim residensi ke Eropa adalah beberapa kegiatan yang pernah diikutinya. Dalam catatan, Rio Johan hingga kini telah merilis tiga buku yaitu; Aksara Amananunna (2014), Ibu Susu (2017), dan Caravanserai (2019).

 

Eko Triono

Karya cerpen Eko Triono membawakan nuansa yang lain, sudut pandang yang tak terduga, dan kedalaman pemikiran. Bisa dilihat di buku karangannya yang berjudul Ikan Kaleng, di karya ini, dirinya mampu membawakan kegelisahan orang Papua di gunung yang ingin makan ikan. Lalu ada buku Agama Apa yang Pantas Bagi Pohon-pohon (2016), juga mendapatkan sambutan yang positif dari kalangan penulis. Dirinya tercatat pernah menjadi finalis Kusala Sastra Khatulistiwa 2016, serta pemenang atas Penghargaan Sastra Indonesia Balai Bahasa DIY 2017. Novel pertamanya, Para Penjahat dan Kesunyiannya Masing-masing (2018), membuatnya terpilih menjadi pemenang di ajang III Unnes International Novel Writing Contest 2017. Menurutnya sebuah tulisan yang bagus tidak berasal dari kekosongan. Ada proses membaca, mengalami, serta merenungkan yang harus dijalani sebelum bisa menghasilkan tulisan yang berbobot.

 

Dewi Kharisma Michellia

Buku tulisan Dewi Kharisma Michellia yang berjudul Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya menjadi pemenang unggulan dalam Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2012, dan finalis dalam Khatulistiwa Literary Award 2013. Lalu ada Elegi yang merupakan buku kumpulan cerpen pertamanya. Tercatat dirinya pernah memperoleh penghargaan Taruna Sastra dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (2015) dan pernah diundang untuk bicara dan membacakan karya di sejumlah festival sastra.

 

Dea Anugerah

Banyak yang mengatakan pemuda ini lihai dalam hal menulis puisi dan prosa. Tapi, dirinya juga suka sangat senang menulis cerpen dan esai. Hal itu terbukti dari buku kumpulan cerpennya yang terbit 2016 lalu, Bakat Menggonggong berhasil masuk menjadi salah satu buku Indonesia terbaik pilihan majalah Rolling Stone Indonesia. Hal yang membuat tulisan Dea Anugerah begitu nyaman dibaca adalah gaya penulisan yang cenderung nakal, lucu, dan penuh eksperimen. Tapi di balik gaya tuturnya yang santai dan terkesan main-main, tulisannya sangat berisi, memiliki makna, dan mampu menyentak kepala. Kini, berbagai karyanya kian luas melanglang buana, baik di media cetak maupun online. Beberapa bulan lalu dirinya baru saja merilis sebuah buku yang unik berbentuk bunga rampai yang diberi judul Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya.

 

Itulah mereka, muda dan terus memberikan inspirasi. Kalian yang membaca ini, selamat merayakan Hari Buku Nasional. Semoga kita senantiasa selalu menikmati bacaan-bacaan yang ada. Dan jangan lupa untuk selalu membagikan referensi ke orang banyak, agar negeri kita memiliki masyarakat yang minat akan membaca.

Teks: Adjust Purwatama
Visual: Arsip Shutterstock

Refleksikan Sejarah Lewat Seni, Pameran "Daulat dan Ikhtiar" Resmi Digelar

Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta mengadakan sebuah pameran temporer bertajuk “Daulat dan Ikhtiar: Memaknai Serangan Umum 1 Maret 1949 Melalui Seni”. Pameran ini sendiri akan mengambil waktu satu bulan pelaksanaan, yakni...

Keep Reading

Ramaikan Fraksi Epos, Kolektif Seni YaPs Gelar Pameran Neodalan: Tilem Kesange

Seni tetap menjadi salah satu jawaban untuk menghidupkan dan menghangatkan kembali keadaan di masa pandemi. Untuk itu dengan gerakan gotong royong dalam ruang seni baur Fraksi Epos mengajak kolektif seni...

Keep Reading

Nada Siasat: Pekan Pertama Februari

Sampailah kita di penghujung pekan pertama bulan Februari. Harapan-harapan terus tumbuh di tengah situasi yang belum membaik sepenuhnya. Meskipun situasi masih belum jauh berbeda dengan hari-hari sebelumnya, namun para musisi...

Keep Reading

Seniman Roby Dwi Antono Gelar Tiga Pameran Sekaligus di Jepang

Seniman Indonesia yang satu ini memang kerap membuat pameran di luar negeri. Lewat karya-karyanya yang memukau, nama Roby Dwi Antono kian dikenal oleh para pelaku mau pun kolektor seni Internasional....

Keep Reading