ANWAR JIMPE, Kecintaan akan Dunia Literasi dan Kampung Buku

Makassar dengan keragaman khasnya memang sangat terkenal di mana-mana. Dari lini musiknya, banyak band bagus yang berasal dari kota ini. Begitu juga dengan dunia literasinya. Siapa yang tak kenal perhelatan tahunan Makassar International Writers Festival? Lalu, juga ada satu sosok yang sangat dikenal di dunia literasi Makassar. Dia adalah Anwar “Jimpe” Rachman.

Kecintaaan dirinya terhadap bidang literasi dan seni, dihadirkan dengan mendirikan sebuah ruang kolektif yang diberi nama Tanahindie pada tahun 1999. Selain itu, bersama beberapa kerabatnya di tahun 2008, ia mendirikan Kampung Buku, yang berfungsi sebagai sebuah perpustakaan sekaligus ruang arsip untuk berbagai macam referensi yang berkaitan dengan Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat.

Kampung Buku sendiri awalnya adalah perpustakaan internal milik Penerbit Ininnawa. Penambahan koleksi buku yang kian hari kian banyak, akhirnya membuat mereka membuka tempat ini secara umum. Selain itu, tersemat misi untuk terus mendukung minat baca yang besar bagi masyarakat luas. Sama seperti konsep perpustakaan pada umumnya, para pengunjung pun bisa membaca di tempat, atau bagi “warga” dapat membawa pulang ke rumah dengan syarat dan ketentuan yang berlaku. Penggunaan kata  “Warga” di sini sebagai sebutan khusus yang dipakai oleh Kampung Buku untuk para anggotanya,

Tercatat pengkaryaannya sebagai penulis pun ditandai dengan rilisnya beberapa buku seperti Hidup di Atas Patahan (Insist Press, 2012), Chambers: Makassar Urban Culture Identity (Chambers Celebes, 2013), dan banyak lagi tulisan lain yang bisa dicek satu per satu di berbagai portal berita digital. Tidak ketinggalan, Anwar Jimpe Rachman juga merupakan salah satu sosok yang paling berpengaruh dalam perhelatan Makassar Biennale.

 

Rak koleksi di Kampung Buku. (Arsip Kampung Buku)

 

Boleh jelaskan tentang Kampung Buku dan fungsinya bagi masyarakat sekitar?

Saya bersama beberapa kawan yang bekerja di Penerbit Ininnawa merintis Kampung Buku tahun 2008. Perpustakaan ini adalah kumpulan buku referensi yang dipakai untuk menunjang kerja-kerja penyuntingan di Penerbit Ininnawa. Di waktu yang bersamaan, kawan-kawan menjadikan tempat ini sebagai tempat nongkrong. Gabungan buku referensi dan buku sumbangan beberapa kawan ini mendorong kami mengubahnya menjadi perpustakaan publik. 

Perkembangannya kemudian dikelola oleh kawan-kawan Tanahindie, inisiatif pengkajian isu perkotaan. Fungsinya lalu berubah sesuai kebutuhan, antara lain [1] laboratorium bagi siapa yang tertarik kajian perkotaan atau seni rupa, dengan workshop meneliti dan menulis yang dilaksanakan berkala; [2] ruang arsip referensi yang berhubungan dengan Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, atau Indonesia Timur. Banyak kalangan seperti siswa/mahasiswa, jurnalis, peneliti, dan akademisi dari dalam dan luar negeri datang ke Kampung Buku untuk mencari literatur tentang Sulawesi atau lebih luas tentang Indonesia Timur. Apalagi karena Kampung Buku juga berfungsi sebagai toko buku; [3] ruang bersama Penerbit Ininnawa, Tanahindie, Makassar Biennale, ArtefactId, Quiqui (komunitas perajut), The Ribbing Studio, dan sesekali dipakai teman-teman dari komunitas lain; dan [4] perpustakaan dan tempat bermain bagi anak sekitar yang biasanya dipandu oleh anak saya, Isobel. Dia mengajak teman-temannya main dan belajar, mulai membaca komik, menggambar, juga pernah belajar masak bareng. 

Setiap orang memiliki kesan pertama terhadap apa yang dia gemari, dan kemudian terus menggeluti hal tersebut. Bagi Kak Jimpe sendiri, hal apa yang membuat ketertarikan terhadap literatur itu hadir?

Waktu mulai merintis jalan di dunia kepenulisan pada awal dekade 2000, saya dan teman-teman di Ininnawa sering bingung mencari referensi tentang Makassar atau Sulawesi Selatan, tempat kami hidup dan tumbuh. Ada, tapi tidak banyak. Sementara tahun-tahun itu yang tersedia dominan buku dari luar Sulawesi. Kami juga membacanya. Tapi kami kemudian sadar bahwa kami tak mengalami konteks yang diceritakan di buku-buku tersebut. Jadi kami mulai mengusahakan agar naskah-naskah tentang ‘hal yang paling dekat’ dengan kami juga perlu diterbitkan. Dan dari pelacakan, sebenarnya naskah-naskah itu ada. Hanya saja, masih dalam bahasa asing. Jadi kami di Ininnawa kemudian kami mulai bekerja menjembatani dengan para pembacanya dengan kerja terjemahan dan menerbitkannya. Belakangan saya dan teman-teman di Kampung Buku menjajal referensi yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari warga (vernakular), hal yang saya kira tidak kalah penting dibanding dengan hal-hal besar yang lain. 

Ada banyak cerita menarik yang membahas tentang sastra Bugis & Makassar klasik. Bagaimana perannya saat ini?

Sampai sekarang teks-teks seperti itu masih menjadi salah satu rujukan terpenting untuk penulisan yang berkaitan dengan apapun. Itu karena teks-teks itu mengandung pengetahuan dan praktik nenek moyang kita, yang sampai sekarang pun masih cocok dengan zaman, seperti ilmu dan praktik pertanian, pelayaran, aturan dagang, obatan-obatan, sampai ilmu persetubuhan (seperti yang pernah Ininnawa terbitkan). Teks-teks ini pun belum habis sama sekali untuk dipelajari. Menurut Hilmar Farid dalam satu sesi di Makassar Biennale 2019 lalu, belum cukup 50 persen dari kekayaan teks-teks kuno di Nusantara ini pernah dipelajari. Jadi kita semua masih berpeluang untuk membuka dan mempelajarinya. Bayangkan, ada harta karun yang masih menunggu kita yang hidup sekarang dan generasi yang akan datang datang dan menggalinya.

 

Aktivitas di Kampung Buku. (Arsip Kampung Buku)

 

Apakah ada korelasi khusus antara literatur dengan kehidupan bermasyarakat di Makassar secara khusus?

Khusus untuk anak muda di Makassar, hubungan kehidupan mereka sangat dekat dengan literatur. Menurut hasil penelitian Tanahindie pada 2015, geliat anak muda (termasuk model ekonomi yang mereka jalankan), mempunyai basis literatur yang kuat. Mengapa demikian? Kongsi, perkawanan, inisiatif, dan sejenisnya yang mereka bangun itu biasanya bermula dari komunitas. Sedang kita tahu, mungkin hampir seluruh komunitas di Makassar ketika dibangun, juga selalu mengikutkan satu piranti yang sepertinya ‘wajib’ ada, yakni perpustakaan.

Kak Jimpe dan kampung buku adalah pegiat lama di Makassar, bagaimana melihat kondisi kota itu sekarang? Terutama di bidang kreatifnya!

Menurut saya, perkembangannya makin menarik. Dunia literatur dan dunia musik kian berkelindan. Saling menopang. Pegiat literatur ingin melihat sesuatu dari sudut pandang musik, begitu juga sebaliknya. Orang-orang yang terang-terangan atau diam-diam menyokongnya pun begitu. Geliat seni rupa yang dulu agak senyap, juga mulai tumbuh. 

Banyak komunitas dan inisiatif tumbuh di Makassar dan sekitarnya mewadahi semua bentuk kreativitas. Dunia literatur sendiri berkembang pesat. Perpustakaan terus bertambah. Toko buku juga begitu—dan menariknya tidak hanya di kota besar tapi juga di kota-kota kabupaten, yang kelihatannya itu bentuk usaha untuk menopang inisiatif mereka menyediakan bacaan di perpustakaan warga. 

Bisa jabarkan 3 Hal paling menarik dari dunia literatur?

Literatur membantu kita berimajinasi tentang masa lalu, masa sekarang, dan masa mendatang. 

Literatur juga memungkinkan kita kenal dengan banyak orang, baik dengan menulis, bertukar buku, maupun lewat dialog. 

Literatur juga membantu kita membuat perubahan. Setidaknya di lingkungan terkecil seperti keluarga. Mewariskannya pada anak dan orang-orang terdekat itu sudah cukup. Saya percaya, perubahan terjadi dari yang kecil dulu. Kita mungkin sangat bisa melangkah lebih jauh. Tapi kalau belum mampu atau sedang capek, ya harus cepat ingat juga bahwa kita dianugerahi ‘hanya’ dua tangan yang panjangnya tak cukup semeter. 

 

 

Dewasa ini, bagaimana dengan kondisi minat baca orang-orang? Apakah semakin meningkat?

Kalau mengukur sepintas dari pembelian buku (fisik), saya berani bilang minat baca meningkat. Hasil obrolan saya dengan teman-teman yang menghidupkan beberapa toko buku di Makassar juga mengatakan hal yang sama. Dengan memperhatikan apa yang diupayakan teman-teman di Pustaka Bergerak juga menunjukkan hal yang sama. Distribusi buku dari banyak tempat ke titik dan jaringan Pustaka Bergerak menunjukkan bahwa minat baca sebenarnya selalu ada. Hanya akses terhadap buku yang memang terbatas karena keadaan geografis negara kita ‘kan. Tapi itu juga sudah mulai diretas dengan partisipasi warga yang besar untuk ikut membantu penyebaran bacaan ini.

Setiap tahunnya Makassar selalu mengadakan Makassar International Writers Festival, apakah generasi paramuda untuk dunia literatur di sana begitu pesat? Bagaimana Kak Jimpe melihatnya?

Keterlibatan anak muda di dunia literatur sangat besar. Buku juga mudah mempertemukan dan menumbuhkan jaringan antar daerah di Sulawesi Selatan karena di masing-masing tempat juga membangun perpustakaan. Sejak Kampung Buku dirintis 2008 lalu, banyak teman-teman muda dari daerah lain yang datang menceritakan rencana mereka membangun perpustakaan. Kalau mereka pulang, biasanya beberapa buku dari Kampung Buku dibawa untuk dibaca atau kami bantu juga kumpulkan untuk kemudian dikirim ke mereka yang sedang merintis perpustakaan. 

Oh ya, bagaimana tentang Ininnawa? Apakah masih berjalan sebagai penerbit?

Masih dan Insya Allah selalu jalan. Sejak dirintis tahun 2004 tentu ada pasang surutnya, tapi semangatnya tetap! 

Tahun 2020 dan 2021 ini adalah tahun yang cukup sibuk dibanding tahun-tahun sebelumnya karena beberapa naskah penting tentang Sulawesi Selatan yang diterjemahkan siap diterbitkan. Juga salah satu buku penting yang selalu dicari banyak peneliti berjudul Manusia Bugis (terjemahan dari The Bugis, karya Christian Pelras) baru-baru ini kami sudah peroleh izinnya dari ahli waris mendiang penulisnya. 

Apa latar belakang yang membuat lahirnya penerbit ini?

Penerbit Ininnawa lahir sebagai berupaya menjembatani hasil kajian para peneliti dalam negeri dan luar negeri baik dari segi bahasa maupun dari segi kemudahan akses.

Bagaimana melihat keterkaitan antara musik dan literasi?

Karya musik yang melegenda adalah karya yang beramunisi literatur yang melimpah. Karya-karya yang melegenda, dengan sekadar mengambil contoh, karya-karya Iwan Fals terus dinyanyikan oleh banyak orang? Ya karena liriknya yang kuat, menceritakan banyak hal yang sampai sekarang masih ngonteks. Di beberapa lagunya, musiknya “sederhana” saja dibanding lagu lain. Tapi karena ditarik oleh liriknya, ya daya dobraknya menjadi besar. Beberapa karya-karya musikus sekarang juga menarik karena juga punya spirit dan berupaya yang sama. Larik-larik liriknya menarik. Percobaan musiknya juga begitu.

 

Arsip Bunyi Kota: 100 Tahun Musik Populer Makassar. (Jimpe)

 

Tentang Bunyi Kota yang hadir di penghujung tahun kemarin. Bisa ceritakan alasan di balik keinginan membuat dokumenter itu?

Bunyi Kota: 100 Tahun Musik Populer Makassar adalah salah satu bab dari buku tentang Rock In Celebes yang saya susun dan sekarang sudah memasuki tahap akhir. Awalnya, rencana saya dengan tim di Tanahindie, bukan dokumenter seperti Bunyi Kota seperti sekarang. Awalnya mau pendek saja, paling banter 10 menit. Tapi setelah mendapat banyak data dari berbagai referensi dan berkesempatan juga mengakses beberapa arsip di Lokananta, Museum Musik Malang, dan Badan Arsip Nasional di Jakarta, ya kemudian jadilah Bunyi Kota itu.

Selain Bunyi Kota, saat ini sedang mengerjakan proyek apalagi?

Cuma sibuk di Penerbit dan bantu teman-teman di Tanahindie. Mereka sedang memulai program MemoDapur, penelitian kota yang menjadikan dapur sebagai pintu masuknya. Mereka juga sedang menjaga inisiatif menulis dan mengarsip mereka di situs artefact.id.

Oh ya, saat ini kondisi seluruh dunia sedang tidak baik-baik saja. Wabah tak kunjung reda penyebarannya. Tentu saja peran banyak orang sangat diperlukan. Bagi Kak Jimpe dan Kampung buku, peran seperti apa yang sebaiknya dilakukan masyarakat khususnya komunitas?

Selama pandemi, kita lihat sendiri komunitas banyak bergerak. Dalam bencana jenisnya apapun, komunitas selalu duluan bergerak. Mereka tidak bergantung pada inisiatif dan kerja pemerintah. Mereka saling bagi informasi tentang apapun. Yang kelihatan juga bahwa jaringan komunitas juga membantu distribusi sumbangan APD (Alat Perlindungan Diri) dari luar. Saya kira itu gampang dikerjakan komunitas karena mereka juga punya data tentang siapa yang berhak, baik data statistik maupun berdasarkan laporan dari kawan jaringan mereka maupun pengamatan sehari-hari mereka terhadap tetangga sekitar.

Adakah visi misi personal dari Kak Jimpe dalam menjalankan Kampung Buku? 

Buat mengisi waktu. Kalau capek kerja di penerbit, ya baca-baca buku kesukaan sambil ngopi. Jadi tempat saya ‘belajar kelompok’ dengan teman-teman. Setelah punya anak, ya semoga bisa saya wariskan ke anak saya (karena saya tidak punya harta) atau teman-teman saya, atau siapa pun yang mau melanjutkannya kelak. 

 

Teks: Adjust Purwatama
Visual: Arsip dari Kampung Buku

Refleksikan Sejarah Lewat Seni, Pameran "Daulat dan Ikhtiar" Resmi Digelar

Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta mengadakan sebuah pameran temporer bertajuk “Daulat dan Ikhtiar: Memaknai Serangan Umum 1 Maret 1949 Melalui Seni”. Pameran ini sendiri akan mengambil waktu satu bulan pelaksanaan, yakni...

Keep Reading

Ramaikan Fraksi Epos, Kolektif Seni YaPs Gelar Pameran Neodalan: Tilem Kesange

Seni tetap menjadi salah satu jawaban untuk menghidupkan dan menghangatkan kembali keadaan di masa pandemi. Untuk itu dengan gerakan gotong royong dalam ruang seni baur Fraksi Epos mengajak kolektif seni...

Keep Reading

Nada Siasat: Pekan Pertama Februari

Sampailah kita di penghujung pekan pertama bulan Februari. Harapan-harapan terus tumbuh di tengah situasi yang belum membaik sepenuhnya. Meskipun situasi masih belum jauh berbeda dengan hari-hari sebelumnya, namun para musisi...

Keep Reading

Seniman Roby Dwi Antono Gelar Tiga Pameran Sekaligus di Jepang

Seniman Indonesia yang satu ini memang kerap membuat pameran di luar negeri. Lewat karya-karyanya yang memukau, nama Roby Dwi Antono kian dikenal oleh para pelaku mau pun kolektor seni Internasional....

Keep Reading