Anggun Priambodo Bermain-main Monopoli

Melalui pameran Monopoli Wijaya, seniman Anggun Priambodo menggunakan sifat universal yang dimiliki papan permainan Monopoli untuk mengeksplorasi nilai dan fungsi kemanusiaan dalam kehidupan modern sehari-hari. Hasilnya adalah presentasi yang khas Anggun Priambodo: memiliki unsur kelakar namun menyimpan makna kesadaran akan lingkup kehidupan yang idiosinkratis dan mendalam. Dilangsungkan di Sunset Limited, creative space yang sempat menghilang dan baru akan kembali dibuka di lokasi Grand Wijaya Center, Jakarta Selatan, Anggun Priambodo membuat papan monopoli versinya sendiri. Semua bidak, petak, dan kartu yang ditawarkan pun memiliki personifikasi unik karena dibuat berdasarkan detil-detil nyata yang berada disekitar wilayah Wijaya — mulai dari toko-toko, serta tempat dan relaksasi serta restoran disana, seperti Burgreens, Tujuhari Coffee, dan Warung Sekar Taji. Serunya, sebagai rekan dalam pameran, vendor-vendor tersebut akan memberikan voucher pembelian yang dapat dimenangkan melalui kartu-kartu yang didapat saat bermain Monopoli Wijaya.

Hadir juga stasiun MRT Blok A dan Blok M, terminal bis Blok M, dan pangkalan ojol disekitarnya. Detil-detil ini memberikan kesan familiar yang membuat memainkan Monopoli Wijaya menjadi sebuah avontur yang luar biasa khas. Selain karena posisinya sebagai lokasi baru Sunset Limited, Wijaya Center memiliki nilai historis sendiri bagi Anggun. “Gue sering sekali main ke Grand Wijaya Center sebelum bioskop disana dirubuhkan,” ingatnya. Pengunaan papan permainan monopoli pun berakar dari kedekatannya pada kehidupan personal Anggun khususnya pada era pandemi ini.

“Gue jadi sering main monopoli game board karena banyak waktu dirumah yang bisa diisi kegiatan dengan orang-orang terdekat,” sebutnya. Namun bukan hanya alasan praktis tersebut yang menjadi dasar konsepsi pameran Monopoli Wijaya, namun sesuatu yang lebih instrinsik dan humanis yang dirindukan oleh Anggun – sentuhan personal yang ter-disintegrasi di saat ini. Sebagai seorang seniman yang telah terlibat dalam puluhan eksibisi seni, komunikasi langsung antara karya yang dipajang dengan manusia yang melihatnya adalah dasar nilai dari karya itu sendiri; meng-elevasi fungsinya dari sebuah pandangan singular menjadi medium komunikasi yang luas fungsian nilainya.

“Semua pameran sekarang dilakukan online, dan gue tidak sreg dengan itu. Secara tidak langsung, permainan monopoli Wijaya yang harus dimainkan secara fisik ini, dengan partisipan yang diundang dan harus duduk untuk memainkannya, membalas kerinduan akan pertemuan yang nyata dan tidak online,” jelas Anggun. Pemikiran tersebut mendasari keseruan Anggun dalam menerima undangan dari pihak Sunset Limited untuk melakukan pameran fisik di lokasi baru mereka, sekaligus untuk merayakan kembalinya creative space tersebut di arena kreatif tanah air.

“Kita excited karena pameran Anggun ini banyak merespon situasi saat pandemi ini, dimana orang-orang yang biasanya memilih untuk tetap di rumah akan diajak keluar main walaupun dalam protokol kesehatan yang semaksimal mungkin,” jelas Fandy Susanto, yang memiliki dan menjalankan Sunset Limited.

Pameran ini akan menyediakan 1 buah papan monopoli yang dapat dimainkan oleh maksimal 6 orang, dengan sistem reservasi (informasi reservasi dibawah). Bagi Anggun, pameran Monopoli Wijaya adalah kesempatannya untuk menawarkan observasi yang realistis melalui medium yang mengundang keseruan dan rasa ingin tahu sebuah pendalaman akan “kehidupan modern, dimana jual beli properti, uang, sistem pembayaran, psikologi, sifat dasar manusianya, saling berhubungan dan saling mempengaruhi.”

Lahir di Trenggalek, Jawa Timur, 16 Mei 1977, Anggun adalah sutradara film dan perupa lulusan Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta. Karya filem dan videonya telah diputar di beberapa festival di dalam dan luar negeri, di samping sejak 2002 karya-karya seni rupanya telah dipresentasikan di berbagai even seni rupa kontemporer nasional dan internasional. Karya-karya video Anggun seringkali mengolah aspek-aspek parodi yang umum terjadi di masyarakat terkait dengan fenomena sosial budaya media. Ia juga terbiasa menjadikan dirinya sendiri sebagai model sehingga parodi yang diusungnya bisa memunculkan realitas ironi seputar teknologi, komunikasi, dan pandangan publik.

Teks: Marcel Thee
Visual: Arsip dari Sunset Limited

Fragmen Keinginan sheisjo di Nomor "OOE"

Solis asal Jakarta Chika Putri Bagaskara dengan moniker sheisjo telah melepas materi lagu berikutnya yang bertajuk “OOE” (15/08). Sedikit berbeda dari tiga single sebelumnya yang memiliki sound acoustic, “OOE” diracik...

Keep Reading

Inspirasi Film di Materi Teranyar Eastcape

Tahun 2021 lalu menjadi tahun yang bisa dibilang ‘manis’ bagi Eastcape karena di tahun tersebut mereka resmi memperkenalkan dirinya di kancah industri musik dengan menelurkan sebuah single dan Split EP...

Keep Reading

Bersama Ello dan Virzha, Dewa19 Rilis Ulang Materi Lama "Still I’m Sure We’ll Love Again"

Dewa19 melanjutkan perilisan karya-karya lama mereka dalam format baru. Kali ini, mereka merilis “Still I’m Sure We’ll Love Again”, sebuah lagu dari album Format Masa Depan yang aslinya menampilkan vokal...

Keep Reading

Langkah Berikutnya dari Bilal Indrajaya

Usai melepas beberapa materi singel dan album mini Purnama (2019) solis dari Jakarta, Bilal Indrajaya, akhirnya melanjutkan perjalanannya dengan meluncurkan karya terbarunya bertajuk “Saujana” lewat label rekaman legendaris yang kini...

Keep Reading