Amiri Baraka dan Marka Estetika Seni Bangsa Kulit Hitam

Bagi bangsa kulit hitam, seni bukan sekadar ekspresi kultural semata, lebih jauh dari itu seni baginya adalah sebuah pernyataan identitas dan ekspresi spiritualitas.  Hampir semua  seniman, entah itu penyair ataupun musisi kulit hitam selalu menyelipkan realitas yang menyelimuti kehidupan mereka, terlebih selingkar perjuangannya dalam  pengakuan diri secara hukum maupun kesetaraan dalam hak-hak sipil lainnya, dimanapun itu. Bahkan di tanah kelahirannya sendiri, Afrika –beberapa dekade silam –atau sampai hari ini? 

Imamu Amiri Baraka terlahir dengan nama Everett LeRoi Jones, seorang Afro Amerika yang kemudian hari namanya akan selalu dikenang sebagai marka estetika seni radikal orang kulit hitam. Ia lahir di Newark, New Jersey, AS pada tanggal 7 Oktober 1934. Universitas Rudgers adalah awal dari perjalanan intelektualnya, namun kemudian ia pindah ke Univesitas Howard dan berhasil memperoleh gelar BA dalam Sastra Inggris.

Amiri Baraka pidato

Sastra dan Aktivisme

Perjumpaannya dengan pelbagai penyair avant-garde Amerika, mengantarkan Baraka pada sejumlah gagasan dan peristiwa yang monumental. Setelah dipecat  secara tidak hormat dari Angkatan Udara AS, ia pergi ke Greenwich Village dan bekerja di sebuah gudang rekaman. Selain kian menambah minatnya pada musik Jazz, pada waktu yang sama ia dipertemukan dengan beberapa tokoh sastra pada masa itu, salah satunya adalah Allen Ginsberg –nabi suatu kaum bernama Beat Generation. Didukung dengan latar belakang pendidikan Baraka sebagai sarjana sastra Inggris, minatnya pada penciptaan karya sastra pun kian menggeliat.     

Pada tahun 1961, ia menerbitkan buku kumpulan puisi pertamanya yang berjudul ‘Twenty Volume Suicide Note’. Buku tersebut mendapat ulasan baik dari para kritikus Sastra.

Seiring dengan perjalanan karirnya di dunia Sastra, kesadaran kelas sosialnya pun semakin tajam. Ia membuat karya-karya yang bersifat kritik sosial. Baraka dikenal sebagai penyair dan musisi berhaluan kiri. Tak jarang dalam beberapa artikel namanya selalu disandingkan dengan istilah Komunis. Istilah ini tentu tak muncul begitu saja, mengingat Baraka adalah seorang pendukung rezim Fidel Castro, bahkan pada tahun 1959 ia mengunjungi Kuba sebagai bentuk dukungannya.  

Selain dalam dunia sastra, Baraka pun turut berkontribusi pada perkembangan seni peran. Tahun 1965 ia mendirikan Black Arts Repertory Theatre/School di Harlem. Ia turut menuangkan pula kritik sosialnya ke dalam bentuk drama yang ia buat. Di tempat dan waktu yang sama, ditandai dengan kematian Malcolm X, ia sepenuhnya menjadi seorang nasionalis radikal hitam. Membuat karya-karya seni yang sepenuhnya mengeksplorasi tradisi dan budaya orang kulit hitam. Di tahun yang sama ia pun mengganti namanya dari Everett LeRoi Jones menjadi Imamu Amiri Baraka dan masuk agama Islam.

Amiri Baraka

Free Jazz ala Baraka. Avant-garde?

Sedikit ceroboh memang menyelipkan diksi ‘avant-garde’ pada judul dan sub-judul tulisan ini. Karena menurut Dieter Mack, ketika seseorang menganggap sesuatu sebagai avant-garde, biasanya pengetahuannya memang baru sampai situ. Berbekal pengetahuan yang memang baru sampai situ dan atensi berlebihan ketika mendengar musik Amiri Baraka, agaknya boleh lah saya menggunakan diksi ini. Meskipun kesulitan dalam mengklasifikasikan jenis musik yang dibikin Baraka adalah persoalan lain.

Seperti yang biasa kita dengar atau kenal, musik Jazz biasanya mengalun dengan perlahan, dengan irama musik yang menghanyutkan emosi macam orgasme. Namun musik Amiri Baraka bukan musik yang mengalun perlahan nan sendu macam itu. Ada kemarahan dan emosi mendalam dibaliknya. Jika kita hanya mengenal Jazz dari kelihaian musisinya memainkan instrument musik, Amiri Baraka mencengkram Jazz dengan kelihaiannya menyusun kata-kata –jika diksi membacot terlalu kasar- yang nyaris seperti orator militan yang sedang mencecar penguasa diatas podium. 

Ketertarikan Baraka akan musik Jazz kian berkembang setelah ia dipecat secara tidak hormat di Angkatan Udara AS, karena hal sepele –komandannya mendapat laporan bahwa Baraka adalah seorang Komunis, diikuti dengan ditemukannya pelbagai literatur tentang Soviet yang dimiliki Baraka. Setelah dipecat, ia pindah ke Greenwich Village dan bekerja disebuah gudang rekaman, pada waktu yang sama ia banyak bertemu dengan para penyair Black Mountain avant-garde dan penyair New York School. Pengalaman inilah yang kemudian membentuk gagasan-gagasan Baraka seputar kesenian dan merespon segala bentuk tindak rasisme yang terjadi di Amerika.

Bentuk Jazz yang dibawakan Baraka lebih menyerupai sebuah talkin. Puisiya yang kuat mencengkram ritme musik dan mengikutinya. Jenis musik macam ini mungkin bisa kita temui juga dibeberapa nomor karya musisi jazz kenamaan, seperti Charles Mingus  di lagu The Clown atau di lagu Step Right Now milik si musisi ajaib Tom Waits. Namun apa yang membedakan Baraka dengan bentuk-bentuk musik yang serupa?

Kelebihannya terletak pada keliaran ia mengolah kata-kata, suatu hal yang rumit dapat ia sampaikan dengan bahasa yang sederhana nan abstrak. Penggunaan instrumen yang minimal pun turut mempegaruhi otentisitas karyanya. Tak jarang lagu-lagu Baraka hanya diikuti oleh perkusi saja, saxophon saja. Ia menjadi pelopor dalam bentuk musiknya yang seperti itu. Yang tak kalah penting, Baraka menghidupkan denyut nadi bangsa kulit hitam.

Latar belakangnya sebagai penyair memang sangat mempengaruhi bentuk musiknya. Terlebih dalam keterlibatannya pada gerakan sastra avant-garde di Amerika. Selain sebagai musisi setengah penyair, tak hanya teknis musiknya saja yang memukau. Namun ia pun tercatat sebagai intelektual dibidang musik. Beberapa buku tentang musik pernah ia tulis. Salah satunya adalah buku berjudul Blues People yang terbit pada tahun 1967. Buku tersebut merangkum kronik gerakan musik ras kulit hitam, dari sistem perbudakan menuju blues  dan jazz, dan sub-genre lainnya.  

Vinyl Album It's Nation Time karya Amiri Baraka

Album Monumental It’s Nation Time

Ketika bangsa kulit hitam terpolarisasi dengan tanah dan tradisi kulit putih di Amerika, agaknya persoalan identitas menjadi suatu hal yang perlu untuk dipertanyakan dan diperjuangkan. Hal ini menjadi pokok  bahasan dalam Congres of African People (CAP) yang dilaksanakan pada 1970 di Atlanta. Tentang penentuan nasib sendiri dan menciptakan badan pemerintahan untuk mewujudkan cita-cita dan gagasan-gagasan bangsa kulit hitam. Namun angan-angan tersebut terbentur pada pertanyaan yang sulit untuk dipecahkan: dimana bangsa seperti itu akan tinggal?  Apakah mungkin orang-orang kulit hitam yang tersebar secara geografis membentuk sebuah bangsa?

Bagi Baraka –yang mengikuti kongres tersebut, konsep bangsa mungkin lebih merujuk kepada plastisitas atau penyesuaian kondisi dengan dimana mereka berada. Seketika konsep semacam itu lebih mirip dengan konsep-konsep yang kemukakan oleh Ben Anderson dalam “Imagined Communities”. Ben mendefinisikan negara sebagai ‘komunitas politik yang terbayangkan -dan dibayangkan secara inheren terbatas dan berdaulat’. Komunitas seperti itu dibayangkan ‘karena anggota bahkan dari negara terkecil tidak akan pernah tahu sebagian besar anggota-anggota mereka, bertemu dengan mereka, atau bahkan mendengar tentang mereka, namun dalam benak masing-masing tergambar secara hidup persekutuan mereka’.

Amiri Baraka merespon peristiwa dan cita-cita tersebut dengan sebuah karya musik. Ia merekam album penuh yang bertajuk It’s Nation Time yang dirilis oleh label Black Forum Motown pada tahun 1972. Abum ini menjadi  semacam marka dan dokumen penting tentang semangat ide-ide yang dicetuskan oleh Black Nationalist. Pada liner notes album, secara tegas ia menyatakan “This recording is an institution”. Mungkin bukan hanya semangatnya  saja yang ia tuangkan ke dalam album tersebut, namun bentang suara bangsa Afrika juga sangat kentara dalam album itu. Ia merapalkan puisinya diatas irama drum Afrika, Free Jazz dan R&B yang sudah menjadi identitas estetika seni bangsa kulit hitam. Dengan karyanya, Amiri Baraka telah menciptakan bangsa dan negaranya sendiri secara imajinatif. Dan tak terbantahkan, album ini memang menyerupai sebuah institusi. Membangun negara dalam karya bisa saja terjadi bukan?

It’s Nation Time merupakan sebuah permulaan yang sempurna untuk menyampaikan ide dan gagasan tentang bagaimana pola estetika dan ideologi Baraka tersampaikan ke khalayak luas. Album ini cukup merepresentasikan tentang bagaimana Baraka membayangkan musik, seni dan budaya  itu sendiri sebagai refleksi dari bangsanya (ras kulit hitam) dan juga sebagai alat untuk mengaktivasi kesadaran kolektif dalam semangat mendefiniskan ulang sebuah bangsa yang tercerabut dari akarnya.

Teks: Dicki Lukmana
Visual: Arsip dari Berbagai Sumber

Kolaborasi Semiotika Dan Iga Masardi

Menggunakan moniker Sagas Midair, Iga Massardi yang merupakan gitaris sekaligus vokalis grup Barasuara merilis single kolaborasi bersama Semiotika, unit Instrumental Rock dari Jambi. Diberi tajuk Iskaashi, rencananya single ini akan...

Keep Reading

Nyala Api Dari Angkatan Baru Hip-Hop Jakarta

Berawal dari hal yang tidak direncanakan, La Munai Records, label rekaman Jakarta, Pesona Experience dan Bureau Mantis kolektif dan manajemen musik dari kota yang sama akhirnya menemui kesepakatan untuk merilis...

Keep Reading

Plvmb Memulai Debut Dengan Blue

Bandung kembali memiliki kuintet indiepop yang terdiri dari Vina Anesti (Vokalis), Azka Aulia Rachman (Bass), Diaz Febryan (Drum), Salman Wahid Putra Kamaludin (Gitar), Irfan Zahid Abdussallam  (Gitar). Mereka tergabung ke...

Keep Reading

Superglad Yang Kembali Melangkah

Superglad adalah band yang namanya tidak perlu lagi dipertanyakan di kancah musik tanah air. Setelah diterpa berbagai permasalahan yang sempat terjadi di dalam tubuh mereka, band yang terbentuk sejak tahun...

Keep Reading