Amenkcoy: Eksperimen Artistik di Tiap Karya

Hambar rasanya jika berbicara menyoal seni rupa yang berbasis di jalanan tanpa melibatkan nama Amenkcoy. Ya, Mufti Priyanka atau yang lebih dikenal dengan nama Amenkcoy ini kerap menjadi pembicaraan dikalangan para pegiat seni rupa, khususnya di Bandung, tempat ia bermukim. Lewat karya-karyanya yang terkesan slebor, sosok Amenk kerap mendapat perhatian lebih. Kelindan antara kepiawaiannya mengolah isu sosial menjadi karya visual -yang tak jarang nakal dan satir- dengan dibubuhi teks yang cenderung puitis menjadi ciri khas penting dalam tiap karya yang ia buat.

Subversif dengan kemasan humor yang pahit, agaknya adalah kalimat yang cukup merepresentasikan ilustrasinya yang khas. Karyanya pun tersebar di mana-mana, mulai dari merchandise band, kover album, poster gigs, tembok jalanan,  zine, dan lain sebagainya. Cukup mudah  untuk mengenali bagaimana bentuk karyanya, goresan tinta cina, bubuhan teks dengan memvisualkan sejoli bercinta, polisi, dan peristiwa apapun yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Karyanya tak jarang mengundang gelak tawa, namun di lain sisi karyanya pun bisa menjadi medium untuk kita mengenali pahitnya kehidupan sosial sehari-hari yang jarang terekspose dipermukaan.

Selain bergiat di bidang seni rupa, Amenk pun kini sedang disibukkan dengan aktivitas akademiknya, yakni mengajar di salah satu universitas yang ada di kota Bandung sekaligus kini ia sedang menggarap tugas akhir untuk jenjang pedidikannya di strata kedua.

Amenk dikenal juga sebagai zine maker dengan medianya bernama Sleborz. Tak cukup di sana, pergulatannya di dunia visual rupanya menjadi jembatan untuk ia menjelajahi ranah lain, salah satunya musik, sosoknya pun lekat sebagai pembetot bass A Stone A, unit musik eksperimental asal kota Bandung yang selalu membuat penasaran banyak orang.

Dengan mengajak lebih dari 30 Seniman, termasuk Amenkcoy. Tahun ini PLAYFEST bersama Siasat Partikelir dan UVisual menciptakan sebuah ART GALLERY dengan format 360 Virtual Exhibition, dan akan menjadi wadah untuk para seniman visual agar bisa berpameran di tengah kondisi seperti ini. Di tengah masih berlakunya physical distancing di seluruh dunia yang terdampak Covid-19, banyak museum dan kegiatan seni yang dengan terpaksa menutup segala aktivitasnya dari keramaian. Hal itu juga berlaku di sini. Kondisi saat ini dengan segala keterbatasannya memang butuh perhatian khusus, dan memberikan tantangan tersendiri bagi para pelaku seni di seluruh dunia, begitu pula yang dirasakan oleh mereka yang ada di Indonesia.

Berangkat dari rasa penasaran akan sepak terjangnya pada ranah seni rupa dan aktivitasnya yang lain, terlebih dalam  kondisi pandemi yang tak berkesudahan ini memacu kami untuk melakukan sebuah sesi wawancara. Berikut adalah hasil dari obrolan kami dengan Amenk. Silahkan disimak.

Sejak kapan mulai serius menekuni dunia seni rupa?

Sekitar tahun 2006 – 2007 mulai mencoba intens berkarya disamping bekerja menjadi Graphics Designer.

Selama pandemi aktivitas apa saja yang sedang dijalani dan bagaimana cara beradaptasinya?

Kebetulan pada masa pandemi saya sedang progres merampungkan agenda kegiatan akademis Strata 2 berupa Tugas Akhir. Kebanyakan disekitar membuat karya Tugas Akhir, merancang tulisan pengantarnya dan melakukan bimbingan terpadu bersama Dosen Pembimbing. Kesulitannya cenderung bersifat teknis: misalnya mencari bahan berkarya dan melakukan bimbingan bersama dosen pembimbing namun cara beradaptasi dengan segala ­kondisi terbatas ini saya  melakukannya dengan pertimbangan protokol kesehatan bila keluar rumah sekaligus sebisa mungkin menghindari kerumunan.

Nama Amenk lekat dengan seni jalanan. Sejak kapan memulai vandal atau mengaktivasi tembok jalanan dengan karya?

Sebetulnya saya tidak berada di wilayah pendekatan teknis vandalisme pada awal karir saya. Aktivasi saya ditembok jalanan merupakan media alternatif saja, itu pun tetap dengan kondisi yang resmi/legal karena memang kondisinya diakomodir mempunyai konsep tertentu.

(GELINJANG NEUROTIK DJIWO SLEBORZ {Sea+ Triennale, Jakarta 2013} Mix Media on Site Spesific Dimension)

Karya Amenkcoy identik dengan visual yang dibubuhi teks. Apakah teks tersebut hanya
kebutuhan estetika semata atau memang ada maksud lain di baliknya –agar lebih eksplisit misal?

Kehadiran teks disitu awalnya bisa disebut eksperimen artistik. Di dalamnya tidak harus menjabarkan keseluruhan ilustrasi gambar yang saya buat, tetapi terkadang saya hadirkan dengan pendekatan bahasa-bahasa metafor cenderung puitis. Di sisi lain bisa dikelola dan dihadirkan secara gamblang dan harfiah sekalipun agar tersirat lebih ekspresif.

Selain sebagai perupa, Amenk juga dikenal sebagai Zine Maker. Apakah saat ini media dengan
format Zine masih relevan?

Masih relevan saya rasa. Keotentikan zine ialah bertumpu pada fisiknya yang diserupakan dengan buku/mini magz. Zine merupakan sebuah media alternatif bagi saya pribadi, ia sarana eksperimen dikala media lainnya (Pameran, Website, Sosial Media dll.) tidak dapat mewadahi aspirasi saya berkarya secara “bebas”. Ia tidak berdiri dengan koridor ketentuan apapun, kita sebagai seniman dapat sangat leluasa mengeksplorasi kemungkinan “ruang” yang ada didalam zine.

Amenk kerap merespon isu sosial maupun politik secara kritis dengan gaya-gaya yang slebor nan
satir dalam karyanya. Adakah tujuan tertentu di baliknya
?

Tujuannya ialah mengekspresikan kegelisahan, memberikan aspirasi dan sekaligus menjadi refleksi pada diri sendiri dimana saya begitu sadar ada didalam lingkaran dinamika kehidupan sosial manusia itu sendiri.

A Stone A kapan lagi nih manggung?

Wah, entah kapan yah… hahahah

Menurut Amenk sejauh mana hubungan musik dan seni rupa?

Tidak jauh, hubungannya bisa dikatakan sangat dekat. Satu sama lain bisa menjadi wadah ekspresi tersendiri yang mempunyai kekuatan “bersuara” masing-masing.

Amenkcoy juga seorang pengajar di salah satu universitas di Bandung ya. Bagaimana anda
membagi waktu antara profesi dan hobi? Atau barangkali anda lebih memilih aktivitas seni rupa
sebagai profesi utama?

Menjadi pengajar ialah sebuah pekerjaan yang didalamnya mempertaruhkan kredibilitas kita sebagai civitas akademis. Oleh karena itu saya selalu memisahkan kepentingannya dengan kegiatan profesi sebagai Seniman atau pun ranah hobi sekalipun. Kalo diminta untuk memilih salah satu profesi dari itu semua, saya cenderung akan memilih aktivitas sebagai Seniman karena bagi saya lingkup spektrum pekerjaannya bisa sangat berkaitan luas dan bisa banyak menyentuh pada aspek-aspek kebutuhan manusia.

Amenkcoy jadi salah satu seniman yang diundang dalam eksibisi Playfest 2020. Ada bocoran
karya semacam apa yang nanti akan ditampilkan?

Gak terlalu aneh sih hehehe

kebetulan saya memajang karya Drawing saya terdahulu. Tetap masih menggunakan media dan teknis seperti biasa.

Bagaimana pandangan anda dengan eksibisi yang dilakukan secara virtual, terlebih dalam kondisi
pandemi seperti saat ini?

Eksibisi virtual ditengah masa pandemi sekarang ini tidak begitu efektif bagi saya. Eksibisi itu merupakan sarana bertemu langsung antara hasil kreatif seorang seniman dan para apresiator yang melakukan kegiatan apresiasi. Bila dilakukan secara Virtual/Maya kecenderungan kedekatan karya seniman dan apresiator itu menjadi berjarak, hakikat untuk menikmatinya secara langsung sedikit hilang.

Ada project apa selanjutnya?

Sidang tugas akhir S2, itu saja hehehe :))

Teks: Dicki Lukmana
Visual: Arsip dari Amenkcoy

Refleksikan Sejarah Lewat Seni, Pameran "Daulat dan Ikhtiar" Resmi Digelar

Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta mengadakan sebuah pameran temporer bertajuk “Daulat dan Ikhtiar: Memaknai Serangan Umum 1 Maret 1949 Melalui Seni”. Pameran ini sendiri akan mengambil waktu satu bulan pelaksanaan, yakni...

Keep Reading

Ramaikan Fraksi Epos, Kolektif Seni YaPs Gelar Pameran Neodalan: Tilem Kesange

Seni tetap menjadi salah satu jawaban untuk menghidupkan dan menghangatkan kembali keadaan di masa pandemi. Untuk itu dengan gerakan gotong royong dalam ruang seni baur Fraksi Epos mengajak kolektif seni...

Keep Reading

Nada Siasat: Pekan Pertama Februari

Sampailah kita di penghujung pekan pertama bulan Februari. Harapan-harapan terus tumbuh di tengah situasi yang belum membaik sepenuhnya. Meskipun situasi masih belum jauh berbeda dengan hari-hari sebelumnya, namun para musisi...

Keep Reading

Seniman Roby Dwi Antono Gelar Tiga Pameran Sekaligus di Jepang

Seniman Indonesia yang satu ini memang kerap membuat pameran di luar negeri. Lewat karya-karyanya yang memukau, nama Roby Dwi Antono kian dikenal oleh para pelaku mau pun kolektor seni Internasional....

Keep Reading