Pringsewu Movement edisi #3 sukses digelar, mengusung tema ALL OF US, ada harapan yang disematkan di dalamnya. Yaitu menjadi kolektif bagi seluruh lapisan masyarakat. Dengan tetap mengusung root yang sama, yakni kolektif saling dukung-mendukung antar lapisan penggerak industri kreatif yang ada di Kabupaten Pringsewu.

Kabupaten Pringsewu sendiri merupakan satelit dari kota Bandar Lampung (1 jam dari kota Bandar Lampung). Daerah ini masih tumbuh dan berkembang, begitu juga dengan pergerakan-pergerakan kolektif yang ada. Pringsewu Movement hadir sebagai wadah bagi siapa saja yang memiliki visi yang sama, yakni bangga akan tempat kelahiran dan mau bergerak secara sukarela tanpa pengecualian apapun.

Kembali lagi ke All Of Us, kegiatan ini merupakan rangkaian ketiga dari periode sebelumnya yakni Hometown Pride pada 2015 silam, dan Local Pride pada periode 2018 dan All Of Us pada 2019 ini. Bukan sekedar acara biasa, tapi lebih ke spirit kebersamaan antar lapisan masyarakat yang menciptakan ekosistem yang fair, yang saling bahu membahu mengangkat kota kelahiran kami agar lebih dikenal ke segala penjuru negeri melalui gagasan-gagasan yang baru.

Gelaran All of Us ini dibuka oleh dua band bergenre beda yaitu, Krusial (hardcore) dan Hearbreakmachine (metalcore) yang mampu membuat suasana menjadi lebih bersemangat. Sembari menikmati sajian barbeque yang sudah ada, penonton dibuat agak sedikit bernostalgia bersama band Mimpi. All of Us menjadi panggung perdana Mimpi, setelah 16 tahun lamanya mereka vakum. Selain penampil musik,  juga ada beberapa bentukan kolaborasi antara Lampung Menulis bersama Komunitas Pecinta Photography Pringsewu. Mereka menyuguhkan konsep foto dan kaligrafi menjadi satu.

Angin malam sedikit kencang, suasana bertambah syahdu dengan adanya alunan lagu-lagu merdu dari Grub Sebelah dan Phyla Project, yang membawa penonton hanyut ke dalam irama senja, hujan dan kebahagiaan. Baru rehat sejenak, emosi penonton dibawa naik turun ketika Alaskaeight membawakan alunan nada-nada yang bermakna, band Post-rock ini berhasil membius penonton dan membawa penonton ke alam bawah sadarnya masing-masing. Sembari menunggu sang Bintang Fajar datang, penonton juga disuguhkan kolaborasi visual mapping antara Muskratov berserta JJ.STD yang memberikan pengalaman baru di kota kami.

Saatnya tiba, hal yang tidak di duga datang. Para lelaki paruh baya dan renta, perlahan bersiap dengan alat musiknya masing-masing. Penonton merapat, dan siapa sangka sang Bintang Fajar menunjukkan taringnya. Band keroncong yang sudah hampir 40 tahunan ini, eksis kembali, di tanah kelahiran kami. Semetal-metalnya kami, pada akhirnya hanyut juga lewat alunan tembang merdu keroncong lawas yang untuk pertama kalinya kita nikmati, sedih kita nikmati dengan riang gembira.

Dan gelaran ini di tutup oleh irama Lo-Fi dari Dubmuffin yang menandakan kita harus kembali kerumah masing-masing, untuk cuci muka gosok gigi dan evaluasi. Itulah tadi yang terjadi di hari ke 26 bulan 10 tahun ini, cerita dari daerah kami. Semangat kolektif yang akan terus dijaga, hari itu akan dikenang sebagai hari kita semua. All Of US.

Teks: Khairilnwr
Visual: Arsip All of Us