Album Pendek dari Layang yang Berjudul ‘Dramaturgi’

sekitar satu bulan lalu Layang meluncurkan sebuah single yang berjudul ‘Dari Jendela’. Single yang menjadi perkenalan Layang dan juga sebagai pembuka untuk sebuah album pendek yang diberi judul ‘Dramaturgi’ yang memuat lima nomor didalamnya, dirilis pada tanggal 21 Mei 2021 lalu.

‘Dramaturgi’ dipilih menjadi nama album pendek oleh layang bukan tanpa alasan, selain karena terdengar menarik, kata dramaturgi juga memiliki arti ‘penyusunan karya dramatik’ yang dimana kata tersebut dirasa bisa mewakili rasa album yang berdinamika ntar lagunya.

Seperti single ‘Dari Jendela’, setiap lagu yang dimuat dalam album pendek ‘Dramaturgi’ juga merupakan penggambaran dari suatu bagian novel tertentu, bagian itu dikomposisikan dan disampaikan melalui lirik yang diciptakan oleh Layang. Hal ini juga yang menjadi benang merah dari album ‘Dramaturgi’.

 

mengulas tentang Layang, 13 November 2020 adalah titik awal dari group musik asal Yogyakarta ini berdiri, digawangi oleh Talitha Neysa (vokal) dan Harrits Rizqi (gitar), ada yang menarik dari pemilihan nama Layang yang mereka ambil, berawal dari kedua personel Layang yang terlibat kecelakaan tunggal akbiat menabrak senar layang-layang yang melintanhg di sebuah jalan raya, akhirnya keduanya sepakat menjadikan penyebab tragedi tersebut menjadi sebuah nama grup mereka. Karena tragedi yang mereka alami akhirnya Layang dapat melahirkan sebuah album pendek ‘Dramaturgi’ yang berisi rangkaian cerita dari suatu bagian novel.

Untuk nomor pertama yang dimuat dalam album ‘Dramaturgi’ Layang menyajikan lagu ‘Dari Jendela’ Lagu ini terinspirasi oleh novel “Cala Ibi” karya Nukila Amal. Sosok yang digambarkan dalam lagu—meskipun tidak disebutkan secara eksplisit—adalah naga yang selalu menemani si tokoh utama ke mana pun, seperti terbang di atas gedung-gedung dan tidur di kamar si tokoh utama. Meskipun begitu, naga tersebut hanya dapat dilihat oleh si tokoh utama.

Dalam penulisannya, penulis lirik dan musik menangkap kesia-siaan si naga. Naga itu mencoba berbicara, tetapi tidak dapat dilihat oleh orang lain, kecuali si tokoh utama. Hal itu dituangkan dalam baris jangan berkata (terbangun) saat orang lain tak mampu melihat engkau. Selain itu, penulis lirik mengembangkan latar tempat tinggal penulis (Maluku) dalam baris bunga-bunga yang berwarna gelap (cengkih) dan gaya penceritaannya yang kaya kosakata dalam geliat bahasa/ disambung menjadi pernak-pernik dari cakrawala.

Lalu ada ‘Biru Melepuh’ Lagu ini terinspirasi oleh novel “Norwegian Wood” karya Haruki Murakami. Dalam novel tersebut, terdapat bagian ketika Midori (tokoh perempuan) dan Watanabe (tokoh laki-laki) berdua di atas rumah. Mereka menyaksikan kebakaran sambil berciuman seolah tak peduli pada keadaan. Mereka melakukannya di atap rumah. Suasana yang tergambar ketika itu adalah hampa, absurd, tetapi juga romantis. Hampa karena kedua tokoh tersebut terlihat hidup tanpa tujuan. Hal-hal yang dilakukan hanya untuk mengisi atau menghabisi waktu. Absurd karena mereka melakukan hal yang tidak sesuai dengan kebiasaan, meskipun sebenarnya tetap masuk akal dalam logika penokohan. Dan, romantis karena kedua tokoh di atas sesungguhnya sama-sama saling ingin bersama.

Dilanjutkan dengan ‘Pengakuan Rahasia’ Lagu ini terinspirasi oleh novel “Salah Asuhan” karya Abdoel Moeis. Dalam novel tersebut, terdapat bagian ketika Corrie (tokoh perempuan keturunan Prancis) datang ke rumah Hanafi (tokoh laki-laki bumiputra). Sebelumnya, Hanafi sengaja mengundangnya. Di dalam ruang kayu rumah Hanafi, karena terbawa suasana, mereka—yang sebenarnya sama-sama saling menyukai, tetapi belum pernah mengungkapkan—berciuman untuk pertama kali. Akan tetapi, ciuman itu harus terhenti karena Corrie tiba-tiba pergi setelah disadarkan suara tukang pos. Corrie menyadari bahwa ia seharusnya tidak berhubungan lebih jauh dengan Hanafi karena takut ayahnya mengetahui kejadian itu. Selain itu, hubungan berbeda ras merupakan hal tabu untuk dijalani.

Tak habis disitu, lagu selanjutnya adalah ‘Hitam’  Lagu ini terinspirasi oleh novel “Crime and Punishment” karya Fyodor Dostoevsky. Novel tersebut menceritakan Raskolnikov (tokoh utama) yang membunuh Alyona Ivanovna (seorang wanita tua pemilik persewaan rumah) beserta Lizaveta (saudara muda Alyona)—yang tidak disengaja dibunuh. Raskolnikov merasa sedang terpuruk. Ia tidak memiliki uang untuk bertahan hidup. Sementara itu, saudara perempuannya akan menikah dengan seorang lelaki tua demi menutupi kemiskinan keluarganya. Di sisi lain, Raskolnikov merupakan harapan keluarganya. Atas dasar ketertekanan itu, ia memilih untuk membunuh Alyona untuk mendapatkan hartanya. Selain itu, ia membunuh Alyona karena perempuan itu kerap mengeksploitasi Lizaveta. Pembunuhan itu, terutama kepada Lizaveta—yang tak sengaja dibunuh, membuat Raskolnikov merasa sangat bersalah. Perasaan bersalah tersebut menyakiti Raskolnikov, baik secara fisik maupun psikis. Karena tak tahan dengan keadaan itu, ia menceritakan aksi pembunuhan itu kepada Sonya (perempuan yang dipercayai dan dikagumi Raskolnikov). Sonya menyuruh Raskolnikov untuk mengakui kesalahannya di depan publik. Setelah mengaku, Raskolnikov pun dipenjara di Siberia dengan ditemani oleh Sonya.

Dan sebagai penutup album ‘Dramaturgi’ ada lagu Sebelum Matahari Tenggelam’ Lagu ini terinspirasi oleh novel “Cantik Itu Luka” karya Eka Kurniawan pada bagian ketika Alamanda dan pasangannya duduk berdua di atas sampan di tengah laut. Lirik dalam lagu ini tidak seratus persen menggambarkan bagian tadi, tetapi mengambil dan mengembangkan suasana keromantisannya dengan latar yang masih berkenaan dengan laut. Pengembangan itu diwujudkan menjadi adegan sepasang yang sedang duduk di tepi pantai sambil menikmati suasana sekitar. Mereka membicarakan masa kini dan mengenang hal-hal yang pernah terjadi. Mereka memilih tidak membicarakan masa depan karena terdapat suatu ketakutan bahwa masa depan tidak akan lebih baik dari masa kini. Itu juga menjadi maksud dari frasa sebelum matahari tenggelam, yaitu waktu paling indah sebelum semua menjadi malam yang serba tak pasti.

Album ‘Dramaturgi’ sudah dapat didengarkan secara utuh melalui seluruh platform musik digital.

 

 

Teks: Reza Raditya

Visual: Layang

My Bloody Valentine Kritik Spotify Soal Lirik yang Salah

Di antara kalian pasti ada dong yang pernah memutar lagu di Spotify sambil menikmati fitur lirik yang disediakan. Lewat fitur ini, para pengguna Spotify bisa sambil bernyanyi sesuka hati. Tapi,...

Keep Reading

Patahan Imajinasi Masa Kecil di Nomor Terbaru Latter Smil

Latter Smil, duo asal kota Palu yang dihuni oleh Dian dan Eko, dipermulaan tahun 2022 ini kembali melepas karya teranyarnya bertajuk “Kalila”. Lewat single ini Latter Smil mencoba untuk memberikan...

Keep Reading

Perjalanan Skena Musik Ambarawa dalam Album Kompilasi They Hate Us

Terlihat dalam beberapa tahun terakhir, produksi album kompilasi skena musik lokal mulai kembali marak. Tercatat ada beberapa deretan kompilasi yang terbit pada setahun-dua tahun ke belakang, seperti Bikin Kompilasi: Bless...

Keep Reading

Dua Album Milik Semiotika Akhirnya Dilepas Secara Digital

Usai merilis album penuh bertajuk Eulogi, unit post-rock asal Jambi, Semiotika akhirnya merilis dua album terdahulunya Ruang (2015) dan album mini Gelombang Darat (2018) ke dalam format digital. Sementara album...

Keep Reading