Album Fenomenal Milik ROTOR Dirilis Ulang

Untuk ketiga kalinya, album rekaman legendaris “Behind the 8th Ball” milik Rotor dirilis ulang dalam format fisik. Setelah dikemas dalam format cakram padat (CD) pada November 2018, kemudian diluncurkn dalam format pita kaset pada 2019 lalu melalui label independen RabonSick Records, kini album fenomenal yang sudah dirilis tahun 1992 ini kembali diluncurkan dalam format piringan hitam atau vinil oleh label independen asal Jakarta, Elevation Records.

Album cadas nan orosinil ini pertama kali dirilis pada tahun 1992 dalam format pita kaset dan sempat terjual sampai dengan 450.000 copy, sebuah pencapaian yang luar biasa besar saat itu mengingat Rotor merupakan band yang bergerak di ranah musik metal namun angka penjualan untuk karyanya ini menyamai dengan band-band pop yang berada di arus utama.  Terlebih setelah Rotor sukses membuka konser Metallica di stadium Lebak Bulus pada tahun 1993, status Rotor sebagai legenda thrash metal Indonesia tentu tidak bisa diragukan lagi dan album “Behind the 8th Ball” bisa dikatakan sebagai cetak biru dan mampu mempengaruhi banyak talenta muda yang gandrung dengan musik keras di Indonesia saat itu, bahkan sampai hari ini.

Album penuh berisi 10 trek ini memiliki komposisi musik yang terbilang canggih pada masanya. Dengan lirik sebagian besar berbahasa inggris dengan kompoisisi yang rumit dan ganjil namun nyaris ke semua lagu dalam album ini sangat bisa dinikmati bahkan oleh mereka yang bukan penikmat musik metal. Para pemeran utama dibaliknya tentu saja adalah Ifan Sembiring, Baka Bufthaim, dan Yuda Panyoto yang telah berhasil meramu banyak warna musik di dalamnya. Termasuk komposisi musik “pop” seperti pada nomor ‘Pluit Phobia’ tanpa mengesampingkan trah mereka sebagai unit musik metal.  Sedangkan di trek lain tentu kebanyakan komposisi di album ini datang dengan time-signatue yang tidak lazim, dengan pergantian tempo dan ritme yang begitu cepat. Komposisi ini malah terdengar sangat progresif dan mendekati  avant-garde.

Contoh yang paling mudah dan nyata barangkali kita bisa menemuinya di lagu “Nuclear is The Solution”. Dari judul lagunya saja kita bisa menebak lirik semacam apa yang ditulis di sana. Ya, lirik yang syarat dengan muatan politik ini ditulis oleh Rotor dan sangat wajar jika kemudian mereka menulis lagu yang berbicara soal politik lokal maupun Internasional mengingat mereka adalah band metal dan tumbuh dalam iklim politik yang tidak baik-baik saja. Kejeniusan Irfan Sembiring dalam mengolah emosi dan menuangkannya ke dalam lirik patut diacungi jempol pada trek ini. Ia mampu menangkap inti sengketa politik di Timur Tengah dengan cermat.

Di pihak perilis sendiri, yakni Elevation Records untuk pertama kalinya mereka merilis musik keras. Selama delapan tahun keberadaannya, label ini kerap bersentuhan dengan musik indie rock. . Perilisan dalam format vinil ini pun prosesnya tak main-main. Setelah pihak label mendapatkan master asli rekamannya dari Irfan Sembiring, master tersebut dikerjakan ulang oleh sound engineer Hamzah Kusbianto yang kemudian diracik ulang untuk vinil di Studio Abbey Road, London, Inggris. Fyi, beberapa bulan ke belakang Elevation Records juga merilis ulang album live bertajuk ‘Gila’ milik musisi legendaris Gombloh dalam format vinil

Di wilayah visual sendiri, Elevation Record melibatkan Aditya Wardana dari Bandung untuk mereplika gambar sampul ikonik album “Behind the 8th Ball”. Hasilnya lahirlah sebuah aura kengerian yang diinginkan oleh Marcel Wetik, desainer awal album ini. Semua proses dilakukan dengan benar hingga upaya pendokumentasian ke dalam format piringan hitam pun begitu begitu layak dikerjakan.

“Kami percaya semua upaya itu layak dilakukan untuk mahakarya thash metal yang kabarnya sempat membuat “panas” Metallica di Lebak Bulus tahun 1993” ungkap Elevation Records.

Vinil album ini hanya dicetak 313 keping dan sudah bisa kalian dapatkan melalui Elevation Records langsung maupun melalui mitranya, Snakechams Records.

Teks: Dicki Lukmana

Visual: Arsip dari Elevation Records

Kolaborasi Semiotika Dan Iga Masardi

Menggunakan moniker Sagas Midair, Iga Massardi yang merupakan gitaris sekaligus vokalis grup Barasuara merilis single kolaborasi bersama Semiotika, unit Instrumental Rock dari Jambi. Diberi tajuk Iskaashi, rencananya single ini akan...

Keep Reading

Nyala Api Dari Angkatan Baru Hip-Hop Jakarta

Berawal dari hal yang tidak direncanakan, La Munai Records, label rekaman Jakarta, Pesona Experience dan Bureau Mantis kolektif dan manajemen musik dari kota yang sama akhirnya menemui kesepakatan untuk merilis...

Keep Reading

Plvmb Memulai Debut Dengan Blue

Bandung kembali memiliki kuintet indiepop yang terdiri dari Vina Anesti (Vokalis), Azka Aulia Rachman (Bass), Diaz Febryan (Drum), Salman Wahid Putra Kamaludin (Gitar), Irfan Zahid Abdussallam  (Gitar). Mereka tergabung ke...

Keep Reading

Superglad Yang Kembali Melangkah

Superglad adalah band yang namanya tidak perlu lagi dipertanyakan di kancah musik tanah air. Setelah diterpa berbagai permasalahan yang sempat terjadi di dalam tubuh mereka, band yang terbentuk sejak tahun...

Keep Reading