Aktivasi Kembali Layar Tancap Besutan 3 Kolektif di Tulungagung

3 Kolektif yang berbasis di Tulungagung, Jawa Timur, Gulung Tukar, Komunitas Sineas Muda Tulungagung (SINEMOTO), dan Pendulum telah menggelar kegiatan mini residensi dan pemutaran film di pelosok desa Tulungagung. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian program Biennale Jatim IX 2021, dengan nama kegiatan: Proyek Kelana: Sudut Pertama, Pancar Pencoba. Yang berlangsung mulai 20 – 27 November 2021 di Desa Tanggunggunung, Kecamatan Tanggunggunung, Kabupaten Tulungagung.

Proyek Kelana, dimulai dengan melakukan mini residensi dengan 2 metode berurutan: kunjungan mingguan melakukan identifikasi dan pengenalan di Desa Tanggunggunung. Kemudian tinggal penuh selama 2 hari menjelang agenda puncak sekaligus penutup yaitu, pemutaran beberapa film pendek yang berhubungan dengan warga Desa Tanggunggunung tentu membaca dari hasil residensi. Berikut film pendek yang diputar:

  • Anak Lanang – Ravacana
  • Murup – Akan Dikenang
  • Ning Kene Aku Ngenteni Koe – Jeihan Angga
  • Sound of Preeett – Rangga Kusmalendra

Dan satu film pendek yang menjadi inti dari pemutaran film di Desa Tanggunggunung bertema Lingkungan sesuai dengan hasil residensi, dengan judul: Live in ROB – Whatchdoc Documentary, yang kemudian dilanjutkan dengan dan diskusi ringan mengenai Desa dan Budaya Menonton dan bekerjasama dengan Karang Taruna sebagai perwakilan dari warga Desa Tanggunggunung. Tentu kegiatan ini disambut oleh Sekretaris Desa Tanggungunung dan dihadiri oleh warga Desa Tanggunggunung.

Kolektif Tulungagung

     Baca juga: Pameran Gulung Tukar

Pada tahun 2021 ini, pemutaran film dicoba untuk diaktivasi kembali setelah mati suri karena pandemi oleh lebih banyak kolektif di Tulungagung yang berkolaborasi. Berkelana desa ke desa melanjutkan pergerakan ‘memasyarakatkan film’ dari satu titik ke titik lainnya agar layar di Tulungagung terus hidup dan memancar.

Layar Tulungagung tidak boleh mati. Meski sempat mati suri, tapi dalam perkembangannya jadi berwarna warni. Karena layar dan film di Tulungagung, kini tidak lagi hanya sebatas milik komunitas/ pegiat/ kreator/ kelompok yang mengimani “film”. Layar dan film di Tulungagung terus memancar dan tergelar, masuk barisan opsi agenda yang dianggap menarik, freshly, friendly di beberapa komunitas/ perkumpulan diluar bidang film sekalipun.

Kolektif Tulungagung

           Baca juga: Jatim Biennale IX Resmi Dibuka dan Hadirkan Seratus Lebih Program

Pun, tak sedikit juga yang tertarik dan tergelitik untuk memproduksinya. Layar layar Tulungagung tidak boleh mati. Meski sempat mati suri, tapi dalam perkembangannya jadi rumah kolaborasi, sambung raket antar kolektif seni. Butuh waktu untuk akhirnya duduk jadi satu tikar, satu layar, beragam yang diputar demi nyala layar film di Tulungagung. Butuh kemauan, kerjasama, dan upaya dari berbagai pihak demi menghidupkan wadah yang bisa mempertemukan film dengan penontonnya ini. Apalah makna film yang ‘jadi’ jika tidak ada layar yang digelar, tidak ada penonton yang menonton, pun tanpa kita yang mengimani ‘film’ itu sendiri yang terus berkelana menghidupkannya.

Visual: Arsip dari Gulung Tukar

Catatan Perjalanan Rich Brian di Album Mini Brightside

Rapper, penyanyi serta produser asal Indonesia, Rich Brian baru-baru ini resmi merilis album mini terbarunya yang bertajuk Brightside. Lewat album mini berisi 4 lagu ini Rich Brian mengatakan bahwa Brightside merupakan...

Keep Reading

Keseruan Selanjutnya di Soundhead Gig Vol. 3: Parsing Echoes

Tak bisa dipungkiri, pandemi yang terjadi beberapa tahun terakhir telah berhasil meluluhlantakan berbagai lini industri hiburan, tak terkecuali industri pertunjukan musik. Namun, ditengah tantangan yang ada, para pelaku industri terus...

Keep Reading

Kisah Cinta di Balik Pertunjukan Musik dari The Rang-Rangs

Trio punk rock asal Bekasi, The Rang-Rangs, kembali melanjutkan cerita asmaranya yang tak konvensional. Dalam materi terbarunya kali ini The Rang-Rangs mencoba mengangkat cerita persoalan jatuh hati di arena pertunjukan...

Keep Reading

Album Tersembunyi Mendiang January Christy Akhirnya Dirilis

Di era ‘80-an, tak sedikit orang yang mengidolakan January Christy. January Christy merupakan penyanyi pop jazz Indonesia yang unik. Range vokalnya tidak lebar, namun suaranya yang berat memberikan kenyamanan dan...

Keep Reading