Seberapa sering kita mendengar sebuah band asal Jogjakarta mampu bertahan setelah para personilnya berpindah kota? Jarang. Dan hampir bisa dipastikan band tersebut kemudian bubar atau minimal terdengar antara hidup segan mati pun tak mau, layaknya sebuah mitos.

Kota pelajar ini identik dengan peran jadi laboratorium untuk membuat karya yang kemudian (sayangnya) bubar jalan setelah pelakunya lulus sekolah atau ‘ditarik dealer’ kembali ke kota asal mereka. Hal ini terjadi juga dengan Airportradio (dikenal juga di kalangan fans-nya sebagai Aira). Setelah merilis album Turun Dalam Rupa Cahaya di tahun 2010, nyaris tidak banyak yang dilakukan oleh Benedicta R Kirana (vokal), Ign Ade (bass), Deon Manunggal (synthesizer) dan Prihatmoko Moki (drum). Cahaya yang turun ke lantai gig mereka pun meredup bersama lajunya ritme kehidupan.

Seiring waktu, tiga orang personil Aira hijrah ke hutan beton Jakarta. Menyisakan Moki yang masih menjadi seniman di Jogjakarta. Waktu berjalan dan di tahun 2017, proses baru dimulai. Tiga yang di Jakarta berhasil meyakinkan Moki supaya datang dan menjalani proses brainstorming layaknya sebuah band. Dan kemudian cahaya tersebut mulai berpendar.

Dipingit selama dua hari dalam sebuah rumah sewa di Jakarta Selatan membuat mereka bergegas dalam membuat komposisi baru. Aransemen pilot berisi delapan lagu berhasil diciptakan selama masa inkubasi yang lalu dibungkus dalam rekaman live untuk kemudian dikembangkan dalam bentuk proses rekaman ulang semua track di Studio Kua Etnika, Yogyakarta. Layaknya sebuah reuni, proses rekaman album yang diberi judul Selepas Pendar Nyalang Berbayang ini, seolah menceritakan sebuah pertemuan kembali antara empat orang kawan lama yang masing-masing telah melalui proses kehidupannya untuk kemudian menjadi pribadi yang lebih dewasa.

Uniknya, atmosfer Jakarta di mana semua dasar lagu ini dibuat, yang identik dengan berisik dan keras, malah membuat alunan nada di seluruh album ini terasa tenang. Dengan dengungan synth yang menempel di keseluruhan badan lagu, nuansa low di komposisi album baru Aira ini serasa mendukung perasaan kesepian manusia dalam sebuah keramaian.

Bennet dalam sebuah kesempatan bertemu muka setelah gladi bersih konser Aira menjelaskan, “Album kedua ini merupakan representasi kelanjutan perjalanan album pertama kami. Cahaya yang sudah pernah turun delapan tahun lalu itu perlahan bergerak mencapai tujuannya dan kemudian berubah menjadi sebuah makhluk berbayang yang diberi nama Nyalang (membelalak, -red).”

Aira juga bersekutu dengan sembilan orang seniman lintas disiplin untuk merekam reaksi mereka terhadap delapan komposisi yang ada lewat serangkaian video yang telah disebarluaskan di media sosial. Nama-namanya lengkap merepresentasikan kelintas-dispilinan yang coba dikejar; Ig Raditya Bramantya, Katia Engel, Faozan Rizal, Lala Bohang, Lulu Lutfi Labibi, Roby Dwi Antono, Ruth Marbun, Terra Bajraghosa dan Wulang Sunu. Uniknya, kesempbilan orang ini, tidak pernah mendapatkan referensi lirik dari masing-masing lagu yang mereka artikan kembali.

Perkara lirik, Selepas Pendar Nyalang Berbayang banyak bercerita tentang banyak hal.

Di lagu Jagal, Ade, sang pembetot bass bercerita tentang hak binatang yang. Ia juga menulis Alpha Omega yang berkisah tentang superioritas agama yang dijabarkan sebagai jaminan keselamatan dan kunci menuju surga yang serta merta membuat apapun di dalamnya jadi sebuah kemutlakan sehingga penghalalan segala macam cara jadi pilihan.

Lagu Nirmana Warna, juga punya cerita sejenis. Moki, yang menulis lirik lagu ini, menyentil mereka yang menabrak norma di balik tebalnya pencitraan ketaatan pada agama.

Selain itu, tema patah hati pun tidak luput dari album ini. Di …Off the Street, Bennet bertutur mengenai bagaimana manusia bisa memilih untuk merayakan rasa sakit dengan cara yang menyenangkan meskipun itu terasa sangat pilu.

Album ini banyak bereksperimen dengan gemuruh synthesizer yang diarsiteki oleh Deon, yang saat ini bekerja sebagai seorang sound engineer di sebuah kasino di Kamboja.

Pada pesta perilisan albumnya, 24 Oktober 2018 di IFI-LIP Jogjakarta, penonton yang memasuki ruang konser Aira, disambut oleh sound art karya instalasi Octo Cornelius. Ia mengolah ulang delapan video respon seniman kolaborator. Instalasi ini mengajak para pengunjung untuk bersiap dengan sajian kebisingan yang tenang.

Di awal pertunjukan, Bennet masuk dengan jubah hitam. Ia melangkah pelan, seolah memasuki ruang altar kesunyian penuh asap malam itu dengan lonceng kecil berdenting layaknya film Pengabdi Setan.

Ketiadaan instrumen gitar sejak band ini berdiri tidak membuat penampilan Aira terasa hampa, alih-alih mereka mampu menghasilkan komposisi yang tidak baku. Pijitan tuts piano pemain tamu Ayu Saraswati (MengayunKayu) serta gesekan cello Rarya Lakshito Jati dan kolega membuat auranya jadi semakin megah. Di sebuah bagian, gelontoran rima Terra Bajraghosa sedikit banyak berkontribusi menjadikan pertunjukkan ini menjadi lebih variatif. Belum lagi permainan visual dan tata lampu megah yang digarap seniman lampu Banjar Triandaru, membuat konser intim ini semakin mengawang.

Delapan tahun menghilang membuat gap yang cukup signifikan bagi band ini untuk tetap terasa relevan di skena musik masa kini. Tapi tampaknya mereka tidak terlalu peduli.

“Kami sempat bingung juga kalau bikin band sekarang tuh kalau promosi pake sosial media juga tahu algoritmanya. Sementara sosial media kan banyak,” tukas Bennet.

Moki menambahkan, “Intinya kami hanya ingin berkarya kembali, kalau masalah orang suka ya monggo, nggak ya tidak apa.”

Disinggung mengenai kelanjutan band ini setelah album kedua, apakah akan menambah daftar band mitos selanjutnya, Moki pun menjawab, “Akan.” Sementara Ade menambahkan, “Mungkin.”

Semoga tidak. (*)

Teks dan wawancara: Indra Menus
Foto: Konser dan instalasi oleh Indra Menus, foto tema oleh Lulu Lutfi Labibi