4 Fase Jordi Farhansyah dalam Membuat Karya

Jordi Farhansyah, selain akrab terlihat di bandnya yang bernama Derau, dirinya kini sedang mencoba untuk mengeksplorasi sisi personalnya melalui proyek solo. Hal ini ditandai dengan rilisnya single perdananya yang berjudul “Ghost” pada 3 Januari 2020 lalu. Lalu, dirinya kembali di bulan Maret kemarin dengan merilis lagi satu single berjudul “Missing Pieces”. Ada hal yang sangat penting mengenai debutnya sebagai seorang solois, hal itu adalah dia merasa lebih jujur dalam meluapkan ekspresi yang ada pada diri maupun musiknya.

Kini, Jordi resmi merilis sebuah mini album yang menceritakan serentetan kisah hidupnya. Mini album yang diberi judul Stranger in the Room ini baru saja dirilisnya pada 17 April kemarin. Stranger in the Room menurutnya adalah sebuah visual dari empat tahap berbeda yang dia alami ketika merasakan duka yang sangat dalam. Energi negatif yang hadir alih-alih membuatnya terpuruk, malah dijadikan momen untuk mengeluarkan berbagai macam pikiran yang kemudian dileburkan menjadi empat karya yang dijadikan satu.

“Keempat lagu di album ini benar-benar menggambarkan fase yang saat itu saya lewati. Fase-fase tersebut meliputi: denial, insecurity, reminiscence, acceptance. Meski waktu pembuatannya bukanlah waktu yang membahagiakan buat saya, namun melihat ke belakang, saya sangat menikmati prosesnya ketika album ini rampung,” ungkap Jordi.

Mini album ini direkam sendiri di kamar pribadinya dalam kurun waktu satu minggu. Proses rekaman ini sedikit terinspirasi oleh Justin Vernon melalui proyeknya di Bon Iver ketika ia mengisolasi dirinya sendiri saat merekam album For Emma, Forever Ago di sebuah kabin. Secara musik, Jordi mencoba menghadirkan lagu yang sesederhana mungkin. Hal yang dilakukan seperti para inspirasinya, yaitu Julien Baker dan Mike Kinsella. Keduanya dikenal kerap kali menciptakan sebuah karya yang sederhana, personal dan minim instrumen.

Stranger in the Room rencana awalnya akan dirilis berbarengan dengan Record Store Day di tahun ini yang seharusnya berlangsung pada tanggal 18 April kemarin, dan terpaksa harus batal karena wabah yang sedang melanda seantero dunia. Pembatalan tersebut pun sejatinya tidak mengubah apa yang telah diputuskan Jordi agar tetap merilis debut album ini. Selain untuk kepuasan sendiri, dirinya pun menyematkan harapan agar karyanya ini bisa menemani banyak orang yang sedang melakukan karantina di rumah mereka masing-masing.

Stranger in the Room sudah bisa didengar di berbagai layanan musik jaringan dalam seperti Spotify, Apple Music, dan Deezer. Silahkan mendengarkan. Yang menjadi favorit adalah “A Heart in a Mouth”.

album cover stranger in the room - jordi farhansyah

Teks: Adjust Purwatama
Visual: Arsip dari Jordi Farhansyah

Tur Jepang Bangkutaman & Logic Lost

Bangkutaman, grup asal Jogja, melanjutkan seri TauTauTur mereka dengan edisi spesial. Mereka memutuskan untuk bertandang ke Jepang. Tur ini dimulai dari tanggal 27 – 30 November tahun ini. Bukan tanpa...

Keep Reading

Video Musik Bintang Massa Aksi .Feast

Abdi Lara Insani yang merupakan single utama dari album teranyar .Feast berjudul Bintang Massa Aksi ini ternyata masih memiliki keberlanjutan dengan dirilisnya sebuah video klip resmi di kanal YouTube .Feast (22/11/22). Video klip ini melibatkan...

Keep Reading

Kolaborasi Semiotika Dan Iga Masardi

Menggunakan moniker Sagas Midair, Iga Massardi yang merupakan gitaris sekaligus vokalis grup Barasuara merilis single kolaborasi bersama Semiotika, unit Instrumental Rock dari Jambi. Diberi tajuk Iskaashi, rencananya single ini akan...

Keep Reading

Nyala Api Dari Angkatan Baru Hip-Hop Jakarta

Berawal dari hal yang tidak direncanakan, La Munai Records, label rekaman Jakarta, Pesona Experience dan Bureau Mantis kolektif dan manajemen musik dari kota yang sama akhirnya menemui kesepakatan untuk merilis...

Keep Reading