2021 Sepertinya Masih Belum Berubah

Senang rasanya kita sudah dihadapkan dengan tahun yang baru, dan itu berarti kita akan bersiap untuk mengeluarkan lagi banyak ide-ide cemerlang kedepannya. Tetapi, masalah terbesar yang ada di tahun 2020 masih sama sekali belum menghilang. Apalagi kalau bukan virus corona. Tidak perlu mencari tahu ke belakang apa saja masalah yang ditimbulkan oleh virus ini bagi orang banyak, terkhusus industri hiburan, semua luluh lantah dibuatnya. Kita tidak bisa terlalu berharap banyak kepada pemerintah bila dari diri sendiri belum sadar betul akan bahaya yang ditimbulkan oleh virus corona ini. Pun, masih banyak sekali orang-orang yang menganggap kalau kondisi yang ada ini akibat dari konspirasi elit global. Kalau dari kami, bisa dibilang tidak ada konspirasi. Sebab kenapa? Karena kami sudah merasakan betul adanya virus tersebut, beberapa rekan kerja terkena, terdampak, dan hingga akhirnya harus merelakan kehidupan mereka.

Kemudian, untuk industri hiburan. Dampak yang ditimbulkan jelas tak main-main, bila biasanya di setiap akhir pekan kita selalu disuguhi dengan perhelatan konser musik yang megah. Sekarang, semua hanya bisa disaksikan melalui layar gadget masing-masing. Memang bisa melepas rindu akan pertunjukan musik, tapi seberapa besar nuansa yang dibangun itu hadir? 30 persen mungkin dari kondisi yang biasanya. Cukup bersyukur memang kita masih bisa melihat pertunjukan dari para musisi, penghargaan paling besar yang kami berikan tentu saja kepada para pelaku-pelaku industri ini yang terus bertahan dan memberikan inovasi-inovasi menariknya di masa yang sedang tidak baik-baik saja ini.

Semua industri, terkhusus musik mulai jatuh pada bulan Maret 2020, menurut laporan investigasi yang dibuat oleh Majalah Rolling Stone. Don Smiley, Kepala Eksekutif dari “festival musik terbesar di dunia”, Summerfest, dihadapkan pada pertanyaan “apakah kita semua akan melupakan pertunjukan live tahun ini dan selanjutnya atau tidak?.” Pada saat itu, pertunjukan di Eropa dan Asia banyak dibatalkan karena lonjakan kasus corona. Sementara itu, di Amerika Serikat, WHO mengonfirmasi 100 kasus virus Corona pada 4 Maret, tetapi pada tanggal 11, virus itu muncul di setidaknya 35 negara bagian dengan sekitar 1.039 orang terkena. Menyusul laporan ini, beberapa pertunjukan live terbesar di banyak negara  mulai membatalkan atau menjadwalkan ulang acara mereka, termasuk South by Southwest (SXSW), Ultra Music Festival, Coachella, Hammersonic, Synchronize dan banyak lainnya. Demikian pula, promotor konser terbesar di Amerika Utara, Live Nation dan AEG, membuat keputusan yang sangat mengejutkan, di mana mereka memutuskan untuk menunda semua tur musisi di bawah payung mereka hingga kondisi benar-benar kondusif.

Lalu, akan seperti apakah 2021 kita? Sudah bisa dipastikan dengan kondisi yang ada sekarang, kita akan mengulang kembali apa-apa yang sudah ada di tahun kemarin. Pertunjukan virtual akan semakin semarak lagi, baik itu jumlahnya maupun bentuknya. Untuk para musisi, kami sangat senang dengan semangat mereka yang tak pernah padam. Selalu saja ada karya-karya baru yang dilahirkan, warnanya pun cukup beragam. Namun, meskipun konser virtual banyak yang digelar tanpa ada sedikitpun biaya untuk mengakses, dan ini sangat menguntungkan bagi para penggemar musik, tetapi hal ini tidak banyak membantu industri untuk tetap bertahan. Semakin lama tempat ditutup, semakin lama konser musik luring tidak bisa digelar, dan semakin lama virus corona ini menghilang, sulit bagi banyak musisi untuk mendapatkan uang. Terlebih mereka yang masih baru saja menjajaki industri ini.

Masih berbicara tentang industri hiburan, khususnya musik. Di beberapa negara memang sudah dilakukan banyak eksperimen mengenai bagaimana dampaknya jika konser musik tetap digelar secara luring di masa pandemi. Salah satunya seperti yang dilakukan oleh para peneliti di Jerman. Mereka membuat sebuah simulasi berupa konser di dalam ruangan. Setelah beberapa kali melakukan simulasi, mereka pun telah merilis hasil penelitiannya yang menunjukan bahwa tingkat penyebaran virus corona di konser musik dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat, seperti memastikan ventilasi udara yang memadai, protokol kebersihan, dan kapasitas yang dibatasi, maka tingkat resiko penularannya adalah “rendah hingga sangat rendah”. Dari hasil penelitiannya tersebut mereka juga merilis sebuah panduan bagaimana menyelenggarakan konser musik dengan menerapkan protokol kesehatan. Meskipun tingkat penularannya rendah, namun resiko yang dihadapi pun tentu sangat besar. Karena akhirnya pandemi juga tak hanya beririsan dengan kesehatan tetapi juga bersinggungan dengan kebijakan politik, terutama di Indonesia.

Di lain sisi, kabar tentang penemuan vaksin pun cukup membawa kabar segar di tengah masih berkecamuknya virus Covid-19. Terlepas dari pro dan kontra tentang penggunaan vaksin, namun penemuan vaksin ini menjadi salah satu hal penting untuk mengentaskan pandemi yang menyebalkan ini. Pada akhirnya kita semua dipaksa untuk dapat beradaptasi dengan  kondisi yang serba sulit ini. Daripada terus menerus dibayangi dengan situasi tak menentu, sebaiknya kita terus produktif saja untuk berkaya dan menggali segala potensi yang ada. Karena bagaimana pun kita tak akan pernah tahu hal apa saja yang bakal terjadi di kemudian hari. Namun setidaknya, 2021 adalah tahun yang tentu menyimpan banyak harapan.

Teks: Adjust Purwatama & Dicki Lukmana
Visual: Arsip dari Berbagai Sumber

Semarak Festival Alur Bunyi Besutan Goethe-Institut Indonesien

Tahun ini, Goethe-Institut Indonesien genap berusia 60 tahun dan program musik Alur Bunyi telah memasuki tahun ke-6. Untuk merayakan momentum ini, konsep Alur Bunyi tetap diusung, namun dalam format yang...

Keep Reading

Head In The Clouds Balik Lagi ke Jakarta

Perusahaan media serta pelopor musik Global Asia, 88rising, akan kembali ke Jakarta setelah 2 tahun absen karena pandemi pada 3-4 Desember 2022 di Community Park PIK 2. Ini menandai pertama...

Keep Reading

2022, Jazz Gunung Kembali Lagi!

Setelah lebih dari dua tahun berjibaku beradaptasi dengan pandemi, kini pertunjukan musik kembali mendapatkan ruangnya kembali. Satu persatu festival musik muncul lagi. Salah satunya adalah Jazz Gunung yang tahun ini...

Keep Reading

Turtles. Jr Bakal Jajal Rebellion Fest di Inggris

Grup punk rock asal Bandung, Turtles Jr, baru-baru ini telah berbagi kabar gembira. Unit yang dihuni oleh Boentar (drummer), Boodfuck (vokal), Dohem (bass), dan Buux Frederiksen (gitar) ini di tanggal...

Keep Reading