Demi mempersembahkan penampilan terbaiknya di panggung “Goethe Talents – Go Live!” yang terjadwal pada 18 Agustus 2019, Jesslyn melakukan latihan sehari sebelumnya di sebuah studio besar bernama Noisy Room, Berlin.

“Bentukannya seperti komplek besar dan penuh graffiti di sana-sini. Ruangan-ruangan studionya bagus banget. Kalau yang ingin latihan di Noisy Room, kita harus bilang dari awal gitu soal kebutuhan alatnya apa aja di meja registrasi, jadi nanti pihak mereka bisa menyediakan kebutuhan itu,” Ungkap Jesslyn.

Beberapa jam sebelum penampilannya di “Goethe Talents – Go Live!”, Jesslyn menghabiskan waktunya untuk beristirahat saja. Kondisinya saat itu tidak mendukungnya untuk terlalu banyak melakukan aktifitas. Ia kelelahan, tenggorokannya sedikit terganggu. “Tapi masih aman,” katanya. Maka setelah agenda checksound, ia pun tampil sebagai opening tanpa terganggu dengan kondisi tenggorokannya tersebut. Ada sekitar lima lagu yang ia bawakan saat itu. Venue-nya sendiri adalah sebuah bar bernama Monarch. Menurut Jesslyn, itu adalah kali pertamanya dalam bermain live solo dengan bermodalkan vokal dan piano saja.

“Cuma pake moog bass synths-ku, sama piano electric. Main sendiri. Nggak ada crew dan nggak ada yang bantuin, terus di Berlin pula,” kenang dara manis tersebut.

Di “Goethe Talents – Go Live!”, Jesslyn juga berkesempatan untuk berkolaborasi bersama Amro Ahmad Fouad Ismail untuk membawakan satu lagu pada saat set dari peserta Goethe Talents 2019 dari Mesir tersebut. Apresiasi yang ia dapat saat itu tidak buruk. Semua orang terlihat senang. Tanggal 19 Agustus 2019, Jesslyn pun berkesempatan untuk mengunjungi Holzmarkt, sebuah kawasan urban village yang di dalamnya terdapat teater, dance club, bar, restoran, toko kue, music studio, dan taman kanak-kanak.

Tempat yang digarap secara swadaya oleh sekelompok anak muda lokal tersebut merupakan salah satu lokasi di mana para pengunjung dapat menangkap wajah dari dunia seni dan budaya Kota Berlin. Meski begitu, kehadirannya tak luput dari sejumlah masalah yang sering merundung usaha-usaha kolektif sejenis.

“Holzmarkt berada di antara wilayah Jerman timur dan Jerman barat, yang sama pemerintah itu mau digusur gitu. Padahal ada juga masyarakat yang tinggal di pinggir sungainya gitu, dan pemerintah setempat cukup mahal memberi harga sewa di sana,” Jelasnya.

“Akhirnya mereka bikin itu jadi semacam market biar menghasilkan duit buat bayar sewa ke pemerintah, meski belum bisa menutupi jumlah uang yang dibutuhkan. Padahal, menurut warga lokal di sana, kalau Holzmarkt digusur, kultur asli Berlin bisa mati”.

Hari itu pun adalah harinya Jesslyn untuk mengunjungi Deepweb. “Beruntungnya kita kaya dikasih akses masuk juga ke suatu tempat yang nggak open for public. Tempatnya rooftop gitu, dimana kita bisa liat seluruh kota jerman,” ceritanya. Tempat tersebut juga mempertunjukan karya instalasi audiovisual dan live performance dari light artist, Christopher Bauder serta komposer/musisi bernama Robert Henke.

Sehari sesudahnya Jesslyn juga mampir ke SchneidersLaden yang di dalamnya terdapat banyak toko Synth dan ia berhasil mencoba beberapa alat di sana. Setelah itu, seusai akreditasi, tiba lah waktunya untuk tampil di gelaran Pop-Kultur Nacwuchs Live pada tanggal 22 OKtober 2019.

Kakacauan sedikit mewarnai panggungnya saat itu. Setelah memastikan semuanya hal sudah aman saat check sound, rupanya masalah masih belum bisa terelakkan. Oh, Ya. Untuk setnya kali ini, ia mengusung nama Jeslla

“Jadi aku kan bawa synth bass minitaur moog, lalu MIDI-nya dari sana. Nah, itu MIDI-nya tiba-tiba nggak bisa nyala. Padahal pas check sound aman. Terus floor director-nya udah minta cepet-cepet mulai.  waktu set cuma sekitar 10 menit,”  jelasnya.

“Terus ya akhirnya aku cuma pake piano electric doang, sama nord. Sama vocal dengan efek yang aku bawa”. Kekalutannya bertambah ketika sang MC mulai menanyainya macam-macam di atas panggung. Hal tersebut membuat fokusnya jadi terbagi-bagi. “Otak seperti mau meledak,” tambahnya. Namun, kehadiran para anggota Goethe Talents 2019 lainnya memberi Jesslyn dosis yang cukup untuk energinya. Semangatnya masih terjaga.

Untungnya, respon penonton membuatnya senang. Apalagi dari para peserta Goethe Talents 2019, setelah Jesslyn selesai tampil, mereka menghampirinya sembari secara antusias menanyakan banyak hal soal proyek Jessla garapannya. “Mereka bilang, ‘it’s somehing that i never heard before’, aku seneng banget sama respon peserta yang lain”.

Perjalanan sebelas hari menyusuri Jerman pastinya menjadi salah satu pengalaman yang berkesan bagi Jesslyn. Lalu, mestinya pun akan membawa dirinya menjadi musisi dengan kematangan tingkat lanjutan. Terima kasih, Jesslyn. Beer murah dan kultur Berlin akan selalu menginspirasi.

Teks: Rizki Firmansyah
Visual: Arsip Jesslyn