11 Hari Menyusuri Jerman: Bagian Kedua

Tanggal 15 Agustus 2019, adalah waktunya Jesslyn mengunjungi CTM Festival, yaitu tempat pilihan Jesslyn untuk melangsungkan program magang. Tidak banyak yang ia lakukan di sana selain berbincang bersama tiga pihak dari CTM Festival.

“Apa yang kalian ingin ketahui mengenai CTM Festival?” ujar salah seorang dari pihak CTM Festival saat mengawali obrolan tentang festival yang sudah terselenggara sejak tahun 1999 tersebut. Menurut Jesslyn, perbincangan terbangun sangat casual. Dimulai dari jam 10 pagi, hingga pukul 1 siang.

“Karena kita pengen belajar banyak, jadi kita bilang aja kalau kita pengen tau dari awal sejarah CTM Festival. Intinya, CTM Festival itu merupakan festival musik kontemporer yang tidak hanya melibatkan musik saja, namun berintegrasi juga dengan hal lain, dari mulai seni visual hingga sains. Tiap tahunnya CTM Festival juga menggunakan tema berbeda, dan para seniman yang tampil wajib mengikuti tema tersebut,” kisah Jesslyn. Di Indonesia, CTM Festival sendiri pernah berkolaborasi bersama event Nusasonic yang berlangsung pada tahun 2018 di Jogja.

Senyawa dan Gabber Modus Operandi adalah dua musisi Indonesia yang pernah menapakkan kakinya di CTM Festival. Perhelatan musik tersebut memang menerima musisi dari beragam background. Tidak ada diskriminasi, entah itu kulit hitam, LGBTQ, hingga agama apapun, bisa turut berkontribusi di sana.

Melalui agenda mengunjungi CTM Festival, Jesslyn juga mendapatkan berbagai macam wawasan perihal teknis birokratis semisal bagaimana cara mengirim email dan mengolah proposal secara tepat. Selain memilih talent melalui karyanya, festival musik yang terselenggara pada tiap musim dingin tersebut juga menjadikan sisi profesionalitas sang pendaftar sebagai bahan pertimbangan untuk lolos proses kurasi.

Sore harinya, rombongan Goethe Talent mampir ke sebuah bar bernama About:blank untuk bersantai. Niat hati hanya ingin sekedar meminum beberapa bir, Jesslyn dan kawan-kawan malah mendapat bonus. Rupanya, sebuah debat politik panas antar dua kubu musisi yang berbeda latar belakang tengah terjadi di sana.

About:blank adalah sebuah bar cantik berkonsep taman yang juga sering menjadi venue musik di Berlin. Saat menyaksikan debat politik tersebut, tentu saja membuat Jesslyn mengalami shock culture, pasalnya pendapat dilempar tanpa basa-basi dan kepura-puraan.

“Kalau gak salah, dua kubu yang bertentangan tersebut itu terdiri dari komunitas musisi Yahudi dan orang Jerman asli. Kondisinya Berlin rupanya agak lumayan kacau, di sana sering juga terjadi usaha-usaha untuk membunuh budaya tertentu dari oknum-oknum tidak bertanggung jawab,” ungkapnya.

Satu lagi yang Jesslyn dapat di Berlin, yaitu tentang bagaimana budaya komunikasi warga Jerman yang jujur. Nampaknya, “rasa tidak enak” kepada lawan bicara sudah mereka tanggalkan sejak lama.

Tanggal 16 Agustus 2019 menjadi hari Jesslyn yang cukup padat. Pertama, para Goethe Talents dijadwalkan untuk melakukan workshop di White Camel Studios, Herzbergstr, Berlin. Mereka di bagi ke dalam dua kelompok yang masing-masing beranggotakan lima orang.

“tempatnya bagus banget, dan benar-benar mendukung proses berkarya. Aku satu kelompok dengan teman-teman dari India, Pakistan, Brazil, dan Colombia. Kita berlima juga sangat menikmati agendanya, tidak ada kesulitan sama sekali. Selama satu shift, kita berhasil membereskan kira-kira sekitar 12 lagu. Kemudian kita memilih 1 lagu untuk direkam,” kenang Jesslyn.

 

Sialnya, sampai hari ini belum ada kejelasan tentang hasil rekaman tersebut akan di-publish atau tidak. Selanjutnya, Jesslyn dan kawan-kawan mengunjungi Silent Green/Musicboard di Gerichtstr, Berlin untuk menemui dua orang seniman kawakan yaitu Danielle de Picciotto serta Alexander Hacke dalam rangka agenda sharing.

Alexander Hacke merupakan produser dan komposer musik yang telah memulai karirnya sejak tahun 70an. Dia dikenal karena keterlibatannya dalam grup musik eksperimental bernama Einstürzende Neubauten. Sedangkan Danielle de Picciotto bukan saja merupakan pasangan dari Hacke, ia pun adalah seorang multimedia artist, pelukis, musisi, sekaligus filmmaker.

“Mereka sharing banyak banget tentang film scoring dan industri perfilman juga. Lalu, mereka juga kasih trik-trik membuat kontrak kerjasama dengan produser film agar composer musik tidak dirugikan oleh mereka yang kadang permintaannya suka aneh-aneh,” jelas Jesslyn. Danielle de Picciotto dan Alexander Hacke juga tidak lupa untuk menjelaskan tentang proyek apa saja yang sudah mereka garap selama ini.

Club bernama OHM, di daerah Köpenicker adalah destinasi terakhir rombongan Goethe Talents hari itu. Menurut Jesslyn, tempat tersebut merupakan lantai dansa sederhana, tanpa aksen-aksen dekorasi yang memunculkan kesan mewah. Hanya saja, perangkat sound di sana sangat menonjol dan dapat memanjakan telinga para penikmat musik. Nadine, yang merupakan tour guide mereka selama di Berlin, dijadwalkan tampil malam itu.

 

“Tempatnya underground gitu, dan orang-orang yang datang terlihat santai banget dan tidak norak. Sound-nya sangat bagus hingga detail-detail permainan DJ benar-benar terdengar jelas. Minumannya juga murah dan enak,” kata Jesslyn.

Bagi Jesslyn, sepanjang hari di tanggal 16 Agustus 2019 adalah momen yang melelahkan sekaligus menyenangkan. Malam itu pun pesta tidak berlangsung terlalu keras, karena besok ia masih belum bisa bersantai-santai.

Teks: Rizki Firmansyah
Visual: Arsip Jesslyn

Program Menarik Bernama Women Composser Weekend

Merayakan Hari Perempuan Internasional yang jatuh di tanggal 8 Maret lalu, untuk pertama kalinya, Yayasan Bandung Philharmonic berkolaborasi dengan Komunitas Perempuan Komponis: Forum & Lab untuk meluncurkan dua program webinar...

Keep Reading

Libatkan Seniman Lokal, SOCA Wheels Luncurkan Program Luring SOCA Spinning Wheels Vol.1

Tak bisa dipungkiri, pandemi yang sudah terjadi selama lebih dari dua tahun ini sudah berhasil membuat repot semua lini, termasuk lini hiburan. Selama dua tahun itu pula kita disuguhi dengan...

Keep Reading

Bandcamp Resmi Bergabung dengan Epic Games

Bagi yang menggandrungi musik, tentu gak bakal asing dengan platform pemutar musik digital bernama Bandcamp. Dengan adanya platform tersebut para musisi bisa dengan mudah mendistribusikan karyanya, lewat platform itu pula...

Keep Reading

Sandal Jepit Swallow yang Berevolusi Menjadi Sepatu

Untuk rilisannya sendiri, sneaker unik ini hadir dalam 4 series warna, yakni tersedia dalam warna merah-putih, hijau-putih, hitam-putih, dan biru-putih. Warna-warna yang khas dengan sandal jepit yang biasa kita pakai sehari-hari. Keempat series ini dibanderol dengan harga 129.900 dan tersedia dengan ukuran 37-44.

Keep Reading