Secara geografis, Magelang menjadi titik pertemuan dua kota di tengah Pulau Jawa; Semarang dan Jogjakarta. Kota yang dikenal luas dengan keberadaan Candi Borobudur ini, ternyata menyimpan harta karun permusikan yang siap digosok. Salah satu yang paling kelihatan di depan mata adalah fakta bahwa Magelang mulai jadi persinggahan band yang sedang tur keliling pulau.

Salah satu orang yang selama ini aktif di scene musik Magelang adalah Taufan Agung Nugroho yang lebih akrab dipanggil Combohell. Sehari-hari, ia adalah bapak dua anak yang punya berbagai macam usaha yang erat hubungannya dengan orang muda; event organizer, vendor sound system juga owner Tycusgoth Store yang merupakan distro clothing, records label dan music merchandise.

Menurutnya, Magelang saat ini sudah mulai beranjak lagi setelah hampir kurang lebih satu tahun belakangan kurang greget. Indikator paling gampang adalah keberadaan beberapa band Magelang yang merilis album, single dan video klip. Juga munculnya gigs-gigs kolektif yang bagus dari beberapa komunitas musik yang mulai beragam.

“Kalau untuk band yang naik daun dan langsung menunjukan karyanya ada beberapa, sebut saja Fornicaras (metalcore), Lightning Roar (easy core) dan Loca Polca (indie pop),” ujarnya tentang beberapa band lagi yang sedang naik di Magelang dan layak dipantau.

“Nah, kalau venue dan records label sebetulnya di Magelang masih minim. Ada beberapa nama venue favorit teman-teman sekarang yaitu di Vibrant house dan Goeboex Kantil. Untuk records label sih kebetulan hanya Hot Sauce Recs (net label) dan label records saya sendiri yaitu Tycusgoth records,” sambungnya.

Di bidang pengorganisasian, Combohell juga berada di balik dua event organizer yang berbeda yaitu Swarabahaya dan Showcase Event. Menariknya karena Swarabahaya di ranah kolektif yang berada di bawah tanah, sementara Showcase Event bergerak di indie clothing carnival yang bermain di area yang lebih mainstream. Disinggung mengenai bagaimana caranya supaya bisa berdiri dan menyeimbangkan diri dengan dua ranah yang berbeda, Combohell punya alasan yang singkat, jelas dan padat, “Berada di area in between itu selalu menarik.”

Ia melanjutkan, “Nah menariknya adalah, sampai detik ini saya menikmati ada di dua alam ini, dan saya bersyukur bisa seperti ini. Karena diibaratkan jika event mainstream itu obatnya, maka gigs independent yang idealis ini adalah penyakitnya. Hahaha,” celotehnya tertawa.

Tidak berhenti di situ, untuk mendukung pergerakan, ia juga mendirikan Hurgermurger yang bentuknya media. Lahan berkaryanya, ya kota mereka sendiri, Magelang.

“Karena memang belum ada yang seperti Hurgermurger sebelumnya di Magelang. Maka dari itu sampai saat ini Hurgermurger dirasa masih penting dan menjadi tulang punggung skena musik Magelang dalam ranah media yang mensupport dan mempublish karya dan produk dari teman-teman scene musik Magelang,” jelasnya.

Di antara seabrek kegiatannya, Combohell masih sempat bermain sebagai gitaris di Klandestin yang baru saja merilis album Green Acid of Last Century di bawah label Hellas Records & Skullism Records.

Seluruh kegiatan yang dilakukan oleh Combohell bisa dibilang saling bertalian satu sama lain. Sistem yang ia buat sendiri, tanpa sadar membuatnya menjadi salah satu titik kontak yang penting untuk dicari ketika ingin mampir ke Magelang.

Seperti sudah dirasakan dan pelan-pelan jadi hal klise tapi penting untuk digarap, internet dan media sosial memangkas jurang antara satu kota dengan kota lainnya, baik yang kecil maupun besar. Band dari kota mana saja, bisa mempromosikan materinya via internet sekaligus juga membangun koneksi yang memungkinkan untuk melakukan tur keliling.

Combohell pun mengakui efek media sosial sangatlah membantu pekerjaannya baik sebagai pemain band, label, organizer maupun owner toko musik dan clothing. “Bisa dibilang media sosiallah yang menjadi juru selamat sekarang ini terhadap beberapa hal yang saya kerjakan sendiri maupun bersama teman-teman di Magelang. Zonasi dan letak geografis yang biasanya menjadi pembeda antara daerah menjadi sudah tidak ada lagi. Dan ini sangatlah membantu sekali. Terutama di dalam hal promosi dan jalinan link,” katanya.

Dalam hal Klandestin, misalnya. Mereka dirilis oleh label dari luar Magelang, mereka juga bisa tur ke luar kota sampai ke Bali dan Kalimantan. Salah satu penyebabnya adalah media sosial.

Cerita tentang Klandestin dengan label Hellas Recs (Bekasi) dan Skullism Recs (Bali) pun berawal dari media sosial. Kabar band ini merilis album menarik perhatian dua label itu. Setelah berkomunikasi via media sosial, sebuah kesepakatan terjadi. “Nah, jadilah album pertama Klandestin. Sama halnya untuk tur Jawa, Bali, dan Kalimantan yang pernah Klandestin lakukan. Tidak lain dan tidak bukan karena jaringan link yang diawali dengan say hai di direct message media sosial,” ceritanya.

Jika ingin mengetahui lebih lanjut mengenai aktivitas-aktivitas Combohell yang beragam itu, ikuti saja akun Instagram @tycusgoth.store @showcaseevent @hurgermurger @swarabahaya dan @klandestinfuzz. Jangan lupa say hi, siapa tahu malah bisa jadi bertemu muka dan mampir ke Magelang. (*)

Teks: Indra Menus
Foto: Rico (foto tema, foto pertama), Dok. Klandestin (foto kedua)