Bagi seorang Yahya Dwi Kurniawan kunjungan ke South by South West kali perlu dimanfaatkan sebaik mungkin. Sebab dia percaya, salah satu pola dalam persoalan berkarya adalah melakukan pendekatan langsung. Termasuk membuka kontak yang dengan sendirinya menyibak pintu baru dalam karir di masa yang akan datang.

Yahya menjadi satu dari dua orang seniman visual art jebolan Go Ahead Challenge 2017 (GAC) yang diterbangkan ke SXSW 2018 untuk mengikuti banyak sesi konferensi dan networking. Showcase festival itu membuatnya pulang dengan dengan beragam cerita dan kejutan.

“Menurut saya yang paling membekas setelah pulang dari SXSW 2018 adalah saat-saat mengikuti sesi networking di sana. Saya banyak bertemu orang hebat, banyak yang menurutku bisa menjadi link atau bahkan klien, karena pikirku jika kita belajar langsung di lingkungan sekitar, kita akan bisa langsung sharing dan berbagi tentang apa yang kita bahas di situ,” kenangnya.

Di SXSW 2018, Yahya berkesempatan bertemu dengan artist favoritnya, Tara McPherson, bahkan hingga bertukar karya. “Iya, dengan Tara, saya sempat bertukar karya. Dapat 3 karya print dan dia saya beri sticker dan poster buatan saya,” jelasnya.

(Yahya Dwi Kurniawan & Tara McPherson)

Selain itu, satu yang paling membuatnya betah menyimak dan duduk berlama-lama adalah saat bahasan tentang MoMA (Museum of Modern Art) seputar karya dari seniman-seniman yang menginspirasinya, salah satunya adalah karya milik Jeff Koons.

Perjalanan ini sangat sesuai apa yang ia harapkan. Membuka networking baru yang nyata. “Ini yang seru. Di sana saya sempat mengobrol dengan mereka dari Afrika Selatan, ada DJ dan rapper yang tampil di SXSW, salah satunya Moonchild yang mainin musik mix antara elektronik dan etnik Afrika Selatan. Saat ngobrol saya cuek saja menawari di tempat untuk membuat artwork Moonchild, anggap aja ini salam perkenalan.”

(Yahya Dwi Kurniawan & Moonchild)

Usahanya berbuah hasil. Hasil corat-coret kilat tangannya menarik perhatian Moonchild dan kawan-kawannya sehingga berlanjut ke obrolan yang makin panjang. Dari sana, kini Yahya mendapat order untuk membuat artwork berikutnya, selain Moonchild ada BBE dan Keezy Rose rapper dari Austin, kemudian DJ Kill3r-K dari Afrika Selatan. Semua hanya dimulai dengan keberaniannya untuk bertegur sapa dan memanfaatkan sebaik-baiknya sesi networking yang disediakan oleh SXSW 2018.

“Lumayan lah untuk menambah portofolio, siapa tau kedepannnya bisa diajak ke Afrika Selatan,” ungkapnya sambil bercanda.

(Yahya Dwi kurniawan, Moonchild, DJ Kill3r-K, TuneRecreation)

Semua yang dilakukannya selama di SXSW 2018 bisa dikatakan sebagai pemanfaatan peluang dengan jitu. Tidak hanya di bidang visual art, banyak musisi pengisi acara pun disambernya. “Sempat juga mengobrol dengan banyak musisi dan band favorit. Tidak pernah menyangka sebelumnya sih kalau saya ternyata bisa mengobrol langsung dengan mereka walau hanya sebentar, semuanya menyenangkan. Yang saya temui itu ada RZA dari Wu-Tang Clan dan Nadezdha Tolokonnikova dari Pussy Riot.”

Ketika ditanya tentang manfaat terbaik, ia memilih SXSW Art Program Showcase. Ada bahasan seputar penggabungan antara seni dan teknologi, dua hal yang juga diakui sangat perlu bersanding untuk dapat menciptakan karya-karya baru agar tidak melulu berada di zona nyaman.

(Art Market – SXSW 2018)

“Pelajaran paling banyak yang saya ambil, dan tergolong baru sampai bisa cukup membuka wawasan, adalah saat konferensi SXSW Art Program Showcase. Bagaimana jika art dicampur dengan teknologi, bagaimana cara display yang baik sampai bagaimana cara menghargai karya dalam bentuk apapun merupaan bahasa utama. Pembicaranya waktu itu ada Sara Fitzmaurice dari Fitz & Co, lalu Julia Kaganskiy dari New Inc dan Andrea Mellard dari museum kontemporer Austin,” ceritanya.

(Art Market – SXSW 2018)

“Ikut dan berada didalam konferensi memang menyenangkan sebetulnya, tapi tidak semua topiknya saya tertarik, atau karena memang saya anaknya suka nongkrong kali ya makanya lebih suka yang ada interaksi secara langsung. Sesi networking di SXSW tentu banyak memberi saya pelajaran baru, dan tentunya klien baru,” ucapnya menuntaskan cerita.

teks: Yulio Abdul Syafik
editor: Felix Dass

foto: Dokumentasi Yahya Dwi Kurniawan